Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 122. Sah juga


__ADS_3

...QS al-Baqarah,2:218....


Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


...🍁🍁🍁...


Rumah besar keluarga Calabria.


Semua mata terpana melihat penampilan Selina saat ini. Gadis itu memakai hijab, pakaian tertutup dan wajahnya terlihat lebih bercahaya. Masya Allah, cantiknya Selina bertambah.


Dia berjalan mendekati kedua orang tua dan juga neneknya. Segeralah ia mengambil tangan kedua orang tua dan neneknya SMA mencium lembut punggung tangan itu.


"Ma...pa...Oma, Selina tau...Selina bukan orang yang baik. Selina adalah manusia yang penuh dosa dan tak luput dari kesalahan, tapi Selina ingin berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Apakah Allah masih memberikan Selina kesempatan untuk berubah?" ungkap gadis itu berharap akan pintu maaf dari yang kuasa untuknya. Ia ingin berhijrah ke jalan yang baik dan diridhai Allah.


Selama beberapa hari merenung, mengurung diri di dalam kamar. Selina bukannya tak semangat hidup, ia hanya menghabiskan dirinya untuk merenung, banyak berdoa, shalat dan membaca buku-buku yang berkaitan tentang agama. Selina sangat menyesali perbuatannya selama ini. Berzina adalah dosa besar yang berasal dari mengumbar aurat hingga membuat pria bernafsu padanya. Seperti yang dikatakan dalam firman Allah.


"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al Ahzab : 59)


Selina menyadari dari semua luka dan rasa sakitnya di usia muda ini, bahwa dia harus bangkit dan berusaha memperbaiki dirinya. Mendengar penuturan dari Selina, tentu saja keluarganya sangat senang. Jika memang benar Selina ingin berubah menjadi lebih baik.


"Mama, papa sama Oma dukung kamu sayang! Kami senang karena kamu berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik."


Seratus persen, Diana sangat mendukung keputusan putrinya untuk berubah. Bahkan ia sampai meneteskan air mata haru.


"Semoga kamu tetap istiqamah ya sayang. Oma bangga sama kamu." Nilam memeluk cucunya dengan penuh rasa bangga.


"Papa bangga sama kamu sayang. Kamu menjadikan luka sebagai cambukan dalam diri kamu untuk menjadi lebih baik. Kamu hebat nak! Kamu hebat!" sang papa turut memeluk Selina dengan bangga.


Ya, mereka bangga kepada Selina karena dia tidak berbuat gegabah ketika banyak masalah yang menimpanya. Dia malah menjadikan luka itu sebagai sebuah cambukan untuk menjadikan dirinya lebih baik. Ketika mungkin ada beberapa anak gadis di luar sana yang memilih untuk menyerah dan mengambil jalan pintas mengakhiri hidup. Tapi Selina tidak begitu.


Sebenarnya Selina memang berpikir untuk mengakhiri hidupnya, tapi dia cepat sadar kembali bahwa mengakhiri hidup tidak ada gunanya dan malah menambah dosa di akhirat kelak.


Apapun apa kata orang tentangnya nanti, dia akan berusaha untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.


"Ya udah, papa antar kamu ke lapas itu untuk menemui Rivano." tawar Bram pada putrinya.


"Iya pa." jawab Selina sambil tersenyum lembut, namun matanya masih menyiratkan luka yang dalam. Dia baru berusia 16 tahun dan harus menghadapi masalah seberat ini.


Bram dan Diana mengantar Selina ke lapas untuk menemui Rivano. Tak banyak yang dibicarakan Selina, tapi membuat Rivano menangis. Entah apa yang mereka bicarakan, Bram dan Diana hanya melihat Rivano berurai air mata dan Selina yang marah.


Apa?


Seorang Rivano yang telah tega membunuh anaknya, menangis?


"Aku pergi ya kak, jadi diri kakak baik-baik." ucap Selina pamit pada Rivano yang kini tertunduk malu penuh tangis. Dia tidak sanggup menatap wanita yang sudah dirusaknya itu. "Assalamualaikum."


Rivano tidak bisa bicara, dia hanya menangis terisak. Entah apa maksudnya begitu.


*****

__ADS_1


Waktu pun berlalu, Rivano disidang dan mendapatkan hukuman 18 tahun penjara. Dia terkena pasal berlapis, pemerkosaan dan percobaan pembunuhan. Ayahnya Vans juga tidak peduli padanya, dia hanya sibuk mengurusi perusahaannya. Dan jangan lupakan Irfan, dia juga mendapatkan hukumannya dengan mendekam di penjara selama 5 tahun, tidak terlalu berat seperti hukuman Rivano. Berkat bantuan papa Attar yang seorang pengacara, mereka mendapatkan balasannya.


Masalah Selina, Irfan dan Rivano terdengar oleh pihak sekolah dan semua orang tau tentang Selina. Akhirnya Selina pun keluar dari sekolah setelah naik ke kelas dua. Sepertinya dia akan dipindahkan oleh kedua orang tuanya ke sekolah lain di luar kota atau mungkin di luar negeri. Bram dan Diana tak tahan karena anak mereka menjadi korban bullying dan harus mendengarkan ocehan ocehan yang menyakiti hatinya. Mereka tak tega.


****


Hari demi hari berlalu, tibalah hari dimana hari bahagia Zayn dan Aini. Pernikahan Zayn dan Aini diadakan di sebuah taman dengan tema outdoor.


Dekorasi mewah, serba putih dan pink. Warna yang ceria dan membuat orang-orang berdecak kagum juga menikmati suasana disana.


Zayn dan Aini sudah berada didepan penghulu. Banyak mata yang memperhatikan mereka. Terlihat calon pasangan pengantin baru itu berbinar-binar bahagia. Saling melempar senyum satu sama lain, tapi tangan mereka bergetar karena rasa gugup.


Ya Allah, ini beneran kan? Aku mau nikah sama Aini...ahh...jadi gini ya rasanya mau ijab kabul. Pantesan waktu itu kak Rey terlihat tegang banget.


Beberapa kali Zayn mengambil air minum di botol karena dia berkeringat duluan sebelum mengucap ijab kabul.


Rey, Bima, Bram, melihat Zayn yang terlihat gugup itu. "Lihat itu kak! Zayn mirip almarhum Satria, bukan?" tunjuk Bima pada Zayn yang berkeringat dan gugup.


"Iya, dia orangnya soft dan mudah gugup. Hatinya juga lembut..." Bram tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dia teringat Satria yang dulu menggantikannya untuk menikahi Amayra. Adiknya itu sangat baik dan Sholeh. Sampai-sampai Amayra memutuskan untuk tidak mau menikah lagi dan menjaga kesetiaan juga kesucian cintanya untuk Satria seorang. Sifatnya menurun pada Zayn.


Rey hanya tersenyum mendengar percakapan antara papa dan omnya itu. Dia juga teringat bagaimana kebaikan Satria semasa pria itu hidup. Satria memperlakukan Rey seperti anak kandungnya sendiri, meski ia hanya anak angkat di keluarga Calabria.


Papa Satria...aku janji akan selalu menjaga putri kesayangan Papa...aku janji Pa.


Kemudian pak penghulu mulai menanyakan apakah Zayn sudah siap atau belum karena dari tadi Zayn sibuk minum dan gelisah.


"Apa sudah bisa dimulai pak? Maaf--tapi saya harus menghadiri acara pernikahan yang lain juga." ucap penghulu setengah berbisik.


"Piktor kamu niat gak sih nikahin aku?" terlontar pertanyaan itu dari Aini yang mulai kesal terus duduk disana tapi belum sah juga.


"Kamu kok tanyanya gitu si Hulk woman?" bisik Zayn.


"Habisnya kamu sih lama...kalau kamu gak jadi nikahin aku, ya udah." Aini dalam mode ngambeknya.


"Astaghfirullah Ai!" Zayn tercengang mendengar ucapan Aini yang marah padanya.


Aini menatap Zayn dengan kesal. "Aku hitung sampe tiga...kalau kamu bilang belum siap juga, aku bakal pergi. Satu....dua....ti....."


"Pak penghulu, saya sudah SIAP!" teriak Zayn sambil menganggukkan kepalanya dengan mantap. Hingga semua orang menatap ke arahnya sembari menahan tawa.


Aini pun tersenyum melihat Zayn.


"Bismillah Zayn!" Rey menepuk pundak Zayn seraya memberikannya semangat.


Zayn pun memulai ijab kabulnya dengan perwakilan penghulu karena ayah Aini sedang sakit keras.Bahkan ayahnya tak datang ke pernikahannya.


"Bismillahirrahmanirrahim..."


Dalam sekali tarikan nafas, Zayn mengucapkan ijab kabul dengan lancar setelah dari tadi dia gugup dan berkeringat dingin. Malah pria itu mengucapkan janjinya dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"SAAHH!" sorak sorai para tamu yang turut menyaksikan proses ijab kabul tersebut. Diiringi dengan senyuman yang bahagia.


Kini Zayn dan Aini telah sah menjadi pasangan suami-istri. Aini mengecup punggung tangan suaminya, Zayn juga mengecup kening Aini dengan mesranya.


Tak lupa dia membacakan doa sangat mengecup kening sang istri. “Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.” Yang artinya: “Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku."


Semua orang disana tersenyum bahagia dengan kebahagiaan Zayn dan Aini. Berdoa supaya pernikahan mereka selalu sakinah, mawadah warohmah.


Acara resepsi Zayn dan Aini berlangsung meriah dengan banyaknya tamu yang hadir. Sama seperti pernikahan Rey dan Zahwa dulu.


"Sayang, lihat Zayn dan Aini bersanding pelaminan...mas jadi pengen nikah lagi deh."


Sontak saja Zahwa melepaskan pelukan suaminya dan matanya langsung mengembun.


"Loh kamu kenapa sayang?" Rey heran melihat air mata menggenang di bawah matanya.


"Mas...apa aku masih kurang jadi istri Mas, sampai mas mau nikah lagi?" tanya Zahwa sambil menatap suaminya dengan sedih.


"Ah...sayang kamu salah paham--" Rey langsung peka begitu menyadari ada yang salah dengan ucapannya. Tau lah mood swing ibu hamil yang sensi dan Zahwa jadi mudah baperan.


"Kalau mas mau nikah lagi, silahkan! Tapi aku gak mau dimadu, jadi mending mas cerai--"


Cup!


Rey buru-buru mendaratkan kecupan ala rayuan Rey-binnya di kening Zahwa. Tadinya ingin dibibir, tapi Rey ingat tempat.Disana tempat umum dan masih banyak tamu.


Tapi tanpa mereka sadari ada sepasang suami-istri yang melihat Rey dan Zahwa dengan iri. Mereka baru saja datang ke acara resepsi pernikahan Zay dan Aini.


"Oppa selalu saranghae sama kamu! Kamu my only one, gak ada yang lain lagi...tidak akan ada yang masuk dalam rumah tangga kita. Aku sudah ucapkan itu tidak hanya sekali." Rey menangkup kedua pipi istrinya. Rey merasa bersalah karena air mata itu mulai jatuh dan basah di pipi sang istri.


"Ta-tapi barusan Mas bilang kalau mas mau nikah lagi..." Zahwa gemetar, sangat takut kehilangan suaminya.


"Mas salah bicara, barusan tuh mas bilang nikah lagi tuh harusnya resepsi lagi. Mas mau bilang gitu, malah bilang nikah lagi...maafin mas, maafin mas udah buat kamu nangis sayang."


"Ja-jadi mas gak mau nikah lagi?"


"Mana berani Mas begitu, kamu satu-satunya sayang... satu-satunya." kata Rey tegas sambil tersenyum.


"Alhamdulillah..." tangisan itu berubah langsung menjadi senyuman.


Ya Allah, hampir saja jantungku copot. Salah kata dikit bisa berabe...


Rey dan Zahwa berpelukan disana. Beruntung nya orang di sekitar mereka sedang sibuk untuk memberikan selamat kepada pengantin baru dan tidak sempat memperhatikan mereka berdua. Kecuali Raihan dan Zainab.


Masya Allah mesra sekali mereka. Aku sangat Zahwa bahagia. Akhirnya Allah menggantikan semua luka yang aku bawa untukmu menjadi bahagia oleh kak Rey. Bahagia selalu Zahwa. Batin Raihan tulus mendoakan kebahagiaan Zahwa dan Rey.


Mas Raihan kenapa sih? Kenapa dia melihat Zahwa seperti itu? Apa dia cemburu Zahwa mesra-mesraan sama suaminya? Ya Allah...jadi mas Raihan masih ada rasa sama mantannya?. Zainab berpikir dalam hatinya.

__ADS_1


...****...


Hai Readers, author mau tanya dulu...nanti author mau buat novel baru tapi masih berkaitan dengan novel ini...mau ceritakan Selina dan anaknya Zahwa Rey. Minta pendapat kalian dong...buat apa enggak?❤️❤️☺️ soalnya novel ini bentar lagi tamat.


__ADS_2