
...🍁🍁🍁...
Prang!!
Sebuah gelas jatuh ke lantai dan membuat gelas tersebut menjadi serpihan beling di sana.
"Astagfirullahaladzim!" pekik Amayra terkejut dengan apa yang dia lakukan.
"Ma, mama kenapa ma?" tanya Zayn lalu menghampiri mamanya yang berada di pantry. Kebetulan Zayn sudah pulang sore itu dan mengerjakan sebagian pekerjaannya di rumah. Terlihat ia memakai kacamata anti radiasi agar tak terlalu pusing saat melihat layar laptopnya.
"Mama gak apa-apa Zayn, tiba-tiba aja mamah lemas...gak tau kenapa. Mama kepikiran adik kamu," Amayra memegang dadanya, tiba-tiba dia teringat dengan putrinya.
"Ma...mama gak usah cemas, Zahwa pasti lagi have fun sama temannya."
"Eunghh...coba kamu telpon dia Zayn."
"Ma, Zahwa lagi ada di gunung... telponnya gak aktif dan dia mana ada sinyal. Udah mama jangan banyak pikiran ya, Zahwa gak akan kenapa-napa." Zayn memegang tangan mamanya, seraya menenangkan wanita itu.
"Semoga aja deh."
"Ya udah, mama duduk aja...biar Zayn beresin pecahan gelasnya."
"Gak usah Zayn, biar mama aja!"
"Udah--mama duduk aja ya." Zayn mendudukkan mamanya di atas kursi dekat pantry. Dia mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum, lalu ia memberikannya pada Amayra.
Lalu Zayn membereskan pecahan gelas di lantai dengan hati-hati. Walaupun Zayn seorang pria, tapi dia bisa melakukan pekerjaan rumah dan tidak manja. Bahkan dia juga bisa memasak, dia selalu teringat pesan alm. papanya, bahwa dia harus bisa menyenangkan istrinya kelak. Dengan cara mengerjakan tugas rumah, memasak dan lain sebagainya.
Amayra meneguk air minumnya dengan perasaan cemas, entah mengapa hatinya merasa tidak enak. Dan kalau boleh jujur, Zayn juga merasakan hal yang sama tentang Zahwa tapi dia tetap berusaha tenang.
Zahwa? Kamu gak apa-apa kan dek?
*****
Semua orang sudah berkumpul di tempat kejadian Zahwa menghilang. Semua orang pun bergegas mencari Zahwa ke sekitar sana, bahkan Firman, Aini dan Zainab nekat ingin turun ke tebing untuk mencari Zahwa. Tapi Riki mengusulkan untuk tidak turun ke tebing karena hari sudah mau malam dan sudah mendung seperti mau hujan.
"Kita cari Zahwa besok aja, lebih baik kita kembali ke tenda!"
"Enggak Rik, gimana kita bisa kembali ke tenda kalau Zahwa aja belum ditemukan. Takutnya dia kenapa-napa." sanggah Firman yang tidak setuju dengan saran dari Riki.
"Terus kita gimana? Kita juga harus istirahat, kalau berada di tengah gunung dalam keadaan seperti ini kan bisa berbahaya untuk semua orang."
Apa yang dikatakan Riki memang benar, cuaca dan keadaan saat ini tidak mendukung untuk mencari Zahwa. Tapi apakah mereka akan diam saja saat salah satu teman mereka hilang? Tak mungkin begitu kan?
"Oke...ya udah gini aja. Cewek-cewek balik aja ke tenda masing-masing, sedangkan cowok-cowok...kita cari Zahwa." saran Rian, salah satu senior yang ada disana juga.
Mereka pun mengangguk setuju dengan keputusan dan saran dari Rian. Sementara wanita-wanita kembali ke tenda mereka. Terlihat Zainab dan Aini yang resah karena memikirkan keselamatan Zahwa.
"Ai, gimana ini?"
"Aku juga resah kak, aku takut terjadi sesuatu sama Zahwa. Ya Allah, semoga Zahwa gak apa-apa..." ucap Aini sambil memandangi rintik-rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi.
Hingga sampai keesokan harinya, Zahwa masih belum ditemukan. Akhirnya mereka memutuskan untuk menelepon keluarga Zahwa.
Sungguh malam itu, Zainab, Aini dan beberapa kakak senior yang ikut dalam perkemahan itu merasa tidak tenang karena belum menemukan titik terang dimana Zahwa.
"Takutnya... Zahwa benar-benar jatuh ke jurang, makanya kita harus meminta bantuan tim SAR. Disini, siapa yang punya kontak keluarganya Zahwa?" tanya Firman dengan hati yang resah.
Aini mengacungkan tangannya, "Saya kak,"
"Aini? Ayo ikut saya, kita akan pergi ke bawah gunung cari sinyal untuk menelpon keluarganya. Dan yang lain tolong disini dulu, jangan kemana-mana!" tegas Firman pada semua orang yang masih ada disana.
Aini dan Firman turun ke bawah gunung sambil membawa ponsel Aini. Setelah melalui perjalanan setengah jam, akhirnya Aini menemukan sedikit sinyal di ponselnya.
"Gimana Ai? Udah ada sinyal?"
"Ada kak walau dikit, bismillah...semoga bisa."
"Oke, kamu hubungi keluarganya Ai."
__ADS_1
Aini melihat nama yang tertera di ponselnya, sebenarnya dia agak ragu untuk menekan tombol panggilan pada nama piktor itu. "Cih..."
"Ai? Ayo telpon!" titah Firman pada Aini.
"Ah...iya kak."
Kalau bukan karena terpaksa, aku gak mau telpon kamu piktor.
Aini segera menekan tombol panggilan pada nama Piktor itu. Tak lama kemudian, si piktor mengangkat telpon darinya. Zayn baru saja akan berangkat ke kantor bersama mamanya, naik mobil karena motor Amayra sedang di bengkel.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam. Ada apa cewek hulk?" tanya Zayn sambil memegang setir kemudi dan siap-siap untuk menyalakan mesin mobilnya.
"Udah deh jalan ledekin aku dulu. Aku mau kasih tau berita penting tentang Zahwa."
"Ada apa sama Zahwa?" tanya Zayn mulai serius. Sementara itu mamanya masih terlihat sedang mengunci pintu rumah.
"Zahwa hilang di gunung--"
"APA? Apa kamu bercanda? Jangan main-main cewek hulk!" tegas Zayn tidak langsung percaya dengan ucapan Aini.
"Aku serius Zayn, kalau kamu gak percaya...ini bicara sama kak Firman." Aini menyerahkan ponselnya kepada Firman, agar pria itu bisa menjelaskan kepada Zayn bahwa ia serius.
Zayn langsung berbicara dengan Firman, lalu Firman mulai menjelaskan apa yang terjadi kepada Zahwa. Zahwa hilang dan kemungkinan dia jatuh ke jurang. "Astagfirullahaladzim!" desah Zayn sambil memegang dadanya, dia begitu terkejut mendengar berita ini.
Ternyata firasatku dan firasat Mama memang benar.
"Zayn, kamu kenapa?" celetuk Amayra yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam mobilnya dan duduk di sampingnya.
"Nanti saya akan kesana," ucap Zayn lalu menutup teleponnya dengan cepat. Dia berusaha mengendalikan raut wajahnya yang sedang cemas saat ini. Zayn tak mau ibunya menjadi shock.
"Zayn? Kamu kenapa nak?"
"Gak apa-apa ma, ada masalah sama kerjaan di kantor." Zayn mengembangkan senyumannya di paksakan.
Astagfirullah....gimana kalau mama sampai tahu kalau Zahwa hilang? Lebih baik Aku cari tahu dulu aja seperti apa kondisinya, dan jangan dulu memberitahu mama. Aku kasih tau kak Rey aja.
Terlihat pria itu masih terjaga dengan kondisi mata panda yang tebal, sudah jelas dia begadang semalaman. Demi siapa dia begitu? Demi bertemu dengan Zahwa dan menjalankan rencananya untuk menyatakan cinta kepada gadis itu.
"Zayn? Ada apa? Kok pagi-pagi banget kamu sudah datang kemari? Kenapa juga kamu ngos-ngosan kayak gitu?" tanya Rey ku heranan melihat adik sepupunya yang terlihat resah tidak seperti biasanya.
"Kak...apa kakak bisa bantu aku?"
"Bantu apa Zayn?"
Zayn mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. "Kak...Zahwa hilang, katanya Zahwa jatuh ke jurang."
Rey langsung terperanjat begitu mendengar ucapan Zayn. "Zayn, kamu jangan bercanda deh pagi-pagi kayak gini?"
"Kak, aku nggak bohong! Barusan senior yang memimpin perjalanan kemah ke gunung itu, meneleponku dan dia mengabarkan kalau Zahwa hilang dari kemarin sore." tutur Zayn dengan suara cemasnya.
"APA?!"
Teriak Rey yang begitu terkejut mendengar kabar hilangnya Zahwa. Hatinya berdenyut sakit. Matanya langsung melebar menatap Zayn. "Kita telpon polisi...nggak kita telpon tim SAR, atau kita--" Rey kalap seperti orang gila, mungkin karena efek dari begadang.
"Iya kak kita akan telpon pihak tim SAR untuk mencari Zahwa. Tapi kita juga harus dulu untuk melihat situasi di sana," saran Zayn pada kakaknya.
"Iya."
Zahwa... kamu baik-baik saja kan?
Rey langsung meminta sekretarisnya untuk menghubungi tim SAR dan pergi ke gunung kencana untuk mencari Zahwa. Sementara Rey dan Zayn berjalan pergi meninggalkan kantor itu. Kebetulan mereka berpapasan dengan Bram di lantai bawah.
"Rey, Zayn? Kalian mau kemana? Papa baru saja mau bertemu kalian dan bicara soal bisnis." tanya Bram pada putra dan keponakannya.
"Pa, aku sama Zayn mau cari Zahwa ke gunung kencana."
"Hah? Kenapa di cari? Bukannya dia memang lagi berkemah di sana?"
__ADS_1
"Om, Zahwa hilang dan katanya dia jatuh dari tebing. Dari kemarin sore belum ditemukan." ucap Zayn menjelaskan.
"Astagfirullahaladzim! Kalau begitu kita harus kasih tau yang lain."
"Om, please jangan kasih tahu dulu mama... aku takut mama jadi cemas." pinta Zayn pada omnya untuk merahasiakan hal ini dulu dari Amayra.
"Oh ya, kamu benar juga...kalau gitu papa akan kirimkan anak buah om Bima untuk membantu pencarian." Kata Bram.
"Makasih om." jawab Zayn dengan wajahnya yang tertunduk lesu memikirkan saudara kembarnya.
Lalu Zayn dan Rey pun pergi menuju ke daerah Bogor, tempat Zahwa berkemah. Zayn yang menyetir mobilnya, karena Rey tidak fokus dan terlihat sangat gelisah. Zayn bisa melihat bahwa cinta Rey mungkin sangat besar kepada Zahwa dibandingkan cinta Zayn kakaknya sendiri pada Zahwa.
*****
Tetesan air dari dedaunan uang membasahi wajah cantik di balik kotoran lumpur itu, membuat matanya yang terpejam kini terbuka lebar. Ia melihat cahaya yang mulai terik bersinar terang. "A...ku dimana?" suara Zahwa parau, matanya menatap sekeliling. Dirinya bersandar di sebuah batu besar, tangannya masih memegang gelang pemberian Rey.
Gadis itu memegang pelipisnya yang terasa sakit. Dia melihat ada darah disana. "Oh ya aku ingat, aku jatuh dari tebing untuk mengambil gelang. Lalu apa aku masih hidup?" gumam Zahwa konyol.
Dia melihat jarak tebing dan tanah dimana dia berpijak sangatlah tinggi. Puluhan meter, kira-kira. Lalu kenapa dia masih hidup? Ah mungkin ini adalah takdir Allah.
"Ugh....aku harus segera keluar dari sini," gumam gadis itu sambil berusaha berdiri, namun dia kembali terjatuh. "Ah! Seperti kakiku terkilir, tanganku yang satunya juga sakit sekali." Zahwa merasakan tangan kanannya kesakitan ketika digerakkan.
Tubuhnya kembali ambruk, dalam keadaan basah, kotor dan becek. "Astagfirullah... badanku sakit semua. Ya, aku masih hidup saja sebenarnya sudah menjadi keajaiban...dari jurang setinggi itu, kalau aku bukan wonder women aku pasti udah mati. Untunglah aku bisa memanjat dan sempat menahan diriku, kalau tidak...ya sudahlah. Tidak sia-sia kemampuan memanjatku ini bisa dijadikan sebagai bentuk pertahanan diri." gumam Zahwa konyol seraya tersenyum.
Saat Zahwa terjatuh dari tebing, dia sempat berpegangan pada beberapa ranting pohon, bergelantungan di atas pohon, jatuh beberapa kali sampai akhirnya dia sampai jatuh ke dasar karena tidak menemukan topangan lagi.
"Syukurlah gelangnya selamat, walaupun kotor..." ucap Zahwa sambil memegang gelang dari Rey.
Dengan tenaga yang tersisa dan kepala berdarah, Zahwa berusaha berdiri dan berjalan ke arah cahaya lebih, menjauhi jurang suram itu agar orang-orang bisa menemukannya lebih mudah. "Ya Allah, kuatkan aku...aku pasti bisa. Aku harus bisa pergi dari sini sebelum sore, aku harus bisa..."
Zahwa berusaha untuk pergi meninggalkan jurang suram itu. Beberapa kali dia terjatuh. "Ya Allah, kumohon...berikan aku kekuatan. Kalau tidak, tolong kirimkan seseorang padaku untuk datang kesini menolongku..." gadis itu sudah hampir menyerah karena dia kesulitan berjalan. Ia berdoa penuh harapan.
Akhirnya dia pun menemukan pohon pisang, ia langsung memakan pisang itu untuk mengisi tenaga.
*****
Reyndra menarik kerah baju Firman, matanya menatap emosi pada pemimpin perkemahan itu. "Kak! Sabar kak!" seru Zayn pada Rey.
"Kalau terjadi sesuatu pada Zahwa, aku tuntut kamu!" tegas Rey emosi.
"Ma-maafkan saya!" Firman menundukkan kepalanya.
"Maaf? Cuma maaf saja? Seharusnya kamu, sebagai pemimpin dari pendakian gunung, tau dong apa yang terjadi pada anggotanya? Kenapa kamu sampai tidak tahu apa yang terjadi sama anggota kamu SENDIRI?!" suara Reyndra terdengar begitu menggelegar, membuat semua orang yang mendengarnya bergidik ngeri. Sampai tak ada yang berani bicara.
Bahkan Zayn pun tidak pernah melihat sisi Kakak sepupunya yang seperti ini, pasalnya Reyndra terkenal dengan sifat lemah lembutnya. Bukan Rey pemarah dan emosional begini, apa Rey emosional karena Zahwa?
"Kak tenang kak! Daripada marah-marah begini, mending kita cari Zahwa..." Zayn memegang tangan Rey, seraya menenangkan pria yang emosi itu.
"Haaahh...iya." Rey mengurai pegangan eratnya pada Firman, berusaha menenangkan dirinya.
Astagfirullahaladzim...ya Allah tenangkan hatiku, ya Allah semoga Nemo baik-baik aja.
Tim SAR, orang-orang kiriman Bima, Rey, Zayn dan semua pria yang ikut berkemah mencari Zahwa ke sekitar tempat terakhir kali jejak Zahwa terlihat.
Rey dan Zayn menjadi lemas saat melihat jurang yang terjal itu, jika benar Zahwa jatuh kesana maka mungkin--
Mereka berdua pun menyingkirkan semua pikiran buruk itu dari diri mereka. Mencoba berpikir pasti Zahwa baik-baik saja. Mereka terus mencari keberadaan Zahwa, sampai mencari cara untuk turun ke jurang itu.
*****
Sementara itu di tenda kemah, Vera dan Tiara terlihat sedang berbicara berdua dengan berbisik-bisik. "Gimana nih Ra, gimana kalau si Zahwa kenapa-napa?" Vera mengigit bibir bagian bawahnya. Ia benar-benar resah.
"I-itu gak mungkin terjadi, Ver."
"Kamu juga resah kan Ra? Gimana kalau Zahwa benar-benar jatuh ke jurang, itu kan jurang dalam banget...kalau dia mati gimana dong? Itu artinya kita yang--"
Tiara mendekat dan membungkam mulut Vera dengan tangannya. "Ssstt! Ver kamu tenang dong, jangan gelisah kayak gini! Kalaupun si Zahwa kenapa-napa, bukan salah kita juga."
"Ta-tapi kalau kita gak ambil gelangnya, dan kita yang udah buat dia ambil gelangnya di deket jurang itu! Kalau dia gak kesana pasti--" Vera tergagap merasa bersalah. Dia tidak tahu bahwa keadaan Zahwa akan sefatal ini karena dia hanya jahil saja.
__ADS_1
"Oh, jadi ini ulah kalian!" celetuk seseorang yang sudah berada didepan tenda itu.
...*****...