Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 28. Raihan sudah menikah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Mo, apa yang sakit atau ada yang meninggal?" Rey tanya seperti itu karena baru saja dia mendengar Zahwa mengucapkan lafadz innalillahi.


Zahwa menatap Rey dengan bingung dan gelisah. "Kak...maaf ya, kayaknya kita gak jadi jalan-jalan."


"Loh? Kenapa?" tanya Rey cemas melihat wajah Zahwa yang tiba-tiba saja pucat.


"Kak, aku harus pergi ke pesantren Ar-Rasyid!" Seru Zahwa dengan mata berembun.


Rey mengusap sedikit air mata di bawah matanya."Kenapa? Ada apa?"


"Ustadz Arifin meninggal, kak." jawabnya sedih. Dalam hati, dia memikirkan bagaimana perasaan Raihan saat ini dan ingin segera menghibur pria itu walau hanya dengan kata-kata dan doa.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un, ya sudah ayo kita kesana. Aku antar ya!"


Sebenarnya Rey tidak mau pergi ke pesantren itu, kalau bukan Zahwa yang memintanya. Karena pasti disana Zahwa akan bertemu dengan Raihan, mungkin gadis itu akan menghibur Raihan. Membayangkannya saja membuat hati Rey sesak. Tapi dia melakukan demi Zahwa, tak tega melihat Zahwa sedih.


"Gak usah kak, aku pergi sendiri aja. Kakak jalan aja sama pacar kakak," tolak Zahwa.


"Hus! Kamu ngada-ngada deh, aku mana ada pacar karena aku udah sibuk ngurusin kamu." Lagi-lagi Rey mengucapkan perkataan yang menjadi kode untuk Zahwa, tapi gadis itu masih tidak peka. Pikirannya masih tertuju kepada Raihan.


"Kakak..."

__ADS_1


"Ya udah, kakak antar ya. Yuk!" ajaknya dengan senyuman getir dan tatapan sendu pada gadis yang dia cintai itu.


Ya Allah, rupanya begini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Sakit sekali...


Rey dan Zahwa menaiki mobil yang dibawa Rey, Mereka pun berangkat menuju ke pesantren Ar Rasyid. Pesantren yang dipimpin oleh ustad Arifin.


20 menit kemudian, mereka berdua telah sampai di depan gerbang pesantren Ar Rasyid. Mobil yang dibawa Reyndra tidak bisa masuk ke dalam halaman gerbang pesantren tersebut karena disana ramai oleh para pelayat yang berdatangan, pastinya untuk melayat ustadz Arifin.


Bendera kuning terlihat berkibar didepan gerbang pesantren, begitu pula dengan orang-orang disana. Keadaan semakin sumpek, bahkan untuk masuk ke dalam pesantren saja sulit.


"Wa, banyak orang disini? Kamu yakin mau ke dalam?" tanya Rey yang ragu melihat banyak orang disana.


"Tapi kak aku harus masuk kesana..." ucapnya lirih.


Pria itu begitu melindungi Zahwa. Zahwa jadi teringat waktu kecil, Rey selalu menggenggam tangannya seperti ini dan melindunginya. Tersirat senyum tipis dibibirnya.


Setelah berhasil melewati banyak kerumunan orang, Zahwa dan Rey sampai didepan rumah yang ada banyak orang disana. Termasuk keluarga Raihan. Zahwa dan Rey belum bisa masuk karena banyak orang dalam rumah.


Hati Zahwa sedih melihat bulir air mata yang jatuh membasahi pipi Raihan. Namun ada hal janggal disana ketika dia melihat Raihan duduk berdampingan bersama Zainab.


"Kak Zainab? Kenapa kak Zainab ada disini?" gumam Zahwa bingung melihat Zainab disana.


Beberapa orang pergi keluar dari sana, terdengar suara dua orang pria mengobrol membicarakan tentang kebaikan ustad Arifin. Zahwa dan Rey tak sengaja mendengarnya.

__ADS_1


"Gak nyangka ya orang sebaik ustadz Arifin meninggal secepat ini,"


"Iya, tapi katanya orang baik suka dipanggil duluan. Apalagi beliau adalah pimpinan pesantren yang dihormati semua orang."


"Tapi syukurlah...sekarang Raihan sudah menikah dan dia bisa memimpin pesantren menggantikan posisi ustadz Arifin. Bukankah yang muda lebih baik untuk memimpin pesantren ini?"


"Benar...istrinya juga sangat cantik dan dia adalah putri dari ustadz Burhan. Mereka sangat cocok."


Mendadak kaki Zahwa menjadi lemas mendengarnya, hatinya berdegup kencang, matanya terbelalak. Rey juga terkejut sama halnya seperti Zahwa, dia melihat Zahwa yang wajahnya menjadi pucat.


Mas Raihan sudah menikah? Gak mungkin!. Zahwa tak percaya begitu saja.


"Pak! Maaf, apa benar mas Raihan sudah menikah?" Zahwa menghadang jalan salah satu laki-laki yang tadi berbicara tentang pernikahan Raihan.


"Iya mbak, semalam Raihan dan putri ustadz Burhan sudah resmi menikah." jelas laki-laki itu menjawab pertanyaan Zahwa.


Zahwa bungkam, dia tidak bisa bicara lagi. Hanya air mata yang menetes jatuh dari pipinya.


Mas, kenapa kamu menyakiti aku lagi Mas?


Wanita itu menatap Raihan dan Zainab yang duduk berdampingan di dalam rumah, dengan perasaan sakit hati dan terluka.


...*****...

__ADS_1


Wah wah... bagaimana reaksi Zahwa selanjutnya ya? Apa dia akan mengamuk pada Raihan? 🙈


__ADS_2