
...🍁🍁🍁...
Memang semuanya tidak mudah, Rey sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Tapi Rey tidak menyangka bahwa akan separah ini, apalagi Nilam sampai masuk rumah sakit karena tekanan darah tinggi.
Semua orang sedang menunggunya di rumah sakit dengan gelisah. Dokter mengatakan bahwa Nilam baik-baik saja dan hanya perlu istirahat, tidak sampai mengancam nyawa untuk saat ini. Tapi jika Nilam stress dan banyak pikiran, akan berpengaruh pada kesehatannya. Tekanan darah tingginya bisa membuat dia mengalami stroke, apalagi sebelumnya Nilam pernah mengalami riwayat stroke.
Para orang tua masih menunggu Nilam di depan ruangan dengan gelisah. Sementara itu Rey, Zahwa, Zayn, Selina, Bima dan Fania berada di ruang rawat lain.
Luka-luka Rey di obati oleh Zahwa di sana. Gadis itu terus menangis terisak, sambil mengobati luka-luka di wajah pria yang dia cintai itu. Wajahnya lebam dan memar akibat ulah Bram yang emosi. Pria itu memang tidak bisa menahan emosinya, tapi kalau sedang baik maka dia akan sangat baik. Sifatnya seperti api dan angin.
"Nemo...jangan nangis terus dong, aku jadi ikut sedih." ucap Rey dengan tangan yang mengusap air mata dipipi gadis itu.
"Hiks...hiks..." Zahwa terisak sambil menempelkan plester di pipi Rey untuk menutupi lukanya.
"Zahwa, hey...jangan nangis gini dong. Aku jadi gak tenang, please."
"Gimana aku bisa tenang kak, Oma sakit...aku takut kak...aku takut..." suara gadis itu gemetar, mengartikan sebuah ketakutan didalam dirinya.
Rey juga jadi takut melihat Zahwa seperti ini, dia takut Zahwa akan menyerah padahal mereka baru memulainya. Memang jalan mereka tidak mudah, restu adalah hal yang sulit.
"Jangan takut, kakak ada disini...akan selesaikan semuanya, kamu diam aja ya. Semua orang pasti akan merestui kita, cepat atau lambat." ucap Rey sambil menggenggam tangan Zahwa. "Kamu percaya aja sama kakak," timpalnya lagi dengan sorot mata menenangkan Zahwa untuk bertahan.
Zayn dan Selina duduk di sofa yang tak jauh dari sana. Mereka kasihan memikirkan Zahwa dan Rey yang jalannya tidak mudah untuk bersama.
"Maaf menyela obrolan kalian, tapi ada beberapa hal yang ingin om tanyakan!" Bima tiba-tiba menyela pembicaraan antara Rey dan Zahwa. Bima menatap tajam pada Rey dan Zahwa.
"Iya om, tanyakan saja."
Bukan Rey namanya kalau dia tidak bisa bersikap tenang, dia selalu tenang menghadapi situasi apapun. Mau pekerjaan ataupun masalah lainnya. Ketakutannya hanya satu, yaitu Zahwa menyerah akan dirinya atau pergi menjauh darinya.
__ADS_1
Bima menghela nafas berat, lalu dia mulai bertanya dengan sorot tajam pada Rey dan Zahwa. "Sejak kapan kalian menjalin hubungan? Dan--siapa yang mulai lebih dulu?"
"Baru-baru ini om karena Zahwa baru menyadari perasaannya padaku. Dan tentang yang memulai semua ini, itu adalah--"
Sementara Zahwa terdiam, dia tidak berani mengangkat kepalanya didepan om dan tantenya ini. Apalagi wajah Bima yang mengingatkannya akan Satria, papanya yang telah tiada. Entah kenapa dia merasa berdosa.
"Pasti kamu kan Rey?" Tebak Bima seraya memotong ucapan Rey.
"Benar om, Rey yang mulai." Rey mengaku.
"Rey, Zahwa, apa bisa kalian tidak berhubungan saja? Kalian ini saudara sepupu, bagaimana bisa kalian--"
"Om, om tau sendiri kan kalau kami gak ada hubungan darah. Aku juga cuma anak angkat om, memangnya ada larangan untuk Rey menikah dengan Zahwa? Rey rasa gak ada halangan om," ucap Rey memotong perkataan Bima yang menentang juga.
Bima terdiam sambil menghela nafas. Akhirnya Fania yang bicara. "Haaah...Rey, bukan begitu maksud om kamu. Kamu semua tau kalau kalian tidak punya ikatan darah, benar juga bahwa kalian bisa menikah....tapi apa kamu paham Rey? Alasan papa kamu begitu marah dan alasan kenapa Oma kamu begitu syok? Itu karena mereka tidak pernah menganggap kamu sebagai orang luar, bagi kami kamu juga bukan orang luar Rey. Lalu, kamu sama Zahwa sudah hidup selama ini sebagai saudara dan tiba-tiba saja kamu mengatakan kepada semua orang bahwa kalian memiliki hubungan dan berniat menikah. Coba pikir? Siapa yang tidak akan syok dan tidak akan marah? Intinya, kamu adalah keluarga Calabria, Rey...satu nama dengan Zahwa, kakak sepupu Zahwa dalam kartu keluarga dan dalam pandangan masyarakat."
"Lalu untuk kamu, Zahwa! Alasan mama kamu marah juga sama dengan alasan semua orang. Mereka kecewa ,syok, tidak menyangka bahwa putrinya dan juga putranya memiliki hubungan dan ini yang sulit di luruskan." tutur Fania sambil menatap Zahwa yang masih menundukkan kepalanya.
"Jadi kamu sudah tahu bagaimana resikonya? Lalu kenapa kamu berani mengatakan kamu akan menikahi Zahwa didepan semua orang?" tanya Bima dengan kening berkerut.
"Lalu apa salah cinta om? Aku sangat mencintai Zahwa dan aku tidak bisa melepaskannya, sejak usiaku 13 tahun aku sudah jatuh hati pada Zahwa, aku sadar perasaanku ini bukan perasaan kakak pada adiknya. Cinta tidak tahu bagaimana dan pada siapa, rasa itu akan terjadi? Ya kan om, Tante?"
Bima dan Fania menganggukkan kepalanya, dia menghela nafas seolah setuju dengan apa yang dikatakan oleh Rey. Benar juga, cinta memang datang kapan saja dan bisa ada siapa saja tak peduli orangnya.
Memang benar tidak ada larangan bagi Rey dan Zahwa kalau mereka mau menikah atau memiliki keturunan sekalipun. Mereka bukan sepupu kandung, mereka tak ada ikatan darah, hanya saja masalah terbesarnya adalah RESTU. Dan semua orang tau selama ini mereka sudah hidup sebagai saudara.
Jujur, ini juga menyakiti hati Amayra. Rey sudah seperti anaknya sendiri, bagaimana bisa Rey berlaku seperti ini.
Ketika itu Amayra, Bram dan Diana datang ke kamar Rey. Mereka menatap Zahwa dan Rey dengan tatapan tajam, lalu Amayra menarik tangan Zahwa menjauh dari Rey.
__ADS_1
"Mama..." Zahwa menatap mamanya yang memegang tangannya begitu erat.
"Kami sudah mengambil keputusan dan kalian harus memilih." Kata Bram tegas.
Rey menatap papanya dengan tatapan tajam. "Apapun keputusan papa, aku akan tetap menikahi Zahwa."
"Reyndra Aqmar Calabria!" Bram melotot pada Rey, tangannya mengepal erat menahan amarah.
"Tidak pa...aku tidak akan menyerah, sudah bertahun-tahun aku menyimpan perasaan ini dan aku akan tetap bertahan sampai kami menikah."
Apa aku harus pakai cara itu? Ya Allah.... bismillah....
"REY!" Bentak Bram pada putranya.
"Jika masalahnya aku tidak bisa menikah dengan Zahwa karena status aku sebagai keluarga Calabria, maka... CORET AKU dari kartu keluarga Calabria, PA!" seru Rey tegas tanpa ragu.
Ucapan Rey sontak saja membuat semua orang yang mendengarnya terperangah dan kecewa. Tidak menyangka bahwa Rey akan mengambil keputusan seperti ini.
Tangan Bram gemetaran, apalagi Amayra yang meneteskan air matanya saat ini.
Kakak....demi aku kakak melakukan semua ini? Kakak memutus hubungan keluarga kita agar kakak bisa menikahiku. Aku sungguh terharu ,tapi ini salah...
"Kakak..."
"Maaf Nemo...kakak harus melakukan ini, tapi kamu tenang saja." ucap Rey sambil tersenyum pada Zahwa.
Begitu berat perjuangan mereka, sampai Rey berani mengambil keputusan berat seperti ini. Membuktikan betapa cintanya Rey pada gadis bernama Kalima Zahwa Jawharah.
...*****...
__ADS_1
Hai Readers, tenang tenang dulu...konflik aku fokuskan pada Rey Zahwa dulu ya🤧 mungkin agak bawang, tapi mohon sabar ya. Tak lama lagi mereka akan bersatu, pasti bahagia🤧