
...🍁🍁🍁...
Gadis remaja yang baru akan menginjak usia 16 tahun itu, jatuh terduduk diatas lantai kamarnya. Setelah dia memuntahkan makanan yang ia makan dari pagi sampai saat ini.
Air matanya luruh, tubuhnya gemetar ketakutan, ia takut kalau hal yang ia takutkan benar-benar terjadi. "Tenang Sel...tenang...sekali melakukan itu gak akan hamil, pasti kamu gak hamil Sel!" gumam Selina sambil mengigit jari-jarinya. Di mulut di berkata tenang tapi dalam hatinya dia sungguh kacau.
Selina kembali terisak manakala kepalanya kembali mengingat adegan pemerkosaan itu. Dan dia lemah tak berdaya di bawah Kungkungan dua orang pria. "Gak! Ini gak mungkin...hiks....jahat kamu Rivano, jahat kamu Irfan!" teriak Selina sambil memegang kepalanya.
Tok,tok,tok!
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Selina. Selina pun mengusap air matanya buru-buru, dia baru saja barusan dia berteriak dan pastinya akan membuat orang-orang di rumahnya jadi cemas.
"Sel! Kamu kenapa nak? Kenapa teriak-teriak?" suara bariton rendah terdengar di luar kamar itu. Selina mengenali suara itu adalah suara Papanya.
"Ah...aku gak apa-apa Pa, biasa ini lagi nonton drakor Pa, maaf ya pah kalau aku berisik." ucap Selina sambil menahan isak tangisnya.
Papa, maafin Selina Pa...maafin Selina...
"Kamu ini kebiasaan deh kalau nonton drakor suka heboh. Ya udah, bukain dulu pintunya sayang... Papa bawakan makanan buat kamu, katanya kamu belum makan malam."
"Eungh--"
Gimana ini, aku bisa keluar dengan kondisi begini?
"Sayang...Selina, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bram dari balik pintu kamar putrinya.
"Papa simpen aja dulu makanannya di depan, nanti aku ambil Pa...ini aku lagi ganti baju pa, takutnya papa kelamaan nunggu." kata Selina pada Papanya.
Bram mengerutkan keningnya, sebenarnya ia sedikit curiga dengan tingkah Selina akhir-akhir ini. Tapi ia menyimpan kecurigaannya, mungkin anaknya memang sedang sakit. Sudah 3 hari ini Selina tidak pergi ke sekolahnya karena sakit.
"Ya udah, papa simpan disini ya sayang. Jangan lupa dimakan."
Setelah Bram meletakkan nampan berisi makanan itu di depan kamar putrinya. Tak lama kemudian, Selina membuka pintu kamar dan mengambil nampan itu. Lalu dia kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Bukannya memakan makanan itu, Selina malah menangisinya. Bagaimana dia mau memakannya sedangkan ketika dia habis makan, dia selalu memuntahkan makanan itu?
*****
Pada hari Minggu itu...
Di rumah Zahwa dan Rey.
Terlihat pasangan suami istri itu sedang duet bersama. Duet memasak di dapur karena mereka akan kedatangan Zayn dan Aini ke rumah mereka, sekalian berkunjung ke rumah baru itu. Zayn dan Aini telah bertunangan satu Minggu yang lalu, saat Zahwa masih berada di rumah sakit dan mereka akan segera menikah akhir tahun ini.
Disini Zahwa baru tau ternyata suaminya lebih jago memasak daripada dirinya. Rey merasa percaya diri karena selama tinggal di Singapore, Rey suka memasak sendiri dan dia tidak terbiasa dengan orang asing di rumahnya dan dia melakukan semuanya sendiri.
"Aku sempat gak percaya masakan Mas bisa seenak ini," komentar Zahwa setelah mencicipi semur telur masakan suaminya.
"Kenapa? Kamu insecure ya? Masakanku lebih enak dari masakanmu?" tanya Rey seraya menatap sang istri yang tengah mengatur meja makan.
"Kalau boleh jujur sih iya! Terus Mas belajar masak dari mana?" tanya Zahwa sambil menyusun piring dan gelas diatas meja makan.
"Dari YT, sama buku masakan." jawab Rey sambil memegang pinggang istrinya dengan genit. Tatapannya juga begitu nanar pada sang istri
"Mas...jangan mulai deh!" tingkah Rey membuat Zahwa menoleh ke arah suaminya, dia tau kalau suaminya sudah pegang-pegang begini pasti dia mau pertemuan Rosalinda dan Alfonzo.
__ADS_1
"Hehe iya sayang iya, aku cuma mau pegang aja kok." Rey terkekeh lalu melepaskan pegangan genitnya pada Zahwa. Kemudian dia pergi ke kamar mandi karena kebelet pipis.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel pintu rumah ditekan. "Itu pasti kak Zayn sama Aini!"
Buru-buru Zahwa melangkahkan kakinya ke pintu depan rumah itu. Dia membuka pintu rumahnya dan terlihat pasangan yang sudah bertunangan berdiri didepan pintu rumah Rey Zahwa.
Zahwa menyambut kakak dan calon kakak iparnya dengan ramah. Aini dan Zayn pun masuk ke dalam rumah, mertua berdua langsung duduk di meja makan.
"Cie...cie yang mau married," celetuk Zahwa ditengah-tengah acara makan siang itu.
"Hehe doain aja ya supaya lancar sama si Piktor." Aini terkekeh, dia terlihat bahagia karena akhirnya bisa bersama dengan pria yang ia cintai.
Zayn langsung melotot menatap ke arah Aini. "Maaf aku lupa, Zayn ganteng..."
"PFut..." pasangan suami-istri itu menahan tawa mendengar pujian Aini untuk Zayn dan Zayn terlihat senang.
"Nah gitu dong, jangan piktor piktor mulu Ai." sahut Zayn sambil tersenyum.
"Maaf Zayn, aku lupa hehe.." Aini menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan wajah polosnya.
Zahwa dan Rey bahagia karena Zayn dan Aini terlihat bahagia menyambut pernikahan mereka. Ya, mereka saling mencintai walau cinta datang pada mereka dalam waktu singkat. Keduanya tampak cocok dan serasi.
"Oh ya, kok Aini gak pakai cincin sih?" tanya Zahwa yang fokus pada jari jari Aini yang polos. Padahal sebelumnya ada cincin emas disana, cincin pertunangan Aini dan Zayn.
"Cincinnya udah gak muat, wa." ucap Aini dengan bibir yang mengerucut.
"Gak muat? Kok bisa?" tanya Zahwa penasaran.
"Zahwa, kamu tau sendiri kan kalau dia tuh woman Hulk, sama kayak kamu...makannya banyak..." ledek Zayn seraya menatap Aini yang melotot padanya. Namun Zayn hanya tersenyum. "Jadi terpaksa deh beli cincin baru..haha." lanjutnya sambil tertawa.
"Aduh Ai! Sakit..." pekik Zayn merasakan tangannya yang kebas akibat di pukul oleh Aini.
"Sama calon istri sendiri panggil woman hulk, berani ngejek! Dibilang piktor gak mau!" kesal Aini pada calon suaminya itu. Sedangkan Zahwa dan Rey yang melihat perdebatan itu malah tersenyum senang karena mereka begitu harmonis.
"Haha...maaf woman Hulk, maaf..." canda Zayn sambil tertawa melihat wajah Aini yang kesal padanya.
Kedua pasangan itu terlihat bahagia ketika mengobrol dan bercanda bersama. Apalagi sebentar lagi Zayn dan Aini akan segera menikah 2 bulan lagi.
*****
Tak terasa hari pun berlalu dan sampai pada hari syukuran rumah Rey dan Zahwa. Mereka baru sempat mengadakannya karena Rey sibuk di kantornya. Saat Rey libur barulah acara syukuran itu di laksanakan.
Acara tersebut di hadiri oleh keluarga dan tetangga dekat saja dengan memberikan bingkisan setelah pengajian. Terlihat Selina, Alisa dan Viona membantu membagikan bingkisan itu kepada tetangga dekat.
Setelah itu Selina, Alisa dan Viona duduk di taman belakang rumah baru Rey yang ada kolam ikan disana. "Kak Selina! Kita makan yuk?" ajak Alisa pada Selina yang hanya melamun saja.
"Kak!" seru Viona yang juga memanggil Selina.
"Eh...iya? Ada apa Vi, Al?" tanya Selina yang baru saja tersadar dari lamunannya.
"Kita makan yuk!" ajak Alisa sambil memegang tangan Selina.
"Kalian dulu aja deh, kakak masih mau disini." tolaknya halus sambil tersenyum.
Dari kejauhan Zahwa melihat itu, Selina tidak seperti biasanya. Dia merasa bahwa ada yang aneh dengan adiknya itu. Selina yang cerewet dan selalu heboh, kini menjadi lebih pendiam.
__ADS_1
Setelah Alisa dan Viona masuk ke dalam rumah, Zahwa menghampiri Selina sambil duduk di bangku kosong tepat di sampingnya.
"Sel, kamu ada masalah apa? Akhir-akhir ini kakak perhatikan kamu tidak banyak bicara, ada apa?" tanya Zahwa dengan lembut menatap Selina.
"Gak ada apa-apa kak."
Aku ingin cerita...tapi aku bingung mau cerita sama siapa.
"Sel, kalau kamu ada masalah...masalah itu gak akan selesai kalau kamu pendam sendiri. Ayo curhat sama kakak!"
Selina mengerutkan keningnya, matanya mulai berkaca-kaca dan Zahwa semakin yakin bahwa ada sesuatu pada Selina.
"Kak... sebenarnya a-aku..."
Brak!
Tiba-tiba saja Aini datang mengagetkan dua wanita yang sedang duduk santai itu dan menghentikan ucapan Selina. "Hey lagi pada ngapain disini? Kok aku gak diajakin sih? Lagi pada gibahin aku ya?"
"Idih...calon manten ini apa-apaan sih!" Zahwa tersenyum menyambut sahabatnya itu. Sekaligus akan menjadi kakak iparnya.
"Hehe, aku disuruh mama Amayra buat panggil kalian ke dalam. Yuk kita makan bareng." ajak Aini pada dua wanita itu.
Zahwa memegang tangan Selina dan mengajaknya masuk. Akhirnya Selina tak jadi bercerita pada Zahwa, meskipun Zahwa bertanya lagi ada apa. Dia akan bercerita nanti tentang benda garis dua yang dia simpan di rumahnya itu.
Ya, Selina hamil setelah dia cek dengan menggunakan test pack. Dia sangat terkejut dan tidak menyangka ini semua akan terjadi padanya. Lalu dia berencana bercerita pada Zahwa untuk meminta solusi. Hanya Zahwa saja yang bisa ia percaya saat ini.
Kini semua keluarga Calabria telah berkumpul di tengah rumah, mereka duduk di atas karpet untuk malam malam bersama. Beragam makanan telah tersedia disana dan siap disantap. Wajah semua orang terlihat bahagia kecuali Selina yang pura-pura bahagia.
Attar dan kedua orang tuanya juga ada disana. Attar dapat melihat kesedihan Selina walau dari kejauhan. 'Selina kenapa ya? Akhir-akhir ini dia terlihat murung.'
Ketika acara makan-makan dan canda tawa di tengah rumah masih berlangsung. Tiba-tiba saja Zahwa mengeluh sakit kepala, kepada suaminya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rey melihat raut wajah istrinya yang pucat.
"Mas... kepalaku pusing, gak apa-apa kan aku ke kamar duluan?"
"Kamu pusing sayang? Ya udah, aku antar ke kamar ya." Rey hendak beranjak dari duduknya, dia cemas mendengar keluhan istrinya yang sakit kepala.
"Gak usah Mas, aku cuma butuh tiduran aja. Kamu disini dulu, takutnya masih ada tamu yang datang."
"Tapi sayang--"
"Aku ke kamar dulu ya Mas." pamit Zahwa lalu pergi dari acara makan malam bersama itu. Beruntungnya yang lain sedang sibuk hingga tak sadar Zahwa pergi dari sana. Sementara itu Rey tidak tenang melihat istrinya pergi begitu saja.
Akhir-akhir ini Rey menyadari bahwa istrinya sering mengeluh lemas dan banyak tidur. Zahwa juga jadi pemalas, biasanya dia mandi 2-3 kali sehari tapi kali ini dia mandi cuma satu kali sehari kalau tidak ada pertemuan Rosalinda dan Alfonzo.
Aneh! Mengapa istrinya jadi pemalas dan tukang tidur, alias kaum rebahan.
Tak lama kemudian terdengar teriakan Lulu dan Dewi dari arah dapur. "Innalilahi! Non Zahwa!"
"Zahwa? Ada apa itu?" tanya Bram dan Bima bersamaan setelah mendengar teriakan Lulu dan Dewi.
Semua keluarga Calabria pun bergegas menuju ke arah dapur dengan wajah panik, terutama Rey yang berada di tempat paling depan.
...****...
__ADS_1