
...🍀🍀🍀...
Malam itu Rey menghubungi Salimah lewat pesan singkat. Mungkin sebuah ancaman tidak membongkar rahasianya kepada Zahwa. Rahasia yang mungkin akan membuat hubungannya dan Zahwa menjadi berantakan.
Dia akan segera menikah dengan wanita pujaan hatinya yang selama ini sangat dia tunggu-tunggu. Pastinya Rey tidak mau ada penghalang satupun di dalam pernikahan itu. Rintangannya saat ini adalah Salimah dan rahasia besarnya. Rahasia yang seperti bom waktu.
Segera setelah Rey mengirim pesan untuk Salimah, tiba-tiba ponselnya berdering dan ada panggilan dari Salimah. "Mau apa dia menelponku?"
Rey menepikan mobilnya di pinggir jalan, lalu dia mengambil ponselnya dan segera mengangkat panggilan itu dengan wajah kesal.
"Halo... assalamualaikum."
"Waalaikumsalam pak Reyndra,"
"Ada apa Salimah?"
Terlihat diseberang sana Salimah menahan kesal dengan sikap dingin Ray yang dianggapnya hanya memanfaatkan dirinya saja.
"Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya akan menyimpan rahasia ini baik-baik dan anda tidak perlu mengancam ataupun membujuk saya dengan uang."
"Apa kamu bersungguh-sungguh?" tanya Rey banyak keraguan di dalam nada bicaranya. Dia tidak percaya bahwa Salimah yang sedang patah hati itu, akan dengan mudah melakukan perintahnya.
"Ya, saya bersungguh-sungguh pak Reyndra. Benar kata pak Rey, bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan dan saya menerimanya."
Rey terdiam sejenak, dia sebenarnya tidak begitu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Salimah. Tapi Rey mencoba untuk percaya dengan kata-katanya. Tidak ada pembicaraan yang panjang di antara mereka berdua, hanya saja Salimah berjanji tidak akan membocorkan masalah pembatalan pernikahan itu dengan alasan bahwa dia tidak mau membuat rumah tangga kakaknya menjadi hancur. Alasan yang masuk akal, tapi bagaimana ambisinya pada Zayn? Benarkah hilang begitu saja?
"Ya Allah, semoga saja Salimah menepati janjinya dan tidak mengatakan apapun pada Zahwa karena nanti aku sendiri yang akan mengatakannya. Hanya sekarang aku belum siap melihat semua bayangan itu, aku belum siap..." gumam Rey sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Bayangan wajah marah Zahwa terlintas di kepalanya dan itu membuat Rey takut.
Sementara itu Salimah baru saja akan merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah menyimpan ponselnya ke atas nakas. "Kamu pikir aku akan diam saja? Lihat saja Reyndra Aqmar Calabria dan tunggu waktunya." gumam gadis itu sambil tersenyum menyeringai. Tampaknya Salimah memiliki rencana yang tidak sederhana.
*****
Di kamar Raihan dan Zainab, setelah selesai memakan setengah coklat di dalam kotak. Raihan mengajak istrinya untuk segera tidur, tapi bukan ajakan tidur yang seperti itu.
__ADS_1
Dia mengajak Zainab untuk berhubungan badan, walau tidak bicara tapi Raihan menunjukkan dengan sikap dan gerakannya pada Zainab.
"Euhm...mas Raihan..." lenguh Zainab saat merasakan bibir panas Raihan menciumi tengkuknya.
"Kamu gak mau Nab?" tanya Raihan pada istrinya, lalu dia menghentikan ciuman itu. Ditatapnya sang istri dengan bingung.
"Bu-bukannya begitu mas."
"Setahuku saat hamil masih boleh berhubungan kok, asalkan jangan terlalu...ya gitu lah."
"Boleh sih mas, tapi..."
"Kenapa?"
"Aku belum siap siap mas." ucap Zainab malu-malu.
"Untuk hal yang seperti itu tidak perlu siap-siap nab, kamu cukup terima saja apa yang akan aku berikan padamu dan jangan lupa berdoa untuk keselamatan kita." Sikap Raihan begitu lembut pada Zainab, kini ketika dia melakukan penyatuan tubuh dengan istrinya. Ia tidak lagi memikirkan tentang Zahwa ataupun membayangkan tentang mantan kekasihnya itu. Dia sadar akan dosa, bila dia terus memikirkan wanita lain maka hati istrinya akan terluka.
Mana mungkin juga Zainab menolak permintaan suaminya akan kewajibannya sebagai seorang istri. Malah dia sangat senang karena Raihan memintanya terlebih dahulu, biasanya dia duluan yang selalu meminta. "Gak apa-apa kan kalau aku belum siap siap?"
"Iya gak apa-apa," Raihan tersenyum, kemudian dia mendekatkan wajahnya dan menarik tengkuk Zainab. Tak berapa lama kemudian, bibir mereka sudah menyatu dan saling bertukar Saliva.
"Aku akan lembut," ucap Raihan setelah mengurai ciuman panas ya di bibir lalu mengecup kening Zainab. Ia bersiap untuk melakukan penyatuan dengan istrinya.
Zainab tersenyum, dia pun mengangguk lalu didalam hati dia mengucapkan doa agar cepat diberikan keturunan oleh yang maha kuasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Rabbi hab lî mil ladungka dzurriyyatan thayyibah, innaka samî‘ud-du‘â'.
"Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS Ali ‘Imran: 38)
Mereka berdua pun merebahkan tubuh mereka diatas ranjang, sambil berpagutan dengan lembut mereka mulai menanggalkan pakaian mereka. Malam itu menjadi malam yang paling membahagiakan untuk Zainab karena untuk pertama kalinya Raihan meminta berhubungan suami istri.
__ADS_1
Ya Allah.... tolong kabulkan doaku, berikanlah aku keturunan mas Raihan agar mas Raihan tidak meninggalkan aku dan kebohonganku tidak akan terbongkar.
...******...
Pagi itu Rey terlihat sedang bersiap-siap, dia memakai setelan kemeja dan juga membawa koper kecil yang berisi baju-bajunya. "Rey, kamu mau pergi ke Bali hari ini?" tanya Nilam yang tiba-tiba sudah berada diambang pintu kamarnya bersama dengan Diana yang membantunya mendorong kursi roda.
Rey mendorong kopernya lalu dia berjalan ke arah Nilam. "Iya Oma, doakan Rey ya... Semoga perjalanan Rey lancar." ucap Rey dengan sopan meminta doa keselamatan kepada Nilam.
"Pasti Oma akan selalu mendoakan kamu nak. Tapi papa kamu... Oma kesal sekali dengan papa kamu. Bagaimana bisa dia menyuruh calon pengantin untuk pergi ke Bali menyelesaikan urusan bisnis? Hah... Bram memang bener-bener keterlaluan." Nilam mendengus kesal, saat tau anaknya mengirim sang cucu yang akan segera menikah ke Bali.
"Gak apa-apa Oma, Rey yang mau kok. Katanya habis ini papa mau kasih hadiah buat Rey dan Rey juga bisa ambil cuti panjang." Rey tersenyum lembut sambil memegang tangan Nilam, dia sayang sekali pada Nilam. Meski waktu kecil Nilam pernah memperlakukannya dengan tidak baik karena dia hanya anak angkat keluarga itu.Namun lama-kelamaan kebaikan Rey telah mengubah sifat keras kepala Nilam berubah menjadi sayang.
Sementara itu Diana hanya tersenyum mendengar jawaban dari omanya.
Nilam menghela nafas panjang, "Ya sudah deh, ayo kita turun dan sarapan bareng."
"Iya ayo Rey, sarapan pagi ini spesial buat kamu." Kata Diana sambil terkekeh.
"Spesial?" Rey mengurutkan kening dan menatap mamanya dengan penuh tanda tanya. Apa yang dimaksud Diana dengan sarapan spesial?
Tak lama setelah itu, Rey, Nilam dan Diana turun dari lantai dua. Nilam dibantu oleh Rey untuk turun dari lantai dua karena kakinya masih lemas. Sarapan spesial yang dimaksud adalah keberadaan Zahwa disana.
Terlihat Zahwa sedang menata makanan di meja makan, tak hanya itu dia juga menyiapkan sesuatu di kotak bekal. Senyum Rey merekah melihat sosok bidadari cantik hatinya berada didepannya saat ini.
"Wah...lihat itu si kakak, lihat bidadarinya langsung senyum senyum!" tunjuk Selina dengan jahil pada kakaknya.
"Sel, kalau ngomong jangan sembarangan." ucap Rey sambil duduk di meja makannya dengan wajah bersemu merah.
"Kak Zahwa, masa aku di bilang ngomong sembarangan sih? Jadi kakak ipar bukan bidadarinya kak Rey dong?" sindir Selina sambil tersenyum menggoda pada Zahwa.
"Iya, aku memang bukan bidadarinya tapi...Nemonya." canda Zahwa yang membuat Rey semakin malu-malu.
"Haha..iya benar juga. Nemo sama kulkas 15 pintu, cocok banget." Selina terkekeh melihat raut wajah Rey yang dingin tapi bibirnya senyum.
__ADS_1
Zahwa memang pandai membuat hati Rey berdebar tak karuan dan tak pernah bisa membuatnya bosan.
...****...