Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 43. Rey nekat


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Tubuh Zahwa menegang, dengan pelukan berbeda dari kakak sepupunya apalagi saat mendengar kata cinta darinya. Suasana yang berbeda dia rasakan saat itu, dia sadar Rey tidak bercanda. Hatinya berdebar kencang mendengar kata cinta itu berbisik di telinganya, namun disisi lain dia takut.



Zahwa tiba-tiba tertawa untuk memecah kecanggungan, pikiran dan hatinya masih berusaha untuk sinkron. Mungkin saja ada hal lain kenapa Reyndra begini. "Haha...Kak, kalau bercanda tuh jangan keterlaluan dong. Kakak pasti lagi siapin rencana buat lamar cewek itu kan? Jadi kakak latihan dulu sama aku, ta-tapi..."


Dalam sekejap mata, tubuh Zahwa yang tadi membelakangi Rey, kini berhadapan dengannya. Sungguh Zahwa tidak berani menatap mata Rey, padahal pria itu menatapnya dengan tatapan tajam dan sama sekali tidak ada bercanda disana.


"Zahwa aku tidak bercanda, aku cinta sama kamu...apa semua ini tidak bisa membuat kamu paham kalau aku tidak main-main?" Rey masih memegang erat kedua lengan Zahwa, tapi gadis itu masih tidak mau melihatnya. Dia sudah tidak sabar untuk mengungkapkannya.


"Kak....aku mohon jangan--" ucap Zahwa dengan suara gemetar.


Kenapa kak Rey begini lagi? Dia tidak sedang bercanda...


"Lihat aku Kalima Zahwa Jawharah! Tatap mataku dengarkan aku baik-baik, aku Reyndra Aqmar Calabria, mencintaimu Kalima Zahwa Jawharah!" seru Rey tegas pada wanita yang selama ini berstatus sebagai adik sepupunya itu.


Zahwa terdiam dan perlahan air matanya menetes, tapi ia paham bahwa perhatian Rey akhir-akhir ini menunjukkan rasa cinta bukan sayangnya pada saudara. "Kak...ini salah, kakak gak boleh begini. Pasti kakak salah..."


Tidak Rey, kamu tidak boleh mundur...sudah cukup kamu menahan perasaanmu selama ini. Kamu harus meyakinkan Zahwa, bahwa kamu serius padanya. Rey sudah tau bahwa Zahwa akan menyangkalnya, jadi kali ini dia tidak akan mundur.


Tangan Rey memegang dagu Zahwa dengan posesif dan otomatis membuat wajah Zahwa mau tak mau mendongak ke arahnya. Atensi keduanya pun mau tak mau jadi bertemu. Tatapan Rey begitu dalam pada gadis itu, menyiratkan cinta sebagai seorang pria pada wanitanya.


"Kakak...tolong jangan bercanda seperti ini...kita saudara," ucap Zahwa dengan hati berdebar disertai air mata mengalir deras di wajahnya.


Jadi perhatian kak Rey selama ini, ciri-ciri wanita yang dicintainya itu adalah aku? Bagaimana mungkin?


Tidak peduli dengan air mata yang mengalir deras itu, Rey terus menekankan Zahwa bahwa perasaannya ini nyata. "Aku tidak bercanda, wanita yang kucintai selama 14 tahun...hanyalah kamu seorang, Wa. Aku cinta kamu, aku mau kamu jadi istriku!"


"KAKAK!" teriak Zahwa terkejut dengan ucapan Rey padanya. Belum cukup kata cinta, Rey mengatakan dia ingin menikahinya, sungguh Zahwa tidak menyangka hal ini. Terlalu mendadak baginya mendengar pernyataan Rey, "Kak, aku akan anggap kakak tidak pernah mengatakan ini padaku. Ya, kakak jangan sedang bercanda saja...itu saja!"


Bagaimana bisa kakakku sendiri mencintaiku sebagai seorang wanita? Astagfirullah...ini salah.

__ADS_1


Zahwa menepis kedua tangan Rey yang memeganginya, dia menahan tangisnya yang akan pecah. Kemudian dia berjalan pergi keluar dari rumah pohon itu. Rey menarik tangan Zahwa kembali ke dalam pelukannya, dia tidak bisa menahan rasanya lagi.


"Kakak! Lepasin aku kak! Ini salah! Kita gak boleh--" mata Zahwa bergetar melihat sorot mata tajam Rey padanya yang membuat ia sadar bahwa Rey memang mencintainya. Tapi dia tidak peka terhadap perhatian Rey padanya.


Tangan Rey menahan tengkuk Zahwa dibalik jilbabnya yang berwarna violet itu. "Aku tidak akan minta maaf, karena aku cinta kamu."


"Kakak--hmph--"


Supaya ini bisa menyadarkan kamu. Batin Rey.


Rey melakukan saran dari Niko, terbilang nekat memang tapi dia tidak bisa menahan hasrat yang membuncah dari dirinya yang selama ini dia tahan. Dia mencium bibir ranum cantik Zahwa, didorong oleh setan laknat yang didasarkan kata cinta. Zahwa semakin terisak, dia mendorong-dorong tubuh Rey, tapi sayangnya tangan kanannya yang masih sakit belum bisa berfungsi dengan baik. Tenaganya kalah jauh dibandingkan tenaga pria bertubuh tinggi 187 cm itu.


Ciuman itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja karena Rey tidak tega melihat Zahwa terisak. Dia melepaskannya, terlihat bibir Zahwa yang bengkak dan basah akibat ulahnya.


"Hiks...kakak, kenapa kakak lakukan ini...hiks..."


Pasalnya Zahwa bukan anak yang cengeng dan Rey juga tidak pernah mau membuatnya menangis. Tapi Rey terpaksa melakukan ini, tindakannya harus lebih nekat lagi agar jalannya untuk memiliki Zahwa bisa berjalan mulus.


Zahwa langsung tercekat mendengarnya, ya memang Zahwa selalu bilang pada semua orang terutama mamanya. Bahwa pria yang menjadi ciuman pertamanya, harus menjadi suaminya. Karena prinsipnya adalah menjaga diri dari pria lain yang bukan suaminya. Lalu kini Rey telah mengambil itu? Seolah kesuciannya telah direnggut hanya dengan ciuman dibibir.


Rey juga mengklaim Zahwa sebagai calon istrinya, tentulah Zahwa syok menerima semua hal ini dalam satu waktu. Untuk Zahwa hubungan mereka adalah adik kakak selama ini.


"Hiks...nggak kak, ini salah kak! Kita ini adik kakak! Ini dosa kak....Kakak...jahat..."


Bukannya Rey tidak peduli dengan keadaan Zahwa saat ini, sungguh dia juga tak tega melihat Zahwa begini. Tapi dia tidak mau berdiam diri, dia sedang melewati batasan adik-kakak diantara mereka berdua untuk melangkah lebih jauh.


"Zahwa...maafin kakak udah buat kamu nangis, kamu syok dan kakak paham itu. Kakak hanya ingin kamu tau kalau kakak cinta kamu, kakak tidak minta jawaban kamu sekarang. Kakak hanya ingin kamu tau saja, kalau kakak sayang kamu melebihi seorang kakak."


"Cukup kak! Aku gak mau dengar lagi!" seru Zahwa yang masih terisak.


"Kakak kasih kamu waktu untuk menjawabnya, tapi kakak tidak bisa menunggu lama. Kakak harus meyakinkan papa, mama, Oma, Tante Amayra dan juga yang lainnya kalau kakak mau melamar kamu jadi istri kakak."


"Kakak jangan ngawur! Itu gak akan mungkin kak!" Zahwa menatap Rey dengan marah.

__ADS_1


"Apanya yang tidak mungkin Zahwa? Kita tidak sedarah, kita bukan saudara, tidak ada larangan untuk kakak menikahi kamu..."


Apa yang dikatakan Rey memang benar, tidak ada larangan untuk mereka menikah. Mereka bukan saudara kandung, apalagi statusnya Rey adalah anak angkat.


"Hiks...tolong jangan bilang tentang pernikahan lagi kak, please...jangan..." perasaan Zahwa begitu berkecamuk, entah dia juga suka pada kakaknya atau tidak. Rey tidak bisa melihat jelas perasaan Zahwa saat ini, dia hanya menangis.


"Ayo kita pulang, kakak antar kamu pulang ya?"


Ketika Rey akan mendekati Zahwa, gadis itu menjauh. "Jangan sentuh AKU,"


Mereka berdua pun turun dari rumah pohon, Zahwa yang masih syok berjalan terhuyung-huyung. Ketika Rey akan menuntunnya, Zahwa menolak. "Mo, ayo masuk mobil."


"Aku mau pulang sendiri!"


"Nemo..." lirih Rey memanggil nama Zahwa lagi.


"Aku mau naik taksi online, kakak gak usah cemas. Aku butuh waktu sendiri kak, please...jangan ikutin aku, atau aku akan benci kakak!" ancamnya pada Rey.


"Oke baiklah," Rey mendesah pasrah, mungkin memang Zahwa butuh waktu berpikir.


Maafin aku Zahwa, aku hanya ingin kamu tau.


Zahwa berjalan ke jalan raya dan Rey pergi menaiki mobilnya tapi dia tetap mengawasi Zahwa dari jauh. Mata Zahwa terlihat sembab dan wajahnya juga merah, dia menunggu taksi online yang dipesannya.


Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di depannya, seorang pria mengenakan jaket hitam dan helm merah mengendarai motor itu.


"Hey Aisyah! Ngapain Lo disini?"


"Kamu??" Zahwa melihat pria itu membuka helmnya.


...*****...


Aku up pagi demi kalian nih πŸ™ˆπŸ™ˆ mau lanjut tapi komennya sepi nih ☺️

__ADS_1


__ADS_2