
...🍀🍀🍀...
Setelah tau Zahwa hamil, Amayra menginap di rumah Zahwa dan Rey. Dia ingin menemani anaknya di hari-hari kehamilannya. Amayra ingin memenuhi ngidam putrinya, sama dengan mengikuti keinginan calon cucu pertamanya. Selama berada disana, Amayra tidak terlalu khawatir karena Zahwa jarang mual-mual seperti dirinya dulu. Dia hanya mual saat mencium parfum atau masakan yang anyir. Jadi Zahwa harus terhindar dari masakan anyir ataupun masakan yang dingin.
Zahwa harus memakan masakan yang masih panas agar tidak mual.
Setiap kali usai shalatnya, Amayra selalu mendoakan agar semua keluarganya di limpahkan kebahagiaan dan dijauhkan dari marabahaya. Tak lupa Amayra selalu mengelus perut datar putrinya dan merapalkan doa untuk keselamatan Zahwa dan anak yang dikandungnya.
"Kalau Papa kamu masih ada, dia pasti sangat bahagia...dia akan segera punya cucu dari kamu dan Rey." kata Amayra sambil mengusap perut datar Zahwa yang ditutupi oleh blouse bahan sifon miliknya.
"Iya Ma, Papa pasti bahagia. Apalagi kak Zayn sebentar lagi akan menikah," ucap Zahwa sambil tersenyum.
"Iya sayang, kamu benar." Amayra mengusap pelan kepala Zahwa, sambil tersenyum.
"Oh ya Ma, menurut Mama bagaimana dengan pak Arga? Dia baik kan Ma?"
Amayra tercengang mendengar perkataan Zahwa yang tiba-tiba saja membahas soal Arga. Pria yang berstatus sebagai kepala sekolah dan dia menyukai Amayra.
"Kenapa kamu jadi bahas pak Arga?" Amayra mengerutkan keningnya.
"Eh...mama, aku nanya loh kenapa mama malah balik nanya? Gimana pendapat Mama soal pak Arga?" Zahwa menggamit tangan mamanya dan tidak menutup rasa penasarannya terhadap pria yang bernama Arga itu.
"Ya dia baik, dia Sholeh, dia terpelajar,"
"Itu saja?" Zahwa tampak kecewa dengan jawaban Amayra.
"Ya, itu saja."
"Mama--gak ada rasa sama pak Arga?" tanya Zahwa berhati-hati soal Arga pada Amayra. Seperti apa yang ia perkirakan, Amayra tidak senang membahas soal pria lain.
"Astagfirullah Zahwa...kenapa kamu bertanya begitu? Udah ah, mama mau siap-siap dulu...mama mau beres-beres baju, bentar lagi mama pulang." Amayra beringsut dari tempat duduknya, lalu dia melangkah pergi meninggalkan Zahwa yang duduk di sofa ruang tengahnya.
Zahwa melihat mamanya dengan sedih, dia menghela nafas panjang. Rey yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat raut wajah istrinya yang tidak baik.
"Kenapa Nemoku? Kok cemberut gitu?" tanya Rey, kalau ia duduk di samping istrinya.
"Mas...aku udah bicara barusan sama mama."
Rey tersenyum, jarinya menyentuh hidung Zahwa dengan gemas."Pasti responnya sama seperti apa yang aku perkirakan kan?"
"Iya Mas, padahal aku ingin Mama mempunyai teman hidup, gak kesepian dan aku pengen mamah bahagia." cicit wanita itu dengan kening berkerut.
"Sayangku, percaya deh sama aku...mamah gak akan kesepian karena dia punya kita dan nanti kalau anak kita lahir, pasti bakal makin ramai kan? Cinta sejati mamah hanya untuk almarhum papah Satria, kamu harus pahami itu sayang." jelas Rey pada istrinya, yang intinya ia tidak boleh memaksakan kehendak Amayra untuk memiliki pasangan hidup ataupun membuka hatinya untuk orang lain.
Masalah hati itu memang rumit.
"Ya Mas, Aku tidak akan bicara soal ini lagi sama mama."
"Bagus," kata Rey lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. "Aku ke kamar dulu ya sayang, mau ganti baju dulu...bentar lagi aku nganter mama pulang."
"Iya Mas, bajunya udah aku siapin di atas kasur ya!"
__ADS_1
"Makasih cintaku."
Sweet!
Begitulah Rey dan Zahwa akhir-akhir ini, apalagi setelah tau Zahwa sedang hamil. Pria itu semakin menjadi budak cinta istrinya, ia semakin sayang pada istrinya itu. Sudah sayang, semakin sayang. Semua keinginan Zahwa dia penuhi, apapun itu. Dia tidak mau mengecewakan ataupun membuat Zahwa sedih karenanya.
Setelah mengantar Amayra pulang ke rumahnya, Rey membeli martabak yang diinginkan istrinya. Sejauh ini Rey merasa senang karena keinginan Zahwa tidak aneh-aneh seperti ibu hamil yang ia lihat di tv tv. Hanya saja nafsu makannya cukup banyak, tapi Rey bahagia karena perkembangan Zahwa ini adalah asupan untuk calon anaknya.
"Mas...martabak telur bebek spesialnya 1 ya, sama martabak pisang coklatnya 1!" pesan Rey pada pedagang martabak yang letaknya di dekat restoran mewah itu.
Gak tau deh Zahwa abis apa enggak, dia pesan martabaknya dua sekaligus. Batin Rey.
Rey menunggu martabaknya matang dengan setia, hingga 15 menit kemudian martabak itu pun sudah jadi dan Rey membayarnya.
Saat Rey akan pergi dari sana, ia mendengar pertengkaran didepan restoran mewah itu dan suaranya tidak asing ditelinganya.
"Kamu sudah menghamiliku Fer! Kamu harus bertanggungjawab." kata Cleo tegas.
"Kamu gila ya Cleo? Aku sudah mau menikah dengan tunanganku, jangan berani kamu memfitnahku yang tidak-tidak!"
"Sayang, apa benar kamu menghamilinya?" tanya seorang wanita disamping pria tampan bertubuh standar itu.
"Tentu saja tidak sayang! Wanita ini memang mantan pacarku, tapi kami sudah lama putus. Kalaupun aku menghamili seseorang, aku lebih pilih menghamili kamu." canda Fero pada kekasihnya itu dengan senyuman manisnya.
"Fero! Kamu benar-benar keterlaluan ya!" teriak Cleo marah pada Fero. "Ini anak kamu Fero dan kamu malah mau menikah dengan wanita lain disaat aku sedang mengandung anakmu?" tanya Cleo kecewa pada Fero yang tidak mau bertanggungjawab atas anak yang dikandungnya.
"Minggir kamu wanita sialan! Jangan pernah ganggu calon suamiku!" seru wanita di samping Fero lalu mendorong Cleo hingga tubuhnya jatuh ke tanah.
Cleo memegang perutnya lalu meringis kesakitan, ia merasakan ada sesuatu yang mengalir di bawah sana. "Ahh..."
Tak lama kemudian Rey dan beberapa orang menghampiri Cleo yang kesakitan dan tidak baik berjalan. "Cleo! Kamu kenapa?" tanya Rey sambil meletakkan keresek berisi martabak itu disembarang tempat. Saking buru-burunya dia cemas melihat Cleo terluka. Bukan cemas karena cinta tapi karena kasihan dan walau bagaimanapun juga Cleo adalah teman sahabat baiknya.
"Mas...cepet istrinya dibawa ke rumah sakit, kayaknya istrinya lagi hamil terus pendarahan tuh!" kata seorang ibu-ibu pada Rey dan dia merasa Rey adalah suaminya.
"Eh...dia bukan sua--"
"Ahh...sakit...sakit kak....tolongin aku kak." Cleo meremass tangan Rey, terlihat keringat dingin di wajah cantik Cleo.
Demi rasa kemanusiaan, dia pun menggendong Cleo dengan hati-hati. Dia membawa Cleo masuk ke dalam mobilnya di kursi belakang. Dia masih menjaga kursi depan yang diperuntukkan bagi istri tercintanya, tidak ada satupun yang bisa duduk di kursi itu.
"Cleo, bentar ya...aku hubungin dulu istriku." kata Rey kepada Cleo yang sedang kesakitan itu. Mata Rey mencari-cari ponselnya di sana.
"Akhh....kak sakit kak...sakit banget." Cleo meringis kesakitan. Rey pun dilema, akhirnya dia memutuskan untuk segara tancap gas dan menghubungi istrinya nanti karena keadaan Cleo sedang urgent saat ini.
*****
Malam itu, Zahwa masih asyik menonton drama sambil rebahan. Namun saat dia melihat jam telah menunjukkan pukul jam 9 malam. Dia jadi teringat suaminya. "Kok mas Rey belum pulang sih jam segini? Apa di tukang martabaknya ngantri?" gumam Zahwa cemas. Akhirnya ia mengambil ponselnya di kamar dan menelpon suaminya, ia cemas terjadi sesuatu pada Rey.
"Kenapa gak diangkat-angkat ya?"
Zahwa menyimpan ponselnya manakala ia mendengar suara pintu gerbang yang dibuka dan suara mobil yang mendekat. Wanita itu bergegas pergi ke pintu depan untuk membuka pintu yang tadi ia sempat kunci.
__ADS_1
"Assalamualaikum sayang."
"Waalaikumsalam Mas. Kenapa kamu baru pulang Mas?" tanya Zahwa sambil menyambut suaminya dengan kecupan di punggung tangan Rey.
Kayaknya aku gak usah cerita soal Cleo deh. Gak penting juga.
"Maaf sayang, tadi martabaknya jatuh dijalan jadi aku beli lagi Martabaknya,"
Rey memang tidak bohong soal membeli Martabaknya lagi karena martabak yang pertama ia berikan pada Cleo di rumah sakit yang ingin martabak juga karena sakit. Akhirnya ia membelikan martabak lagi untuk Zahwa.
"Sampai dua jam?" tanya Zahwa dengan bibir mengerucut.
"Iya sayang, ngantri." alibinya seraya tersenyum pada sang istri.
Nah kalau soal yang mengantri ini Rey berbohong. "Maaf ya sayang, kamu jadi nunggu lama. Dede gimana sayang? Rewel ya Martabaknya gak datang datang?" tangan Rey menyentuh perut datar istrinya dengan perhatian dan sangat berharga.
"Alhamdulillah enggak mas, untung aja ada cemilan yang tadi siang masih belum abis. Jadi aku makan itu dulu deh." cetus wanita itu sambil tersenyum. Baginya yang penting Rey baik-baik saja.
"Maafin papa ya sayang, maafin Mas ya istriku sayang." ucap Rey merasa bersalah pada istrinya yang sedang hamil itu.
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah, Rey membuka bungkusan martabak dan mereka memakan martabak itu. Martabaknya tidak habis karena Zahwa hanya sekedar ingin saja. "Mas, aku kenyang..."
"Hem...ya udah gak apa-apa sayang," ucap Rey sambil tersenyum. Dia pun memeluk sang istri dengan lembut.
Tiba-tiba saja Zahwa mendorong suaminya lalu menatap suaminya dengan atensi tajam. "Mas...kamu benar-benar beli martabak kan?"
"Sayang, kok tanyanya gitu." Rey terheran-heran dengan pertanyaan dan tatapan curiga dari Zahwa padanya.
"Baju mas Rey, bau parfum wanita!" kata Zahwa lugas.
"Sayang..."
Astagfirullah...
"Jawab mas, kamu habis pelukan sama siapa?!" tanya Zahwa tegas dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Sayang, aku gak pelukan sama siapapun....kamu dengerin aku dulu ya?" Rey hendak menyentuh tangan Zahwa, tapi wanita hamil itu langsung menampiknya.
*****
Di kamar Selina, gadis itu tampak sedang duduk di balkon. Dia memikirkan pembicaraannya tadi siang bersama Rivanno dan Irfan. Dua pria yang telah mengambil mahkotanya sebagai wanita.
Mereka tidak mau bertanggung jawab dan Selina juga tidak punya solusi untuk anaknya. Dia baru mau menginjak kelas 2 SMA, ya Allah harus bagaimana ini? Selina bingung dan gelisah setiap hari seperti di kejar-kejar hantu.
"Aku harus gimana ya Allah? Aku butuh seseorang untuk menjadi tempat bicara....besok aku akan bicara dengan kak Zahwa...besok dia ada di rumah." gumam Selina dalam hatinya.
Selina belum sempat bicara dengan Zahwa karena waktu bertemu mereka sempit, besok dia akan bicara pada Zahwa tentang masalah ini.
...****...
Bonus spoiler bab berikutnya...
__ADS_1
"Jadi siapa pria itu Selina? Siapa yang sudah menghamili kamu? Kakak akan hajar dia! Dia harus bertanggung jawab!" seru Zahwa sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Sementara itu Selina terisak didalam pelukan kakaknya itu.