Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 21. Kejepit pintu mobil


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Lho? Kenapa mendadak udara jadi dingin gini ya? Apa ini perasaanku saja?


Tiba-tiba saja Selina merasakan hawa dingin, padahal cuaca sedang panas. Hawa dingin itu dia rasakan saat melihat kakaknya bertatap dengan atensi tajam pada Raihan. Sementara Raihan hanya menyunggingkan senyumannya seperti biasa. Senyuman ramah dan lembut khas dirinya.


"Mas mau ikut makan bareng juga? Bukannya Mas harus segera pergi ke kampus?" tanya Zahwa pada Raihan.


Rey tidak nyaman melihat perhatian Zahwa pada Raihan, hatinya seperti dihantam benda berat. Mungkin ini yang namanya cemburu.


Kenapa mereka terlihat akrab lagi? Bukankah mereka seharusnya masih perang dingin?


"Ya sih, tapi aku gak mau ninggalin lagi kamu seperti semalam. Anggap saja sebagai menebus kesalahanku," jelasnya sambil tersenyum.


Rey tersentak kaget begitu mendengar ucapan Raihan tentang meninggalkan Zahwa semalam. "Oh jadi kamu yang semalam janjian sama Zahwa di cafe dan buat Zahwa menunggu berjam-jam?" tanya Rey sinis.


Zahwa menahan kakaknya agar tidak bicara lebih panjang tentang kejadian semalam. "Kak...udah jangan dibahas--"


"Iya maaf kak Reyndra, semalam saya meninggalkan Zahwa. Saya--"


"Kamu cowok bukan sih?" Tanya Rey tanpa peduli pada peringatan Zahwa. Selina pun merasa bahwa kakaknya saat ini sedang marah pada Raihan.


"Kak Reyndra, saya--"


"Kamu tau gak sih? Semalam gara-gara nungguin seseorang, Zahwa pulang malam sampai dia diganggu preman dan hampir di perko--" Rey sungguh tidak sanggup meneruskan ucapannya dan menggantung ucapan itu di sana.


"A-apa? Kamu diganggu preman? Kamu nungguin aku sampai jam berapa, Wa?" lirik Raihan pada Zahwa cemas, dia benar-benar tak tahu soal kejadian semalam yang menimpa Zahwa.


"I-itu..." Zahwa kebingungan.


Astagfirullah, kenapa kak Rey pake bilang kejadian semalam? Padahal aku mau melupakannya saja.


Rey menarik kerah baju Raihan. "Zahwa nungguin kamu sampai jam 10 malam lebih dan pulangnya dia diganggu preman MABUK! Dan kamu mau tau apa yang terjadi selanjutnya?"


"Kak Rey, udah kak...tolong jangan bahas lagi masalah semalam!" Zahwa mencoba menahan agar Rey tidak emosi.


"Wa, aku minta maaf... astagfirullahaladzim...aku gak tau semalam kamu nunggu aku selama itu. Padahal kamu kan bisa pulang kalau tau aku gak ada." jelasnya Raihan merasa bersalah.


Rey semakin emosi mendengar ucapan Raihan, seolah-olah pria itu menganggap hal semalam adalah hal remeh. "Hah? Apa kamu bilang? Gampang banget yang kamu bilang gitu sama Zahwa? Aku gak habis pikir, kenapa kamu bisa suka sama cowok kayak gini!"


"Kak...udah kak lepasin! Aku kan udah gak apa-apa ini, udahlah kak! Kita makan aja, aku laper." ucap Zahwa sambil melepaskan tangan Rey dari Raihan.

__ADS_1


Terlihat wajah Rey yang masih merah karena marah, dia benar-benar tidak suka sikap Raihan dan Zahwa yang dengan mudahnya memaafkan Raihan. Ya, mungkin karena cinta itulah yang membuat Zahwa masih memaafkan kesalahan Raihan yang menurutnya fatal.


Kok bisa-bisanya kamu menyukai orang yang bahkan bukan pria ini, Wa? Dia memang baik dan punya ilmu agama yang tinggi. Tapi apakah dia bisa membuatmu bahagia? Lalu gunanya semua rencana busukku ini, kalau kamu masih kembali sama dia? Aku cuma mau kamu terhindar dari sakit hati dan kecewa. Rey membatin.


Rey yang marah dengan sikap Zahwa, akhirnya memilih pamit pergi dari sana. "Maaf, tiba-tiba ada urusan di kantor. Selina, kamu makan siang aja sama Zahwa dan cowok ini. Assalamualaikum!"


Pria itu pergi dari sana dengan kesal, Zahwa, Raihan dan Selina sungguh tidak enak hati melihatnya. "Aku akan susul kak Reyndra,"


"Gak usah Mas, biar aku aja." larang Zahwa pada Raihan yang akan menyusul Reyndra.


"Maafin aku Wa, aku benar-benar minta maaf." ucap Raihan menyesal dan merasa bersalah atas kejadian semalam.


"Maaf mas, kayaknya kita gak bisa makan siang bersama. Aku harus bicara dulu sama kak Rey..." ucap Zahwa. Kemudian tatapannya beralih pada Selina. "Sel, kita pergi susul kak Rey!"


"Iya kak, kayaknya kak Rey marah tuh. Jarang banget lihat kak Rey marah kayak gitu," ucap Selina yang jarang sekali bahkan hampir tak pernah melihat kakaknya yang selalu penyabar itu marah sampai seperti ini.


Selina juga tidak paham apa yang membuat Rey marah pada Zahwa dan Raihan, hanya saja dia menangkap dari percakapan mereka bahwa kemarahan Rey adalah karena kejadian semalam Zahwa diganggu preman.


"Mas, aku pergi dulu ya... assalamualaikum." pamit Zahwa sambil menggandeng tangan Selina.


"Waalaikumsalam," jawab Raihan dengan alis menaut ke atas dan kening berkerut. Raihan menatap kepergian Zahwa dengan tak rela dan merasa bersalah.


*****


Zahwa dan Selina menyusul Rey yang akan masuk ke dalam mobil. "Kak, tunggu!"


"Kak tunggu dulu dong! Aku mau bicara!" seru Zahwa.


Rey acuh walau dia mendengar panggilan Zahwa dan tetap membuka pintu mobilnya, Rey masuk ke dalam mobil, kemudian Zahwa memegang pintu mobil itu, bertepatan saat Rey akan menutup pintu mobilnya.


BRAK!


"Auw..." pekik Zahwa kesakitan.


"Astagfirullah! Kak Zahwa!" pekik Selina terkejut melihat jari tangan kanan Zahwa yang terjepit pintu mobil.


Rey yang tadi berada di dalam mobil, dia langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Zahwa. "Zahwa, kamu gak apa-apa?"


"Kak Rey ini gimana sih? Pakai tanya gak apa-apa sekali Kalau tangan kak Zahwa putus gimana? Suaranya keras banget, pasti sakit ya kak..." ucap Selina sambil memegang tangan kanan Zahwa yang barusan terjepit pintu mobil. "Ya ampun sampai berdarah gini, KAK REY!" Selina mengomel lagi pada kakaknya, melihat jari Zahwa yang terluka.


"Aku gak apa-apa kok, Sel...uh..." rintihnya menahan sakit ditangan.

__ADS_1


Rey memegang tangan Zahwa yang terluka, satu jari Zahwa berdarah dan 4 jari lainnya memar disertai bengkak. Rey menatap Zahwa dengan cemas. "Ayo obati!"


"Aku gak apa-apa, gak usah di--"


Tiba-tiba saja Rey menggendong Zahwa ala bridal dan membuat semua orang disana terkejut melihatnya. "Ka-kakak!"


Malu, aneh, itulah yang dirasakan Zahwa saat tubuh kekar kakaknya menggendong tubuh mungilnya. "Kamu harus di obati."


"Woah..." sementara Selina yang polos hanya takjub melihat aksi kakaknya itu.


"I-iya tapi gak perlu di gendong juga," ucap Zahwa merasa risih, wajahnya memerah.


"Kamu diem deh, kamu ini pasien!" Rey menatap Zahwa dengan cemas.


Zahwa pun bungkam, entah mengapa dia tidak bisa menolak apa yang dilakukan Rey padanya. Tatapan cemas Rey yang tertuju padanya membuat dia terdiam.


Kenapa sih kak Rey berlebihan banget? Yang sakit kan tanganku bukan kakiku.


Rey menggendong Zahwa sampai masuk ke dalam rumah sakit, tepat saat itu Zainab dan Salimah melihat mereka berdua yang menjadi pusat perhatian. Jangan lupakan Selina yang ada dibelakang mereka juga.


"Kakak malu ih, turunin aku! Yang sakit tanganku, bukan kakiku!" Zahwa menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, karena malu dengan atensi semua orang padanya. Dia pikir semua orang mungkin mengira dia kenapa-napa sampai digendong seperti ini.


"Ish...diam aja dih, kita ke UGD sekarang!" kata Rey tegas.


"Tapi aku malu kak," lirih Zahwa malu.


"Kamu sembunyi aja di dalam dekapanku," ucap Rey seraya menggoda Zahwa.


"Ish...kakak!" bibir Zahwa mengerucut sebal pada kakak sepupunya itu.


Dan benar saja, semua orang di sana terutama wanita membicarakan Zahwa dan Reyndra yang mirip adegan di dalam drama-drama.


"Wow....itu kan Presdir Calabria grup,"


"Ganteng banget ya kakaknya Zahwa!" kata sekarang perawat di rumah sakit itu.


Ya, siapa juga yang tidak akan terpesona dengan Reyndra bagi yang melihatnya sekilas. Dia tampan, maskulin, kalem, jikalau melihat dari rupa. Pastilah semua wanita akan terpesona.


"Cowok itu, kakaknya Zahwa?" gumam Zainab, sorot mata Zainab berbinar melihat sosok Reyndra di sana. Kemudian dia tersenyum lebar dan menyusul sosok Zahwa dan Reyndra yang berjalan ke ruang UGD.


Salima melihat Zainab dengan heran. Kini pikirannya mulai meracau kemana-mana."Gak! Ini gak boleh terjadi, kak Zainab harus jadi kakak iparku! Kalau kak Raihan sampai menikah sama Zahwa, nanti aku gak akan bisa dekat sama Zayn."

__ADS_1


...*****...


__ADS_2