
...🍁🍁🍁...
"Kakak!" sambut Zahwa pada Rey dengan senyuman lebar di bibirnya. Hingga senyuman itu menunjukkan gigi gingsulnya yang imut.
Rey balas tersenyum dan dia berjalan mendekati Zahwa. Tapi Rey rupanya tak sendiri, dia bersama dengan Selina juga. Selina berlari lalu memeluk Zahwa dengan begitu bahagia.
"Assalamualaikum kakak ipar! Hehe..." Selina terkekeh bahagia sambil memeluk erat Zahwa.
"Waalaikumsalam Sel,"
Sementara itu Raihan terdiam tertegun dan bertanya-tanya kenapa Selina memanggilnya dengan sebutan kakak ipar. Ah mungkin dia salah dengar, pikirnya begitu.
"Assalamualaikum Zahwa, Raihan." Kata Rey menyapa kedua orang itu dengan salah. Namun mata Rey begitu tajam pada Raihan.
Mau apa dia kesini?
"Waalaikumsalam kak," balas Raihan dan Zahwa bersamaan.
"Zahwa, orang tua kita meminta kakak menjemput kamu...katanya ada yang ingin dibicarakan." kata Rey tanpa bertanya apa-apa pada Raihan, menganggap keadaan pria itu seolah tak ada.
"Iya kak, ayo! Maaf ya mas Raihan, aku harus pergi sama kak Rey dan Selina." pamit Zahwa dan mengusir Raihan secara halus.
"Iya Zahwa, tapi kamu belum jawab pertanyaan terakhirku! Siapa pria yang akan menjadi calon suamimu?"
"Mas sebaiknya mas jangan--"
"Saya," ucap Rey tiba-tiba dengan suara yang keras, ia memotong perkataan Zahwa yang belum usai.
"Apa maksud kak Reyndra?" tanya Raihan dengan wajah yang polos.
"Calon suami Zahwa, itu SAYA."
__ADS_1
Raihan tersentak kaget mendengar pengakuan Reyndra, tapi dia tidak percaya begitu saja. Dia kembali bertanya pada Rey, siapa calon suami Zahwa. Dan Rey masih dengan jawaban yang sama, suami Zahwa yaitu dirinya.
"Kak Reyndra, tolong jangan bercanda. Kak Rey ini sepupu Zahwa, tidak mungkin kalian memiliki perasaan seperti itu dan akan menikah."
"Itu memang benar, kak Rey akan menikah sama kak Zahwa! Lebih baik kak Raihan minggir, jauh-jauh sana dan jangan gangguin kak Zahwa lagi karena kak Zahwa udah move on. Urusin aja tuh rumah tangga kakak dan kak Zainab yang nyebelin itu!" Selina mendelik sinis pada Raihan.
Sejak pernikahan Zahwa gagal dan Zahwa sering menangis karena Raihan, Selina jadi tidak suka pada Raihan. Meskipun kata orang Raihan itu sholeh, baik, tapi bagi Selina, pria itu tak lebih dari luka yang menyakiti hati Zahwa dan belum tentu kalau orang baik juga akan memperlakukan wanita dengan baik.
"Bahkan setelah menikah saja, kak Raihan masih gak tau malu deketin kak Zahwa!" seru Selina dengan ujaran penuh kebencian. Selina sangat sayang pada Zahwa karena mereka cukup dekat dibandingkan saudara yang lain. Dia sangat sedih karena Zahwa patah hati karena Raihan dulu.
"Selina! Kamu gak boleh ngomong gitu!" tegur Zahwa pada adik sepupunya itu.
"Emang itu kenyataannya kan kak?" Selina memalingkan wajahnya dari Raihan.
Raihan tidak bisa membela dirinya karena ia memang salah dan yang dikatakan Selina itu benar adanya. "Aku minta maaf Zahwa, tapi kalian jangan bercanda kayak gini...apalagi masalah jodoh."
"Selina gak bercanda, saya juga SERIUS. Saya memang akan menikahi Zahwa." Pria itu berbicara dengan penekanan yang tegas. Kalau tidak ada Zahwa mungkin tangannya sudah memukul wajah tampan Raihan itu. Kesal sekali Reyndra dengan Raihan. Rupanya setelah menikah, tidak membuat Raihan move on dan masih mengejar Zahwa.
"Iya Mas itu benar. Kalau gitu, sudah tanyanya kan? Mas bisa pergi dari sini, karena aku akan pergi sama kak Rey dan Selina."
"Iya! Pergi sana, dasar cowok pengecut!" usir Selina pada Raihan.
"Selina..." tegur Zahwa pada Selina yang membuat gadis itu bungkam. Sementara Rey tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Selina, dia senang karena sang adik mengusir Raihan. Selina tersenyum membalas kedipan mata kakaknya seraya mengacungkan jempolnya.
Raihan tertegun, dia menatap Zahwa lalu memegang tangannya. "Mas Raihan!"
"Lepaskan Zahwa!" Rey menepis tangan Raihan yang memegang tangan Zahwa, matanya begitu tajam menatap Raihan.
Sepertinya benar Zahwa dan kak Reyndra saling mencintai. Aku bisa melihat cinta di mata mereka berdua...ya Allah, rasanya sesak sekali. Apa ini rasanya hancur? Apa ini karena ku karena telah menyakiti Zahwa? Apa ini yang dirasakan Zahwa saat aku mengecewakannya?
"Aku cuma ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya Zahwa."
__ADS_1
"Maaf, tidak ku izinkan!" tegas Rey sambil menggenggam tangan Zahwa dengan begitu erat, dia tidak mau Zahwa disentuh oleh laki-laki lain.
Zahwa menatap Rey dengan sendu dan penuh haru, seberapa besar selama ini Rey menahan rasa cemburu terhadapnya. Kini Rey menunjukkannya tanpa ragu, tanpa sembunyi-sembunyi karena ikatan di antara mereka akan segera jelas.
"Baiklah, tidak apa-apa...maaf aku sudah tidak tahu diri. Tapi kak Rey, boleh aku mengatakan sesuatu pada kakak."
Rey hanya menatap Raihan dengan tajam tanpa bicara.
"Kak Rey, tolong jaga Zahwa...tolong bahagiakan Zahwa, jangan seperti saya yang hanya bisa menyakiti hatinya." Raihan tersenyum kecut melihat Zahwa dan Reyndra berpegangan tangan. Seperti ada bom didalam hatinya yang meledak, meluluhlantakan organ dalam tubuhnya dan menghancurkan Raihan dari dalam.
"Huh...itu kamu sadar, emang kamu bukan pria sejati." celetuk Selina sambil bergumam pelan. Zahwa pun menyenggol tangan Selina dan memintanya untuk diam.
"Semoga kalian bahagia, saya tunggu undangan kalian... assalamualaikum." ucap Raihan lalu berlalu pergi dari sana dengan hati yang sedih. Matanya pun tidak bisa menahan air mata yang sudah menggenang sedari tadi dia tahan.
Raihan pergi menaiki sepeda motornya sambil menangis terisak dibalik helmnya. "Astagfirullah...ya Allah, kenapa hatiku begitu hancur? Kenapa? Aku harus ikhlas...aku sudah punya istri dan Zahwa juga sudah menikah. Harusnya aku sadar diri, tapi hatiku tidak bisa dibohongi."
*****
Sementara Raihan patah hati, Zahwa dan Rey kini sedang menuju jalan bahagia untuk mereka berdua yang kasmaran. Keduanya kini sudah berada didalam mobil, jangan lupakan juga Selina yang duduk di kursi belakang. Mereka dalam perjalanan menuju ke rumah besar Calabria.
Selina cengengesan melihat Zahwa dan Rey yang saling curi-curi pandang. "Ehem...untung ya ada aku disini, kalau enggak udah ada setan yang lewat! Bahaya tuh kalau cuma berduaan aja, sabar ya!"
"Sel, kamu apa-apaan sih?" Rey terkekeh dengan celetukan adiknya itu.
"Nggak apa-apa kak, terus aja pelototi kak Zahwa nya...aku kan cuma ngontrak disini," ucap Selina sambil tersenyum.
Zahwa dan Rey tidak bicara, mereka hanya tersenyum tersipu malu-malu kucing.
Setelah pembicaraan keluarga yang telah setuju dengan pernikahan itu. Dua hari lagi, Rey dan Zahwa akan melakukan khitbah.
...*****...
__ADS_1