
...🍁🍁🍁...
Rumah Raihan dan Zainab.
Pagi itu Zainab menyiapkan sarapan roti dan secangkir kopi untuk suaminya, biasanya dia tersenyum akan tetapi kali ini wajah cantik itu tampak muram setelah melewati malam pertama bersama suaminya.
Bagaimana Zainab tidak sedih dan terluka? Faktanya begitu menyakitkan untuk Zainab, ketika semalam dalam percumbuan mereka, Raihan memanggil Zainab dengan nama Zahwa selama berkali-kali, bahkan mengucapkan kata cinta pada wanita itu. Suaminya ini memang belum move on dari mantan tunangannya, ya sebut saja begitu.
"Kamu sudah sarapan Zainab?" tanya Raihan seraya menatap sang istri yang memalingkan wajah darinya. Raihan seolah paham apa yang membuat Zainab begitu, bahkan setelah pergumulan itu Zainab menangis bukannya bahagia. Ya, walaupun Zainab sempat mengucapkan kata terima kasih karena Raihan sudah memberikan nafkah batin padanya.
"Belum, mas." jawab Zainab datar.
"Duduklah, kita sarapan bersama." ajaknya.
"Tidak usah mas, aku sarapan di rumah sakit saja." tolak Zainab sambil mengambil tas selempangnya.
"Mas, akan antar kamu ke rumah sakit...tunggu sebentar." Raihan buru-buru beranjak dari tempat duduknya, begitu melihat Zainab bersikap berangkat.
"Gak usah mas, aku naik angkot aja." Zainab menolak lagi.
"Zainab..."
"Siapa tau kamu modus aja nganter ke rumah sakit padahal mau ketemu sama Zahwa?" akhirnya Zainab kesal dan mulai menunjukkan sisinya sebagai seorang istri yang cemburu.
"Astagfirullah Zainab, sungguh aku tidak pernah berpikir seperti itu!" Sanggah Raihan dengan kedua mata melebar menatap istrinya.
"Bohong...bahkan semalam saja saat kita bercinta, mas terus memanggil namanya. Mas bahkan mengatakan mas sangat mencintainya!" teriak Zainab sambil menangis terisak.
"Itu karena aku--"
Teriakan Zainab membuat Annisa dan Salimah yang tadinya berada di dapur langsung menghampiri suami istri itu.
"Ada apa sih ini pagi-pagi udah berisik?" tanya Annisa sarkas pada pasangan suami-istri itu.
"Iya, ada apa? Kak Zainab kenapa kak Zainab nangis?" tanya Salima melihat kakak iparnya menangis.
Tumben kak Zainab marah? Gak biasanya?
__ADS_1
Salimah, Annisa, Iqbal berada dalam satu rumah bersama Raihan Zainab dan hal ini kadang membuat Zainab tidak nyaman satu atap bersama keluarga suaminya.
Buru-buru Zainab mengusap air matanya.
"Gak ada apa-apa Ma, Salima."
"Zainab, mas antar ke rumah sakit." Raihan meraih tangan Zainab, dia tak tega juga melihat Zainab menangis.
Zainab tidak menolak karena dia takut kalau ibu mertua dan adik iparnya berpikir macam-macam tentang hubungannya dan Raihan. Sungguh Zainab masih sakit hati dengan sikap Raihan padanya apalagi semalam, ketika dia sudah mulai mencintai Raihan. Pria itu masih belum move on dari mantannya.
*****
Beberapa menit kemudian, Rey dan Selina sampai di depan pintu gerbang rumah bercat biru itu. Mereka pun turun dari mobil, dengan Rey yang membawa sesuatu ditangannya untuk Amayra dan Zahwa.
Selina dan Rey melihat Amayra dan Zayn yang tengah berjalan ke arah garasi rumah sederhana itu. "Eh, ada Rey sama Selina?" sapa Amayra pada kedua keponakannya itu.
Selina dan Rey menghampiri Amayra lalu memberi salam pada tantenya dengan hormat. "Assalamualaikum Tante,"
"Waalaikumsalam, ada apa kalian pagi-pagi kesini datang kemari?" tanya Amayra heran.
"Ini tante, aku bawakan makanan untuk Tante dan Zahwa. Katanya Zahwa gak akan ke rumah sakit ya?" Rey tetap begitu ramah pada
"Oh gitu ya Tante, nanti Rey suruh bi Dewi buat kesini temenin Zahwa." ucap Rey cemas.
Kalau Zahwa sendirian di rumah, takutnya kalau dia butuh apa-apa...dia kesulitan gak ada yang bantu.Tangannya kan lagi sakit.
"Gak usah Rey, Bi Dewi pasti sibuk di rumah." tolak Amayra.
"Gak kok tante, Bi Dewi nyantai udah dari pasar. Nanti kak Rey telepon Bu Dewi suruh kesini temenin kak Zahwa." Kata Selina yang juga simpati dengan keadaan Zahwa.
Nah kan pasti ada apa-apanya nih, perhatiannya aja beda. Selina mendelik curiga pada kakaknya.
"Makasih ya Rey, Selina...kalian memang saudara yang baik." Amayra tersenyum lebar, dia bersyukur memiliki dua keponakan yang sangat menyayangi anak-anaknya.
Sekarang saudara, tapi nanti aku jadi akan menantumu, ma.
Tentu saja Rey mengucapkan ini didalam hatinya, mana berani dia bocor sebelum Zahwa memberikan jawaban padanya. Dan Rey harus menunggu dulu, bersabar lagi untuk semua kebahagiaan itu.
__ADS_1
"Oh ya mama, maksudku Tante...boleh gak Rey ke dalam lihat keadaan Zahwa?"
"Silahkan Rey, tapi jangan lama-lama ya. Soalnya Tante sama Zayn mau pergi." kata Amayra mengingatkan.
"Kak! Aku juga ikut kakak ke dalam." ucap Selina sambil memegang tangan kakaknya.
"Tante, Zayn...kalian gak usah khawatir. Kalian berangkat sekarang aja, lagipula Rey sama Selina disini." ucap Rey seraya menoleh ke arah Zayn yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Oh gitu, ya udah kita berangkat duluan ya." ucap Amayra berpamitan, dia bisa tenang karena ada Selina disana dan Rey tidak berduaan bersama Zahwa.
"Ayo kak!" ajak Selina pada kakaknya.
Tanpa menjawab ucapan dari Selina, Rey langsung berjalan masuk ke dalam rumah yang pintunya masih terbuka itu. Sementara Zayn dan Amayra berangkat lebih dulu ke tempat kerja mereka masing-masing.
Rey masuk ke dalam rumah bersama dengan Selina di belakangnya. Mereka melihat sosok gadis yang sedang tertidur pulas di sofa dengan buku ditangan kirinya. Mereka juga melihat ada obat-obatan juga gelas kosong, pasti Zahwa sudah minum obat setelah sarapan.
"Kak...kak Zahwa tidur," ucap Selina melihat kakak sepupunya yang tengah tertidur itu. Namun atensi Selina tajam pada Rey saat ia melihat tangan Rey mengelus wajah Zahwa dengan lembut.
Kak Rey kenapa begitu? Fiks...ini pasti ada apa-apanya.
"Kak! Kakak lagi ngapain?" tanya Selina dengan suara keras.
Rey langsung menutup mulut Selina, syara gadis itu memang cempreng. "Ssstt...kamu berisik banget sih, Zahwa lagi tidur!" Kemudian Rey melihat Zahwa yang sedikit bergerak karena suara Selina.
Selina tercengang dengan sikap Rey, yang begitu menjaga Zahwa. "Omigod! Kak Rey!" gumam Selina pelan.
"Kamu tunggu disini sebentar, aku mau pindahin Zahwa ke kamar." pesannya pada Selina. Gadis itu hanya mengangguk dan melihat kakaknya sudah menggendong Zahwa dengan hati-hati.
Betapa perhatiannya Rey pada Zahwa, bahkan Selina bisa melihat itu. Ia pun mengikuti kakaknya diam-diam. Melihat dari ambang pintu kamar Zahwa.
Kini Zahwa sudah terbaring dengan selimut hangat yang sedang dipakaikan oleh Rey padanya. Selina melihat tatapan kakaknya yang lain pada Zahwa.
"Nemo...cepatlah beri aku jawaban, aku tidak sabar ingin memilikimu. Aku mencintaimu..." lirih Rey lalu mengecup kening Zahwa dengan lembut penuh kasih.
Sementara itu Selina tercengang mendengar ungkapan hati Rey pada Zahwa. Selina selama ini tidak tahu bahwa kakaknya itu bukanlah anak kandung keluarga Calabria, dia taunya Rey adalah anak kandung keluarganya.
"Omigod! Jadi cewek yang selama ini kak Rey sebutkan adalah kak Zahwa?! Cewek imut, suka ikan hias dan kucing, suka drama Korea...suka makan makanan manis. Itu kak Zahwa? Omigod aku gak percaya ini tapi ini gak boleh terjadi!" gumam Selina sambil menggelengkan kepalanya. Dia syok mendengar ucapan Rey pada Zahwa, ternyata kecurigaannya selama ini memang benar, bahwa Reyndra mencintai Zahwa lebih dari kakak kepada adiknya.
__ADS_1
...*****...