Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 113. Semangat Selina


__ADS_3

Assalamualaikum Readers...


Maafkan author ya, author mau menyelesaikan masalah Selina dulu....nanti baru fokus ke Zahwa Rey, Aini Zayn dan lainnya lagi ❤️❤️ lope you☺️


...🍀🍀🍀...


Setelah berkeliling cukup lama, Rey belum juga mendapatkan nasi kuning. Dia merasa kasihan pada Zahwa dan calon anaknya karena harus menunggu lama untuk makan nasi kuningnya.


Tak lama kemudian, Zahwa mengirimkan pesan pada suaminya bahwa ia ingin nasi kuning lengkap pakai telur, bihun dan penjualnya harus mbok Minah yang ada di lingkungan kompleks rumah mereka


Demi istri dan calon anak, apa yang tidak akan dilakukan oleh pria itu? Gunung pun akan di dakinya, lautan juga bisa diseberanginya. Begitulah perumpamaannya.


Rey banting stir menuju ke daerah kompleks rumahnya yang jaraknya sekitar 10 menit dari sana. Akhirnya Rey pergi mendatangi rumah si mbok Minah dengan terpaksa, malam-malam begini.


Beruntungnya mbok Minah paham dan tidak marah saat Rey memintanya membuatkan nasi kuning untuk Zahwa. Mbok Minah juga mengenal Zahwa dan Rey dengan baik, dia tidak keberatan untuk membuat nasi kuning itu. Rey sangat berterimakasih pada mbok Minah dan memberikannya uang, namun mbok Minah menolak.


"Gak usah den, saya ikhlas kok... ini khusus buat yang ngidam." kata Minah sopan. Rey terus memaksa tapi Minah tetap menolaknya.


Hampir setengah jam kemudian, Rey kembali ke rumah Calabria dengan membawakan nasi kuning pesanan Zahwa. Rey bersyukur karena Zahwa tidak mual-mual seperti ibu hamil yang lainnya.


"Hem..enak banget.." ucap Zahwa sambil memakan nasi kuningnya dengan lahap, sementara sang suami sedang menyiapkan susu ibu hamil untuk Zahwa.


"Makan yang banyak ya Dede sama Mama, biar sehat sehat." ucap Rey, lalu duduk di samping Zahwa. Namun wanita itu masih menatapnya dengan kesal.


"Aamiin."


"Yang, kamu masih marah ya sama aku?" tanya Rey seraya menatap istrinya.


"Hem..."


"Sayang, mas tau...mas salah udah bohong sama kamu, mas janji ini terakhir kalinya mas berbohong. Masalah Cleo--"


Lirikan tajam dari Zahwa membuat Rey terdiam dan menelan ludah kasarnya.


"Mau bahas yang bikin mood aku sama dede jadi jelek?" sindir Zahwa sarkas. Sebenarnya Zahwa sudah melupakan tentang


"Gak sayang, maafin Mas ya.....Dede maafin papa, nak." ucap Rey seraya mengelus perut Zahwa yang datar. Ia memohon maaf pada istri dan calon anaknya.


"Ya udah jangan bahas dia lagi! Aku udah maafin kamu, tapi--"


"Tapi apa sayang?" Mata Rey berbinar, ada rasa lega di dalam raut wajahnya karena istrinya sudah memberi maaf dan kesempatan.


"Tapi kalau kamu bohong lagi, aku gak akan segan-segan pergi dari kamu, bawa dede juga." ancam Zahwa pada suaminya.


"Astaghfirullah Nemo, kok ngomongnya kayak gitu sih? Serem banget ngancamnya!"


"Aku serius mas, mas tau kan aku paling gak suka dibohongin...apalagi bohongnya gara-gara wanita LAIN."

__ADS_1


Pria itu memegang tangan istrinya, ditatapnya Zahwa dengan lembut. "Sayang, ini terakhir kalinya mas bohong...janji deh. Mas gak akan bohong lagi....mas gak mau ditinggal kamu sama dede. Mas tidak bisa hidup tanpa kalian."


"Jiah...jangan lebay deh Mas!" serka Zahwa sambil tersenyum.


"Kamu cinta pertama Mas, sayang...dari dulu sampai sekarang. Mas cinta sama kamu, selamanya cuma kamu cintanya Mas...sama Dede juga...nambah satu kesayangannya mas." ucap Rey dengan tangan membelai lembut kepala Zahwa dibalik hijabnya itu.


Zahwa tersipu malu, nampaknya kemarahan wanita itu sudah menghilang hanya dengan kata-kata. Dia berpegang pada janji Rey padanya, semoga saja Rey tidak berbohong lagi padanya.


Setelah selesai makan nasi kuning, Rey mengajak Zahwa ke kamar untuk beristirahat. Saat mereka sudah berada di tempat tidur, Rey tiba-tiba memeluk istrinya. "Mas...katanya mau tidur?"


"Bentar dulu sayang, mas mau meluk kamu....udah lama gak peluk kamu."


"Hah? Udah lama? Apa gak salah? Cuma 1 hari aja Mas, kemarin juga mas peluk aku." protes wanita itu dengan bibir yang mengerucut.


"1 hati berasa satu tahun sayang...lagian pelukannya beda. Aku memeluk kamu sepihak, sekarang kamu harus balas pelukanku!" kata Rey merajuk sambil menciumi wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.


Zahwa tersenyum lalu memeluk suaminya dengan erat. Mereka pun berpelukan, tangan Rey dijadikan bantalan oleh Zahwa.


"Aku cinta kamu sayang."


"Aku juga Mas." balas Zahwa sambil tersenyum.


Rey menundukkan kepalanya, lalu dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Zahwa dengan lembut.


****


Mata Bram dan Diana menatap tajam pada putrinya itu. Sementara Zahwa, Zayn dan Rey terlihat bingung.


"Kamu mau kemana dengan memakai seragam seperti itu?" tanya Bram masih dengan perasaan yang sama.


"A-aku...aku mau sekolah Pah,"


"Sekolah?" Bram mendelik sinis ke arah putrinya.


"Iya Pah, Selina ujian kenaikan kelas hari ini..pa..ujian terakhir!" kata Selina gugup, dia bersembunyi di belakang Amayra.


Brak!


Bram menggebrak meja makan, lalu dia beranjak dari tempat duduknya. Menatap marah pada Selina. "Kamu mau pergi ke sekolah dengan keadaan seperti ini? Diam saja di rumah dan papa akan mengurus sekolahmu."


"Pa..."


"Kak, maaf aku ikut bicara. Tapi tolong biarkan Selina ke sekolah lebih dulu. Hari ini ujian terakhir kenaikannya." Amayra menyela. Alasannya karena dia merasa kasihan kepada Selina, untuk menyelesaikan ujian kenaikan kelasnya.


"Maaf May, tapi bagaimana bisa Selina pergi ke sekolah dengan keadaan seperti ini? Aku tidak izinkan! Selina akan tetap berada di rumah sampai masalah dua bajingan kecil itu selesai!" seru Bram tegas.


"Kak...aku mohon, sekali ini saja. Biarkan Selina menikmati masa sekolah SMA nya, mungkin ini untuk yang terakhir kalinya." bela Amayra seraya memohon pada Bram.

__ADS_1


"Terserahlah!" Bram mendesah, lalu kembali duduk di tempat duduknya lagi.


Diana berjalan lalu merangkul Selina, dia tidak mau meninggalkan anaknya didalam keterpurukan. Ia tau bahwa Selina salah, tapi sebagai seorang ibu mana mungkin dia tega membiarkan anak seorang diri menanggung semua ini. Dia berusaha bersikap baik pada Selina, walau didalam hatinya masih ada rasa kesal.


Zayn, Rey dan Zahwa juga memberikan Selina dukungan sebagai keluarga, saudara yang baik. Selina tersenyum sambil memegang perutnya, dia merasa beruntung mempunyai keluarga yang baik dan dia akan mempertahankan bayinya, apapun yang terjadi.


Pagi itu Selina diantar ke sekolah oleh Rey dan Zahwa. Hari ini adalah hari terakhir Selina ujian kenaikan kelas.


"Kak...aku berangkat dulu ya." Selina memberi salam pada kakak dan kakak iparnya itu.


"Hati-hati ya Sel! Semangat!" kata Zahwa sambil menyemangati Selina. Ia tau bahwa Selina mungkin tersenyum dari luar dan terlihat baik-baik saja, tapi hatinya terluka.


"Iya kak pasti! Ini kan hari terakhir aku sekolah...jadi harus semangat."


Ya Allah, mungkin setelah hari ini aku nggak akan bisa sekolah lagi. Aku nggak akan bisa ketemu sama temen-temenku lagi, ya Allah...aku sedih. Tapi aku harus kuat demi anakku, apapun yang terjadi.


Zahwa dan Rey dapat melihat kesedihan tersirat di mata Selina. Sebenarnya berat untuk Selina pergi ke sekolah, dia takut ketahuan hamil. Tapi ia ingin menyelesaikan UKK di sekolahnya. "Kakak gak usah khawatir, aku baik-baik saja kok."


"Kalau ada apa-apa kasih tau kami ya." ucap Rey pada adiknya.


Selina melakukan kepala kemudian masuk ke lingkungan sekolahnya. Rey dan Zahwa melihat Selina dengan sedih.


"Ya Allah...Semoga Selina tetap kuat."


"Iya sayang, aku juga berharap begitu." sahut Rey sambil tersenyum. Lalu dia kembali tancap gas menuju ke rumah sakit tempat istrinya bekerja.


Di dalam perjalanan, ponsel Rey terus berbunyi. Akhirnya ia meminta Zahwa untuk melihat siapa yang menelponnya karena ia sedang menyetir. "Siapa yang nelepon sayang?" tanya Rey.


"Kak Candra, mas."


"Candra? Dia kan lagi di Singapore, tumben telepon aku." gumam Rey pelan. "Bisa bantu tolong angkat teleponnya sayang? Siapa tau penting." kata Rey meminta bantuan kepada istrinya.


"Iya Mas." Zahwa pun mengangkat telpon itu dan menekan pengeras suara disana.


"Assalamualaikum Rey." suara pria diseberang sana terdengar panik. Zahwa juga mendengarnya.


"Waalaikumsalam, Chan. Ada apa?"


"Rey, kamu lihat adikku tidak? Atau kamu tau kabar tentang Cleo?" tanya Chandra cemas.


"Cleo?"


Mendengar nama itu, raut wajah Zahwa menjadi suram. "Ya Allah, sebenarnya ada hubungan apa Mas Rey dengan Cleo? Kenapa Kak Chandra sampai menanyakan tentang Cleo padanya?"


Pikiran Zahwa mulai negatif dan ke mana-mana.


...****...

__ADS_1


__ADS_2