Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 61. Calon imamku


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Sudah tiga hari Zahwa dan Rey tidak bertemu, sesuai dengan kesepakatan kedua orang tua yang tidak memperbolehkan mereka berdua untuk bertemu sebelum para orang tua memutuskan semuanya tentang hubungan mereka berdua.


Zahwa lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sambil menunggu acara sidang senat terbuka (wisuda) yang akan di lakukan dalam beberapa bulan lagi. Zahwa juga sudah tidak melakukan pekerjaan magangnya lagi di rumah sakit.


Selama tiga hari itu, Zahwa lebih banyak rebahan di rumah sambil menonton film kesukaannya. Tak lupa dia berdoa kepada yang maha kuasa, di dalam setiap salat dan sepertiga malam, agar dia cepat disatukan bersama orang yang dia cintai dan keputusan orang tua mereka positif terhadap rencana pernikahan ini.


Subuh itu, Zahwa baru saja menyelesaikan shalatnya. Dia melepas mukena yang sebelumnya menempel ditubuhnya, lalu melipat mukena itu dengan rapi di atas ranjang.


Dreett..


Dreett...


Suara telpon bergetar membuat Zahwa harus melihat ponselnya, dia melihat ada panggilan di ponselnya itu. "Kak Rey? Apa kak Rey udah pulang dari Singapore?" gumam Zahwa.


Ya, selama 3 hari ini Rey pergi ke Singapore karena urusan bisnis dan rencananya akan pulang sehari lagi.


Zahwa tidak langsung mengangkat telpon dari pria itu, entah kenapa hatinya jadi berdebar hanya dengan melihat nama Rey tertera di ponselnya. Padahal dulu dia tidak begitu saat melihat nama Reyndra ataupun berdekatan dengannya. Kenapa sekarang begini?


Ah benar juga! Dia lupa dengan kekuasaan Allah, yang bisa mengembalikan hati manusia dengan mudahnya. Nama Reyndra kini sudah merasuk ke dalam kalbunya, memenuhi isi pikirannya dan Zahwa sadar dia telah jatuh hati pada kakak yang selama ini berperan sebagai sepupunya itu.


Dengan wajah bersemu merah, hati berdebar, Zahwa menekan tombol menerima panggilan dan menyimpan telponnya di telinga. "Assalamualaikum kak."


"Waalaikumsalam, Nemo gimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah ba-baik kak..." jawab Zahwa tanpa sadar suaranya gemetar.


"Kamu kenapa Nemo? Apa kamu sakit?"


Dari seberang sana terdengar suara cemas Rey menanyakan keadaan calonnya, mungkin.


"A-aku gak apa-apa kak,"


"Gak apa-apa gimana calon makmumku? Suara kamu gemetar gitu, kamu baik-baik aja kan?"


Kata calon makmumku, sontak saja membuat Zahwa semakin berdebar mendengarnya keluar dari mulut Rey. Wajahnya bersemu merah dan sayang sekali Rey tidak bisa melihatnya.


"Ka-kakak...kok panggil aku gitu?"


"Kamu kan memang calon makmumku," jawabnya tegas tanpa basa-basi.


"Belum tentu kak!"


"Kenapa? Apa kamu gak mau nikah sama aku?"


"Eungh...itu... maksudku,"

__ADS_1


"Jadi kamu mau kan?"


Hening sesaat, sebab Zahwa hanya tersenyum tersipu malu.


"Nemo..." Rey memanggil Zahwa karena tidak ada suara dari sana.


"Hem." sahut Zahwa masih dengan senyuman yang sama, kini kedua kuku jempolnya saling beradu.


Setiap kali Zahwa malu atau gugup, pasti Zahwa selalu melakukan gerakan itu. Memainkan kuku jempolnya, lalu tersenyum manis.


"Kok hem aja sih? Ah....bisa aku tebak, kamu pasti lagi senyum-senyum sekarang dan kamu lagi memainkan dua kuku jempol kamu." Kata Rey sambil terkekeh.


Zahwa terkesiap manakala Rey berhasil menebak apa yang dia lakukan saat ini. Dia semakin malu-malu.


"Kata siapa? Enggak kok!" Zahwa segera menghentikan aktivitasnya, seolah Rey ada disana.


"Hahaha...dan sekarang kamu malu? Calon makmumku?" goda Rey sambil tersenyum.


"Ah kakak udah deh! Jangan becandain aku terus. By the way...kakak, ada apa telpon aku? Apa kakak baik-baik saja disana?"


"Aku tidak baik-baik saja, Zahwa."


"Astagfirullah! Apa kakak sakit kak?"


"Iya aku sakit,"


"Dada sama kepalaku sakit banget," jawab Rey dengan suara lirih, padahal diseberang sana dia tersenyum bahagia karena Rey mencemaskannya.


"Apa kakak udah periksa ke dokter? A-tau udah minum obat? Kakak ada demam gak? Atau kakak belum makan makanya kakak jadi gini?" cecar Zahwa kepada Rey dengan banyak pertanyaan yang ujung-ujungnya perhatian mendalam.


Masya Allah...


Pria itu tersenyum bahagia mendapatkan perhatian seperti itu dari Zahwa. Mungkin dari dulu Zahwa memang sudah perhatian padanya, tapi rasanya kali ini berbeda. Ya, sebab sekarang hubungan mereka telah berbeda. Bukan sepupu lagi, bisa dibilang juga sepasang kekasih.


"Aku bukan sakit karena itu, tapi ada hal lain Zahwa."


"Hal lain ya? Terus karena apa? Apa karena pekerjaan? Jadi kakak pusing dan sakit dada? Ah...kakak pasti kurang istirahat ya?" kembali Zahwa mencecar Rey dengan pertanyaan.


"Hahaha... Nemo kamu cerewet banget." Rey terkekeh dengan kata-kata cerewet Zahwa. Suara yang dia rindukan selama 3 hari ini.


"Kakak...terus kakak kenapa dong? Kenapa kakak sakit kepala sama sakit dada?"


"Kepalaku sakit karena aku pusing mikirin kamu dan dadaku sakit, karena aku sangat merindukanmu, aku ingin melihatmu..." lirih Rey dengan suara yang dapat membuat relung hati Zahwa bergetar karenanya.


Zahwa terdiam, perlahan air matanya menetes membasahi wajahnya. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Rey. Padahal dulu saat bersama Raihan, dia tidak pernah merasakan rindu sedalam ini meski terpisah bertahun-tahun. Tapi bersama Rey, 3 hari pun serasa 3 tahun.


"Nemo? Apa kamu menangis?" Seketika Rey menjadi panik kenakalan ia mendengar suara isak tangis di seberang sana.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa kak." jawab Zahwa dengan suara serak.


"Jangan bohong my Nemo. Katakan ada apa?"


"Aku juga kangen kakak... aku pengen ketemu kakak, aku takut dengan keputusan orang tua kita nanti. Apakah mereka akan setuju atau tidak, kak?" Zahwa terisak, teringat beberapa hari ini mamanya tidak bicara padanya.


"Nemo, kakak yakin pada akhirnya mereka akan setuju dengan hubungan kita. Mereka hanya butuh waktu dan kamu tahu benar kalau Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia, jadi percayalah---insya Allah akan ada jalan yang indah untuk kita!"


"Insya Allah kak, Aamiin.... bismilah...kakak cepat pulang ya." lirih wanita itu dengan suara lembut.


"Iya calon makmumku, kakak akan cepat pulang, kamu jaga diri baik-baik ya." ucap Rey lembut.


"Iya kakak, kakak juga ya."


"Heem, tapi Zahwa kakak boleh sesuatu sama kamu gak sebelum tutup telpon ini? Kakak gak tenang kalau kamu tidak mengabulkan permintaan kakak."


"Apa kak?"


"Panggil aku calon imammu."


"A-apa? Kak..." lirih Zahwa malu mendengarnya.


"Ucapan bisa jadi doa, siapa tahu kalau kamu memanggilku begitu.. doa kita bisa cepat terkabul."


"I-iya calon imamku."


"Apa? Aku gak dengar?" goda Rey sambil tersenyum senang.


"Kak! Jangan godain aku terus dong!" protes Zahwa malu.


"Ya udah, dengar suara kamu aja kakak udah bahagia dan bisa mengobati sedikit rindu kakak. Kamu jaga diri baik-baik ya, insya Allah kakak akan pulang besok. Assalamualaikum calon makmumku."


"Waalaikumsalam calon imamku." balas Zahwa lalu dia menutup teleponnya dengan cepat. Wajahnya yang tadi dipenuhi air mata, kini berganti dengan senyuman dengan wajah bersemu merah. Seandainya Rey melihat wajah Zahwa saat ini, mungkin dia sudah gemas karenanya. "Aku kangen kamu calon imamku,"


Dibalik pintu terlihat Amayra melihat putrinya, mungkin juga dia mendengar percakapan antara putrinya dan juga Rey, putranya yang lain.


Tatapannya begitu sendu, namun akhirnya dia pergi dari sana dan melihat foto suaminya yang terpajang di dinding ruang tengah rumah itu.


"Mas, kamu akan setuju kan dengan keputusan yang akan aku ambil ini?" Gumam Amayra sambil melihat foto tersebut dengan bingung.


Tak lama kemudian, Amayra mengambil ponselnya yang ada di atas meja ruang tengah. Dia mencabut ponsel itu dari chargerannya. "Halo, assalamualaikum kak Bram... aku sudah ambil keputusan.....ya mari kita bertemu kak." ucap Amayra sambil menghela nafas panjang, lalu menutup teleponnya.


Kira-kira keputusan apakah yang akan diambil oleh Amayra?


...****...


Hai Readers, sambil nunggu up lagi novelku boleh mampir ke novel kak Ramanda, ceritanya bagus banget 😍😍

__ADS_1



__ADS_2