Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 94. Belum tiga hari


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Kantor Presdir Calabria grup, Rey dan Cleo tengah berada dalam pembicaraan yang serius mengenai kehamilan Cleo. "Kamu hamil...terus kenapa kamu bilang sama aku? Emang aku bapaknya?" tanya Rey dengan sorot mata yang begitu tajam pada Cleo.


Moodnya yang buruk, ditambah lagi sikapnya yang seperti kulkas 15 pintu itu membuat Rey terlihat semakin jutek dan dingin.


"Kak...jangan habis manis sepah dibuang dong, aku kan udah bantuin kakak buat bersatu sama cinta pertama kakak! Terus begini balasan kakak setelah aku bantu kakak?" tanya Cleo dengan bibir mengerucut. Dia sudah berjasa membantu hubungan Rey dan Zahwa cepat bersatu, karena Cleo membuat Zahwa cemburu dan menyadari perasaannya. Dia pun merasa sudah menyelamatkan negara saja.


Cleo adalah adik dari sahabat Rey yaitu Candra, Cleo juga adalah adik kelas Rey dan cukup dekat dengannya saat tinggal di Singapore. Makanya Rey tak sungkan meminta bantuan pada Cleo dan Candra. Cleo sudah seperti adiknya sendiri, adik jauh mungkin. Hanya saja Zahwa tak tau kalau Rey dekat dengan Cleo, tapi Selina tau kakaknya cukup dengan Cleo. Selina juga tau bahwa kedekatan kakaknya dengan Cleo hanya sebatas teman saja.


"Terus aku harus gimana? Oh ya...aku lupa kasih selamat, selamat atas kehamilannya." ucap pria itu dengan cueknya dan tak peduli.


"Kak! Kehamilanku ini bukan hal yang patut diberi selamat, hiks...hiks..." untuk kesekian kalinya Cleo menangis terisak.


Rey mengambil tisu lalu menyerahkan pada Cleo. Dia tidak tega melihat Cleo menangis. "Udah dong jangan nangis lagi, cepetan ngomong kamu mau minta bantuan apa? Aku sibuk, Cleo." kata Rey bertanya tanpa basa-basi lagi.


"Tolong bilang sama mama papaku kalau kakak yang sudah menghamiliku!" ujar Cleo merengek, seraya memohon pada pria itu.


Rey tercengang mendengar ucapan tidak masuk akal dari Cleo. Apa katanya? Mengakui anak didalam kandungan Cleo adalah anaknya?


Matanya melotot pada Cleo menyiratkan kemarahan yang begitu tajam. "Apa maksudmu?"


"Kak...kak Rey jangan salah paham, ini cuma pura-pura kok. Supaya aku tidak menikah dengan pria yang menghamiliku! Ini hanya akting saja kak, akting!"

__ADS_1


Pria itu berusaha menenangkan dirinya pada Cleo. "Aku memang sudah berjanji membantu kamu tapi tidak untuk ini Cleo... sekarang begini saja. Katakan padaku siapa pria itu? Aku akan membantumu meminta pertanggungjawabannya kalau kamu mau,"


"Aku gak mau menikah sama dia, kak!" seru Cleo seraya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Apa dia pacar orang? Atau suami orang?" tanya Rey tanpa filter langsung bicara blak-blakan, ucapannya terdengar pedas bagi Cleo.


Cleo langsung melotot pada Rey. "Huh! Bagaimana bisa Zahwa bertahan dengan ucapan kakak yang pedas ini?" tanya Cleo heran, pasalnya Rey yang dia kenal adalah sosok yang dingin dan bermulut pedas.


"Oh sayangnya dia gak tau kalau aku pedas, dia taunya aku manis." sahut Rey cuek.


"Idih....ya udah deh aku pulang aja, percuma minta bantuan sama kakak. Kalau aku bilang kak Candra, dia pasti akan membunuhku kalau tau aku hamil." cerocos gadis itu sambil menghela nafas.


Rey menyarankan agar Cleo bisa terbuka pada kakaknya, tapi Cleo menolak dan dia tidak mau kalau kakaknya tau tentang kehamilannya. Namun Cleo lebih memilih menceritakan dan meminta tolong pada Rey ketimbang pada kakaknya sendiri. Ya, itu karena Cleo memendam rasa pada Rey.


Cleo pergi dari gedung perusahaan itu dan tak sengaja Aini melihat Cleo keluar dari ruangan Rey.


****


Rumah sakit, tempat Zahwa memeriksa pasiennya. Terlihat Zahwa dan asistennya suster Erin masih sibuk di jam istirahat. Masih ada satu pasien lagi, seorang anak perempuan dan ibunya. Anak perempuan itu merengek tak mau di cabut gigi.


"Ma...aku gak mau cabut gigi, cabut gigi itu sakit!" ucap seorang anak perempuan itu keras kepala.


"Gak sakit kok, gak...nak." bujuk sang ibu pada anaknya yang enggan masuk ke ruangan Zahwa.

__ADS_1


"Ibu dokternya juga jahat, nanti aku disuntik suntuk Ma."


"Kata siapa ibu dokternya jahat? Ibu dokter baik kok," Zahwa datang dengan senyuman ramahnya pada anak itu.


"Hemp!" anak perempuan itu terlihat jutek pada Zahwa.


Bukan dokter namanya kalau tidak bisa membujuk pasiennya, setelah Zahwa bergelar sebagai dokter gigi. Dia belajar banyak menghadapi pasien anak kecil dan dia selalu bisa membujuk anak-anak itu. Tak butuh waktu lama dengan kata-kata manisnya, Zahwa berhasil membuat anak itu mau dicabut gigi.


Zahwa begitu menyukai pekerjaannya yang membuat dirinya menjadi lebih dekat dengan anak-anak.


"Hayo suster Erin,ini waktunya kita beristirahat!" seru Zahwa pada Erin yang tengah berdiri di depan pintu lalu membawa buket bunga mawar berwarna pink.


"Dokter Zahwa, ini ada bunga untuk dokter Zahwa...so sweet banget sih." ucap Erin sambil memberikan bunga buket mawar pink itu pada Zahwa.


Dia melihat ada tulisan di kartu ucapan di atas bunganya. Ya sepertinya itu adalah bunga permintaan maaf.


...Sayang, maafkan suamimu ini...jangan lama-lama ngambeknya ya sayang? Ingat ya sayang... ngambeknya gak boleh lebih dari tiga hari. Ada didalam hadist, janganlah kalian saling memutuskan hubungan, jangan saling membelakangi, jangan saling bermusuhan, jangan saling hasud. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak bertegur sapa dengan saudaranya di atas tiga hari”. (HR Muttafaq 'alaihi)....


...Nah kan ada hadistnya, jadi kamu cepat baikan sama aku ya sayang. Aku gak tahan marahan terus sama kamu....


...Love you Nemo sayang....


Wanita itu terkekeh melihat tulisan itu. "Ini belum tiga hari kok, Mas..." gumamnya sambil tersenyum.

__ADS_1


...****...


__ADS_2