
...πππ...
Semua orang menatap Rey dengan tajam, entah apa yang mereka pikirkan, tapi Rey merasakan firasat yang tidak baik.
Terlihat Selina, Alisa dan Viona berbisik-bisik lalu mereka menatap Rey dengan tajam. Rey mengabaikan mereka dan menunggu Zahwa sampai dia keluar dari kamar mandi.
Ada apa dengan semua orang?
Beberapa saat kemudian, Zahwa keluar dengan wajah pucat sambil membersihkan sedikit air yang ada di bibirnya. Dia melihat Rey yang tak jauh dari sana, Zahwa menghampirinya.
"Ini semua gara-gara kakak, aku jadi kayak gini." gerutu Zahwa kesal pada Rey, sambil memegang perutnya.
"Iya baiklah, aku akan tanggung jawab! Kamu tenang aja Nemo-ku!" kata Rey sambil tersenyum seraya menenangkan Zahwa.
"Tanggung jawab? Tanggung JAWAB APA?!" teriak Bram sambil menghampiri Zahwa dan Rey.
Semua orang juga mengikuti bra menghampiri Rey dan Zahwa yang tampak bingung. Apalagi tetapan mereka begitu tajam dan kini menyiratkan kemarahan.
"Beraninya kamu Rey! Beraninya kamu melakukan ini pada Zahwa?!" Amayra memukul-mukul tubuh Rey dengan emosi.
BUk!
"Memangnya aku melakukan apa mah?" Rey bingung, tiba-tiba saja dia dimarahi dan dipukuli oleh calon ibu mertuanya. Zahwa juga terlihat bingung sama dengan Rey. Ada apa dengan semua keluarganya?
"Mama gak nyangka, ternyata hubungan kalian sudah sejauh itu." Diana menatap Rey dan Zahwa dengan mata berkaca-kaca, seperti akan menangis.
"Astagfirullah...Oma pikir kamu bisa menahannya nak...Oma sangat kecewa. Zahwa juga seharusnya kamu menahan kakakmu untuk melakukan itu." Nilam memegang dadanya sambil terisak.
Sementara Zahwa dan Rey saling menatap satu sama lain dengan bingung. Mereka benar-benar tidak paham apa yang dikatakan oleh keluarganya.
Mengapa semua orang terlihat sedih dan marah? Memangnya apa yang mereka katakan sih? Apa yang terjadi?. Zahwa menggaruk-garuk kepalanya di balutan hijab putih itu.
"Melakukan apa, Oma?" tanya Zahwa polos.
"Jadi udah berapa bulan?" tanya Bima dengan wajah serius, menatap perut Zahwa.
"Berapa bulan apa?" tanya Zahwa semakin tidak paham, apalagi saat Bima melihat perutnya.
"Astagfirullah, kalian semua kenapa sih? Kalian ngomong apa?!" Akhirnya Rey tidak tahan lagi dan bertanya kepada semua orang dengan intonasi yang meninggi.
Tak lama kemudian terdengar gelak tawa saat semua orang berkumpul di ruang tengah. Bima dan Zayn yang tertawa paling keras diantara semua orang. Begitu Rey menceritakan kepada semua orang tentang apa yang dimaksud dengan tanggung jawab dan kenapa Zahwa muntah muntah.
__ADS_1
Mereka mengira Zahwa sedang hamil, astagfirullahaladzim... bagaimana bisa mereka berpikir seperti ini?
"Hahaha...jadi tanggung jawab yang dimaksud itu karena kak Rey udah buat Zahwa makan banyak selama beberapa hari ini?" Tawa Zayn pecah.
"Iya, aku suka kirim dia makanan selama kita gak ketemu dan dia makan banyak banget. Makanya jadi mual-mual kayak gitu deh, belum lagi kurang tidur karena mikirin aku." jelas Rey sambil melihat ke arah Zahwa yang duduk disampingnya.
Plakk!!
Tangan Zahwa mendarat keras di tangan Rey, "Aduh sakit...Nemo..."
"Habisnya kakak pede banget sih jadi orang! Huh!" seru Zahwa dengan bibir mengerucut.
"Ucapan Rey yang ambigu tuh bilang tanggung jawab segala, terus Zahwa juga sambil megang perut... mual-mual. Jadi semua orang salah paham deh!" Celetuk Anna sambil terkekeh.
"Benar banget ma, jadi semua orang salah paham kan?" Alisa setuju dengan ucapan mamanya.
Para orang tua tersenyum melihat betapa akrabnya Zahwa dan Rey. Sekarang mereka tidak cemas lagi dengan pernikahan Rey dan Zahwa, insya Allah langgeng karena mereka saling mencintai.
Tak terasa waktu sudah menjelang malam.
Ketika semua orang sedang menikmati makan malam bersama usai shalat isya berjamaah. Rey, Zahwa, Selina, Viona dan Alissa berada di kamar Zahwa untuk menemani gadis yang sedang tidak enak badan karena habis muntah-muntah beberapa saat yang lalu.
Disisi lain....
"Iya Fan, insya Allah...mas Satria selalu menyayangi Rey dan dia tau kalau Rey adalah anak baik. Rey pasti bisa menjaga Zahwa kan?"
Fania mengangguk, dia tersenyum meyakinkan Amayra bahwa Rey adalah yang terbaik untuk Zahwa. Jodoh yang telah di pilihkan Allah SWT untuk Zahwa.
Setelah acara tersebut selesai, ustadz Fahri diantar pulang oleh Bram, Diana, Nilam, Selina. Keluarga Anna dan keluarga Bima juga pamit pulang, tapi Rey belum mau pulang dan mau menemani Zahwa sampai gadis itu tertidur.
Tadinya Bram melarang Rey lama-lama disana, tapi Bram tak tega melihat wajah Rey yang memelas dan ingin menemani Zahwa dulu sampai dia tidur. Lagipula di rumah itu juga ada Amayra dan Zayn, mereka tidak hanya berdua di sana.
"Perut kamu udah baikan Nemo?" tanya Rey pada gadis yang tengah duduk di headboard ranjangnya.
"Ih...kakak kok nanyanya gitu sih!" gerutu Zahwa sambil memalingkan wajahnya.
"Memangnya kenapa dengan pertanyaanku?" Rey sambil tersenyum pada Zahwa.
"Kakak buat aku malu, pakai nanya perut aku segala. Mana dari tadi aku kentut terus lagi." gumamnya dengan suara kecil.
"PFut..." Rey menahan tawa.
__ADS_1
"Tuh kan kakak ketawa lagi...ah udah deh kakak pulang aja sekarang!" titah Zahwa sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu mengambil selimut dan menarik selimut itu sampai menutupi seluruh tubuh Zahwa termasuk wajahnya.
Sungguh Zahwa sangat malu, berkali-kali dia kentut karena sakit perutnya. Apalagi didepan pria yang ia cintai.
"Hey...jangan marah dong Nemo, maaf deh aku udah ketawa! Maaf ya, kamu jadi tersinggung gara-gara aku ketawa." ucap pria itu lalu berusaha menarik selimut yang menutupi tubuh Zahwa. Kini wajah cantik dengan kepala yang ditutupi oleh hijab berwarna putih itu telah oleh Rey.
"Aku gak marah sama kakak, aku malu..." ucapnya dengan suara yang mencicit pelan karena malu. Dia tidak berani menatap mata Rey.
"Nemo dengerin aku! Gak peduli kamu mau kentut atau BAB kek, aku tetap cinta sama kamu!" seru Rey sambil memegang tangan Zahwa, yang memperlihatkan satu jari manisnya yang tersemat oleh cincin pertunangan mereka.
"Kakak... jorok ih! Kalau kakak tetap cinta kakak gak akan menertawakan aku," keluh gadis itu merajuk dan membuat dia semakin terlihat imut di mata Rey.
"Iya deh iya...maaf Nemo. Maafin aku ya? Kita baru bertunangan dan kita akan segera menikah, kita harus akur akur dong. Ya kan?"
Ya Allah kenapa kak Rey semakin tampan saja? Dan setiap kata-katanya membuat hatiku berdebar.
"Nemo...aku sangat menantikan hari bahagia kita. Aku harap kamu juga merasakan hal yang sama."
"I-iya kak..." jawab Zahwa sambil tersenyum tipis.
Rey tersenyum, ekor matanya menatap ke sana dan kemari terutama ke arah pintu. Kemudian dalam sekilas dia mencium kening Zahwa.
Cup!
"Kakak! Nanti kalau mama sama kak Zayn lihat gimana?" Zahwa terkejut saat bibir Rey mengecup keningnya. Jantungnya seperti mau copot saja.
"Tapi kan mereka gak lihat, hehe. Ya udah, kakak pulang dulu ya Nemo. Kamu bobo ya!"
"Ka-katanya kakak akan menemaniku sampai tidur," protes Zahwa yang sebelumnya teringat kata-kata Rey, bahwa pria itu akan menemaninya sampai tidur.
"Maaf aku gak bisa, soalnya aku gak tahan kalau lama-lama deket sama kamu. Otakku sama hatiku jadi gak sinkron. Aku harap satu bulan segera berlalu." kata Rey sambil menghela nafas panjang.
"Ehm...iya.."
"Aku pulang dulu ya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam kak," kata Zahwa sambil tersenyum.
Pria itu tersenyum, lalu dia berjalan pergi meninggalkan kamar Zahwa. Tak lupa dia berpamitan kepada calon ipar dan calon mama mertuanya.
Ketika berada dalam perjalanan pulang naik taksi, Rey tiba-tiba teringat sesuatu. "Astagfirullahaladzim, tadi aku kan mau mengatakan tentang kerja sama Salimah denganku? Baiklah...aku katakan nanti saja, lagipula masih banyak waktu." pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
...*****...
Satu bab lagi nyusul ya βΊοΈ semoga review tak lama