Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 44. Apa kalian bertengkar?


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Beberapa menit sebelumnya, Deva sedang mengendarai motor setelah dia baru saja nongkrong bersama teman-temannya di cafe. Sebagai bintang besar vokalis band Langit Deva Andara, dia harus selalu menjaga dirinya ketika berada di luaran sana terutama terhadap fans fanatiknya.


Ketika berada dalam perjalanannya, Deva Andara melihat sosok gadis berhijab dengan satu tangan yang di topang oleh kain. Awalnya Deva cuek saja, namun begitu melihat wajahnya dari dekat. Deva mulai tertarik dan dia pun memberhentikan motornya tepat di samping gadis berhijab itu.


Ia melihat matanya yang sembab ketika membuka helmnya yang dilapisi kaca hitam. Alasannya tertarik karena dendam! Mungkin.


"Hei Aisyah! Lagi ngapain Lo disini?" kata Deva sok akrab.


"Kamu? Kamu siapa?" tanya Zahwa sambil memicingkan matanya guna melihat dengan jelas siapa pria yang menyapanya dan memanggilnya Aisyah itu.


"Woy Aisyah, masa Lo gak tau siapa gue? Waktu itu Lo sengaja kan masuk ke toilet cowok buat narik perhatian gue, ah...bilang aja kalau Lo mau foto sama gue atau tanda tangan gue?" kata Deva dengan pedenya.


"Maaf, saya tidak tahu siapa kamu...tapi kamu jangan ganggu aku." kata Zahwa ketus, biasanya dia ramah tapi kali ini mood nya sedang tidak baik.


Ini cewek pura-pura jaim, padahal dia sengaja menarik perhatianku waktu itu.


Deva turun dari motor, sambil memakai helmnya kembali. Takutnya akan ada penggemar yang mengenalinya.


"Lo nangis? Kenapa Lo nangis? Eh tangan Lo kenapa?" tangan Deva mulai mendekat pada pipi Zahwa, namun sebelum sampai disana ada yang mencekal tangannya.


"Pergi!" Rey mendorong Deva, dia menatap pria itu dengan tajam.


"Woy..woy woy...santai dong bro," ucap Deva yang terheran-heran dengan tatapan intimidasi dari Rey.


Ini orang seperti mau memakanku saja? Apa mungkin pacarnya si Aisyah?. Batin Deva menelisik hubungan antara Rey dan Zahwa.


"Kak...udah aku bilang kan jangan ikutin aku! Aku mau pulang sendiri," ketus Zahwa pada Rey.


"Gimana aku gak ikutin kamu, kamu gak bisa jaga diri sendiri dan malah digangguin preman kan? Udah, gak usah bandel! Ikut aku pulang!" Rey memegang tangan Zahwa. Zahwa menatap Rey dengan tatapan tajam.


"Hey hey... saya bukan preman pak, saya Deva Andara, vokalis band langit." Deva memperkenalkan dirinya pada Rey dan Zahwa, dia tak terima dipanggil preman oleh Rey.

__ADS_1


Apa disini aku adalah nyamuk?


Tapi keberadaan Deva seolah tak ada disana, Zahwa dan Rey sibuk dengan perdebatan mereka sendiri. "Apa aku nyamuk disini? Aku seorang artis tapi mereka tidak melirikku? Woah...hatiku tersakiti." batin Deva.


"Aku gak mau pulang sama kakak,"


"Kalima Zahwa Jawharah!" bentak Rey mulai kesal dengan keras kepalanya gadis itu.


Akhirnya Deva mulai bertindak, dia melepas tangan Rey yang menegang tangan kiri Zahwa. "Hey pak, dia gak mau pulang sama bapak..."


Rey melotot menatap Deva, seakan matanya akan keluar dari sana. Deva menelan salivanya, ia merasa terancam walau hanya karena tatapan. "Pak, jangan gitu dong liatinnya...bapak kayak Susana aja deh, melotot melotot..."


Jirr, ini orang seperti mau membunuhku.


"Jangan ikut campur! Zahwa pulang!"


"Maaf pak, tapi Aisyah gak mau ikut bapak. Aisyah dia siapa Lo? Apa dia orang jahat?" Deva memberanikan dirinya bicara walaupun sebenarnya dia takut dengan Rey.


Kakak? Bahkan setelah menyatakan cintaku, aku masih kakak?. Rey mengerutkan keningnya, matanya menatap Zahwa dengan sendu.


Sebenarnya Rey sakit hati karena dipanggil kakak oleh Zahwa. Tapi memang itulah status mereka saat ini.


Akhirnya Zahwa menurut dan ikut bersama Rey, walaupun sebenarnya dia tidak mau pulang bersama Rey. Deva


Disepanjang perjalanan Rey dan Zahwa tidak saling bicara, Zahwa juga hanya melihat keluar kaca mobil. Dia tidak mau melihat Rey, yang belum lama menciumnya. Adegan ciuman dan pernyataan cinta dari kakak sepupunya itu, membuatnya tidak bisa tenang.


Lagi-lagi air mata Zahwa kembali menetes tanpa sadar. "Ya Allah, aku sudah melakukan dosa...aku sudah berciuman dengan pria yang bukan suamiku. Aku berciuman dengan kak Rey, kakak sepupuku sendiri. Apa setelah ini kita bukan saudara lagi?"


Tidak tahan melihat Zahwa menangis, Rey pun memberhentikan dulu mobilnya di pinggir jalan.


"Nemo..." Rey menyerahkan tisu pada Zahwa, tapi gadis itu menepisnya.


Aku tahu ini semua akan terjadi, tapi kenapa aku masih tidak menyangka reaksi Zahwa akan seperti ini. Maafkan aku Zahwa, ini semua demi hubungan kita.

__ADS_1


"Kamu jangan nangis lagi dong, aku gak tenang."


"Aku mau pulang sekarang, cepat jalankan mobilnya kak!" ucapnya tegas tanpa melirik ke arah Rey sedikitpun.


"Iya, kamu jangan nangis lagi ya." Rey menghela nafas.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah Amayra. Sebisa mungkin Zahwa dan Rey mencoba bersikap biasa saja. Begitu masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja Zahwa di kejutkan oleh suara terompet dan juga serpihan-serpihan kertas kecil dari atas sana.


Zahwa dan Rey melihat kejutan yang disiapkan oleh Zayn, Aini, Selina, Amayra untuk menyambut kepulangan Zahwa dari rumah sakit.


"Selamat datang kak Zahwa!" sambut Selina dengan senyum ramahnya pada Zahwa dan Rey.


"Selamat datang kembali ke rumah," sambut Amayra, Zayn dan Aini pada Zahwa.


Gadis itu malah terdiam, lalu dia masuk ke dalam kamarnya begitu saja. Dia bahkan lupa mengucap salam dan tidak melihat balon balon yang ada disana.


BRAK!


Pintu kamar itu ditutup begitu saja oleh Zahwa dengan cukup keras. Semua orang terkejut dengan sikap Zahwa yang seperti itu.


"Ada apa ini? Kak Zahwa kenapa?" tanya Selina bingung. Aini dan Zayn yang bingung, malah menatap Rey dengan tatapan tajam.


"Rey, Zahwa kenapa?" tanya Amayra pada Rey yang datang bersama Zahwa. Mungkin saja Rey tahu kenapa Zahwa begitu.


"Aku..."


"Apa kalian bertengkar?"


Rey tertunduk sejenak kemudian dia mendesah melihat pintu kamar Zahwa yang tertutup dengan sendu.


...****...


Author mau up 1 lagi, tapi boleh kah author minta gift atau vote nya? ☺️☺️😍

__ADS_1


__ADS_2