Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 41. Demi Zahwa


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Zayn dan Rey berhasil membawa Zahwa ke tenda kemah. Semua orang menyambut mereka dengan cemas, apalagi melihat Zahwa yang tidak sadarkan diri dengan wajah pucat dan membiru.


"Cepat periksa adik saya dokter!" ujar Zayn pada petugas medis yang ada disana.


"Baik!"


Dengan sigap Zayn menarik brankar di dalam tenda, kemudian Rey membaringkan Zahwa di atas brankar itu. Keadaan Zahwa terlihat mengkhawatirkan, dia tidak sadarkan diri dan tubuhnya menggigil. Rey memegangi tangan Zahwa, dia mengikutinya dengan setia ke dalam tenda perawatan bersama tim medis.


"Zayn! Ini dia pelakunya, yang udah buat Zahwa hilang!" tiba-tiba saja Aini bicara dan datang dengan menyeret Tiara juga Vera. Aini tak sendiri, dia datang bersama Zainab juga.


Zayn yang tadinya akan mengikuti Rey dan Zahwa ke dalam tenda perawatan, jadi mengurungkan niatnya. Dia menatap Aini, Zainab, Vera dan Tiara.


"Apa maksud kamu?" tanya Zayn serius.


"Gara-gara mereka berdua yang sembunyiin gelang Zahwa di deket jurang, Zahwa jadi jatuh ke jurang!" kata Zainab mulai bicara karena dia kesal sekali.


"Apa?" Zayn terperangah.


"Ma-maaf Zayn, kami gak tau kalau kejadiannya bakalan begini. Kami cuma iseng ngambil gelang Zahwa terus simpan gelang itu di jurang," Vera gemetar saat melihat Zayn.


"Kami gak tau kalau Zahwa bakal jatuh ke jurang, kami--"


"Aini, apa kamu punya buktinya kalau mereka pelakunya?" tanya Zayn seraya menatap Aini dengan tatapan tajam.


"Ada! Aku udah merekam pembicaraan mereka di handphone ku."


Zayn berjalan mendekat ke arah Vera dan Tiara, atensi tajam tak lepas dari kedua wanita itu. "Kalau terjadi sesuatu yang serius sama Zahwa, aku bakal tuntut kalian berdua!"


Vera dan Tiara menundukkan kepala mereka, ketakutan, resah, gelisah, takut berhadapan dengan hukum. Mereka juga merasa bersalah karena mereka tak bermaksud mencelakai Zahwa. Mereka hanya ingin Zahwa tertinggal di belakang dan tersesat, bukannya jatuh ke jurang begini.


Di dalam tenda perawatan, Zahwa sudah mendapatkan perawatan. Tubuhnya mengalami hipotermia yang cukup parah. Tapi sekarang dia tidak menggigil lagi seperti sebelumnya.


"Gimana keadaannya dok?"tanya Rey pada dokter berusia sekitar 30 Han itu. Rey terlihat sangat mencemaskan keadaan Zahwa.


Disisi lain ada Zayn yang juga menatap saudara kembarnya yang masih tak sadarkan diri.


"Alhamdulillah hipotermianya sudah bisa teratasi walau belum pulih sepenuhnya. Tapi mengenai kaki kiri dan tangan kanannya, sepertinya ada patah tulang...untuk memastikannya kita harus mengeceknya ke rumah sakit, pak." Tutur sang dokter menjelaskan.

__ADS_1


"Baiklah dok, terimakasih." jawab Rey dan Zayn bersamaan.


"Zayn, kita harus bawa Zahwa ke rumah sakit sekarang."


"Iya kak, kita bawa ke rumah sakit terdekat disini saja supaya lebih cepat." ucap Zayn menyarankan.


"Ughh..." tiba-tiba saja Rey merintih kesakitan, sambil memegang pelipisnya.


"Kak! Kakak gak apa-apa? Kakak pasti kelelahan, kakak duduk dulu..." ucap Zayn sambil memapah Rey untuk duduk dulu di kursi yang ada disana.


"Aku gak apa-apa Zayn, ayo kita bawa Zahwa ke rumah sakit." kata Rey sambil memegang kepalanya yang berdenyut sakit tapi pikirannya ada pada Zahwa.


"Kak...lebih baik Kakak istirahat dulu. Lagian di luar masih hujan, kita gak bisa bawa Zahwa sekarang. Keadaan Zahwa sudah membaik, kalau kakak sakit kakak gak bisa jagain Zahwa kan?" bujuk Zayn pada Rey yang sudah terlihat lemah itu.


Masih untung pria itu tidak pingsan, dia tidak tidur hampir dua malam, tidak makan dan tidak istirahat karena mencari Zahwa. Demi Zahwa dia sampai seperti ini dan membuat Zayn menyadari bahwa Rey sangat mencintai saudara kembarnya.


Rey pun menurut dan beristirahat di ranjang kosong disana. Dia tertidur setelah makan sedikit dan minum obat pusing kepala. Zayn melihat kedua orang itu dengan bingung.


"Kak Rey mencintai Zahwa, tapi Zahwa belum tau bagaimana perasaannya? Apakah dia masih menyukai kak Raihan atau tidak? Lalu--jikalau pada orang tua kalau kak Rey mencintai Zahwa, gimana reaksi mereka? Akankah mereka setuju?" gumam Zayn dengan suara pelan dan nyaris dan tak terdengar.


Tanpa mereka sadari ada seorang wanita berhijab ungu di depan tenda. Dia tampak menutup mulutnya setelah mendengar gumam Zayn yang pelan. "Kak Rey mencintai Zahwa? Astagfirullah...mereka kan sepupuan? Memang boleh sih mereka menikah tapi tanggapan orang kan beda...." gumam wanita itu.


"Cewek hulk, aku tau kamu disitu!" Zayn menoleh ke depan tenda.


"Eh...iya... assalamualaikum." tampak terlihat kegugupan di wajah Aini. Gadis itu mendekat pada Zayn yang sedang duduk di sofa.


"Waalaikumsalam."


"I-ini teh hangat buat kamu." Aini meletakkan gelas berisi teh hangat itu ke atas meja kecil disana. Lalu dia hendak melangkah pergi.


"Jangan kasih tau siapa-siapa tentang apa yang kamu dengar barusan, kalau kamu kasih tau orang lain. Awas aja!"


"Haha...memangnya aku dengar apa." Aini tertawa canggung, berusaha menyangkal apa yang baru saja dia dengar.


Zayn menatap Aini dengan tajam. Aini pun mengaku bahwa dia memang telah mendengar semuanya. "Iya deh iya,aku janji gak akan kasih tau siapa-siapa. Lagian kenapa aku harus kasih tau ini?"


"Ya bagus deh, ternyata walau kamu suka makan banyak...kamu baik juga." celetuk Zayn yang lagi-lagi membuat Aini melotot tajam.


"Apa?"

__ADS_1


"But...makasih ya kamu udah khawatir sama Zahwa." Zayn meneguk sedikit demi sedikit teh hangat di dalam gelas dengan hati-hati.


"Gak usah berterimakasih, Zahwa kan temenku...tentu saja aku khawatir sama dia, tanpa harus diminta sekalipun." Aini tersenyum lembut.


Deg!


Tiba-tiba Zayn berdebar melihat senyuman Aini yang lembut itu, senyuman yang baru pertama kali ia lihat. "Ya Allah gusti, ini jantung kenapa?"


Sepasang mata berwarna hitam jernih yang menatapnya itu, membuat Zayn berdebar dan gemetaran. Entah kenapa?


"Hey! Piktor, kamu gak apa-apa kan?"


"Eh..eungh...memangnya aku kenapa?"


"Tangan kamu gemetaran...ah sudah kuduga kamu juga kedinginan ya? Sebentar ya, aku ambil selimut dulu di tenda kak Firman, siapa tau ada selimut lebih."


Zayn terperangah mendengar kata Firman disebutkan oleh Aini."Apa? Ngapain kamu ke tenda cowok?"


"Aku kan mau ambil selimut, Zayn." ucap Aini polos.


"Biar aku saja yang kesana, masa kamu ke tenda cowok sih? Pamali tau! Apalagi malam-malam gini," ucap Zayn kesal.


"Oh...ya udah deh." Aini mengangkat kedua bahunya.


"Kamu disini aja Hulk, biar aku yang ambil selimut." titah Zayn dengan bibir yang mengerucut. Aini menatap Zayn dengan heran, lalu tiba-tiba saja pria itu membuka jaketnya dan melempar jaketnya ke wajah Aini.


"Ih! Kamu apa-apaan sih piktor?"


"Eh...itu...jagain jaketnya bentar, mau dipakai juga boleh. Maksudku tolong hangetin jaketnya."


Ya Allah kenapa mulutku jadi belibet gini sih? Aku kenapa?


"Oh...bilang aja dong kalau kamu mau aku pakai jaketnya," ucap Aini to the poin dan membuat kedua mata Zayn melebar.


"Siapa yang bilang gitu? Ta-tapi ya kalau mau dipakai jaketnya, boleh kok." Zayn kembali gugup didepan gadis yang sering ia ejek itu.


Zayn pun pergi dari tenda dengan buru-buru. Aini terkekeh dengan tingkah Zayn yang tak biasanya gugup begitu, dia juga senyum-senyum sendiri saat melihat jaket kulit berwarna coklat milik Zayn.


"Dasar piktor!" gumam Aini lalu memakai jaket itu dan duduk di sofa.

__ADS_1


...****...


Mau up satu lagi, tapi kalau komennya banyak 😂


__ADS_2