Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 71. Salimah marah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Salimah berdiri mematung dengan mata menyala penuh amarah, mendengar pria yang ia cintai menyatakan cinta para orang lain dan membuat hatinya terbakar oleh apa yang namanya cemburu.


Perjuangannya selama ini sia-sia untuk mendapatkan hati Zayn. Apapun yang ia lakukan tidak berguna karena hati Zayn sudah untuk Aini. Cinta memang tak dapat ditebak apa maunya hati.


Sekeras apapun kita berusaha mendapatkan hati yang tidak pernah untuk kita, maka hanya sakitlah yang didapat meski kita sudah berjuang mati-matian. Mata Salimah berkaca-kaca melihat Zayn dan Aini didepan kantor itu.


Kedua mata mereka saling bertemu menatap penuh kasih, terlihat cinta di mata dua insan muda itu. Sungguh hati Salimah sakit melihat semua itu.


Tidak, ini tidak boleh terjadi! Calon istri Zayn itu adalah aku, bukan dia...bukan.


Setelah pernyataan rasa sukanya pada Aini, Zayn terdiam dan masih memegang tangan Aini. "Ai..."


"Ehm...aku mau pulang," Aini melepaskan tangannya dari tangan pria itu, lalu dia berjalan pergi dari sana.


Piktor suka sama aku? Haha...gak mungkin. Aini menggeleng-gelengkan kepalanya dan dia tidak percaya bahwa Zayn menyukai dirinya.


Zayn tidak diam saja, dia tidak mau melepaskan kesempatan yang telah susah payah ia dapatkan. Bahkan ia sudah berani menyatakan perasaannya walaupun itu sangat sulit.


"Ai! Tunggu aku!" panggil Zayn sambil berlari mengejar Aini yang sudah berjalan di dekat trotoar depan kantor tersebut. Disana juga masih terlihat beberapa karyawan yang baru pulang dan sedang menunggu jemputan mereka.


Kenapa Aini gak mau berhenti?. Zayn kesal karena Aini terus saja berjalan padahal dia sudah memanggilnya.


"NURAINI ASIYAH, I LOVE YOU!"


Deg!


Aini menghentikan langkahnya, matanya melebar sempurna manakala dia mendengar pernyataan cinta dari Zayn. Semua karyawan yang berada disana ikut menonton Zayn dan Aini.


Astagfirullah! Apa Zayn benar-benar menyatakan cintanya padaku? Bukankah dia suka pada Salimah?. Aini memegang dadanya yang


"Nah, sekarang kamu baru diam." gumam Zayn sambil tersenyum lebar.


Pria itu mendekati Aini dan kini sudah berdiri di hadapannya menghadang jalan. Dia melihat Aini yang menundukkan wajahnya.


"Ai..." lirih Zayn, lalu memegang kedua tangan Aini yang gemetar tak karuan. Jangan tanyakan lagi hati dan jantung Aini saat ini, kedua organ dalam tubuhnya itu seperti di serang bom atom dan meledak-ledak.


"Zayn, kamu--"

__ADS_1


"Aini, aku sayang kamu...a-aku serius ingin menjadikan kamu istriku!"


Pria itu sudah mengumpulkan nyalinya untuk mengatakan cinta pada Aini, gadis yang tak lain adalah sahabat baik saudara kembarnya sendiri dan gadis yang selalu berdebat dengannya. Niatnya serius, tidak mau pacar-pacaran dan ingin langsung menikah. Itupun jika Aini mau menerimanya.


" Dag Dig dug...ya Allah jantungku kayak lagi sport!" pekik Aini sambil memegang dadanya, nafasnya tidak terkendali mendengar pernyataan cinta Zayn dan niatnya untuk menjadikan Aini istrinya.


Mata Zayn memicing melihat reaksi lucu dari Aini. Ini saatnya serius dan gadis itu malah seperti ini. "Ai...aku lagi serius, kamu malah--"


Aini menutup mulut Zayn dengan satu tangannya. "Piktor stop! Jantungku gak kuat lagi buat mendengar ucapan kamu...kamu--"


"Acie...cie...yang dilamar!"


"Huhuy! Terima...terima...terima..."


Wajah Aini semakin bersemu merah mana kala dia mendengar sorak-sorai dari orang-orang yang berada di sana, jelas mereka seperti itu karena mereka mendengar pernyataan cinta Zayn untuk Aini.


"Piktor! Kamu tuh ya! Lepasin aku!" pinta Aini pada Zayn, sumpah dia ingin segera pergi dari sana dan bersembunyi sekarang juga. Tapi Zayn masih menahan tangannya.


"Sebelum kamu jawab aku gak mau lepasin tangan kamu, Ai."


"Aku..."


"O-oke...aku akan pikirkan dulu, jadi tolong lepasin aku, Zayn."


"Alah kelamaan! Jawab aja gini deh, apa kamu suka sama aku atau nggak? Ya, atau tidak?"


"Zayn, aku kan udah bilang aku mau pikir-pikir dulu."


"Hem...tinggal jawab ya atau enggak." Zayn tidak sabar mendengar jawaban ya dari Aini. Mungkin. kalau masalah lamaran atau menuju ke jenjang serius, Aini masih bisa memikirkannya dan Zayn akan memberikannya waktu. Tapi Zayn membutuhkan jawaban dari pernyataan cintanya, setidaknya kalau dia sudah tahu perasaan Aini padanya. Dia bisa ancang-ancang merencanakan sesuatu nantinya.


"I-iya!" jawab Aini malu-malu.


Terlihat senyuman yang mengembang di bibir Zayn, kemudian dia menarik tangan Aini dan membawanya pergi dari sana. Semua karyawan yang melihatnya terkekeh melihat Zayn dan Aini. Tapi Salimah...jangan katakan lagi bagaimana hancur hatinya saat ini.


Ketika Salimah akan pulang dalam keadaan menangis dan tidak ada yang peduli padanya, dia melihat Rey dan Niko yang berjalan keluar dari kantor itu. Ya, mereka baru selesai mengerjakan pekerjaannya.


Salimah menatap Rey dengan tajam, Rey tau arti tatapan itu. Kemudian Rey meminta Niko untuk pulang duluan dan tidak perlu membawa mobilnya karena ia akan membawa mobilnya sendiri. Niko menurut dan pergi lalu menaiki taksi didepan kantor.


"Saya mau bicara sama bapak!"

__ADS_1


"Baik, jangan disini. Banyak orang." kata Rey ketus.


Wanita ini mau apa lagi sih? Apa terjadi sesuatu padanya dan Zayn? Astagfirullah...aku benar-benar tidak mau peduli.


Beberapa saat kemudian Rey dan Salimah sudah berada di dalam gedung kantor yang sepi karena para karyawan sudah pulang. Tempat itulah yang tepat untuk bicara tanpa ada yang mendengar mereka.


"Ada apa? Saya tidak bisa berlama-lama," ucap Rey yang baru saja memulai malah ingin mengakhiri pembicaraan dengan Salimah.


"Anda jangan habis manis sepah dibuang ya pak Reyndra!" Tumpah amarah Salimah pada Rey.


"Apa maksud kamu? Jangan asal marah-marah sama saya ya!" tegur Rey yang tidak suka dengan nada bicara Salimah.


"Katanya anda mau bantu saya untuk dekat dengan Zayn, tapi Zayn malah jadian sama Aini! Bahkan anda tidak membantu saya sedikitpun."


Rey tersenyum menyeringai, dalam hati dia senang karena Zayn memilih orang yang tepat bukan gadis ini. "Kamu bilang saya tidak anda sedikitpun? Hey...jangan lupa, siapa yang sudah memasukkan kamu ke dalam perusahaan ini untuk dekat dengan Zayn, walaupun kamu tidak cocok dengan kualifikasi untuk bekerja disini."


"I-itu....bantuan anda kurang, masa anda bahagia bersama Zahwa sedangkan saya tidak?"


"Mungkin... kamu harus menerima kenyataan kalau Zayn bukan jodoh kamu. Dengarkan saya baik-baik Salimah, sekeras apapun kamu berusaha, kalau hati Zayn bukan untukmu...dan dia bukan jodohmu. Maka kamu tidak akan bisa bersamanya. Jadi terima sajalah!" Ucap Rey lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak bisa begini pak Reyndra! Anda tidak bisa memanfaatkan saya lalu anda enak sendiri, sedangkan saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan!" Salimah memegang tangan Rey, seraya memohon pada pria itu untuk membantunya.


"Saya sudah cukup membantu anda Salimah dan jangan lupa, tidak hanya saya yang diuntungkan dan sejak awal ini semua adalah simbiosis mutualisme." Rey menepis tangan Salimah dan meninggalkan gadis itu sendirian disana. Sungguh dia tidak mau peduli lagi dengan Salimah.


Salimah menangis terisak,dia sakit hati pada Rey yang sudah menolak untuk membantunya lagi. "Awas saja kamu Reyndra Aqmar Calabria! Kalau aku tidak mendapatkan apa yang ku mau dan aku tidak bahagia, maka kamu juga tidak bisa! Kamu tidak bisa enak sendiri, kamu harus jatuh ke jurang yang sama denganku." gumam Salimah geram sambil mengepalkan tangannya dengan erat, dia menatap kepergian Rey penuh kebencian. "Akan aku buat wanita yang kamu cintai terluka sangat dalam, sampai dia tidak bisa percaya lagi dengan cinta, aku bersumpah!"


*****


Di rumah Zahwa, malam itu.


Tampak gadis itu sedang memberi makan ikan hias yang ada di akuariumnya, ikan pemberian Rey saat usia pria itu 14 tahun


"Maaf ya kak Rey, aku lupa kasih makan kamu...hehe." ucap Zahwa sambil melihat ikan hias berwarna hitam yang dia panggil dengan sebutan kak Rey.


"Tega banget kamu samain aku sama ikan!" tegur seorang pria yang kini sudah berdiri dibelakangnya.


Zahwa langsung berdiri dari jongkoknya, dia terkejut mendengar suara yang sangat familiar itu. "Kakak..." Senyuman indah langsung menyambut kedatangannya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2