Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 42. Aku cinta kamu Zahwa


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Subuh-subuh, Rey dan Zayn sama-sama terbangun dari tidurnya. Mereka kemudian pergi berwudhu dan melaksanakan salat di tempat seadanya secara berjamaah bersama dengan tim medis, tim SAR dan orang-orang yang ikut dalam perkemahan itu juga.


Setelah selesai melaksanakan shalat subuh, Rey menemui Firman dan meminta maaf padanya karena dia sempat bersikap tidak sopan juga marah pada Firman. "Saya mohon maafkan saya, atas kelakuan saya tempo hari...saya emosi."


"Tidak apa-apa pak, saya mengerti bapak seperti itu karena bapak sangat mencemaskan Zahwa. Saya juga sebagai pihak penyelenggara, mohon maaf yang sebesar-besarnya...karena saya tidak bisa menjaga Zahwa dengan baik." Firman balas meminta maaf pada Rey karena tidak bisa menjaga Zahwa.


"Sudahlah pak, jangan meminta maaf pada saya...saya juga merasa tidak enak." Rey tersenyum tipis.


"Kak Rey, ini bukan salah kak Firman yang lalai...tapi emang ada yang jahil pada Zahwa." ucap Zayn.


Hampir saja aku lupa tentang Vera dan Tiara.


"Maksud kamu apa Zayn?"


Bukan hanya Reyndra saja yang bingung dengan perkataan Zayn,tapi Firman juga ikut menatapnya dengan kening berkerut. Zayn pun menjelaskan secara singkat semua yang terjadi kepada Rey dan Firman, bahwa semua yang menimpa Zahwa ada sangkut pautnya dengan kejahilan Vera dan Tiara.


"APA? Lalu dimana dia wanita itu?!" teriak Rey marah. Apalagi begitu dia tahu bahwa kejadian ini bukan murni kecelakaan tapi ada dalang dibalik semuanya.


Kurang ajar! Beraninya membuat Zahwa terluka!


"Mereka ada di tenda kak," jawab Zayn. Kali ini Zayn tidak menahan emosi Rey karena ia tau, yang terjadi pada Zahwa adalah hal yang serius dan tidak cukup dengan hanya maaf saja.


Bayangkan saja, bila Zahwa tidak kuat, tidak cerdik, dia pasti tidak akan bertahan dengan luka-lukanya di bahwa jurang. Sekali lagi kata kata tarzania ada didalam hati Zayn, julukan untuk saudara kembarnya itu.


"Pak Firman, bisa saya pergi kesana atau anda sendiri yang bawa mereka kesini?" tanya Rey pada Firman selaku penyelenggara acara kemah itu untuk melakukan tugasnya dengan mengadili orang-orang yang sudah mencelakai adiknya. Ia bertanya lebih dulu pada Firman, untuk menghargai jabatannya di sana.


"Biar saya yang panggil mereka," jawab Firman sambil menghela nafas panjang, ia tau ini semua tak akan mudah.


Firman melangkah pergi meninggalkan Rey dan Zayn yang berada di dalam tenda Zahwa. Gadis itu masih belum sadarkan diri, mungkin juga dia sedang tidur dan memulihkan kondisi tubuhnya yang lelah.


Tak lama kemudian, Firman sudah berjalan bersama dengan Vera, Tiara, Zainab dan Aini yang juga ada disana. Kedua gadis tanpa hijab itu menundukkan kepalanya, takut dengan tatapan tajam yang sedari tadi dirasakannya dari dua pria yang amat menyayangi Zahwa.


Tubuh mereka gemetar, bulu kuduk mereka berdiri seperti merasakan kehadiran setan saja disana.


"Kalian yang--"


Belum sempat Rey menyelesaikan kata-katanya, kedua wanita itu sudah mengatupkan kedua tangan mereka seraya menangis memohon maaf. "Kami minta maaf...hiks.."


"Jangan laporkan kami pada polisi!" seru Tiara memohon.

__ADS_1


"Kami hanya iseng, kami tidak bermaksud membuat Zahwa jatuh dari sana. Kami cuma mengambil gelang Zahwa dan menyimpannya didekat tebing, kami tidak tahu kalau Zahwa akan jatuh..."


"Gelang?" gumam Rey.


Apa gelang yang dimaksud itu adalah gelang dariku? Ngomong-ngomong kemarin Zahwa nangis karena gelang dariku putus. Jadi gelang dariku berharga buat Zahwa? Tapi karena gelang itu Zahwa celaka.


Pikir Rey dalam hatinya, dia merasa bahwa Zahwa juga sayang padanya.


"Benar, sungguh kak...kami tidak bermaksud mencelakai Zahwa. Kami gak tau Zahwa akan begitu!"


Kedua gadis berusia 20 Han itu menangis tersedu-sedu didepan semua orang yang mengintrogasi mereka dan tak hentinya mereka meminta maaf.


"Jangan menangis dan katakan pada kami, kenapa kalian bersikap begitu sama Zahwa? Apa Zahwa ada salah sama kalian?" tanya Zayn tegas.


"Gak ada...tapi kami gak suka sama Zahwa, dia kan udah ketahuan di kamar sama cowok di dalam foto, tapi masih aja belaga sok suci! Apalagi sama suaminya kak Zainab." jelas Vera dengan mulut pedasnya.


"Ya, kami cuma mau kasih pelajaran aja sama Zahwa yang sombong." timpal Tiara yang malah menghina Zahwa.


"Jaga BICARA KALIAN! Zahwa itu masih suci!" teriak Rey marah.


Aku tau Zahwa masih suci karena pria di foto itu adalah aku dan aku tidak pernah menyentuh Zahwa melebihi batas. Zahwa maafin aku...karena foto itu kamu diganggu orang-orang.


Ternyata masalah foto itu belum berakhir, nama Zahwa masih belum bersih. Sebenarnya siapa yang sudah membuat foto itu?. Zayn mengepalkan tangannya dengan kesal, kalau teringat dengan pria di foto itu dan yang membuat fotonya.


"Jangan kak..." lirih Zahwa lemas.


Semua orang menoleh ke asal suara itu, Zahwa sudah membuka matanya. "Kamu udah sadar? Gimana? Ada yang sakit?" tanya Zayn cemas.


Vera dan Tiara langsung mendekati Zahwa dan memohon maaf pada gadis itu. Zahwa kesal dengan mereka berdua, tapi tidak sampai pada tahap benci. Dia juga tidak bisa memaafkan mereka begitu saja, akhirnya pihak kampus pun memberikan hukuman kepada Vera dan Tiara, tidak sampai ke kantor polisi. Karena Zahwa tidak mau memperpanjang masalah.


Setelah itu Zahwa dibawa ke rumah sakit oleh Zayn dan Rey untuk melakukan pemeriksaan pada kaki dan tangannya yang cedera. Dokter menjelaskan pada Rey dan Zayn bahwa cedera Zahwa tidak parah, tidak sampai patah tulang. Hanya ada masalah dengan ankle di kakinya dan tangannya, di gips beberapa hari pun akan sembuh.


"Kak...aku mau pulang," pinta Zahwa pada kedua kakaknya itu.


"Kamu dengar kan apa kata dokter? Kamu belum boleh pulang, selama beberapa hari." oceh Zayn mengingatkan.


"Aku pengen di rawat di rumah saja kak." rengek Zahwa lagi. Ya, meskipun tempatnya pekerjaan nanti adalah rumah sakit, tapi dia sendiri tidak mau jadi pasien. Lagipula siapa yang mau jadi pasien.


Rengekan Zahwa berhasil membuat kedua kakaknya menurut, akhirnya mereka membawa Zahwa ke Jakarta dan memindahkannya ke rumah sakit yang ada disana. Amayra dan semua keluarga jadi tau tentang Zahwa, mereka sangat mengkhawatirkan kondisinya. Apalagi Amayra, dia orangnya panikan dan protektif pada anak gadisnya itu.


******

__ADS_1


3 hari berlalu, rencananya hari ini Zahwa sudah boleh pulang. Kakinya sudah membaik tinggal tangan kanannya saja yang masih belum pulih total. Hari itu Zahwa di jemput oleh Rey untuk pulang ke rumah karena semua orang sedang sibuk. Bukannya membawa ke rumah, Rey malah membawa Zahwa ke tempat lain.


"Kak...kita mau kemana?"


"Kakak akan tunjukan tempat bagus sama kamu," ucap Rey sambil tersenyum, memegang setir kemudi.


"Hem...."


Dari tadi kak Rey senyum-senyum terus, dia kenapa ya?


Tak lama kemudian, Rey memberhentikan mobilnya di sebuah rumah pohon pinggir danau. Zahwa dan Rey pun turun dari sana, mereka melihat rumah pohon di hias tidak seperti biasanya.


"Kak...ini kan rumah pohon yang kita sering kunjungi waktu kecil?"


"Iya."


"Terus kenapa kakak ajak aku disini? Ini kan rumah pohon punya orang lain..."


"Bukan, sekarang ini punya kita." jawab Rey sambil tersenyum. Dia tau bahwa Zahwa suka naik pohon, ia pun membuatkan rumah pohon untuknya.


Zahwa maaf tapi aku udah gak sabar.


"Ish kakak... mentang-mentang aku suka naik pohon jadi kakak beli rumah pohon? Huh... ada ada aja deh." Zahwa terkekeh sementara raut wajah Rey tampak serius, tidak seperti biasanya dan Zahwa merasa ada yang aneh.


"Kamu mau coba lihat isi rumah pohonnya?" tawar Rey pada Zahwa.


Gadis itu mengangguk dan dengan hati-hati Rey mengangkat tubuh Zahwa ke atas anak tangga di pohon. "Hati-hati..." Rey mengawasi Zahwa dari bawah, satu tangannya yang di gips membuat Zahwa agak kesulitan naik ke atas sana.


Tak berselang lama, Zahwa sampai di rumah pohon itu. Dia tercengang melihat apa yang ada didalamnya, begitu banyak foto-fotonya terpajang disana. Dari foto bayi, anak-anak bahkan sampai foto terbaru juga ada. Zahwa semakin tercengang manakala ia melihat sebuah tulisan i love Zahwa, dari Reyndra.


Raut wajahnya yang tadi tenang kini berubah jadi tegang. Matanya melebar melihat sekeliling. "Kak...kakak..."


Apa semua ini? Kenapa ada tulisan seperti ini?


Grep!


Sebuah pelukan hangat dari seorang pria terasa dibelakang tubuh Zahwa, tangan kokoh itu melingkar ditubuhnya. "Zahwa...aku cinta kamu."


Deg!!


Zahwa terkejut mendengar ucapan kakaknya, dia tidak berani menoleh ke arah Rey yang kini hembusan nafasnya itu menyeruak menembus lehernya. Membuat bulu kuduknya berdiri DAN tubuhnya gemetar. Benarkah yang ia dengar ini?.

__ADS_1


Kira-kira apa jawaban yang diberikan Zahwa ya?"


...*****...


__ADS_2