Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 99. Penolong Zahwa


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Ma.... Mama jangan bercanda. Operasi apa Ma? Tadi Zahwa baik-baik saja kok." Rey mengerutkan kening, pasalnya saat mengantar Zahwa ke rumah sakit istrinya itu baik-baik saja.


"Rey mama tidak bercanda sayang, sekarang istri kamu lagi di operasi. Dia ditusuk orang gila yang mengacau di rumah sakit,"


Seketika wajah Rey langsung memucat, dia menutup telponnya dan langsung berbisik pada Niko. "Hentikan rapatnya, aku harus ke rumah sakit!"


"Baik pak."


Tanpa basa-basi, Rey langsung meninggalkan ruang rapat dengan wajah tegang dan pergi ke rumah sakit. Di dalam perjalanan, Rey terlihat resah takut terjadi sesuatu pada istrinya. Bahkan dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Nemo...kamu baik-baik saja kan sayang? Kamu gak apa-apa kan?" gumam Rey gelisah sambil memegang setir kemudinya.


Beberapa menit kemudian, Rey sampai rumah sakit. Dia berlari melewati lorong UGD dan tepat di ujung lorong itu ia melihat Diana disana.


"Rey..." Diana terisak kemudian memeluk Rey begitu putranya sampai disana. Tangan Diana memegang barang-barang Zahwa yang berdarah.


"Ma...gimana keadaan Zahwa? Gimana bisa Zahwa ditusuk orang?" cecar Rey bertanya pada mamanya dengan cemas.


"Mama dengar tadi katanya ada orang gila marah-marah sama dokter Ervan, terus Zahwa sama Zainab ada disana dan berusaha untuk menghentikan orang gila itu, dia ngamuk terus nusuk dokter Ervan dan nusuk Zahwa juga. Mama dengar kejadiannya gitu, ya Allah..." Diana memegang dadanya, rasanya ia tak kuat melihat Zahwa bersimbah darah seperti tadi.


Rey terdiam, berbeda dengan hatinya yang tidak tenang. Dia menatap ruang operasi yang lampunya masih menyala. "Ya Allah...selamatkan istriku, semoga istriku baik-baik saja." gumam Rey cemas, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Namun kecemasannya bertambah saat melihat tas Zahwa yang ada ditangan Diana. Tas itu berlumuran darah. Hati Rey seperti melayang entah kemana, rasanya ingin dia masuk ke dalam ruang operasi sekarang juga tapi dia tetap harus menjaga ketenangannya.


"Zahwa pasti baik-baik saja Ma, dia..." Rey tersenyum dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya.


"Iya...pasti..."


"Oh ya, apa pihak rumah sakit sudah telepon polisi?" tanya Rey dengan raut wajah kesal mengingat sosok orang gila yang menyakiti istrinya itu.


"Sudah Rey, bahkan orang itu sudah ditangkap. Katanya dia memang punya riwayat penyakit kejiwaan." jelas Diana dengan raut wajah sedih.


Diana dan Rey menunggu di depan ruang operasi dengan gelisah, hingga 10 menit kemudian Amayra datang kesana setelah Diana mengabarinya tentang Zahwa.


"Kak..." Amayra menghampiri Diana dengan cemas. Dia langsung bergegas dari sekolah dan pergi ke rumah sakit dan dia diantar oleh Arga.


"May,"

__ADS_1


"Kak gimana keadaan Zahwa? Zahwa dimana kak?"


"Zahwa masih di ruang operasi, dokter sedang mengoperasinya." jawab Diana sambil memegang tangan Amayra seraya menenangkannya.


"Ya Allah..." Amayra memegang dadanya, kakinya terasa lemas secara tiba-tiba. Beruntung Rey menopang tubuh Amayra dan membantunya duduk di kursi.


"Mama tenang ya Ma, Zahwa pasti akan baik-baik saja." ucap Rey pada ibu mertuanya itu.


"Iya...Zahwa pasti baik-baik saja...ya Allah...pantas saja perasaanku tidak enak sejak tadi pagi." gumam Amayra resah.


Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang operasi, bersama dengan Zahwa yang dibawa keluar di atas brankar oleh 2 orang suster. Wanita itu masih belum sadarkan diri.


"Sayang..." Rey memegang tangan istrinya dengan resah, ditatapnya wajah cantik pucat itu dengan cemas.


"Maaf pak, dokter Zahwa akan dipindahkan ke ruang perawatan lebih dulu. Bapak bisa bertemu dengannya nanti disana." kata seorang suster pada Rey.


Rey pun menganggukkan kepala, melihat istrinya dibawa ke ruang rawat. Alih-alih menyusul istrinya, dia lebih dulu bertanya pada dokter tentang keadaan Zahwa. Diana dan Amayra juga penasaran dengan keadaan Zahwa.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Rey pada dokter itu.


"Alhamdulillah... operasinya berjalan lancar walau tadi dokter Zahwa sempat dalam keadaan kritis, pendarahan dan kehilangan banyak darah. Untung saja ada seseorang yang baik hati mendonorkan darahnya dengan cepat pada dokter Zahwa dan dokter Zahwa bisa selamat tepat pada waktunya." jelas dokter itu pada Rey, Diana dan Amayra.


"Oh...dia adalah--"


Belum sempat dokter itu menyelesaikan ucapannya, dari dalam ruang operasi terlihat pria paruh baya dibopong seorang suster, pria itu terlihat lemah.


Saat melihat orang itu, Rey langsung menatapnya dengan tajam begitu juga dengan Diana dan Amayra. "Pak Dimas?"


Kenapa dia bisa berada disini?. Batin Diana berpikir yang bukan-bukan.


"Jadi anda yang sudah menyelamatkan istri saya?" tanya Rey sinis dan ketua pada ayahnya sendiri.


"Oh jadi kalian sudah mengenal pak Dimas? Beliau adalah pegawai kebersihan di rumah sakit ini... khususnya bangsal UGD." jelas dokter pada Rey, Diana dan Amayra.


Dimas terlihat tak berdaya dan wajahnya pucat, dia bahkan menundukkan kepalanya dengan memelas. Dia dapat merasakan tatapan tajam dan menusuk dari tiga orang anggota keluarga Calabria itu.


******


Ruang rawat Zahwa.

__ADS_1


Wanita itu membuka matanya perlahan-lahan, setelah hampir 4 jam dia tidak sadarkan diri akibat obat bius. Perutnya masih terasa perih, tubuhnya lemas dan bisa ia rasakan ada selang infus di tangannya.


Bahkan di tangan kirinya ia merasakan ada tangan lembut yang menggenggamnya. "Nak? Kamu sudah siuman? Alhamdulillah ya Allah..." Amayra terlihat lega melihat Zahwa sudah membuka matanya.


"Ma...ma..." lirih Zahwa lemah.


"Kamu tunggu sebentar ya, Mama panggil dokter dulu!"


Zahwa memegang tangan mamanya. "Ma, Mas...Rey mana?"


"Suamimu lagi pergi ke kantor polisi, mungkin sebentar lagi dia kembali. Dia sangat mencemaskanmu Zahwa, dia baru pergi beberapa menit yang lalu, dari tadi dia menemanimu disini." Amayra tersenyum, lalu meninggalkan anaknya di ruangan itu dan keluar untuk memanggil dokter.


Saat Zahwa sendirian, ada dua orang masuk ke ruangan itu. Aini dan Zayn, mereka langsung menghampiri Zahwa yang sudah siuman. "Zahwa! Kamu udah siuman? Alhamdulillah ya Allah.... Alhamdulillah..." Zayn memegang dadanya yang terasa lega melihat adiknya sudah bangun.


"Kami sangat mencemaskan kamu! Ya Allah, itu orang gila benaran deh, bikin gedeg!" celetuk Aini yang geram dengan penyerangan yang terjadi pada sahabatnya.


Zahwa hanya tersenyum tipis, dia tidak bisa banyak bicara karena lemas dan perutnya masih sakit.


Tak lama kemudian, Dokter pun datang bersama Amayra dan memeriksa kondisi Zahwa. Disana ada Zayn, Aini dan Diana juga.


Dokter mengatakan bahwa Zahwa baik-baik saja dan tinggal pemulihan selama beberapa hari agar lukanya bisa cepat sembuh. Terpaksa Zahwa harus mengambil cuti kerja walaupun dia tidak mau karena semua orang memaksaknya.


****


Sementara itu di Kantor polisi, Rey tengah mengurus orang yang sudah melukai istrinya. Dia tidak mau pria itu lepas dari hukuman hanya karena dia gila, Rey ingin pria itu di hukum karena perbuatannya.


"Baik pak, bapak tenang saja... tentu kami akan memproses masalah ini dengan adil."


"Saya harap begitu pak, saya tidak mau ya orang ini bebas karena alasan gila. Dia harus membayar perbuatannya karena telah melukai istri saya." kata Rey tegas tanpa ampun.


"Baik pak, kami paham." jawab polisi itu seraya menganggukkan kepalanya.


"Dan Lo! Mendekam disini dan jangan kemana-mana! Gue bakal bikin perhitungan sama Lo!" tunjuk Rey dengan penuh amarah pada pria yang bernama Dito itu.


Ponsel Rey bergetar di sakunya, dia pun langsung mengangkat panggilan dari Zayn. "Waalaikumsalam Zayn, ada apa?.......Zahwa udah siuman?......... oke, aku otw kesana."


Setelah menerima panggilan dari adik iparnya, Rey pergi meninggalkan kantor polisi dan menuju ke rumah sakit tempat istrinya di rawat. Di dalam perjalanan pulang, dia melihat sesuatu yang bisa membuat istrinya senang.


"Nemo pasti senang deh aku bawa itu,"

__ADS_1


...****...


__ADS_2