
...“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali 'Imran:134)”...
...🍀🍀🍀...
Setelah menanyakan tentang kehamilan Zahwa dan memberikan selamat pada Zahwa, entah mengapa Raihan merasa tidak nyaman dihatinya.
Apa dia iri? Atau dia cemburu karena istrinya belum di karuniai seorang anak? Tak mungkin begitu bukan? Tapi yang jelas Raihan tidak nyaman mendengar kabar bahagia ini, padahal harusnya dia turut senang karena Zahwa dan Rey akan segera menjadi orang tua.
Astagfirullah Raihan, kenapa perasaanmu tidak nyaman seperti ini?
"Ugh...." Zahwa memegang kepalanya dan dia meringis.
"Kak! Kakak kenapa?" tanya Selina cemas melihat Zahwa memegang kepalanya. Raihan juga melihat Zahwa dari spion depan mobilnya.
"Kakak gak apa-apa," jawab Zahwa sambil bersandar ke belakang jok mobil itu. Dia merasakan kepalanya penat. Ya, ini sering terjadi karena ia sedang hamil, meski begitu ia jarang mual-mual.
"Kakak pusing? Maaf kak ini gara-gara aku..." Selina merasa bersalah melihat kakaknya pusing.
"Aku benaran gak apa-apa Sel, pusing biasa aja kok."
"Apa kita ke rumah sakit aja?" tawar Raihan yang juga bersimpati melihat wanita hamil itu mengeluh pusing.
"Gak usah Mas! Kita ke rumahku aja, jangan ke rumah Calabria ataupun ke rumah sakit. Aku cuma butuh istirahat." jelas Zahwa yang memilih untuk pulang ke rumahnya karena dia butuh istirahat. "Oh ya Sel, kamu juga ikut kakak...banyak yang harus kita bicarakan." sambungnya seraya menoleh ke arah Selina.
"Iya Kakak."
"Jadi kalian mau ke rumah kamu aja?" tanya Raihan pada kedua wanita itu.
"Iya Mas, maaf ya merepotkan." jawab Zahwa sambil tersenyum tipis dan dingin pada Raihan.
"Baiklah, tidak apa-apa. Lagian sekalian lewat kok." kata Raihan sambil tersenyum ramah.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di depan gerbang rumah Zahwa dan Rey. Zahwa dan Selina berterimakasih pada Raihan yang sudah mengantar mereka ke rumah dengan selamat.
Tepat saat Raihan akan meninggalkan rumah itu, mobil Rey sudah terparkir didepan gerbang rumah. Ia keluar dari mobil itu sambil membawa keresek yang entah apa isinya.
Matanya menyelidik menatap siapa pria yang terlihat dekat dekat Zahwa dan Selina. "Mas..."
"Assalamualaikum." sapa Rey dengan tatapan sinisnya pada Raihan. Tatapan yang mengartikan sebuah kecemburuan seorang suami terhadap istrinya yang tengah berdekatan dengan pria lain.
"Waalaikumsalam." jawab Raihan, Zahwa dan Selina bersamaan.
Banyak pertanyaan yang ada di dalam hatinya, namun dia tidak berani bicara karena marah.
Kenapa Zahwa dan Selina bisa bersama Raihan? Mau apa Raihan kemari? Apa dia mau dekati Zahwa lagi?
Beragam spekulasi muncul di dalam pikirannya, spekulasi yang dimula dengan kata cemburu dan hati yang gelisah. Bayangkan jika ada seseorang yang berada di posisi Rey, melihat pasangannya bersama dengan mantan calon suaminya pastilah hati akan cemburu. Ya, seperti inilah perasaan Rey saat ini.
"Ya sudah kalau begitu, kalian jaga diri baik-baik ya. Lain kali hati-hati," ucap Raihan pada Zahwa dan Selina.
"Iya Mas, sekali lagi terimakasih sudah mengantarkan kami pulang." kata Zahwa pada Raihan.
"Kalau begitu, aku pamit pulang--"
"Tunggu!" pungkas Rey seraya memegang tangan Raihan. "Maaf pak Raihan yang terhormat, kenapa bapak bisa ada di sini bersama istri saya?"
"Tolong jangan salah paham kak Reyndra, saya berada disini secara tidak sengaja. Saya bertemu dengan Zahwa dan Selina di jalan, ketika mereka akan di jambret." jelas Raihan pada Rey secara baik-baik.
"Apa? Dijambret?" tanya Rey seraya menoleh kepada istri dan juga adiknya. Ia cukup terkejut mendengar penjelasan dari Raihan.
Aduh, aku lupa bilang mas Raihan supaya gak bilang-bilang cerita yang tadi. Tapi syukurlah mas Raihan nyangkanya kita di jambret.
Zahwa terlihat menghela nafas, beruntung Raihan tidak tahu bahwa anak-anak SMA itu bukan penjambret tapi lebih dari itu. Zahwa melihat raut wajah suaminya yang terlihat tidak baik itu.
Ah, pasti mas Rey bakalan--
Rey menghampiri istrinya dan memegang tangan sang istri. Matanya menelisik dari atas sampai bawah memindai tubuh Zahwa dan Selina.
"Sayang, kamu gak apa-apa kan? Kamu habis di jambret? Sel, kamu gimana? Kamu gak apa-apa kan?" cecar Rey pada kedua wanita hamil itu.
Raihan pun pamit pergi,setelah menjelaskan kepada Rey secara singkat tentang apa yang terjadi.
Rey, Zahwa dan Selina pun masuk ke dalam rumah. Selina izin ke kamar mandi dan berganti baju lebih dulu. Sementara Zahwa dan Rey duduk di sofa ruang tengah rumah mereka. Rey menyediakan makanan yang dibawanya untuk makan bersama Zahwa. Ia membawa ayam bakar madu, 4 bungkus. Takutnya Zahwa mau makan banyak.
__ADS_1
"Mas...kamu beli banyak banget ayamnya." ujar Zahwa seraya melihat pada 4 bungkus ayam bakar madu di atas meja.
"Siapa tau kamu mau makan banyak sayang." Rey tersenyum melihat raut wajah istrinya tidak semuram tadi malam, apakah kemarahan Zahwa telah mereda?
"Satunya buat Selina aja Mas," balas Zahwa.
"Terserah kamu sayang. Eh tapi...kamu gak apa-apa kan? Kamu gak luka kan sayang? Dimana kamu dijambret? Siapa yang jambret kamu sama Selina? Kenapa kamu bisa--"
"Aku laper Mas, mau makan dulu. Nanti aja jawabnya ah, kamu nanya kayak wartawan." ucap Zahwa malas menanggapi suaminya yang mencecar dirinya dengan banyak pertanyaan.
"Iya sayang, iya." pria itu manggut-manggut dan menuruti istrinya, bahaya kalau dalam mode ngambek begini.
Setelah Selina keluar dari kamar dan menganti bajunya dengan baju panjang Zahwa. Mereka bertiga pun makan ayam bakar madu bersama. Rey melihat dua wanita di depannya itu sama-sama sangat menikmati ayam bakar madu dan habis hanya dalam beberapa menit.
"Alhamdulillah..." Zahwa dan Selina memegang perutnya bersamaan.
Tak lama kemudian, Selina mual-mual dan berlari kecil ke kamar mandi. Zahwa dan Rey cemas melihat Selina. Ya, berbeda dengan Zahwa yang kalem dan masih bisa segala di makan. Selina mengalami morning sickness yang luar biasa.
"Kenapa Selina kayak gitu ya? Kayak orang hamil aja hehe." celetuk Rey yang membuat Zahwa menatap tajam pada suaminya.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Mas, ada yang ingin aku katakan sama kamu...dan aku rasa aku tidak bisa menyembunyikannya dari kamu. Ini tentang Selina." kata Zahwa serius.
"Ada apa sayang? Selina kenapa?" Rey mengerutkan keningnya, melihat raut wajah Zahwa yang serius dan terlihat sedih. Mereka melupakan masalah mereka terlebih dahulu dan membahas masalah Selina.
"Mas....Selina saat ini sedang hamil."
"Hah? Sayang, kamu ngomong apa sih?"
Tentu Rey tidak percaya begitu saja, sama seperti Zahwa yang pertama kali diberitahu oleh Selina. Awalnya ia tak percaya, tapi melihat telagat dan bukti yang dibawa Selina, dia pun akhirnya percaya. Zahwa menahan air matanya yang mulai luruh, lalu dia pun menjelaskan semuanya tentang Selina pada Rey.
"APA? Selina HAMIL?!" suara Rey terdengar menggelegar, bahkan pria itu langsung terperanjat dari tempat duduknya. Matanya terbelalak mendengar penjelasan Zahwa.
Begitu Selina keluar dari kamar mandi dalam keadaan pucat, Rey langsung menarik tangan Selina dan membawanya ke ruang tengah.
"Sel! Jelaskan sama kakak! Benarkah kamu HAMIL?"
"Mas! Tenang!" ujar Zahwa seraya menenangkan suaminya yang akan emosi itu.
Dada Rey bergemuruh hebat, setelah mendengar penjelasan dari Zahwa tentang kehamilan Selina. Bagaimana pun Zahwa adalah istri Rey dan dia tidak bisa merahasiakan tentang Selina. Kalau ada rahasia, artinya dia tidak jujur.
Selina juga sudah setuju, bila Rey tau semua ini. Selina menjawab dengan berat. "Iya kak, aku hamil."
"Siapa? Siapa yang melakukannya?"
"I-itu...i-itu...hiks."
Selina tak kuasa untuk menahan tangisnya dan tak sanggup bicara lagi. Akhirnya Zahwa yang bicara. Zahwa tau pasti berat untuk Selina mengatakan pelakunya. "Mas...Selina di perkosa...sama...sama pacarnya dan juga teman pacarnya. Mereka kakak kelas di sekolah Selina."
"APA? Selina, kamu pacaran?!" bentak Rey pada adiknya itu. Rey terkejut mendengarnya.
"Kak....aku minta maaf, aku melanggar semua aturan dari kalian. Aku minta maaf kak! Aku...aku dijebak, aku...aku..." Selina berlutut dan memohon maaf pada kakaknya yang selalu mewanti-wanti Selina untuk tidak pacaran lebih dulu.
Rey terdiam, tersirat kekecewaan yang mendalam di wajahnya. Bulir air mata perlahan turun membasahi wajahnya. "Mas...tenangkan diri kamu mas." Zahwa memegang tangan Rey, mengusap-usapnya pelan. "Aku tau kamu sedih, aku tau kamu kecewa, tapi ini semua sudah terjadi. Sekarang kita harus pikirkan solusi tentang semua ini, bagaimana tanggapan semua keluarga kita nanti."
"Hiks... huhuhhu..." Selina menangis tergugu di lantai.
Setelah keadaan Rey tenang, dia kembali duduk. Sementara Selina berada di pelukan Zahwa, dia terlihat tertekan. "Sel jangan nangis terus ya...nanti bayi kamu juga ikut sedih. Udah ya jangan nangis? Tenang...Kaka sama Kak Rey bakal bantuin kamu."
"Kak Rey aja udah marah kayak gini....apalagi mama, papa sama Oma...aku takut."
"Kalau takut kenapa kamu ngelakuin dosa itu!" teriak Rey seraya menatap atensi tajam pada Selina. Dan gadis itu semakin menangis terisak mendengar ucapan kakaknya.
"Mas! Gak usah bentak-bentak, bisa kan?" Zahwa membalas tatapan Rey dengan sengit.
"Kita bicarakan ini nanti malam, aku harus ke kantor sekarang. Semua keluarga harus tau semua ini, cepat atau lambat perut kamu akan besar juga Sel." ujar Rey sambil menghela nafas panjang dan ia beranjak dari tempat duduknya.
Kata-kata Rey bagaikan pisau tajam yang menusuk nusuk hati Selina. Dia tidak berani bicara lagi kalau sudah melihat kakaknya marah.
"Kamu hati-hati mas."
"Iyah, aku pergi dulu sayang. Papa pergi dulu ya dek." Rey mengusap perut datar Zahwa, lalu dia menoleh ke arah Selina. "Dan kamu Selina, jangan kemana-mana dulu...nanti malam kakak sama kakak ipar kamu akan bantu kamu jelaskan semuanya pada semua orang." ujarnya pada Selina dan dibalas anggukan oleh Selina.
__ADS_1
Seharian Selina terlihat sedih dan sebagai kakak yang baik, tentunya Zahwa selalu berusaha untuk menghibur Selina. Bahkan Zahwa mengajaknya untuk shalat karena Selina terkadang lupa akan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu beribadah.
Tak terasa waktu sudah memasuki petang, terdengar suara adzan magrib berkumandang.
Zahwa membacakan doa sesudah adzan.
Allaahumma robba haadzihid da'watit taammah, washsholaatil qoo-imah, aati muhammadanil washiilata wal fadhiilah, wasysyarofa, wad darajatal 'aaliyatar rofii'ah, wab'atshu maqoomam mahmuudanil ladzii wa'adtah, innaka laa tukhliful mii'aadz.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna dan sholat yang ditegakkan ini, berikanlah dengan limpah karunia-Mu kepada Nabi Muhammad kedudukan dan keutamaan (paling tinggi) dan limpahkanlah kepadanya tempat yang terpuji yang telah engkau janjikan.”
Selina memegang dadanya, ia meringis karena dia telah jauh dari Tuhannya. Bahkan doa sehari-hari saja dia tidak hapal.
"Sel, ayo sholat dulu..."
"Iya kak."
Dengan perhatian Zahwa mengajarkan bacaan-bacaan salat dan doa-doa yang Selina lupa. Dia akhirnya menyadari bahwa dia telah jauh dari Allah dan berada di jalan yang tidak benar, hingga akhirnya dia terperosok sejauh ini.
Dalam doanya Selina menangis, memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
"Ya Allah, maafkan kesalahan hamba...maafkan hamba karena selama ini jauh dariMu ya Allah...hiks...hamba telah melakukan dosa besar." Selina menaklukkan kedua tangan di wajahnya dan mengusapnya. Selina menyesali semua perbuatannya yang telah terjerumus dosa besar yaitu zina.
****
Malam itu, semua keluarga Calabria berkumpul di ruang tengah. Mereka menunggu kedatangan Rey, Zahwa dan Selina. Amayra dan Zayn juga berada disana karena Rey mengatakan bahwa dia punya sesuatu untuk dibicarakan dengan semua keluarga dan ini sangat penting.
"Ada apa ya Rey suruh kita kumpul disini?" tanya Zayn penasaran.
"Iya, Tante juga gak tau Zayn. Katanya sih penting." sahut Diana bingung, apa alasan Rey menyuruh semua orang berkumpul di ruang besar keluarga Calabria.
Tak lama kemudian, Rey, Zahwa dan Selina datang kesana. Selina terus bersembunyi di belakang Zahwa, dia ketakutan.
"Pa, ma, Oma, mama Amayra, Zayn, ada yang ingin Rey katakan sama kalian semua tentang Selina." ucap Rey tanpa basa-basi.
"Tentang Selina?" tanya Bram bingung.
"Pa, Ma, Oma, semuanya....Selina sebenarnya hamil." ucap Rey dengan nafas yang berat, wajahnya kecewa
Reaksi semua orang sama, mereka menganggap bahwa ucapan Rey tidak serius. Namun semuanya berbalik saat Selina berlutut didepan papa mamanya dan meminta maaf lebih dulu.
"Ma...pa...Selina minta maaf, Selina minta maaf. Selina sudah mengecewakan mama dan papa." Selina terisak didepan mama dan papanya.
"Sel...kamu...gak mungkin kan, jadi--gejala muntah-muntah kamu selama ini karena--" ucap Diana dengan raut wajah yang sedih.
"Kamu benaran hamil? Bener itu Selina!" Bram membentak putrinya.
"A-aku..."
"Sel, katakan sama Mama...ini gak bener kan? Cepat KATAKAN!" suara Diana meninggi.
"Ma, Pa, tolong bicara baik-baik sama Selina! Selina juga tertekan!" kata Zahwa melindungi Selina yang sedang bersembunyi dibelakangnya sambil menangis. "Mama sama papa tenang ya,"
Nilam, Amayra dan Zayn masih berusaha mencerna apa yang terjadi. Namun keributan terjadi saat Bram menarik tangan Selina penuh emosi.
"Kamu....katakan pada PAPA, kenapa kamu bisa hamil Sel? Siapa PELAKUNYA?!"
"Hiks...hiks...aku...aku di perkosa pah, aku diperkosa..." Selina menangis tersedu-sedu.
Seketika tubuh Bram lemas, kepalanya jadi terngiang kejadian di masa lalu tentang perkosaan. Ya, dosanya di masa lalu pada Amayra.
Nilam jatuh ambruk, ke atas sofa. Amayra dengan sigap memeganginya. "Astagfirullahaladzim..." ucap Nilam sedih.
Semua keluarga terlihat kecewa pada keadaan Selina saat ini, apalagi Diana sebagai ibunya. Dia menangis bahkan mengguncangkan tubuh Selina, baginya apa yang dilakukan Selina adalah karena kelalaiannya juga sebagai seorang ibu.
"Kenapa Sel...kenapa...hiks..."
Malam itu rumah keluarga Calabria di penuhi oleh kekecewaan, kemarahan dan air mata karena Selina. Lalu bagaimana dengan Rivano dan Irfan? Mereka malah santai-santai di rumah mereka masing-masing. Tapi tunggu saja, mereka pasti akan dapat balasannya.
...****...
Yang mau tau dosanya Bram sama Amayra di masa lalu, boleh mampir ke novel Cinta Suci Amayra!
Btw ini author satukan dua bab jadi 1, jadi up nya satu doang ya 🤧
__ADS_1