Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 85. Bulan madu ke Korea (1)


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Kini Zahwa dan Rey sudah duduk berhadapan di sebuah meja restoran. Seorang pelayan menghampiri mereka dan menanyakan menu makanan. Ketika Zahwa bertanya kepada suaminya mau sarapan apa, Rey melamun dengan wajah resah gelisah.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Zahwa yang terheran-heran melihat suaminya diam saja ketika ditanya menu sarapan yang akan di pesan.


"Iya Nemo?"


"Kamu mau sarapan apa Mas? Kamu mau--"


"Nemo, aku ke toilet dulu ya." Tiba-tiba saja Rey beranjak dari tempat duduknya dan meminta izin pergi ke toilet.


"Oh jadi dari tadi Mas terlihat gelisah karena mau ke toilet." celetuk gadis itu sambil tersenyum pada suaminya.


"Iya sayang, kamu pesan apa aja yang kamu mau. Mas mau pergi ke toilet bentar ya." Rey mengelus kepala Zahwa dengan sayang. Setelah ini rencananya mereka akan berangkat bulan madu ke Korea karena Rey ingin mewujudkan keinginan Zahwa untuk bulan madu kesana.


Selagi Zahwa memilih makanan dan menunggu Rey di restoran. Rey bukannya pergi ke toilet tapi dia pergi ke depan hotel itu, untuk memastikan sesuatu tentang sosok pria paruh baya yang di lihatnya tadi. "Apa bapak sudah keluar dari penjara? Apa itu benar-benar bapak? Ah mungkin aku salah lihat."


Saat Rey akan membalikkan badannya, sebuah suara menghentikan langkahnya dan membuatnya membeku.


"Rey...kamu Reyndra kan? Kamu anak bapak?"


Jantung Rey seakan berhenti disana saat mendengar suara yang sangat tidak ingin ia dengar. Matanya mulai berembun, wajahnya semrawut dan perasaannya campur aduk. Rey terus melanjutkan langkahnya, namun pria itu menghadang jalan Rey dengan cepat. Terlihat ada sedikit uban di rambut hitamnya.


"Rey...ini bapak nak! Ini bapakmu, pak Dimas! Apa kamu lupa sama bapak nak?" Dimas memegang tangan Rey dengan erat.


"Maaf saya tidak kenal siapa Anda." Pria itu menepis tangan Dimas, matanya enggan melihat Dimas.


"Nak...ini bapak nak, meski kamu sudah dewasa...bapak masih mengenalimu nak. Bapak mohon maaf nak, atas semua kesalahan bapak."


"Bapak jangan bicara sembarangan, saya bukan anak bapak! Saya juga tidak kenal bapak!" tegas Rey dengan mata menyala penuh kemarahan.


Bagaimana bisa Rey tidak marah pada orang yang sudah membuat ibunya dan calon adiknya meninggal dengan mengenaskan karena ulahnya. Tidak hanya itu bahkan ketika Zahwa dan Zayn masih bayi, Dimas mencoba menculik mereka dan akhirnya Amayra yang celaka pada saat itu.


Sejak itu Rey memiliki kebencian pada ayah kandungnya ini. Beruntungnya dia diadopsi oleh Diana dan Bram, mereka sangat baik mengurus Rey hingga ia dewasa seperti ini.


"Rey! Rey!" teriak Dimas memanggil nama anaknya.


Rey menjauh dari ayah kandungnya lalu pergi ke toilet seperti tujuannya sebelumnya. Dimas yang akan mengejar Rey terpaksa mengurungkan niatnya karena ia dipanggil oleh atasannya untuk melakukan pekerjaan lain. Ya, sekraang Dimas adalah cleaning servis di hotel dibawah naungan Calabria grup itu.


Zahwa dan Rey pun sarapan bersama dengan menu nasi goreng telor ceplok dan juga segelas susu. "Apa kamu masih lelah?"


"Lelah apa Mas?" tanya Zahwa sambil mengunyah nasi goreng suapan terakhirnya.


"Lelah...semalam..." bisik Rey.


"Hem, udah enggak." bisik Zahwa pada suaminya. Zahwa paham apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Mau lanjut ronde kedua?" tanya Rey seraya menatap istrinya dengan tatapan mata menggoda.


Prang!

__ADS_1


Zahwa menjatuhkan sendoknya ke piring karena tercengang mendengar ucapan Rey yang minta itu lagi. Wajahnya langsung bersemu merah. "Apa kakak gak puas semalam?" bisiknya lagi sambil celingukan kesana kemari takut ada yang mendengar obrolan mereka.


"Durasinya kurang, sayang." jawab pria itu jujur sambil mencubit pipi Zahwa dengan gemas.


"A-apa?" Zahwa yang polos tercengang mendengar ucapan Rey yang terus saja menggodanya.


"Kalau udah makannya kita balik lagi ke kamar yuk, lanjut ronde kedua terus kita langsung go to Korea" ajak Rey sambil tersenyum pada Zahwa.


Tidak alasan bagi Zahwa untuk menolak ajakan suaminya, mungkin inilah yang namanya harum pengantin baru. Lagi romantis romantisnya dan tak mau berjauhan.


Mereka pun kembali melanjutkan ronde kedua di dalam kamar, dimulai dengan pagutan bibir dan diakhiri di atas ranjang king size itu. Suara dessahan dan erangan kembali menggema di ruangan tersebut, Zahwa bebas melepas suaranya karena ruangan itu kedap suara, begitulah kata Rey.


Siang itu mereka kembali mandi dan usai shalat Zuhur, juga makan siang bersama. Mereka pun pergi dari hotel itu lalu pergi ke Bandara untuk rencana bulan madu ke Korea.


Zahwa terlihat begitu bahagia dengan pernikahannya bersama Rey. Ia yakin semuanya akan baik-baik saja. Dan rencananya setelah sampai di Korea, Rey akan menceritakan tentang rahasia yang selama ini simpan.


****


Kediaman Calabria.


Semua keluarga tampak duduk duduk santai di ruang tengah sambil berbincang, kebetulan hari itu mereka semua meliburkan diri selama 1 hari setelah pernikahan Zahwa dan Rey.


Terlihat Selina, Alisa dan Viona berjalan menuruni tangga setelah bersolek di dalam kamar Selina selama kurang lebih satu jam.


"Kalian mau kemana pakai baju kayak gitu?" tanya Bram sambil mengerutkan keningnya melihat ketiga anak gadis itu yang menurutnya berpakaian minim dan make up berlebihan.


"Selina ini pasti kamu?" tebak Diana pada putrinya yang membuat kedua saudaranya berdandan menor.


"Hehe, make up dikit ma." Selina terkekeh.


"Kak Selina ngajakin kami ke bioskop, Opa (Om)." jawab Alisa dan Viona kompak.


"Oke boleh, tapi ganti pakaian kalian! Pakaian itu minim dan bisa mengundang syahwat pria." jelas Bram memperingatkan anak dan juga kedua cucunya itu.


"Tapi Pa,"


"Selina..." Diana menatap putrinya dengan tajam, pertanda bahwa Selina harus menurut perintah papanya.


"Viona, Alisa, kalian ganti baju ya." timpal Ken yang akhirnya ikut bicara.


"Ganti bajunya dengan baju yang tertutup!" seru Anna tegas.


"Aduh anak-anak zaman sekarang." Bima menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ah hapus juga make up kalian," ucap Nilam pada ketiga cucunya itu.


Ketiga anak gadis itu kembali menaiki anak tangga menuju ke kamar Selina di lantai atas dengan langkah kesal. Para orang tua terlihat santai dan mengobrol di lantai bawah. Obrolan mereka seputar Rey dan Zahwa yang saat ini sedang dalam perjalanan ke Korea.


"Semoga mereka baik-baik saja," Nilam menghela nafas berat, pikirannya tertuju pada Rey dan Zahwa.


"Mama tenang saja, pengantin baru pasti lagi sweet sweetnya sekarang." kata Diana yakin.

__ADS_1


"Semoga saja begitu ya, oh ya Amayra katanya Zayn juga sudah ada calon ya?" pertanyaan Nilam kini beralih pada Zayn, putra sulung Amayra.


Semua orang terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Nilam pada Amayra. Lantaran mereka tak tahu tentang Zayn yang sudah ada calon.


"Insya Allah Ma, doakan ya...kak Bram, kak Bima, nanti bantu aku ya untuk melamar calonnya Zayn." kata Amayra sambil tersenyum.


"Siap May!" kata Bima dan Bram kompak.


"Wah May, kamu udah mau punya mantu lagi hehe." Fania terkekeh, dia ikut bahagia karena dalam waktu satu tahun itu dia akan menikahkan kedua anaknya.


Amayra tersenyum kecut, tiba-tiba dia merasa sedih. Setelah kedua anaknya menikah, lalu dia akan sendirian di rumah?


*****


Setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam lebih, pesawat yang ditumpangi Rey dan Zahwa akhirnya lepas landas di Korea Selatan, kota Seoul.


Zahwa terkagum-kagum karena dia belum pernah pergi keluar negeri. "Wah...Mas, udara disini beda sama di Jakarta ya Mas?


Rey memberikan jaket hangat pada tubuh istrinya itu. "Disini udah mau masuk musim dingin, jadi udaranya dingin sayang."


"Asyik! Kebetulan banget, kalau gitu aku bisa lihat salju pertama dong kayak di film-film, Mas."


Gadis itu kegirangan karena impiannya untuk melihat salju pertama seperti di film-film Korea yang selalu ditontonnya akan segera terwujud.


"Iya sayang, yuk sekarang kita otw ke hotel tempat kita menginap. Kamu pasti udah capek," Rey menggandeng tangan istrinya, melihat Zahwa masih malu-malu membuat Rey gemas. Dia bahkan semakin menggoda istrinya dan mengecup punggung tangan sang istri.


Cup!


"Mas, malu ih..."


"Gimana? Gayaku udah kayak opa opa Korea belum? Aku udah sweet kan?"


"Sweet apaan sih? Kulkas 15 pintu ya tetap kulkas, haha." ejek Zahwa sambil tertawa.


"Oh awas ya kamu, nanti aku akan kasih pelajaran!" Rey mengerutkan kening dan mengerucutkan bibirnya bersamaan, ia membuat Zahwa semakin tertawa karenanya.


"Hehe...coba aja kalau bisa, bweee!!" Zahwa melepaskan gandengan tangan dari suaminya, lalu dia menjulurkan lidahnya keluar.


Rey hanya senyum-senyum melihat itu, dia memegang koper berisi pakaian mereka berdua. Tidak banyak yang mereka bawa karena mereka hanya akan tinggal di sana 3 hari saja. Zahwa juga bukan orang yang ribet harus membawa ini itu, orangnya simple dan jarang make up-an. Itulah yang Rey suka dari Zahwa, wanita sederhana tapi bisa membuatnya gila.


"Nemo hati-hati!" teriak Rey saat melihat Zahwa berjalan mundur dan ada anak tangga disana.


Tubuh Zahwa oleng, beruntung ada seorang pria yang menangkapnya dari belakang. Pria tampan berkulit putih, tubuhnya tinggi dan memakai kacamata hitam. Begitu pria itu membuka kacamatanya, Zahwa dibuat terpana sampai tak berkedip.


"Gwaenchana?" tanya pria itu pada Zahwa dalam bahasa Korea.


"O-oppa Hyun Bin!!" pekik Zahwa terkejut melihat artis Korea yang menangkap tubuhnya saat ini


Sementara sang suami mendengus kesal melihat istrinya berdekatan dengan pria lain dan itu adalah idolanya.


...****...

__ADS_1


Hai Readers, mampir ka karya Santi Suki yuk sambil nunggu up ku 😍😍☺️



__ADS_2