Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 47. Kecurigaan Selina


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


PDkt taaruf? Apa maksudnya? Rey mengernyitkan kening saat mendengarnya. Arti taaruf adalah perkenalan atau saling mengenal yang dianjurkan dalam Islam. Lebih lengkapnya adalah sebuah proses yang dilakukan antara dua orang atau lebih dengan disertai maksud maupun tujuan tertentu. Secara umum, arti taaruf merupakan proses perkenalan yang dilakukan oleh seorang pemuda dengan pemudi Islam dengan didampingi pihak ketiga. Hal tersebut dilakukan untuk menemukan kecocokan antar kedua individu, sebelum menuju kepada tahapan selanjutnya, yaitu khitbah (lamaran).


Dalam budaya Indonesia sendiri, arti taaruf adalah berhubungan dengan dunia percintaan. Sebenarnya, maksud dari arti taaruf dalam hubungan percintaan ialah sebagai proses perkenalan yang tujuannya untuk menyempurnakan agama, tentunya dengan mengacu pada jenjang pernikahan. Bisa disimpulkan bahwa arti taaruf adalah sebuah proses yang sangat sakral dan bisa dikatakan sangat mulia, karena terdapat niat yang sangat suci di baliknya, yaitu untuk menikah.


"Zayn gimana bisa aku melakukan ta'aruf sedangkan mama, papa sama Oma belum tau! Apa aku harus kasih tau mereka sekarang?" tanya Rey setelah sempat merenung tentang pengertian ta'aruf.


"Iya aku tau...tapi pdkt ala ta'aruf ini kita pakai untuk merebut hati calon ibu mertua lebih dulu." bisik Zayn pada telpon yang masih tersambung dengan Rey


"Hah? Apa maksud kamu? Merebut hati calon ibu mertua?


"Iya kak, maksudku...kakak rajin-rajin datang ke rumah dan rebut hati mama. Sekalian ngemodus, siapa tau dengan sikap kakak dan saat nanti mama tau kalau kakak mau lamar Zahwa, mama gak kaget lagi." saran Zayn.


"Ya, aku memang mau melakukan itu Zayn. Aku juga akan menunjukkan pada Zahwa bahwa aku serius," ucapnya sambil menghela nafas.


"Oke kak, kalau begitu tunjukkan skill kakak. Kakak tau kan Zahwa keras kepala? Jadi selamat berusaha ya kak!"


"Siap Zayn, makasih kamu udah dukung aku. Eum...tapi, apa menurutmu Zahwa juga memiliki perasaan yang sama denganku?"


"Belum,"


"Zayn, bisa gak sih gak usah jujur banget jadi orang!" Rey merasa nyelekit dengan kejujuran Zayn. Ya, anak itu memang suka asal jeplak dan bicara sesuai fakta.


"Lalu kakak maunya aku berbohong?" gumam Zayn pada kakak sepupunya itu.


"Ya enggak juga sih."


"Tenang aja kak, aku yakin waktu akan membuat kakak dan Zahwa semakin dekat. Bismilah kak, percaya saja sama Allah...kalau kalian jodoh ya mudah-mudahan didekatkan, kalau tidak--"


"Aku dan Zahwa harus tetap berjodoh, aku akan pastikan itu!" tegas Rey yang tidak mau melepaskan Zahwa dan Zahwa harus jadi istrinya.


"Keras kepala sekali kakak, sama kayak Zahwa."


"Ya makanya kami itu jodoh. Oh ya Zayn, aku tutup telpon dulu ya. Kalau ada apa-apa sama Zahwa hubungi aku."


"Kenapa gak kakak hubungi aja sendiri? Hari ini Zahwa di rumah sendirian," jelasnya.


"Kenapa? Oh ya...tangannya masih sakit ya." ucap Rey cemas.


"Iya kak."


"Oke deh kalau gitu aku tutup dulu, aku mau siap-siap." ucap Rey pamit. "Assalamualaikum."


"Oke kak, waalaikumsalam."


Setelah itu pembicaraan mereka berakhir, Zayn kembali masuk ke dalam rumah untuk sarapan bersama mama dan adiknya. Sementara itu Rey sedang memakai dasinya dan bercermin melihat penampilannya. Dia tersenyum sendiri, sesekali dia memegang bibirnya dan teringat akan kejadian kemarin.

__ADS_1


"Zahwa... aku tidak sabar ingin segera menjadikan kamu milik aku.Tolong jangan biarkan aku menunggu lagi," gumam Reyndra pelan.


Tok,tok, tok!


Rey langsung menoleh ke arah ambang pintunya yang sedikit terbuka itu, begitu di mendengar suara ketukan disana. Dia melihat mamanya tengah berdiri disana. Diana meminta Rey segera turun ke bawah untuk sarapan bersama.


Tak lama kemudian, keluarga Calabria berkumpul disana. Keluarga yang terdiri dari Nilam, Selina, Diana, Bram dan Reyndra. Hanya mereka yang tinggal disana, sementara keluarga Bima, Amayra dan Anna tinggal di rumah terpisah. Bima tinggal di Bandung, Anna di Yogyakarta bersama keluarga suaminya Ken dan Amayra tinggal Jakarta tapi jaraknya lumayan jauh dari sana.


"Rey," sapa Nilam sambil memotong roti di piringnya.


"Ya, Oma?" sahut Rey.


"Kapan sih kamu akan mengenalkan wanita itu pada kami?" tanya Nilam seraya tersenyum pada cucu sulungnya itu.


"Wanita?" Bram langsung terperangah mendengar ucapan Nilam yang menanyakan soal wanita pada Rey. "Rey, kamu sudah punya pacar?"


"Iya pa, kak Rey bilang dia sudah ada calon istri." sahut Selina menjawab.


"Woah..woah...makasih ya adik kakak yang cantik, udah bantu jawab." Rey tersenyum lalu mengacak-acak rambut Selina itu.


"Ish...kakak, aku jadi harus nyisir lagi deh!" gerutu Selina dengan bibir mengerucut.


Oh ya, aku belum tanyakan sama kak Rey tentang kak Rey yang kasih cincin sama kak Zahwa. Batin Selina, jujur saja dia tidak tenang melihat kedekatan Zahwa dan Rey yang dirasanya tak wajar itu.


Pada orang tua mungkin tak melihat karena sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tapi Selina melihat dan memperhatikan sekilas tentang kakaknya, ia bisa tau bahwa ada yang aneh.


"Oh gitu? Alhamdulillah...kalau gitu cepat kamu perkenalan pada kami, biar kami bisa bantu lamarkan wanita itu secepatnya." Kata Bram semangat. Selama ini Bram dan Diana menanti kabar tentang siapa yang akan menjadi menantu mereka dan tentunya mereka menantikan seorang cucu, sudah lama juga di rumah itu tidak ada Isak tangis bayi.


"Maaf pa, ma, Oma...kalian belum bisa lamar wanita itu." kata Rey sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kenapa? Apa sampai sekarang gadis itu belum bisa menerima kamu?" tanya Nilam menebak.


"Iya Oma, aku lagi tunggu jawaban dari dia. Tapi dia pasti akan segera menerimaku kok,"


"Kak...siapa sih gadis itu? Aku jadi penasaran, siapa yang udah buat kakak bucin kayak gini? Sampai buat kakak nunggu dia." Gadis berusia 15 tahun itu mendekat ke arah Rey, dia menampakkan raut wajah penasarannya pada Rey.


"Nanti kamu juga tau." jawab Rey simple sambil memakan roti dengan santai.


Selina tidak bicara lagi, dia sibuk menghabiskan roti dan segala susu yang ada di atas mejanya. Tapi atensinya tidak terlepas dari Rey, memandang pria itu dengan curiga.


"Pokoknya jangan lama-lama ya Rey, kami gak sabar pengen momong cucu." kata Diana sambil tersenyum lebar.


"Oma juga pengen momong cicit, Oma kan belum punya cicit. Kangen banget rasanya waktu, Zahwa, Zayn, Selina, Alisa sama Viona waktu masih bayi....gemes." Hanya dengan bayangkan ya saja Nilam sudah bahagia.


"Sabar ya oma, mama, papa...aku pasti akan membawa menantu kalian kemari." Rey tersenyum lebar.


Ya, kalian tunggu sebentar lagi...semuanya sedang dalam proses. Aku juga sedang menunggu.

__ADS_1


"Iya nak, kalau kamu dan gadis itu sudah siap...kami siap melamar gadis itu untukmu!" seru Bram seraya menepuk pundak putra kesayangannya itu.


"Iya pa,"


Rey senang karena papa dan mamanya selalu mendukung keputusannya, mereka percaya pada Rey, pastinya apa yang dipilih Rey adalah yang terbaik untuknya.


Setelah selesai sarapan bersama, Rey membawa makanan dari rumahnya dan dibungkus ke dalam kotak bekal. Dia membawa beberapa jenis kue, coklat, soft cake, rainbow cake dan kue manis lainnya.


Selina melihat kakaknya yang sibuk mengemas makanan tersebut ke dalam kotak. "Woah...itu ada soft cake coklat, kesukaan kak Zahwa sama Tante Amayra tuh." celetuk Selina pada kakaknya.


"Memang untuk Tante Amayra dan Zahwa." jawab Rey sambil tersenyum.


"Kakak mau ke rumah kak Zahwa dulu? Kakak kan harus antar aku ke sekolah?" tanya Selina dengan kening berkerut.


Kak Rey benar-benar mencurigakan.


"Jalan ke sekolah kamu sama ke rumah Tante Amayra kan searah, ya sekalian aja kita mampir dulu kesana." tutur Rey yang kini sudah bersiap untuk pergi.


"Oh oke deh, ayo kak kita cepet berangkat nanti telat!" ajak Selina pada kakaknya. Dia sudah memakai seragam putih abu dengan rok span pendek diatas lutut. Rey mengerutkan kening melihatnya.


"Iya Sel...tapi kenapa kamu pakai rok pendek kayak gitu? Pakai rok yang selutut dek,"


"Mama, papa, Oma, mereka ngomelin aku...kakak juga ngomelin aku. Ini udah trendi kak, teman-temanku juga pakai rok segini kok." gerutu Selina sebal, dia sempat ditegur juga oleh Nilam, Bram dan Diana tentang penampakannya. Tapi Selina cuek saja.


"Sel...kamu ini wanita, harus bisa jaga aurat walaupun kamu gak berhijab... setidaknya pakaian kamu rapi." tegur Rey pada adiknya.


"Kenapa? Apa aku harus kayak kak Zahwa? Berhijab kayak gitu juga?" Selina memperhatikan raut wajah kakaknya.


"Loh? Kok kamu jadi bahas dia sih?" Rey tercekat mendengar ucapan Selina yang tiba-tiba saja membahas tentang Zahwa.


"Habisnya kayaknya kak Zahwa spesial banget sih buat kakak," Selina tersenyum tipis.


"Ka-kamu ngomong apa sih?"


Ada apa dengan Selina? Perasaan...dia selalu bahas Zahwa akhir-akhir ini. Apa dia udah tau?. Rey menelan salivanya.


"Kak Zahwa bukan sekedar sepupu buat kakak kan?" tanya Selina kemudian.


Pria itu tidak menjawab pertanyaan Selina. Ia malah menyuruh Selina untuk berjalan cepat karena takut terlambat. Melihat kakaknya yang tidak menjawab pertanyaan itu, membuat Selina yakin memang ada apa-apanya.


Dia tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi, akhirnya Selina bertanya pada Rey tentang cincin yang diberikan Rey pada Zahwa di mall. Rey awalnya panik, tapi dia kembali beralasan itu hanya mainan saja. Namun Selina terlihat tak percaya begitu saja.


Mereka pun mengakhiri perbincangan singkat mereka lalu pergi ke rumah Zahwa, sekalian ke sekolah Selina.


Aku yakin ada apa-apa sama kakak dan kak Zahwa.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2