
...🍀🍀🍀...
Sungguh Zahwa terkejut dengan ucapan mamanya yang mengatakan bahwa ia harus melupakan cintanya pada Raihan. Amayra bahkan menangis saat memeluknya.
"Ma..."
'Mama kenapa ya?'
"Kamu tidak boleh bersama Raihan, kamu harus melupakan dia, nak." lirihnya seraya mengurai pelukannya.
"Tan, Tante kenapa?" Rey menatap Amayra dengan tatapan sendu.
"Mama udah tau kalau Raihan dan Zainab sudah menikah, tadi mama pergi melayat Alm ustadz Arifin. Mama pergi sama om dan Tante kamu, om kamu sangat marah dan dia sakit hati kamu diperlakukan seperti ini oleh Raihan dan keluarganya." jelas Amayra pada putrinya.
"Iya Ma, aku juga udah tau kok. Tapi aku gak apa-apa, aku bakalan lakukan perintah mama...aku bakal lupain mas Raihan, ya mungkin aku dan dia memang tidak jodoh. Gak apa-apa Ma." ucap Zahwa seraya tersenyum pada mamanya. "Mama gak usah nangis. Benaran kok...aku gak apa-apa."
Memang Zahwa mengatakan tidak apa-apa, tapi Amayra bisa melihat ke dalam mata Zahwa, bahwa ada kesedihan besar disana. Kedua mata Zahwa mengembun, air mata menggenang dibawah mata.
"Insya Allah, kelak kamu akan mendapatkan pria yang baik. Bersabarlah nak, mama yakin Allah sedang menyiapkan jodoh yang terbaik buat kamu." Amayra mencoba menghibur putrinya yang sekarang terluka.
"Maaf Ma, tapi Zahwa gak mau ngomongin soal jodoh dulu. Ma, Zahwa lelah...Zahwa mau istirahat." Gadis itu buru-buru masuk ke dalam rumah, menghindari mamanya. Lagi-lagi dia menangis karena cinta yang tidak seharusnya terjadi.
Brak!
Terdengar suara pintu ditutup, ya Zahwa langsung pergi ke kamarnya. Amayra, Rey dan Zayn melihat Zahwa dengan sedih.
"Ma...mama gak usah khawatir, Zahwa pasti kuat kok." Zayn menepuk bahu mamanya.
"Ya,mama harap begitu. Mama kecewa dan sakit hati sekali pada Raihan...beraninya dia mengatakan itu, dia pikir putri mama--" Amayra mengepalkan tangannya dengan kuat, terlihat matanya yang dipenuhi oleh kabut emosi.
"Memangnya Raihan bilang apa sama Tante? Apa Rey boleh tau?" Rey penasaran dengan apa yang terjadi di pesantren Ar-Rasyid saat melayat ustadz Arifin.
Amayra menghela nafas, dia menyuruh Zayn dan Raihan untuk duduk terlebih dulu. Dia pun mulai menceritakan apa yang terjadi saat dia melayat ustadz Arifin. Amayra, Bram ,Diana datang melayat kesana dan mereka menemukan fakta bahwa Raihan dan Zainab sudah menikah. Disanalah Bram mulai emosi pada Raihan dan malah membuat ribut. Bram mengatakan kekecewaannya pada Raihan, lalu Raihan semakin membuat emosi Bram. Manakala Raihan mengatakan bahwa dia akan menikahi Zahwa seperti niatnya sebelumnya, menjadikan Zahwa madunya.
Tentu saja Bram, Diana dan Amayra jadi emosi dengan ucapan Raihan yang memang menyulut itu. Lalu Bram mengatakan bahwa keluarga Calabria tidak boleh ada hubungan lagi dengan keluarga Raihan.
Zayn terbelalak mendengar cerita mamanya.
"Astagfirullah, yang benar Ma? Raihan mengatakan itu?"
"Iya! Apa dia pikir putri mama itu tidak berharga hingga harus menjadi istri kedua? Mama juga tidak menyangka bahwa dia menikah dengan Zainab, Zainab kan teman dekat Zahwa yang sering main ke rumah...pasti Zahwa sakit hati sekali. Pokoknya mama gak mau kalau Zahwa ataupun keluarga kita ada hubungan lagi dengan keluarga Raihan! Lihat saja, mama pasti akan menemukan pria yang cocok untuk anak mama, yang pastinya jauh lebih baik dari si Raihan itu..." Amayra menggerutu, menumpahkan semua kekesalan yang dia tahan sedari tadi di pesantren Ar-Rasyid.
"Iya Tante, pasti Zahwa akan mendapatkan pria yang lebih baik dari dia. Tante yang sabar ya." ucap Rey seraya menghibur tantenya itu.
Dan orang itu adalah aku, Tante. Batin Rey percaya diri.
Amayra memegang dadanya, rasanya kesal itu masih belum hilang. "Insya Allah Rey, ya Allah.... astagfirullahaladzim...Tante masih saja kesal."
"Udah, mama gak usah banyak pikiran ya...nanti kalau mama sedih, Zahwa ikutan sedih. Biarkan Zahwa merenung dan melupakan perasaannya."
"Ya, kamu benar Zayn...kalau kalian punya kenalan pria baik dan sholeh, tolong kenalkan pada Zahwa ya."
Wajah Rey memucat mendengar ucapan Amayra, rasanya sesak didada secara tiba-tiba. Zayn melihat Rey seraya menahan tawa.
__ADS_1
Kalang kabut kamu kak.
"Iya Ma," jawab Zayn pada ucapan mamanya tapi Rey terdiam dan tak menjawab. Entah kenapa dia merasakan bahaya mengancam.
"Ya udah mama mau masuk dulu," kata Amayra lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia pun berpamitan masuk ke dalam rumahnya, sementara Rey dan Zayn masih ada didepan teras rumah.
"Woah....gimana ini kak? Mama kayaknya bakal buka biro jodoh buat Zahwa." celetuk Zayn sambil terkekeh.
"Kok kamu gitu sih Zayn? Kamu harusnya dukung kakak dong!" kata Rey kesal karena Zayn memanasinya bukan mendukungnya.
"Maaf kak, tapi aku gak berpihak pada siapapun. Kalau aku berpihak sama kakak, rasanya sulit juga...jadi aku ya gimana mama sama Zahwa aja."
"Zayn!" Rey panik mendengarnya.
"By the way, makasih kakak udah bantu aku cari Zahwa. Aku masuk dulu kak, kakak mau masuk dulu?"
"Gak, aku pulang aja." jawab Rey lesu.
"Haha... semangat dong kak, jangan lupa usaha dan doa." Zayn tertawa tapi dia menyemangati Rey.
Pria itu membuang nafas kasar, "Insya Allah Zayn."
Usaha dan doa, jangan lupakan hal itu karena semua yang terjadi di dunia ini dan apa yang kita inginkan, pastilah butuh usaha dan doa. Rey berdoa sudah, mungkin dia kurang berusaha. Baiklah, Rey memutuskan untuk gencar berusaha membuat Zahwa lebih dekat dengannya.
Sepulang dari rumah Zahwa, Rey sampai di rumahnya dan melihat Bram, Diana, diruang tengah. Dari pembicaraan mereka yang didengar Rey, mereka tengah membicarakan masalah Raihan.
"Pokoknya aku gak terima Ma, aku gak terima si Raihan bicara seperti itu tentang Zahwa! Apa-apaan dia? Kenapa dia harus menjadi istri kedua? Kesannya seperti gak ada cowok lain aja!"
"Ya aku masih kesel lah! Misalkan kalau Selina anak kita digituin, aku juga pasti sama kesalnya seperti sekarang. Apa kata Alm. Satria disana kalau melihat semua ini? Satria sudah berpesan padaku untuk menjaga Zahwa, tapi ini semua malah terjadi padanya...harusnya waktu dia melamar Zahwa, aku jangan setuju saja!" dengus pria itu kesal.
Bram masih berada didalam emosinya, Diana dan Nilam berusaha untuk menenangkan dirinya. "Udah Bram, yang lalu biarlah berlalu...toh bagus kan Zahwa sudah tau tentang Raihan lebih dulu? Kita harus bersyukur karena Zahwa tidak jadi menikah dengan Raihan." ucap wanita tua itu pada putra sulungnya.
"Mama benar juga." Bram membenarkan ucapan mamanya.
"Iya pa, Oma benar...dari kejadian ini kita bisa mengambil hikmah. Bahwa Raihan bukan jodohnya Zahwa dan mereka tidak ditakdirkan untuk bersama." timpal Rey sambil duduk di samping omanya.
"Benar tuh apa kata Rey. Lagian Zahwa cucu mama, dia cantik, cerdas, pasti banyak laki-laki yang mau dia." Nilam tersenyum.
"Benar Mas, kita ambil saja positifnya dari kejadian ini." Diana menganggukkan kepalanya.
"Ya baiklah, kalau begitu aku akan kenalkan Zahwa dengan beberapa anak rekan bisnisku. Mungkin saja ada yang cocok dengannya,"
"Eh jangan pah!" Rey berteriak.
"Loh? Kenapa Rey?"
"Ah...itu...tadi Zahwa bilang kalau dia belum mikirin soal jodoh," jawab Rey gugup. "Papa...aku rasa papa terlalu terburu-buru." sambungnya lagi.
Kenapa jadi main jodoh jodohan begini sih?
"Ya, mungkin papa terlalu cepat untuk mengambil keputusan. Ya sudah, papa mau ke kamar dulu."
"Ayo mas," sahut Diana seraya mengikuti suaminya meninggalkan ruang tengah dan pergi menuju kamar mereka di lantai atas.
__ADS_1
Terlihat Rey bernafas lega, disisi lain Nilam asyik memperhatikan jujur tertuanya itu. Terlihat senyum di wajah keriputnya. "Nah...kalau urusan jodoh Zahwa nanti aja, tapi urusan jodoh kamu kayaknya harus diurus sekarang deh."
"Kok jadi ke aku sih, Oma?"
"Kamu udah usia 27 tahun loh...kamu harus cepat-cepat cari jodoh, cari calon istri yang mengurus kamu. Usia kamu sudah cukup nak,"
"Iya segera Oma, Oma doakan saja."
"Jadi bener kata mama kamu? Kamu udah ada calon?" Mata wanita tua itu berbinar saat menanyakan calon cucu nantinya.
Rey mengangguk.
"Kalau gitu, cepat dong bawa kesini! Oma pengen lihat calon cucu mantu Oma, seperti apa dia?" tanya Nilam tak sabar
"Usianya 22 tahun, dia cantik, baik, agak cerewet, suka manjat pohon, imut, calon dokter, pokoknya Oma dan semua orang di rumah ini pasti akan suka sama dia." Kata Rey sambil tersenyum mendeskripsikan sosok Zahwa.
"Oh...jadi dia masih kuliah?"
"Iya Oma, dia lagi nulis skripsi." jawab Rey sambil tersenyum.
"Melihat senyuman kamu, pasti kamu sangat suka sama dia...alhamdulillah kalau gitu, cepat bawa kemari ya! Seenggaknya kenalkan dulu dia pada kami," mata Nilam menatap cucunya sambil tersenyum, penuh rasa penasaran dalam tatapannya.
"Haha...iya nanti Oma, Rey lagi usaha dulu buat dapatin dia karena dia belum peka terhadap perasaan Rey."
"Kenapa harus nunggu peka dulu kak? Kakak langsung aja nyatain cinta kakak, nanti kan dia jadi tau perasaan kakak, beres kan?" saran Selina yang tiba-tiba saja muncul disana menghampiri kakaknya, menjawab pertanyaan kakaknya.
"Nyatain cinta?"
"Iya kak! Cewek itu gak akan peka kalau hanya ditunjukkan dalam sikap, coba kakak bicara deh sama dia. Kalau kakak gak ngomong, ya mana mungkin dia peka, tapi pakai sikap juga tunjukinnya! Dua-duanya kakak lakukan!" saran Selina seraya tersenyum polos.
"Hem..." Rey berpikir dan merenungkan saran Selina.
Saran Selina benar juga, kalau nunggu Zahwa peka...itu pasti lama. Zahwa kan orangnya polos, apa lebih baik aku menyatakannya dulu?
"Boleh juga Sel! Apa kamu punya saran seperti apa kakak harus menyatakan cinta?"
"Hem...ada sih dari drakor kak, tapi tergantung... kalau calon kakak iparku itu suka drakor, pasti akan dengan adegan romantis ala drakor."
"Calon kakak iparmu suka banget drakor,"
"Wah bagus dong! Nanti bisa Selina ajakin nonton drakor," Selina tersenyum.
"Iya, lalu drakor kesukaan Zahwa itu drakor apa Sel?"
Selina terdiam kaku mendengar nama kakak sepupunya disebut. Nilam juga sama kagetnya dengan Selina. "Loh? Kok jadi kak Zahwa (Zahwa)?" kata Selina dan Nilam bersamaan.
"Hehe...eungh, maksudku Selina kan suka nonton drakor sama Zahwa, jadi ya-ya aku pengen tau drakor apa yang Selina dan Zahwa suka."
"Ohh...gitu." Nilam mengangguk dengan bibir membulat.
Sementara reaksi Selina lain, dia mengernyitkan dahinya, matanya menatap sang kakak dengan heran.
...******...
__ADS_1