Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 119. Akhir Rivano


__ADS_3

...****...


Sore itu, Vans ayah dari Rivano datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Selina. Dia baru saja pulang dari Surabaya dan langsung pergi ke rumah sakit. Begitu dia mendengar kabar dari kakak sepupunya bahwa Bagas dan Rivano menjadi buronan karena sudah mencelakai Selina.


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Vans terus mengumpati putranya karena dia telah berbuat hal yang bodoh dengan mencelakai calon istrinya. Yang mungkin akan menjadi tambang emas bagi perusahaan Vans nantinya, tapi boro-boro tambang emas. Sepertinya Vans dan Rivano harus bersiap-siap bila nyawa mereka diambil kapan saja oleh keluarga Calabria.


Vans bukan takut anaknya dipenjara, tapi dia lebih takut bila saham perusahaannya anjlok dan akan berakibat fatal untuk kelangsungan perusahaannya. "Ya, aku harus memohon maaf kepada Pak Bram dan bu Diana... setidaknya kalau aku memiliki itikad baik, mungkin mereka tidak akan menarik saham perusahaan mereka di perusahaanku." gumam Vans sambil berjalan menuju ke ruang rawat Selina.


Vans sempat terhenti langkahnya, saat melihat kedua orang tua Selina duduk di kursi depan ruang rawat Selina yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.


"Sayang, kamu harus makan." bujuk Bram pada istrinya yang belum makan dari tadi siang. Jadwal prakteknya dia alihkan pada Zainab dan dokter kandungan lainnya, karena saat ini ia masih galau dengan Selina.


"Aku belum lapar, Mas." ucap Diana sambil menjalankan kepala menolak makanan yang disodorkan oleh suaminya.


"Selina akan sedih kalau kamu tak mau makan. Dia nanti ngomel ngomel gini, ish mama tuh dokter...masa dokter gak bisa jaga kesehatan sih? Ayo Mama harus makan. Nah...nanti Selina bilang begitu." pria itu menirukan suara Selina yang memang selalu mengomel bila Diana tidak menjaga kesehatannya.


"Iya juga."


"Ya kan? Kalau gitu ayo mak--"


Belum sempat Bram menyelesaikan ucapannya, sosok Vans sudah berdiri di hadapan pasangan suami istri tersebut. Sontak saja mereka menatap Vans dengan tajam. Terdengar nafas Vans yang terengah-engah.


"Assalamualaikum, selamat sore pak Bram, Bu Diana.." Vans mengucapakan salam dengan sopan.


"Waalaikumsalam." jawab Diana dan Bram dengan ada suara yang begitu malas.


"Mau apa anda kesini pak Vans?" tanya Bram sarkas, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berdiri didepan Vans.


"Pak...saya benar-benar minta maaf atas kelakuan anak saya. Saya tidak menyangka bahwa akan seperti ini jadinya." Vans mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf kepada Bram dan Diana.


"Maaf? Apa semua itu cukup dengan kata maaf saja? Putri saya terbaring koma, tadi dia sempat mati suri! Belum lagi calon cucu saya yang ada di dalam kandungannya, sudah tiada. Dan seenaknya saja bapak hanya mengatakan maaf tentang semua itu?"


"Sa-saya... saya tidak akan menghalangi proses hukum untuk anak saya karena dia memang bersalah. Tapi--saya mohon kepada bapak untuk tidak menarik investasi bapak dan saham bapak di perusahaan saya, karena masalah ini."

__ADS_1


Bram dan Diana begitu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Vans, mereka tidak percaya bahwa tujuan pria itu meminta maaf kesana karena dia takut perusahaannya akan bangkrut karena masalah ini.


"Jadi--bapak meminta maaf kepada saya dan juga istri saya bukan benar-benar tulus dari dalam hati?" tanya Bram sinis. Sedangkan Diana masih terdiam membisu dengan tatapannya yang tajam kepada Vans.


"A-apa maksud bapak? Sa-saya..." wajah Vans memucat, nampaknya ia sadar bawa dia telah salah bicara..


Gawat! Kenapa aku mesti keceplosan sih?


"Saya tidak percaya ini! Pergi dari sini, bila anda datang kemari hanya untuk berbicara omong kosong saja!" usir Bram pada Vans dengan emosi.


"Pak, saya benar-benar berniat tulus meminta maaf...atas nama anak saya dan juga saya berharap untuk kesembuhan Selina." kata Vans yang entah tulus atau tidak.


"Mari kita bertemu di pengadilan pak Vans, saya dan keluarga saya... tidak akan membiarkan putra bapak bebas begitu saja!" seru Bram tegas.


Dia pasti membuat Rivano menyesal karena telah memperlakukan Selina begitu kejam.


Vans tidak berdaya dengan kemarahan Bram yang saat ini sedang berapi-api. Akhirnya Dia memutuskan untuk pergi dari sana, sudah jelas bahwa perusahaannya, masa depan anaknya dan kelangsungan hidupnya nanti akan hancur karena Rivano.


*****


Usai main-main dengan rivaro dan Bagas selama 3 jam lamanya, Bima, Jack dan juga anak buahnya. Melepaskan Rivano dan Bagas di jalan begitu saja. Tak lama setelah itu, Rivanno dan Bagas ditangkap oleh polisi dan dijebloskan ke dalam penjara. Pastinya akhir mereka tidak akan baik.


Setiap perbuatan pasti ada balasannya, sekecil apapun perbuatan itu. Allah maha tau segalanya, meskipun orang-orang tidak tahu kesalahan kita sendiri.


Di dalam jeruji besi, Rivano menyesali perbuatannya pada Selina. Setiap malam ia selalu dihantui rasa bersalah karena sudah membunuh bayi yang belum sempat melihat dunia itu.


"Maafkan aku sel...maafkan kebodohanku yang sudah membunuh anak kita. Maafkan aku," ucap Rivano sambil meringkuk di dalam jeruji besi dan menangis. Dia sudah kehilangan masa depannya dengan berbuat bodoh.


Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Kalau dibelakang namanya pendaftaran. Hidup Rivano di penjara juga tidak mudah, ia kerap kali di bully oleh beberapa tahanan yang ada disana atas suruhan Bima.


****


3 minggu telah berlalu sejak Selina koma. Gadis itu masih betah terpejam di atas ranjang rumah sakit. Teman-teman bahkan guru-guru prihatin dengan keadaannya, mereka menjenguk Selina. Apalagi Attar, tiada hari tanpa menjenguk Selina. Bahkan Attar selalu mengajak gadis itu mengobrol.

__ADS_1


3 minggu pula, Diana, Bram, Nilam dan Amayra juga anggota keluarga yang lain di landa kegalauan tentang kondisi Selina. Bahkan pernikahan Aini Zayn juga ditunda terlebih dahulu sampai menunggu Selina siuman.


Mereka tidak mau bahagia tanpa Selina.


🍀🍀🍀


Pagi itu di rumah Zahwa dan Rey.


Pagi-pagi sekali Zahwa sudah sibuk dengan kegiatannya sebagai istri. Malam tadi ia melayani suaminya, pagi-pagi ia bangun dan menyiapkan keperluan sang suami. Memasak, beres-beres rumah dan juga lainnya.


Kini wanita hamil itu sedang memberi makan ikan di taman belakang rumahnya. "Nemo... Drizel, Hanzel, kalian makan yang banyak ya...maaf ya akhir-akhir ini aku lupa kasih makan kalian, untung aja ada bi Dewi. Tapi aku janji akan selalu memperhatikan kalian mulai sekarang...kalian doakan adikku Selina ya, supaya dia cepat membuka matanya. Semua orang sedih karena Selina, aku juga sedih dan kangen sama dia." terang Zahwa sedih


"Aamiin ya rabbal allamin." sahut Rey lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Mas, kamu udah bangun?"


"Iya, aku juga udah mandi...kenapa gak bangunin Mas? Mas kan bisa bantu kamu bersih-bersih, sayang."


"Aku gak tega, Mas tidurnya pulas banget. Ya udah kalau mas udah siap, kita sarapan yuk...mas pasti lapar."


Rey menganggukkan kepalanya, lalu duduk jongkok didepan Zahwa. Ia mengelus perut Zahwa dengan lembut. "Assalamualaikum dede-nya papa, kesayangan papa sama mama....kamu sehat-sehat disana kan, sayang?" begitulah Rey tiap paginya, selalu menyapa istri dan calon anaknya. Menambah nilai plus kebahagiaan Zahwa, wanita hamil itu berseri-seri setiap kali Rey bicara padanya dan bayi mereka.


"Waalaikumsalam, alhamdulillah sehat-sehat papa." ucap Zahwa menjawab dengan tersenyum.


"Alhamdulillah....jangan rewel ya nak, kasihan mama hehe." Rey mengecup lembut perut istrinya. Kini Zahwa terlihat sudah agak gemukan, terlihat dari pipinya yang tembem.


"Iya papa tenang aja, Dede baik kok! Ya udah papa pakai baju dulu sana, dede malu lihat papa." celetuk Zahwa seraya tersenyum melihat suaminya yang ternyata hanya bertelanjang dada.


"Ah iya! Aku lupa sayang, hehe." Rey pun tersenyum lalu mengajak istrinya masuk ke dalam rumah. Dengan manja, Rey meminta istrinya memakaikannya baju.


...****...


Author udah up 2 nih mana komennya 🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2