Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 65. Kamu gak bisa tidur sayang?


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Sehari sebelum Rey dan kedua orang tuanya pergi ke rumah Zahwa untuk mengkhitbah wanita itu. Diana dan Selina mengajak Rey untuk berbelanja, tentu saja tujuan mereka berbelanja guna memberikan yang terbaik untuk Zahwa di hari khitbah itu.


Mereka berbelanja barang-barang branded untuk dibawa sebagai seserahan khitbah, seserahan kecil-kecilan dan barangnya pun tidak sebanyak saat hari pernikahan nanti. Barang sedikit tapi harganya begitu fantastis, Diana tak tanggung-tanggung berbelanja untuk calon menantunya.


Ketika ibu dan adiknya tengah berbelanja, Rey terlihat mengiyakan saja semua yang dibeli oleh mereka karena ia tidak begitu tau barang yang bermerek dan barang yang berkualitas.


"Ma, kak Rey, gimana ini! Pasti cocok kan untuk kakak ipar!" tunjuk Selina pada kerudung berbahan satin berwarna merah muda.


"Hem... pasti Zahwa akan sangat cantik ketika mengenakannya," Diana mengganggukan kepalanya seraya tersenyum. Dia membayangkan Zahwa memakai kerudung berwarna merah muda itu, wajahnya yang cantik akan semakin menjadi teduh dan adem.


Akhirnya Rey yang sudah dari tadi tidak bicara, kini ia buka mulut soal kerudung untuk Zahwa."Nggak, jangan warna merah muda! Zahwa udah banyak punya barang yang warnanya merah muda,"


"Hahaha...akhirnya si kulkas 15 pintu komen juga, ma." Selina terkekeh karena kakaknya yang dari tadi diam, kini berkomentar juga.


Diana menatap putrinya dengan heran."Hah? Kulkas 15 pintu? Kenapa kamu panggil kakakmu begitu, Sel?"


"Hehe itu bukan aku yang panggil, tapi kak Zahwa...Kak Zahwa suka panggil kak Rey kayak gitu kalau dia lagi kesel sama kak Rey...hehe." jelas Selina sambil tersenyum dan Diana tersenyum mendengarnya.


"Hey! Selina, jangan panggil aku begitu lagi! Yang panggil aku begitu, khusus Zahwa saja. Paham kamu?" kata Rey tegas melarang Selina memangilnya kulkas 15 pintu.


"Cie...cie yang udah bucin sama kakak Nemo..haha." goda Selina lagi pada Rey yang kini tengah tersenyum lebar.


Diana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum lembut, saat anak bungsunya menggoda kakaknya.


Setelah berbelanja barang-barang, terakhir mereka belanja cincin. Sebenarnya cincin itu hanya tinggal diambil karena Rey sudah memesannya disalah satu toko yang ada di mall itu.


"Ternyata kamu sudah menyiapkan semua ini dari jauh-jauh hari, Rey. Mama gak nyangka, kamu begitu mencintai Zahwa."


"Iya Ma, empat belas tahun itu bukan main-main ma. Tentu saja aku sudah menyiapkan semuanya," ucap Rey sambil tersenyum lebar.


"Kamu ini...dari dulu dan sekarang hidup kamu memang selalu terencana!" Diana menepuk bahu putranya yang lebar itu, dia menatap wajah Rey yang tampan dan kini sudah dewasa. "Gak terasa anak mama ini sudah mau membangun rumah tangga, mama doakan semoga kamu dan Zahwa bahagia....Zahwa harus menjadi satu satunya dalam hidup kamu Rey!" wanita paruh baya itu kembali mengingatkan Rey tentang kesetiaan kepada Zahwa.


"Iya Ma, Rey hidup sekali, mati sekali dan nikah pun sekali ma... hanya Zahwa satu-satunya wanita yang Rey cintai, Ma." kata Rey sambil menggenggam tangan Diana. "Rey sayang Zahwa sama seperti Rey sayang mama, Selina dan semua anggota keluarga kita..."

__ADS_1


"Ya Rey, mama tau itu...kamu anak baik dan kamu akan menepati janjimu untuk menjaga Zahwa." Wanita itu percaya pada putranya yang selalu bisa diandalkan. Pasti Rey bisa membuat Zahwa bahagia.


"Bukan menepati janji, tapi kewajiban! Kewajiban untuk mencintai Zahwa dan menjaganya karena Rey akan menjadi pendamping hidupnya, menjadi imamnya. Rey pasti akan menjaga Zahwa sepanjang hidup Rey karena Rey mencintainya." lirih Rey penuh kesungguhan dan membuat Diana tersenyum.


"Woah... Masya Allah...aku meleleh dengar kak Rey ngomong. Pasti kak Zahwa juga senang dengernya," ucap Selina lalu memencet tombol di ponselnya.


"Sel? Kamu ngapain?" tanya Diana heran melihat putrinya senyum-senyum begitu.


"Hehe...barusan pas kak Rey ngomong aku rekam, terus aku kirim rekamannya ke orang yang tepat dan harus mendengarnya!"


"Dasar kamu ada-ada aja..." ucap Diana sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah berbelanja semua kebutuhan untuk khitbah besok malam, mereka duduk di sebuah restoran untuk makan siang bersama. Tiba-tiba di tengah acara makan siang itu, Selina mengambil ponselnya yang berdering.


"Kak Zahwa udah balas pesanku!" kata Selina sambil tersenyum.


Rey dan Diana balas tersenyum sambil menikmati makanan mereka. Namun mata Rey menatap Selina, dia penasaran dengan apa yang di kirim Zahwa pada Selina.


"Woah..."


..."Bilangin ke kak Rey, aku juga cinta sama kak Rey dan kak Rey satu satunya untukku...calon imamku, yang akan membimbingku."...


Prutttt....


"Ohok...ohok..."


Begitu mendengar suara Zahwa, Rey memuncratkan minuman yang diteguknya tadi dan dia tersedak sampai batuk-batuk. Wajahnya memerah, ia tersipu malu dan jadi tidak sabar ingin segera bersatu dengan Zahwa.


"Hahaha...aduh kulkas 15 pintu bucin banget sih sama kakak ipar." Gadis remaja itu malah tertawa melihat kakaknya salah tingkah begitu hanya karena mendengar suara Zahwa yang mengatakan cinta padanya.


"Rey...minum dulu, kamu ini ada ada aja nak." Diana tersenyum lalu menyerahkan segelas air minum kepada Rey.


"Makasih ma...ohok ohok..." Rey mengambil air minum itu lalu meneguknya.


******

__ADS_1


Setelah lelah berbelanja dan urusan kantor, malam itu Rey terlihat baru saja keluar dari kamar mandi memakai kimono handuknya. Terlihat perut kotak-kotak di tubuhnya yang seksi.


"Apa Zahwa akan senang ya melihat perut kotak-kotakku ini? Hehe..." Rey cengengesan sendiri melihat perutnya yang sixpack karena rajin berolahraga selama tinggal di luar negeri. Dia tidak mau membuat Zahwa kecewa sama merawat tubuhnya dengan baik untuk malam pertama mereka nanti. Rey ingin Zahwa puas dengannya. "Astagfirullah Reyndra! Kenapa kamu sudah memikirkan tentang malam pertama? Mesum sekali! Hahaha..." Rey menertawakan pikirannya sendiri.


Pria itu pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia melihat ponselnya dan melihat ada beberapa pesan masuk disana.


Ada dari Salimah, Niko, Zayn dan terakhir ada pesan masuk dari Zahwa. Tapi pesan dari Zahwa dulu yang pertama kali ia lihat.


Assalamualaikum kak, kakak udah tidur?


Rey tersenyum melihat isi pesan dari Zahwa, wanita yang membuatnya gila sampai dia mabuk kepayang selama 14 tahun bahkan sampai sekarang. Rey tidak membalas pesan Zahwa dan malah menekan tombol video call.


Dreett..


"Astagfirullah! Kok kak Rey video call aku sih? Aku harus ngomong apa?" Zahwa terlihat panik dan salah tingkah, dimana pria yang dia sebut si kulkas 15 pintu itu telpon video call padanya.


Tak lama kemudian, Zahwa pun menekan tombol hijau dan menyimpan ponselnya di dekat nakas.


"Assalamualaikum Nemo," Rey tersenyum melihat Zahwa yang sedang duduk diatas ranjang sambil memeluk boneka ikan Nemo dalam video callnya.


"Waalaikumsalam kak, kenapa kakak telpon aku?" tanya Zahwa sambil menundukkan kepalanya dengan malu.


"Loh kenapa tanyanya gitu? Di video call sama calon suami sendiri, kok gak mau sih?" tanya Rey seraya menggoda Zahwa.


"Ini kan udah malam kak,"


"Kamu tau ini udah malam, tapi kamu masih chat aku? Ini udah jam berapa, kenapa kamu belum tidur, hm?"


"Eungh---itu---a-aku." Gadis itu terlihat bingung, dia menghubungi Rey karena dia sangat merindukannya. Tapi tidak mungkin dia akan mengatakan itu pada calon suaminya.


"Apa kamu gak bisa tidur sayang?"


Deg!


Zahwa langsung menoleh ke arah Rey yang ada di layar ponselnya, wajahnya seketika memerah ketika mendengar kata sayang yang Rey ucapkan padanya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2