
...🍁🍁🍁...
Tatapan semua orang tertuju pada Zahwa dan Deva bergantian. Begitu pula dengan Selina, dia sampai menutup mulutnya yang menganga karena ia terlalu terkejut.
Apa maksudnya semua ini? Kak Deva pengen di jodohin sama kak Zahwa? Omigod, si kak Deva cari mati tuh! Untung aja gak ada kak Rey.
Suasana menjadi hening sejenak, apalagi bagi keluarga Calabria yang tampak syok dengan ucapan Deva yang ingin melamar Zahwa, ya dijodohkan. Mungkin secara langsung ingin ta'aruf dengan gadis itu.
"Oh jadi kamu mau dijodohkan dengan putri pak Bram yang berjilbab ini?" tanya Tuan Andara yang memiliki nama lengkap Damar Andara.
Damar melihat Zahwa dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Penampilan yang sederhana, wajah yang ayu dan polos, terlihat berbudi luhur. Itulah penilaian Damar pada pandangan pertama tentang Zahwa.
Cantik, manis, sholehah...itulah yang aku dengar tentang anak Bram yang bernama Zahwa ini. Dia sepertinya cocok dijodohkan dengan anakku yang berandal ini. Tapi kenapa Deva memilihnya? Bukankah dia selalu bilang kalau dia suka wanita seksi dan cantik?
"Iya pa, maksud Deva si Aisyah...eh Zahwa. Deva mau dijodohkan dengannya," gumam Deva sambil menundukkan kepalanya karena malu-malu.
Zahwa mendesah keheranan, mereka berdua bahkan tidak dekat dan baru bertemu beberapa kali. Bagaimana bisa tiba-tiba saja Deva ingin dijodohkan dengannya?
Si pria toilet ini apa kepalanya sudah terbentur sesuatu?
"Bagaimana ini pak Bram? Apa anda setuju jika anak saya dan anak pak Bram melakukan pendekatan terlebih dahulu?"
Bram menghela nafas, lalu dia mulai angkat bicara. "Saya mohon maaf dengan sangat pak Damar, tapi anak saya yang satu ini sudah bertunangan dan 3 Minggu lagi akan segera menikah." ucapnya seraya menoleh ke arah Zahwa.
"APA?!" teriak Deva tercengang, teriakan tersebut membuat semua orang menatapnya.
Ah...ini aku kurang gercep.
"Oh begitu ya...ya ampun saya minta pak Bram, saya tidak tahu kalau anak pak Bram sudah ada yang melamar." kata Damar merasa ikut patah hati seperti anaknya yang saat ini terdiam dengan wajah pucat. Terlihat jelas bahwa Deva memiliki perasaan cukup dalam terhadap Zahwa.
"Memangnya ada yang mau melamar wanita yang sudah kotor?" celetuk Tiara ketus, dengan bola mata yang memutar ke sana kemari dengan sinisnya. Hingga semua anggota keluarga Calabria langsung menatap padanya, termasuk Amayra.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu tentang putri saya?!" Serka Amayra dengan tatapan beringas pada Tiara, tidak peduli dia berada dimana dan ada siapa disana. Yang dia pedulikan adalah perasaan anaknya dan harga diri Zahwa.
Amayra tau benar rasanya di judge oleh orang lain atas kesalahan yang tidak dilakukan dan dia tidak mau anaknya mengalami kemalangan yang sama dengannya. Tidak lagi! Cukup Amayra saja yang merasakan dihina waktu dulu, anak-anaknya tidak boleh.
"Tiara,kamu ngomong apa sih? Ma, didik tuh anakmu!" bisik Damar seraya menoleh pada istri dan anak perempuannya.
__ADS_1
"Iya pa," jawab Erika lalu berbisik pada putrinya.
"MINTA MAAF PADA KEPONAKAN SAYA!" ujar Bram bersuara dengan intonasi yang meninggi.
"Om....kami minta maaf atas ucapan__"
"Bukan kamu yang harus minta maaf tapi wanita ini." ucap Bram memotong ucapan Deva yang akan mewakili meminta maaf.
Akhirnya suasana makan malam itu berakhir dengan permintaan maaf. Terlihat Zahwa tidak nyaman makan bersama Tiara, apalagi duduk mereka berhadapan. Tiara menatap Zahwa penuh kebencian, lantaran telah membuat kelulusannya ditangguhkan sampai tahun depan. Siapa lagi kalau bukan ulah Rey dan Zayn?
Setelah selesai makan malam, suasana antara Bram dan juga rekan bisnisnya kembali seperti biasa. Mereka mengobrol di ruang tengah. Sementara itu Zahwa, Selina, Tiara dan Deva ada di taman belakang.
"Lo minta maaf yang benar, atau gue aduin sama papa!" titah Deva pada adik tirinya itu. Dia merasa bahwa permintaan maaf Tiara saat makan malam tadi tidaklah tulus.
Gila banget si Tiara! Jadi cewek yang di ganggunya itu adalah si Aisyah?
"Ogah! Aku gak mau minta maaf sama wanita berkedok jilbab padahal j*lang." Tiara menolak untuk minta maaf pada Zahwa.
"Tiara!"bentak Deva pada Tiara.
"Sudahlah, kalau dia gak mau minta maaf gak usah dipaksa." ucap Zahwa dengan atensi yang begitu tajam pada Tiara.
"Idih! Kakak gak tau diri banget sih, udah nyelakain orang begitu fatal...gak mau minta maaf juga?" celetuk Selina sambil menatap Tiara dengan sinis.
Tiara langsung pergi begitu saja dari taman belakang. Selina menyusulnya sambil mendengus kesal, rasanya dia belum puas memaki gadis yang suka melukai kakak iparnya itu.
Akhirnya Deva dan Zahwa berdua saja di taman belakang, namun karena pintunya terbuat dari kaca tanpa tirai. Jadi apapun yang mereka lakukan akan terlihat oleh orang-orang yang ada didalam rumah.
Gila! Jantungku seperti mau loncat didekat dia. Canggung banget, mau dilihat malam dan siang tetap aja ini cewek adem banget.
Deva menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, dia tidak sanggup untuk melihat Zahwa karena gugup. "Ehm...jadi kamu udah mau nikah?" tanya Deva tiba-tiba memakai bahasa aku-kamu, padahal biasanya elo gue.
"Iya, insya Allah tiga Minggu lagi." jawab Zahwa sambil tersenyum.
Hati Deva nyut-nyutan saat melihat cincin emas berlian melingkar di jari Zahwa. Tebaknya dalam hati bahwa itu adalah cincin pertunangan.
Rasanya Krenyes banget ini hari lihat cincin itu. Ya udah deh, emang bukan jodohnya.
__ADS_1
Deva menghela nafas panjang.
"Kamu kenapa Dev?"tanya Zahwa heran.
"Aku kurang gercep, tapi gak apa-apa deh...semoga kamu bahagia ya sama calon suamimu. Cuma satu yang harus kamu tau, kalau dia berani nyakitin kamu, aku masih nunggu. Sayang kan cowok ganteng macam aku di sia-siakan?" Deva berusaha tersenyum walau hatinya sakit.
"Hahaha...kamu orangnya blak-blakan juga ya. Aku kira kamu nyebelin." Zahwa terkekeh mendengar ucapan Deva seolah ucapannya adalah candaan.
"Aku orangnya nyenengin kok."
"Oh ya, tapi kenapa kamu mau dijodohin sama aku? Bukannya kamu sebel sama aku ya?"
"Sebel?Nggak tuh. Tapi__kalau aku bilang aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu, apa kamu percaya?"
Zahwa tercengang mendengar pengakuan blak-blakan dari Deva tentang perasaannya. "Mukanya jangan tegang gitu Aisyah!" ucap Deva sambil mencubit pipi Zahwa, hingga Zahwa tak sempat menghindar.
"Auw!"
"Udah gak usah kayak gitu, lagian masih banyak cewek cantik yang mau sama aku. Tapi ingat ya, kalau dia buat kamu atau ngecewain kamu, kamu telpon aja aku." Goda Deva sambil tersenyum lalu mengambil ponsel Zahwa yang ada ditangannya tanpa izin.
"Eh-- kamu!"
Deva membuka kode ponsel Zahwa dengan finger print jari tangannya. Kemudian dia menulis nomornya di ponsel Zahwa. "Nah beres!" kata Deva sambil mengembalikan ponsel itu pada Zahwa.
"Huh!"
"Jangan sebar sebar nomorku ya karena nomorku itu langka." bisik Deva pada Zahwa dan gadis itu langsung menjauh.
"Ckckck...pede banget kamu." Zahwa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Oke, kita masuk yuk...disini dingin." Kata Deva sambil tersenyum hangat. Mereka pun masuk bersama ke dalam rumah.
Sementara itu seseorang di dekat sana melihat isi ponselnya. "Haha...kalau kak Rey lihat semua ini, gimana ya? Aku lapor atau jangan? Tapi kan suruh lapor, tapi kalau lapor nanti kak Zahwa bakal berantem gak ya sama kak Rey?"
Tiba-tiba gadis itu terkejut bukan main saat di melihat gambar-gambar dan video yang dia ambil sudah terkirim pada Rey bahkan ceklis biru semua.
"Omigod! Alamak! Mampus aku!"
__ADS_1
...****...