Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 107. Gegabah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Plakk!


Tamparan keras mendarat di pipi kanan Rivano, bahkan sampai bibirnya mengeluarkan darah saking kerasnya pukulan itu. Agam dan Irfan yang berada disana terkejut dengan kehadiran wanita berhijab yang tiba-tiba datang dan memukul Rivano.


"Sialan lo! Siapa Lo, hah?" Rivano memuntahkan darah di sudut bibirnya karena ulah Zahwa.


Zahwa menatap Rivano dengan tajam, dia menatap pria itu dengan sinis. "Kamu ngomong apa barusan? Kamu bilang adik saya cewek murahan?!"


Irfan, Agam dan Rivano pun melihat Selina yang bersembunyi di belakang Zahwa. Mereka paham kenapa Zahwa datang kesana dan tiba-tiba memukul Rivano.


"Ya, adik Lo itu emang cewek murahan! Tukang obral tubuh." Rivano memandang Selina dengan rendah. Selina terisak lalu mencengkram lengan baju blouse yang dikenakan Zahwa.


Gadis muda itu meringis, rasanya sulit bertemu dengan Rivano dan Irfan lagi setelah kemarin dia mengatakan tentang kehamilannya dan kedua pria bajingan itu menolak bertanggungjawab. Mereka malah memandang rendah dirinya.


Srek!


Dengan berani tangan Zahwa menarik kerak baju Rivano. "Dasar pemabuk! Katakan padaku apa kamu yang menghamili adik saya?"


"Haha..."


Plakk!


Zahwa kembali memukul pipi Rivano, kali ini dibagian kiri. Agar warna merah dan sakitnya sama rata. "Jangan ketawa kamu! Jawab yang benar, apa kamu yang memperkosa Selina?" tanya Zahwa sinis.


Rivano yang dalam keadaan mabuk itu, mendorong-dorong tubuh Zahwa yang tingginya lebih pendek darinya. Selina semakin takut terjadi sesuatu dengan Zahwa. "Lo! Lo mukul gue? Jangan pikir karena Lo cewek, gue gak berani hajar Lo!"


"Van...Van sabar Van!" Irfan dan Agam berusaha mencegah Rivano yang tersulut emosi oleh sikap Zahwa.


Ya, kali ini Zahwa memang gegabah dengan datang kesana dalam keadaan hamil tanpa ada pria yang menjaga.


"JAWAB! Bener kamu yang menghamili Selina?"

__ADS_1


"Ya! Gue dan Irfan, kita berdua yang udah hamilin Selina, kita campur obat perangsang di minimumnya...salah sendiri, kenapa dia suka pakai pakaian seksi yang menggoda. Bukannya itu karena dia lagi ngobrol tubuhnya?" jelas Rivano, pria yang paling tidak sadarkan diri disana karena dia satu-satunya yang minum alkohol sedangkan kedua temannya tidak.


"Oke, udah Sel...ayo kita pergi dari sini." ajak Zahwa ada Selina. Terlihat raut wajah Selina yang tampak bingung, kenapa Zahwa mengajaknya ke sana hanya untuk menanyakan Rivano dan Irfan.


Ini sudah cukup, aku sudah merekam semuanya.


Selina dan Zahwa pergi meninggalkan tempat yang disebut markas oleh Rivano and the geng. Setelah itu Zahwa mengambil ponsel di dalam tasnya, lalu memencet mencet ponselnya.


"Mereka gak akan mengelak dengan bukti ini, kamu gak usah khawatir Sel. Kamu akan mendapatkan keadilan, kakak janji Sel! Orang-orang brengsek itu akan mendapatkan balasannya."


"Ta-tapi kak....gimana sama mama, papa, Oma dan yang lain kalau tau semua ini."


Zahwa menyeka air mata Selina dengan kedua tangan lembutnya. "Cepat atau lambat semua orang akan tau Sel. Mereka pasti akan kecewa, marah tapi itu semua tidak akan berlangsung lama. Kita kan keluarga, tempat pulang dan tempat mengadu...jika ada masalah harus diselesaikan bersama-sama. Kamu gak usah khawatir, nanti berdampak buruk sama bayi kamu. Sekarang kita ke rumah ya kasih tau yang lainnya,"


Selina menggeleng, lagi-lagi gadis itu menolak saran dari Zahwa untuk memberitahu semua orang tentang kehamilannya. Zahwa paham rasa takut Selina, tapi dia tidak mau Selina semakin terpuruk dengan menyembunyikan hal ini seorang diri.


"Sel... please dengerin kakak... keluarga kita--"


Tiba-tiba saja Rivano mendorong Zahwa hingga wanita itu terjatuh ke tanah. Selina terkejut dan segera menolong kakaknya.


"Kakak gak apa-apa kok."


Astagfirullah aku benar-benar gegabah, aku lupa bahwa aku berhadapan dengan pria mabuk.


"Siniin hp Lo! Sini, sialan!" Rivano menarik tangan Zahwa dengan kasar, tangan yang satunya berusaha mengambil tas Zahwa.


"Kurang ajar kamu, lepaskan saya!" teriak Zahwa kesal.


"Van! Van sadar Van..." Irfan menarik tubuh Irfan untuk menjauh dari Zahwa. Agam juga ikut membantu karena dia takut kalau temannya akan macam-macam dan mereka akan terseret-seret oleh Rivano.


"Van! Stop! Dia cewek!"


"Bangsat!" Rivano mendorong kedua temannya, lalu dia mendorong Zahwa lagi.

__ADS_1


Beruntung ada seorang bertubuh tegap menangkap tubuhnya agar tidak jatuh. "Zahwa kamu gak apa-apa?"


"A-aku gak apa-apa Mas." jawab Zahwa gugup, lalu mengambil tasnya.


"Hey kalian--betaninya--"


Raihan menatap ketiga pria itu dengan tajam dan mereka malah melarikan diri karena takut. Raihan tadi sempat melihat Zahwa dan Selina diganggu oleh Rivano cs, lalu dia turun dari mobilnya.


"Kak...kakak gak apa-apa? Ada yang sakit gak kak?" Selina memindai tubuh Zahwa dengan tatapannya, dia takut terjadi sesuatu pada Zahwa yang sedang hamil. Padahal ia sendiri sedang hamil.


"Aku gak apa-apa kok," Zahwa memegang pinggulnya yang terasa sedikit sakit karena di dorong oleh Rivano tadi.


"Ayo aku antar pulang," ajak Raihan.


"Gak usah Mas, kita bisa naik taksi kok."


"Kebetulan aku mau lewat ke rumah Calabria, sekalian aja. Tenang aja aku gak akan macam-macam." kata Raihan membujuk dan berniat baik mengantar Zahwa dan Selina pulang.


Melihat Selina yang masih syok, akhirnya Zahwa menerima ajakan Raihan untuk naik ke mobilnya. Zahwa dan Selina duduk di kursi di belakang.


"Kak...kakak gak apa-apa kan? Bayinya gak apa-apa kan kak?" tanya Selina sambil melihat perut datar Zahwa.


"Gak apa-apa kok Sel,beneran." Zahwa tersenyum lebar.


Mendengar kata bayi, membuat Raihan menoleh ke belakang sejenak dan melihat Zahwa. "Ka-kamu lagi hamil Zahwa?"


"Alhamdulillah...iya Mas."


"Alhamdulillah kalau begitu, selamat ya." ucap Raihan dengan senyuman tipis yang entah apa artinya.


...****...


Spoiler spoiler episode berikutnya...

__ADS_1


"Ma, Pa, tolong bicara baik-baik sama Selina! Selina juga tertekan!" kata Zahwa melindungi Selina yang sedang bersembunyi dibelakangnya sambil menangis.


__ADS_2