
...🍀🍀🍀...
Tanpa menunggu persetujuan Zainab, Raihan langsung menghampiri Diana yang sedang berjalan masuk ke bagian UGD rumah sakit itu.
Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan bayi didalam rahim Zainab. Sama sekali Raihan tidak memiliki pemikiran bahwa Zainab berbohong padanya, mungkin juga karena hubungan mereka saat ini sangat baik.
Ya Allah, bagaimana ini? Kalau Tante Diana memeriksaku, bisa ketahuan kalau aku gak hamil. Aku gak mau mas Raihan tau sekarang.
Jangan ditanyakan lagi bagaimana paniknya Zainab saat ini. Dia sampai mengigit bibir bagian bawahnya, gadis itu sangat ketakutan. Akhirnya ia pun memikirkan sebuah ide yang membuat Raihan tidak jadi menemui Diana.
"Ahhh! Mas Raihan!" ujar Zainab sambil memegang kepalanya.
Raihan yang baru setengah jalan akan menghampiri Diana, kembali membalikkan badannya dan balik arah pada istrinya. "Kamu kenapa Zainab?" pria itu memegangi tangan Zainab dengan sigap.
"Mas...tiba-tiba aku pusing," Zainab memelas dan berpura-pura pusing. Ya dia memang pusing, selalu pusing. Memikirkan rasa takut didalam hatinya jika Raihan tau yang sebenarnya bahwa dirinya tidak hamil.
Dalam hati, dia merasa sangat berdosa karena telah berbohong kepada suaminya.
"Kalau gitu, ayo kita periksa sama dokter ya?" tawar Raihan cemas.
"Gak mau Mas! Aku mau pulang aja, please mas...aku tiba-tiba lelah." Pinta Zainab sambil memeluk suaminya seraya memohon.
Tidak tega melihat istrinya mengeluh sakit, akhirnya Raihan membawa istrinya masuk ke dalam mobil dan mengantarnya kembali ke pulang.
Zainab bisa merasa lega tapi hanya sebentar, rahasianya seperti bom waktu dan hanya tinggal menunggu meledak saja. Sungguh Zainab menyesal karena dia telah memulai kebohongan ini.
*****
Di sebuah studio musik, terlihat Deva bersama kedua temannya sedang latihan musik bersama. Deva adalah seorang musisi yang masih kuliah semester 5 harusnya dia sudah lulus ,tapi dia malas. Walaupun begitu dia kuliah jurusan bisnis manajemen dan memiliki otak yang cerdas. Selain seorang musisi dan mahasiswa, Deva juga adalah anak sulung dari bersaudara dan dia adalah pewaris perusahaan Andara grup.
Moto hidupnya adalah bersenang-senang dahulu lalu bersusah-susah kemudian. Seperti saat ini, dia jarang kuliah dan fokus bermusik. Terkadang hal itu membuat kedua orang tuanya gemas dengan tingkah Deva.
Dreett..
Dreett...
"Dev, itu ponsel Lo bunyi Mulu...angkat aja napa sih?" kata Dion, salah satu teman baik Deva. Dia adalah gitaris band Langit. Dion merasa Deva harus menjawab telepon itu.
"Malas..."
"Dari siapa sih?" tanya Andra, salah satu teman Deva juga.
"Adik tiri gue," jawab Deva sambil melihat nama Tiara tertera di ponselnya.
__ADS_1
"Belakangan ini dia sering telpon Lo,"
"Ya, dia minta bantuan sama gue supaya bujukin bokap gue biar batalin kelulusannya yang ditangguhkan."
Andra mengerutkan keningnya, lalu dia kembali bertanya pada Deva kenapa bisa kelulusan Tiara ditangguhkan. "Kok bisa sih ditangguhkan?"
"Ya, dia tuh nyelakain temen satu kampusnya sampai jatuh ke jurang dan katanya kakaknya si temannya itu sampai perpanjang masalah ini. Dan begonya lagi, adik tiri gue katanya ketahuan mau jahatin lagi dia lewat video untungnya ketahuan sama kakaknya dan sekarang dia diancam...bikin masalah terus dia."
"Ya ampun julid banget adik tiri Lo." kata Dion sambil terkekeh.
"Iya dan gue malas bantuin dia." kata Deva sambil tersenyum dan memegang gitarnya.
Kali ini misalnya kembali berdering dan Deva melihat panggilan masuk di ponselnya. Deva tersenyum melihat panggilan masuk itu.
"Halo......oke pa, malam ini ya? Jadi om Bram sudah setuju?........oke oke pa, pasti Deva bakal dandan secakep mungkin...... thanks ya papa."
Deva langsung menutup teleponnya setelah berbicara dengan papanya, wajahnya tampak bahagia. Hingga membuat kedua temannya bertanya ada apa dengan Deva.
"Dev, ada apa? Kenapa lo senyum-senyum gitu nerima telepon dari bokap lo?" tanya Andra penasaran.
"Hehe...sorry ya bro, gue pergi duluan." Kata Deva sambil beranjak dari tempat duduknya dan menyimpan gitarnya ke atas meja. Bibirnya tidak berhenti tersenyum.
"Woy! Lo mau kemana, bro?" tanya Dion kepo.
"What? Calon bini?" Dion dan Andra terperangah mendengarnya. Mereka saling melihat satu sama lain.
"Iya, calon bini."
Aku datang Aisyah!
Deva langsung pergi begitu saja dari studio musik itu. Kedua temannya terkekeh melihat percaya diri Deva yang begitu tinggi. Biasanya Deva tidak pernah membicarakan soal perempuan sampai seperti ini. Apalagi mengatakan bahwa perempuan itu adalah calon istrinya? Pasti Deva sangat serius.
*****
Setelah selesai menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit,sore itu Zahwa pulang bersama dengan Diana naik mobilnya. Diana mengatakan pada Zahwa untuk pulang ke rumah keluarga Calabria karena akan ada makan malam bersama dengan keluarga Andara. Amayra dan Zayn juga ada disana.
Sesampainya disana, Zahwa langsung pergi ke kamar yang biasa ia tempati di rumah itu. Yaitu kamar tamu di lantai bawah. Ia langsung membersihkan tubuhnya begitu dia sampai di kamar mandi. Setelah beberapa menit berada di dalam kamar mandi, akhirnya Zahwa keluar dari kamar mandi itu dan mengenakan pakaian lengkapnya. Tak lupa dia juga memakai hijab instan berwarna abu-abu.
Dia memoles wajahnya dengan sedikit pelembab, kemudian ponselnya pun berbunyi. Begitu melihat nama yang tertera di ponselnya, dia langsung mengangkat telepon itu.
"Assalamualaikum kakak."
"Waalaikumsalam calon makmumku. Maaf ya kakak baru mengabari kamu sekarang, tadi gitu sampai ke Bali...kakak lupa charger hp dan tadi kakak ketiduran." Jelas Rey pada tunangannya itu, dia meminta maaf karena tidak membalas semua pesan Zahwa.
__ADS_1
"Iya gak apa-apa kak, yang penting kakak baik-baik aja dan sampai ke sana dengan selamat." ucap Zahwa pengertian.
"Yah...cuma gitu doang? Kamu gak khawatir kalau aku disini ketemu cewek-cewek bule?" pancing Rey.
"Ketemu udah pasti dan aku juga tidak bisa menghentikan Kakak bertemu dengan mereka."
"Kamu gak cemburu?"
"Kalau kakaknya cuek dan gak ladenin mereka ,buat apa aku cemburu. Cemburu itu adalah untuk orang yang tidak percaya diri dan aku percaya diri kalau kakak cuma___"
"Cuma apa? Terusin dong!" tanya Rey tak sabar.
"Kakak cuma__ah mending kakak aja yang terusin kak."
"Hehe dasar kamu jaim," terdengar suara tawa dari sebrang sana.
"Kak Zahwa ayo! Tamunya sudah datang kak," teriak Selina dari ambang pintu.
Terpaksa Zahwa dan Rey mengakhiri pembicaraan mereka. Zahwa dan Selina pun pergi ke ruang makan bersama ,tampak semua keluarga Calabria berada disana. Namun ada 4 orang yang wajahnya terlihat asing berada disana.
Sepasang suami-istri paruh baya, juga sepasang anak laki-laki dan perempuan. Gadis perempuan itu menatap Zahwa dengan pandangan tidak suka. Sementara itu Zahwa melihat sosok Deva dengan bingung, dan disisi lain Selina menatapnya dengan berbunga-bunga karena ada artis disana.
Sialan! Jadi ini rumah si Zahwa sok suci?. Tiara mengepalkan tangannya dengan erat.
"Nah...ini nih cucu saya Selina," kata Nilam memperkenalkan Selina kepada keluarga Andara.
"Cantik sekali...jadi kamu yang akan dijodohkan dengan Deva ya," sambut tuan Andara pada Selina seraya memuji kecantikannya. "Tapi bukankah dia terlalu muda Dev?" tanya tuan Andara pada putranya.
Selina tersenyum melihat ke arah Deva.
"Maaf sepertinya kalian semua salah paham....pa, aku setuju dengan perjodohan ini tapi calonnya bukan dia." Deva langsung menjelaskan situasinya.
Semua orang kini menatapnya dengan terheran-heran. Apa maksud dari ucapan Deva yang sebelumnya ingin dijodohkan dalam keluarga Calabria tapi bukan dengan Selina? Pasalnya hanya Selina, Alisa dan Viona yang masih jomblo. Dan Selina lah yang paling dewasa di antara kedua cucunya yang lain.
"Lalu kamu mau dijodohkan sama siapa, Dev?"
"Kalimah Zahwa Jawharah, namanya. Aku mau dijodohkan sama dia." Kata Deva tegas seraya menoleh ke arah Zahwa yang masih berdiri di sana.
Sontak saja semua orang langsung kaget mendengar nama Zahwa disebutkan oleh Deva. Dan mereka semua langsung melihat ke arah Zahwa dengan bingung.
...*****...
Mau kondangan? Sabar dulu ya readers 😁
__ADS_1