
...🍀🍀🍀...
Bram, Diana, Selina dan Rey tiba di depan rumah Irfan, salah satu pria yang memperkosa Selina. Sementara Zayn, Zahwa, Nilam dan Amayra berada di rumah keluarga Calabria.
Keadaan Nilam masih belum tenang, dia terus menangis memikirkan nasib cucunya.
"Mama...malu May, mama malu...hiks..." Nilam terisak sambil menutupi mukanya
"Ma, May ngerti perasaan mama saat ini. Siapapun pasti akan sedih dan kecewa dengan keadaan Selina...tapi mama harus kuat. Kita juga harus menguatkan Selina, dia pasti berat menanggung beban seberat ini." ucap Amayra sambil menepuk-nepuk lembut punggung ibu mertuanya.
Nilam mengusap wajahnya kasar, lalu dia memeluk Amayra sambil menangis. "Hiks... sekarang mama paham bagaimana rasanya jadi orang tua yang anaknya hamil diluar nikah. Malu, sakit hati, kecewa, sedih...dulu mama tidak peduli dengan perasaan kamu May, mungkin ini karma untuk mama juga karena sudah berlaku dzalim padamu di masa lalu." Nilam teringat dengan dosa-dosanya di masa lalu terutama pada Amayra. Dia malah menyuruh Bram kabur saat Amayra menghamili
"Maa...sudah, masa lalu jangan diungkit lagi. Sekarang yang harus kita lakukan dalam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, agar semuanya bisa terlewati dan menguatkan hati kita. Terutama Selina, sekarang selina sangat membutuhkan kita ma." kata Amayra bijaksana.
Zahwa dan Zayn juga jadi kepikiran dengan masalah Selina.
*****
Rumah keluarga Irfan Nugraha.
Kini Bram, Diana, Rey dan Selina sudah duduk di sofa ruang tamu rumah yang tidak seberapa besar dengan rumah keluarga Calabria mewahnya. Mungkin hanya setengahnya.
"Maaf, anda siapa dan kesini mau apa ya?" tanya seorang pria paruh baya dengan kacamata kotaknya. Dia melihat pada semua keluarga Calabria dengan bingung.
"Mana Irfan, anak bapak?" suara Bram terdengar datar dan berusaha setenang mungkin. Sementara Selina? Jangan tanyakan bagaimana perasaannya saat ini. Dia berdebar, takut dan gemetar.
Rey menepuk pelan pundak adiknya dengan penuh perhatian. "Tenang ya dek." bisik Rey sambil tersenyum tipis.
Selina berusaha setenang mungkin, dia tersenyum tipis pada kakaknya.
"Oh jadi bapak mencari Irfan? Sebentar ya pak, saya panggilkan." kata pria paruh baya itu dengan sopan. Dia akan beranjak dari tempat duduknya untuk pergi memanggil Irfan yang ada di lantai dua. Namun langkahnya terhenti saat melihat Irfan berlari menuju ke luar rumah.
Langkah Irfan juga terhenti manakala dia melihat Selena dan keluarganya berada di sana. Matanya melebar dan jantungnya berdegup kencang karena takut.
Mampus gue! Kenapa si Selina bisa ada disini sama keluarganya juga? Pasti mau minta pertanggungjawaban.
"Nah....ini anak saya pak!" ucap pria bernama Rian Nugraha itu pada Bram, memperkenalkan anaknya.
Bram mendekati Irfan, dia menatap Irfan dengan tajam. Tanpa basa-basi Bram langsung bertanya dengan kilat penuh amarah di wajahnya. "Benar kamu yang sudah memperkosa anak saya?"
Deg!
Rian tercengang mendengar pertanyaan dari Bram. "Apa maksud pak Bram? Kenapa Pak Bram menanyakan hal seperti itu kepada anak saya?" tanya Rian seraya menatap Bram dengan atensi yang begitu tajam.
__ADS_1
"Jawab saya Irfan! Apa benar kamu memperkosa anak saya?!" kali ini suara Bram naik menjadi 1 oktaf, dia memberikan penekanan kepada pria muda di depannya itu.
"Sa-saya... saya memang memperkosa anak bapak. Tapi bukan saya yang menghamilinya." Irfan mengakui bahwa dia memang memperkosa Selina, tapi dia tidak mengakui bahwa dia yang menebar benih di rahim Selina.
Bram menarik baju Irfan, hingga terangkat ke atas. "Apa maksud kamu hah? Kamu benar-benar konyol sekali ya? Kamu mengakui bahwa kamu telah memperkosa anak saya, lalu kamu bilang... Kalau kamu tidak menghamili anak saya? Bicara yang BENAR, KAMU!" teriak Bram kepada Irfan.
"Tapi... bukan saya ayah dari anak itu, ayah dari anak itu adalah Rivano. Karena saat saya dan Rivano..." Irfan terlihat begitu ketakutan dan menggantung ucapannya di sana. Matanya memutar ke sana kemari dengan bingung. Ya, dia memang mengakui bahwa dia telah memperkosa gadis itu. Tapi dia menolak mengakui bahwa anak yang ada di dalam kandungan Selina adalah anaknya.
"Lanjutkan ucapanmu! Kalau kamu tidak mau bogem mentah dari tangan saya melayang ke wajah kamu." Bram mengepalkan tangannya dan bersiap-siap untuk memukul pria itu, apabila seandainya jawaban yang diberikan oleh Irfan tidak sesuai dan tidak masuk akal.
"Saat... saya memperkosa Selina pada hari itu, saya memakai pengaman sedangkan Rivano dia tidak memakainya dan dia sengaja keluar di dalam."
Diana tampak begitu syok mendengar pengakuan Irfan hingga kakinya terasa lemas, dia tidak menyangka bahwa putrinya diperlakukan seperti itu. Diana mulai tersulut emosi, sebagai seorang ibu, tentu tidak menerima jika ada yang melecehkan putrinya.
Rian juga tidak kalah syok mendengar pengakuan anaknya yang telah memperkosa anak dari Bramasta Zein Calabria, salah satu nama dari keluarga berpengaruh di kota itu. "Irfan! Katakan pada papa, apa kamu benar-benar memperkosa anak pak Bram?" tanya Rian dengan pandangan yang begitu tajam dan hati yang bergemuruh kepada Putra semata wayangnya itu.
"I-iya pah...Irfan memang sudah memperkosa Selina, tapi Irfan bukan ayah dari bayinya!"
Plakk!
Rian menampar putranya begitu keras hingga pria itu terhuyung ke lantai. Wajahnya memar dan bibirnya berdarah.
"Bangsat KAMU! Dasar anak tidak tahu diuntung!"
"Pak...itu bukan salah aku, Rivano yang ngajak! Dia yang udah kasih minuman sama Selina sampai dia gak sadar, aku cuma masuk bentar doang." kata Irfan tetap tak mau disalahkan meski ia sudah mengaku. "Terus emang cewek ini aja yang murahan, dia pakai pakaian seksi terus--"
Kali ini Rey yang bergerak menghajar Irfan, dia tidak terima dengan apa yang dikatakan Irfan. Dia sudah merendahkan harga diri Selina dan menghina adiknya itu.
"Apa kamu bilang? Adikku murahan?! Cari mati kamu hah?!" Rey memukul Irfan sampai babak belur, Irfan tidak berani melawan karena dia juga merasa bersalah.
"Sudah sudah! Sekarang bisa tidak, kita bicarakan semua ini baik-baik!!" seru Diana setengah berteriak.
Akhirnya semua orang duduk di sofa ruang tamu dengan keadaan panas, namun lebih tenang. "Anak saya pasti akan bertanggung jawab bila memang benar anak yang dikandung oleh anak bapak adalah cucu saya. Tapi--anak saya masih sekolah dan sebentar lagi menginjak kelulusan. Saya tidak bisa membiarkan anak saya menikah dalam usia muda."
"Bapak tidak usah bicara berbelit-belit, intinya bapak tidak mau anak bapak bertanggung jawab atas kehamilan anak saya?" tanya Bram tajam.
"Tidak Pak Bram, maksud saya bukan seperti itu. Saya hanya ingin anak saya menyelesaikan sekolahnya lebih dulu dan juga anak di dalam kandungan anak bapak, belum tentu milik anak saya. Bukankah yang menjamah tubuh anak bapak bukan hanya anak saya saja?" sindir Rian dengan begitu tajam dan menusuk ke dalam hati kedua orang tua yang anaknya hamil diluar nikah itu.
"Jangan kurang AJAR kamu!" geram Bram sambil mengepalkan tangannya. Tidak terima putrinya di hina.
"Lebih baik kalian temui Rivano dan ayahnya lebih dulu karena dia juga bersalah, dia adalah dalangnya." ucap Rian cuek.
Bram, Diana, Rey dan Selina sakit hati karena ucapan Irfan dan Rian yang menusuk itu. Seolah Selina adalah wanita yang tidak punya harga diri dan dengan mudahnya mengobral tubuh.
__ADS_1
Sungguh, Diana dan Bram sakit kepala memikirkan semua ini. Akhirnya mereka pun pergi ke rumah Rivano yang hanya berbeda 3 rumah dari rumah Irfan. Bram dan Diana terlihat frustasi, marah pada Selina. Kecewa sudah jelas, namun mereka menahan dulu semua itu dan memilih menyelesaikan masalah siapa yang akan bertanggungjawab atas bayi yang dikandung Selina.
*****
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah Rivano. Rumah yang mewah, mungkin sama dengan rumah Calabria. Ya, Rivano bukan berasal dari kalangan biasa. Dia adalah putra dari saja satu jejeran konglomerat terkaya di kota itu.
Bram dan keluarganya disambut ramah oleh keluarga Wilyana. Mereka saling mengenal namun dalam lingkaran bisnis. Tuan Vans Wilyana sangat menghormati Bram.
Tanpa banyak basa-basi, Bram langsung menanyakan keberadaan Rivano dan meminta pada Vans agar anaknya bertanggung jawab atas kehamilan Selina. Vans terkejut, dia tidak menyangka bahwa putranya akan berbuat seperti itu.
Rey menunjukkan bukti kepada Vans, tentang apa yang dilakukan oleh Rivano dan Irfan kepada Selina. Vans sebenarnya cukup senang karena dia akan berbesan dengan keluarga Calabria, tapi bagaimana dengan Rivano anaknya yang nakal itu?
"Anak saya pasti akan bertanggung jawab, Selina dan Rivano akan menikah. Pernikahannya dalam waktu dekat, tapi saya mohon pernikahannya di rahasiakan." kata Vans bijaksana.
"Syukurlah, memang sudah seharusnya anak bapak bertanggungjawab." terlihat dikit kelegaan di wajah Bram.
Tapi Selina terlihat ragu, mendengar pernikahannya sendiri.
"Saya akan memanggil Rivano. Wulan, panggil Rivano!" seru Vans pada salah seorang pembantu rumah tangganya.
"Baik tuan." sahut wanita paruh baya itu.
Beberapa menit kemudian setelah Wulan naik ke lantai atas. Dia terlihat cemas dan resah. Vans bertanya ada apa dengan Wulan. Wulan menjelaskan bahwa Rivano tidak ada di kamarnya dan semua baju-bajunya juga tidak ada.
Dan akhirnya terjadi lagi keributan diantara Bram dan Vans. Vans mengatakan bahwa dia akan membawa Rivano pulang untuk bertanggungjawab.
"Kalau putra anda tidak kembali, saya akan menuntut putra anda dan juga putra pak Nugraha!" ancam Bram tidak main-main.
"Tenanglah pak Bram, saya akan menemukan anak saya...saya akan seret dia untuk bertanggungjawab!"
Tentu saja ini kesempatan bagus untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Calabria. Menjadi besannya akan sangat menguntungkan.
"Saya tunggu sampai besok! Datanglah ke rumah saya dan lamar putri saya!" tegas Bram.
Setelah pembicaraan itu Bram, Diana, Rey dan Selina kembali ke rumah. Walaupun dalam keadaan marah, Bram tetap menjelaskan dengan hati-hati tentang pernikahan Selina dan Rivano.
"Ya, nanti mereka akan datang untuk melamar Selina. Dan untuk mama, tolong persiapkan pernikahan Selina dan Rivano!" kata Bram pada Diana.
"Pa...aku gak mau menikah sama kak Rivano."
"Kamu bilang apa Sel?"
Semua orang menatap Selina dengan terkejut.
__ADS_1
"Aku...gak mau menikah dengan kak Rivano!"
...****...