Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 124. Selina pergi


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Melihat istrinya kesakitan dan mendengarnya meringis, membuat Zayn mengehentikan aktivitas menjamah tubuh sang istri. Padahal hasratnya sudah berada di ujung dan membutuhkan pelepasan. Bahkan saat ini kepalanya sudah pening karena menahan hasrat itu.


Plak!


Aini memukul tangan Zayn, dia masih menangis dan bagian intinya masih terasa sangat sakit akibat milik Zayn yang berusaha menerobosnya.


"Sakit tau! Sakit!" rengek Aini.


"Sakitnya bentar kok, nanti juga enggak, Ai." bujuk Zayn, lalu dia mengambil tisu di atas naga dan mengusap sedikit darah di bagian inti istrinya.


"Tapi perih..."


"Jadi kamu gak mau lanjutin? Ya udah, aku mau ke kamar mandi aja." Zayn kesal, ia langsung beranjak dari ranjangnya dengan kondisi telanjang.


Melihat suaminya melangkah pergi, Aini jadi merasa bersalah. Apakah ia sudah berlebihan kepada suaminya? Aini pun segera memeluk suaminya dari belakang sebelum semuanya terlambat dan suaminya semakin marah.


"Apa?"


"Ma-maafin aku Zayn, bukannya aku gak mau...tapi aku kaget karena sa-sakit." Aini terbata-bata saat ucapkan maaf dan penyesalannya kepada sang suami.


Bukan maksudnya untuk menolak ajakan berhubungan suami istri, namun saking terkejutnya dengan malam pertama itu membuatnya marah. Sungguh, Aini tidak bermaksud untuk seperti itu.


Kalau Aini sudah mode lembut begini,Zayn juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengalah padanya. Zayn melepaskan tangan Aini, dia pun membalikan tubuhnya hingga mereka berdua saling berhadapan.


"Maafin aku juga ya karena aku udah marah sama kamu. Habisnya aku gak bisa nahan, udah kepalang tanggung kan kalau kayak gini?" tatapan mata Zayn mengarah pada benda laras panjang yang masih mengacung tegak itu.


Aini meneguk salivanya begitu melihat benda laras panjang yang baru saja menciptakan rasa perih di bagian inti tubuhnya.


"Ya, yaudah kita teruskan lagi." Aini terbata-bata.


"Kalau kamu masih sakit, gak apa-apa... besok-besok lagi aja malam pertamanya." ucap Zayn tak mau memaksa istrinya, dia hendak mengambil celananya tapi Aini malah menarik tangan suaminya hingga tubuh mereka saling menempel dengan posisi Zayn diatas Aini.


Zayn meneguk salivanya kasar, dia tidak tahan melihat kecantikan dari wanita yang ia cintai. Zayn hendak beranjak dari tubuh Aini, tapi gadis itu menahan tubuhnya.


"Ai, aku akan kesulitan menahannya kalau kamu begini."


"Tidak usah ditahan, untuk apa ada seorang istri kalau---itu tidak disalurkan." ucap Aini malu-malu.


"Tapi kamu sakit, Ai...aku gak mau maksa kamu."


"Aku gak apa-apa, Zayn. Beneran, aku bisa nahan kok!"


"Maaf tapi aku gak percaya dan aku gak mau kamu kesakitan."


Aini mendengus kesal, lalu dia pun bergerak lebih dulu dan memagut bibir suaminya dengan sensual. Nalurinya membuat jari-jari lentik tangannya meraba-raba otot-otot dada suaminya.

__ADS_1


Zayn menikmati ciuman Aini, bahkan instingnya bangkit dan mulai bergerak liar. Tangannya tak mau diam saat ia dan sang istri masih berpagutan bibir.


Tak lama kemudian, Zayn mengurai ciumannya lebih dulu guna memberikan Aini ruang untuk bernafas. "Ai, kamu jangan goda aku dong!"


"Ya udah, aku goda cowok lain aja kalau gitu." celetuk Aini yang membuat Zayn membulatkan matanya. Aini pun bungkam.


"Nuraini Asiyah!" panggil Zayn.


"Aku bercanda aja hubby, hehe." ucap Aini seraya terkekeh melihat suaminya berwajah kesal.


Kemudian Zayn menghujani wajah Aini dengan ciuman lembut. "Ai, kamu yakin?"


"Iya, terusin aja Zayn...aku bisa kok!"


"Ya udah, kalau sakit bilang ya." ucap Zayn seraya mengelus rambut panjang Aini yang menjuntai di bantal yang kebetulan berwarna putih itu.


Aini menganggukkan kepalanya, ia sudah siap untuk menyatu dengan suaminya. Malam itu menjadi malam sakral untuk mereka berdua, rasa sakit kini berubah menjadi nikmat.


Mereka mengakhiri kegiatan mereka dengan mengungkapkan perasaan masing-masing.


"I love you Piktor."


"Love you too...hulk woman." bisik Zayn ditelinga Aini dengan mesra.


Keduanya pun berpelukan mesra diatas ranjang. Sampai waktu subuh tiba, mereka mandi bersama untuk membuat hubungan mereka berdua semakin erat. Meski terkadang ada perdebatan di antara mereka namun Zayn dan Aini saling mencintai dan peduli satu sama lain.


1 Minggu berlalu, Selina memberanikan dirinya untuk pergi ke sekolah dan mengambil hasil laporan belajarnya yang hanya sampai kelas 1 SMA.


Masa-masa sekolahnya sepertinya harus berakhir disini karena semua orang sudah tahu tentang masalah yang menimpanya. Ada yang mendukung Selina, tapi lebih banyak yang mencibirnya karena pernah hamil dan keguguran.


Begitulah netizen yang selalu maha benar diatas segalanya. Bahkan mereka sering menjadikan Selina bahan ghibah, gosip, menjadikan Selina sebagai contoh buruk siswi di sekolah itu. Selina berusaha tak peduli akan semuanya, dia tetap berdiri bahkan dengan penampilan yang berbeda dan membuatnya semakin dicibir oleh orang lain.


Di lorong sekolah, kini Selina sedang berjalan dengan penampilan barunya yang lebih tertutup. Menggunakan hijab dan terlihat teduh sekali wajahnya.


Beberapa siswa terlihat menatapnya dengan tatapan sinis dan jijik. Selina mencoba untuk bersabar dengan semua itu


"Ih...lihat tuh, gak tau malu banget ya dia."


"Iya, kalau gue...gue udah malu dan nggak akan nunjukin wajah gue di depan orang banyak."


"Iya ih...cewek murahan, obralan! Dipake sama dua orang."


Tiba-tiba saja seorang pria menepuk bahu Selina dan memegang tangannya. Dia adalah salah satu kakak kelas yang pernah menyatakan cinta pada Selina namun ditolaknya.


"Woy, gue bisa pake juga dong? Berapa tarif lo sejam hah?" Dirga tersenyum meremehkan gadis itu. Sebenarnya, Dirga sempat merasakan sakit hati ketika Selina menolaknya dan lebih memilih Rivano temannya.


"Lepasin saya kak Dirga!" seru Selina risih. Tapi pria bernama Dirga itu tidak mau melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Udah lah Lo, gak usah sok suci lagi! Padahal Lo udah murahan banget gini," cetus Dirga yang membuat Selina emosi sampai menampar pipi Dirga.


Plakkk!


"Jaga mulut kakak!" mata Selina mulai berkaca-kaca.


"Woah...gue ditampar cewek murahan, hahaha..." Dirga malah terkekeh sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Selina.


"Murahan! Huh! Cewek BISPAK!" teriakan para siswa-siswi disana mulai ramai meneriaki Selina.


Mereka tak tahu apa yang terjadi tapi seenaknya men-judge Selina. Bahkan mereka melempari Selina dengan sampai, telur busuk.


Selina berusaha untuk berlari, tapi mereka semua mengepungnya. Dirga juga menjadi provokator semua orang untuk menyerang Selina.


"Hentikan! Kumohon....jangan begini..."


Sekuat apapun Selina, dia tetaplah perempuan yang bisa menangis dan lemah. Selina menangkis serangan sampah dari semua orang di sekolah. Padahal dulu semua orang disekolah berburu ingin dekat dengannya tapi kini mereka semua membencinya. Bahkan ada beberapa teman dekat Selina di kelas yang juga ikut menyerangnya.


Namun tiba-tiba saja serangan itu berhenti dan membuat Selina bingung. Ia yang sedari tadi menangkupkan kedua tangan di wajahnya, kini membuka matanya dan melihat sosok pria melindunginya. Dan disampingnya juga ada dua sahabat Selina yang ternyata masih ada bersamanya.


Attar? Maya... Angel.


"STOP! Kalian semua!"


Sikap heroik Attar sungguh membuat Selina terharu. Dia mengatakan pada semua orang bahwa mereka tak berhak menghakimi Selina, lagipula Selina tidak merugikan mereka dan mereka juga tak tahu apa yang terjadi pada Selina.


"Gue bakal catat nama Lo satu persatu, gue bakal ajuin tuntutan buat kalian semua. Mau loh!"


Kalimat terakhir itu membuat semua orang bubar dari sana. Jangan remehkan Attar, walau dia agak urakan tapi keluarganya memiliki latar belakang yang kuat apalagi di bidang hukum. Nama famous ayahnya sebagai pengacara kondang tak diragukan lagi.


"Sel, Lo gak apa-apa?" tanya Maya, Angel dan Attar bersamaan.


"Hiks...hiks..."


Air mata gadis itu pun tumpah ruah, air mata yang tertahan sedari tadi. Ia pun tanpa sadar memeluk Attar. Attar tersenyum, seperti mendapatkan kesempatan. Ia mengelus punggung Selina.


"Woy! Jangan curi-curi kesempatan Lo!" Mata menarik tangan Selina dan Selina pun sadar apa yang baru saja ia lakukan.


"Astagfirullahaladzim!"


"Hehe...dikit doang." Attar terkekeh dan berusaha mencairkan suasana.


Attar, Maya dan Angel masih bersama dengan Selina sampai saat mereka mengambil rapor. Setelah mengambil rapor, Selina tidak terlihat lagi oleh Attar dan semua keluarganya karena ia pergi ke luar negeri.


...****...


Assalamualaikum..Readers, episode Selina aku cut sampai disini ☺️☺️ nanti bahasan lengkapnya 😁ada di novel baru, 1 episode lagi menuju episode terakhir ☺️

__ADS_1


Btw besok pengumuman GA jangan lupa...☺️☺️


__ADS_2