
...🍁🍁🍁...
"Ada apa lagi?"
"Tante...Zayn, kalau saya bercerai dari istri saya, apa kalian akan menerima saya?"
Amayra langsung melotot mendengar ucapan Raihan. "Raihan kamu benar-benar tidak tegas. Kamu sudah membuat janji didepan alm abahmu dan juga di hadapan Allah, semudah itu kamu bilang bercerai? Sungguh, kamu adalah pria yang tidak bertanggungjawab dan tidak bisa dipercaya, maaf--saya tidak bisa mempercayakan putri saya satu-satunya pada kamu. Dan lebih baik kamu urusi saja rumah tangga kamu," ucap Amayra tegas, wajahnya menampakkan kekecewaan pada Raihan.
Dalam hati Amayra merasa bersyukur karena Zahwa tidak jadi menikah dengan Raihan. Amayra jadi tau bahwa setiap masalah, musibah, pasti ada hikmahnya. Amayra dan Zayn pun meninggalkan Raihan yang terlihat galau disana.
*****
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke Bogor dari Jakarta, tepat pukul 9 malam rombongan Zahwa dan teman-temannya sampai di jalan yang mengarah ke gunung kencana, gunung tempat mereka akan mendaki dan berkemah.
Sesampainya disana, Zahwa dan teman-temannya mendaki ke atas gunung lalu mereka berhenti dan beristirahat sejenak di tempat kemah sementara sebelum mendaki puncak.
"Kita istirahat dulu disini ya guys buat malam ini," ucap Firman, salah satu senior yang memimpin perjalanan pendakian gunung itu. Dia yang paling ahli soal daki mendaki.
"Iya kak!" jawab semua orang serempak.
"Oke, aku akan bagikan tempat tidur kalian ya. Satu tenda isinya 4 orang," Firman tersenyum, dia pun mulai membagikan kelompok tidur.
Zainab, Zahwa, Vera dan Tiara satu kelompok tidur bahkan satu kelompok untuk pendakian gunung besok. Vera dan Tiara terlihat tidak senang dengan kehadiran Zahwa di dalam tenda itu. "Idih...satu kelompok sama orang kotor," oceh Tiara sambil melirik ke arah Zahwa yang sedang merapikan selimut.
"Awas nanti kebawa kotor...iuh..." kata Vera sambil menunjukkan ekspresi jijik.
"Haduh, berisik banget sih...banyak banget lalat yang ngomong. Lalatnya kayaknya harus di rukiyah." gumam Zahwa dengan suara keras, dia kesal karena kedua orang itu terus mengganggunya.
Ya Allah maafkan bibir hamba ini, ampuni dosa hamba ya Allah...karena mengucapkan kata-kata kasar. Dua orang ini benar-benar menguji hamba-Mu. Gadis itu meminta maaf seraya memohon ampun pada yang kuasa di dalam hatinya.
"Ish...apaan sih!" seru Tiara kesal.
"Udah dong! Ini udah malam, cepetan tidur jangan ribut terus...jangan lupa istighfar, baca doa juga...jangan julid sama orang." Zainab melotot pada dua orang wanita itu, hingga tak ada pembicaraan dari keduanya.
Kemudian mereka berdua pun tertidur, dengan balutan selimut tipis yang mereka bawa. Sementara Zahwa dan Zainab yang saling membelakangi ternyata belum tidur. Mereka tidak nyaman dengan keadaan, mungkin juga canggung. Zainab canggung dan merasa bersalah pada Zahwa karena telah menikah dengan calon suaminya dan Zahwa canggung karena dia merasa hubungannya dan Zainab akan merenggang karena rasa bersalah Zainab. Zahwa sama sekali tidak membenci Zainab, dia menerima semua takdir ini. Ya mungkin dia memang tidak jodoh dengan Raihan.
"Kak...apa kak Zainab belum tidur?" tanya Zahwa sambil menghela nafas. Dengan posisi yang masih membelakangi Zainab. Zainab membalikkan badannya, dia melihat punggung Zahwa.
Tidak ada jawaban dari Zainab, padahal matanya masih terbuka lebar. "Kak...kalau kakak masih bangun, Kakak tolong dengarkan aku. Kak, aku sama sekali gak marah sama kakak dan aku tidak membenci kakak karena kakak menikah dengan mas Raihan. Sama sekali tidak kak! Ya, mungkin pada awalnya aku sakit hati, kecewa, tapi sekarang aku baik-baik saja kak. Jadi kakak jangan merasa bersalah, jangan canggung sama aku, kita masih berteman kak. Aku doakan semoga rumah tangga kakak langgeng dan bahagia, mas Raihan adalah pria yang baik, Sholeh dan aku yakin kakak akan segera mencintainya. Kak, jangan merasa bersalah atau minta maaf lagi sama aku--karena aku udah ikhlas." tutur Zahwa dengan kebesaran hatinya.
Zainab tersenyum getir mendengar kata-kata Zahwa padanya, bulir air mata mengalir deras membasahi pipinya. Benarkah Zahwa tak marah dan menyalahkannya?
Kemudian Zahwa pun menutup matanya ,ketika ia hendak menutup mata, ada tangan melingkar memeluk tubuhnya. "Kak Zainab?"
"Kamu beneran tidak marah sama aku, kan?" tanya Zainab terisak.
"Kak...kakak nangis?" Zahwa merasakan ada sesuatu yang basah di punggungnya. Zahwa hendak membalikkan tubuhnya, tapi Zainab menahannya.
"Jangan...jangan lihat aku dan jawab saja, apa kamu benar-benar tidak marah padaku? Kamu tidak membenciku dan kita masih berteman?"
"Iya kak, sama sekali aku tidak membenci kakak kok...kakak tenang saja."
__ADS_1
Zainab mulai lega saat mendengarnya. "Terus, apa kita masih berteman?" Zainab mempererat pelukannya.
"Iya kak."
"Makasih Zahwa...makasih kamu baik banget sama aku."
"Udah kak, gak usah nangis lagi."
Akhirnya kedua gadis itu sudah mengungkapkan perasaan masing-masing dan kembali berteman.
****
Keesokan harinya, Zahwa dan semua teman-temannya melakukan perjalanan mendaki gunung dengan kelompok yang terpisah. Semuanya ada 20 orang dan dibagi menjadi 4 kelompok sama seperti kelompok tidur. Namun jumlah pria hanya ada 4,maka dari itu satu orang pria menjadi pemimpin dalam perjalanan satu kelompok.
Kelompok Zahwa, Zainab, Vera dan Tiara, dipimpin oleh kak Firman, kelompok Aini di pimpin oleh kak Riki.
"Zahwa, kamu gak bakal kenapa-napa kan?" tanya Aini.
"Memangnya aku bakal kenapa? Kamu doain aku yang enggak-enggak ya?" tanya Zahwa dengan bibir yang mengerucut.
"Ya enggak dong! Maksudku, apa kamu gak bakal kenapa-napa sekelompok sama duo julid itu? Siapa tau mereka mau nyelakain kamu?" lirik Aini pada Vera dan Tiara yang begitu membenci Zahwa.
"Ai, itu gak mungkin lah!" tandas Zahwa seraya tersenyum santai. "Mereka emang gak suka sama aku, tapi mereka bukan anak-anak." ucap Zahwa yakin.
"Ya, pokoknya kamu harus tegak harus tetap hati-hati...aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu."
"Tenang aja Ai, ada aku disini bakal jagain Zahwa." Zainab tersenyum, dia kembali mengakrabkan dirinya dengan kedua sahabat baiknya.
"Bener ya kak, harus jagain Zahwa! Dia tuh kadang suka teler kalau lihat pohon pisang, suka pengen manjat." canda Aini yang sontak saja membuat Zainab dan Zahwa tertawa.
Sungguh indah rasanya persahabatan mereka bertiga yang sempat memanas kini kembali membaik.
Kemudian Zahwa, Zainab, Aini kembali ke dalam tim mereka masing-masing dan memulai perjalanan mendaki gunung. Siapa yang sampai lebih dulu ke gunung dan menancapkan bendera kelompok, maka akan mendapatkan hadiah dari ketua penyelenggara kemah itu.
Kelompok Zahwa memakai syal berwarna merah, yang lain ada yang biru, kuning dan hijau.
Mereka pun memulai pendakian gunung, cukup melelahkan hingga beberapa kali mereka beristirahat dahulu. Zainab, Zahwa saling memperhatikan satu sama lain seperti saudara.
"Ayo! Ayo! Keburu malam, kita harus gerak cepat. Masih kuat kan?" tanya Firman pada ke empat anggota timnya.
"Kuat kak!" jawab keempat anggotanya kompak.
"Bismillah, ayo kita mulai lagi perjalanannya." ucap Firman seraya tersenyum.
Tak terasa hari sudah sore, mereka sudah hampir sampai ke puncak sampai Zahwa menyadari bahwa gelangnya hilang saat Zainab memberitahunya.
"Zahwa, gelang kamu mana?"
"Ge--lang? Astagfirullahaladzim!" pekik Zahwa terkejut menyadari bahwa gelang permata pemberian Rey tidak ada ditangannya padahal selalu ia pakai kecuali saat berwudhu.
Diam-diam Vera dan Tiara tersenyum sinis melihat Zahwa panik.
__ADS_1
"Bentar lagi kita sampai, nanti aja carinya, wa." kata Zainab pada Zahwa.
"Gelang itu...gelang itu..." gadis itu panik gelangnya hilang.
Gelang itu dari kak Rey, harganya juga mahal...duh gimana ini?
"Kak Zainab bisa minta tolong gak?" Panggil Vera pada Zainab.
Zainab meninggalkan Zahwa dan berjalan sedikit ke depan menghampiri Vera. Sementara itu Tiara menghampiri Zahwa yang masih berada di belakang dengan wajah bingung, mereka masih berjalan.
"Kamu kenapa Zahwa?" tanya Tiara.
"Eungh...gak apa-apa."
"Apa mungkin kamu kehilangan gelang?" tebak Tiara.
"Kok kamu bisa tau?" Zahwa terkejut karena tebakan Tiara benar.
"Tadi tuh aku sama Vera lihat gelang permata warna merah, tersangkut diatas pohon dekat tebing disana." tunjuk Tiara ke belakang, yang ada tebing curam disana.
"Benaran ada disana?" tanya Zahwa sedikit lega mendengar kata-kata Tiara yang tau dimana gelangnya berada.
"Iya, benaran...aku kira punya dedemit yang ada disini. Tau gitu tadi aku ambil aja deh,"
"Tiara...tolong ya kamu bilang sama kak Zainab sama kak Firman, suruh tunggu aku. Aku cari gelang dulu bentar!" seru Zahwa sambil melihat Zainab, Vera dan Firman yang tak jauh berjalan didepannya.
"Oke wa, santai aja." kata Tiara sambil tersenyum.
Tanpa bicara apa-apa lagi,Zahwa pun pergi ke belakang karena jaraknya tidak jauh dari rombongan. Dia mencari gelangnya ke tempat yang dituduhkan oleh Tiara.
"Dasar bego," Tiara, gadis berambut pendek itu tersenyum menyeringai melihat Zahwa pergi dari sana.
Ketika Zahwa pergi, belum ada yang menyadarinya. Mereka masih melanjutkan perjalanan tanpa Zahwa.
*****
Sementara itu Zahwa pergi ke tebing yang dimaksud, dia melihat gelangnya benar-benar ada disana. "Kenapa gelangnya bisa ada disana?" Zahwa terheran-heran melihat gelangnya tersangkut di ranting pohon dekat tebing. Dengan hati-hati Zahwa mengambil gelang itu dengan ranting pohon, tak lama kemudian Zahwa berhasil mendapatkan gelangnya. "Alhamdulillah... gelangnya--"
Tiba-tiba saja tanah yang menjadi pijakannya itu amblas. Tubuh Zahwa oleng, ia pun terjatuh dari sana. "Aaaahhhhh!! KAK REY!" teriak Zahwa sambil memegang gelang itu.
Brugh!!
Zainab, Firman, Tiara dan Vera terkejut mendengar suara teriakan Zahwa dibelakang mereka. Akhirnya Zainab dan Firman yang sedari tadi tak menyadari Zahwa tidak ada, mereka jadi menyadarinya.
"Firman, itu suara Zahwa!"
Vera dan Tiara panik, wajah mereka berubah menjadi pucat. Mereka saling melihat satu sama lain.
Keempat orang itu pun berjalan ke asal suara dengan panik. Mereka menemukan syal yang memiliki nama Zahwa tergantung di atas ranting pohon tebing. Dan tanah di atas tebing itu juga amblas.
"Zahwa!" teriak Zainab panik dan sangat ketakutan terjadi sesuatu pada Zahwa.
__ADS_1
...*****...