
...🍁🍁🍁...
Mereka berempat kini sudah berkumpul di ruang rawat Arifin. Zainab dan Raihan terlihat tegang, mereka saling melirik satu sama lain. Sungguh firasat mereka tidak baik.
"Raihan....cucu Abah." panggil ustadz Arifin dengan suara parau dan lemah. Pria tua itu jaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dengan berapa selang infus yang terpasang di tubuhnya. Terdengar juga suara mesin medis, untuk mengetahui detak jantungnya.
Raihan mendekat ke arah abahnya, dia memegang tangan abahnya. "Ya, Abah." sahut Raihan.
"Zainab...kamu juga kemari, nak." pinta ustadz Arifin, seraya menatap ke arah Zainab dengan sendu.
Zainab berjalan perlahan-lahan menuju pada ustad Arifin, disisi lain ada Burhan dan Iqbal juga disana. Setelah Zainab sudah berada didekat ustad Arifin, pria tua itu memegang tangan Zainab dan menyatukan tangan Zainab dengan tangan Raihan. Sontak saja hal itu membuat Zainab dan Raihan tersentak kaget.
"Zainab, tolong jaga cucu Abah... menikahlah dengan cucu Abah, jadilah makmumnya." pinta ustadz Arifin pada Zainab.
Keduanya sama-sama membulat, mereka sudah menduga bahwa pria tua itu akan memanfaatkan keadaannya untuk mendesak mereka menikah.
"Abah..." Raihan akan bicara pada abahnya, namun Zainab angkat bicara.
"Pak ustadz Arifin, saya mohon maaf...saya sudah katakan saya tidak bisa menerima perjodohan ini. Dan ini bukan zaman situ Nurbaya. " tolak Zainab untuk kedua kalinya, setelah dia menolak perjodohan pada pertemuan pertamanya dengan keluarga Raihan.
Raihan menatap Zainab, dia memuji gadis itu di dalam hatinya. Zainab adalah gadis yang tegas dan tidak mudah goyah. Maka dia pun harus seperti itu, agar bisa mempertahankan hubungannya dengan Zahwa.
"Abah, jawaban Raihan juga tetap sama. Raihan menolak," ucap Raihan sama-sama menolak permintaan Arifin.
"Zainab! Kamu berani menolak niat baik sahabat Abi? Kami melakukan semua ini demi kebaikan kalian juga," kali ini ustad Burhan yang bicara.
"Maaf Abi, cinta tidak bisa dipaksa dan Zainab sudah punya calon sendiri."
Orang itu adalah mas Reyndra.
"Raihan juga sudah punya calon sendiri," ucap Raihan dengan penuh kesungguhan hati.
Orang itu adalah Zahwa.
Tiba-tiba saja Arifin merasakan dadanya terasa sakit lagi, tubuhnya mengejang dan syok mendengar jawaban penolakan dari Raihan dan Zainab. "A-abah!!" teriak Raihan dan Iqbal panik melihat kondisi Arifin yang seperti itu.
"Abi!"
"Arifin!"
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi panik seketika, kemudian Raihan berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter guna memeriksa kondisi abahnya.
Akhirnya dokter memeriksa kondisi Arifin, sementara semua orang menunggu di luar dengan cemas. Selama itu, Salimah menyalahkan Raihan karena kakaknya yang menolak perjodohan dengan Zainab, membuat ustad Arifin semakin parah keadaannya.
"Kakak sih, kenapa kakak menolak permintaan Abah untuk menikah dengan kak Zainab? Coba kalau kakak menerimanya, pasti keadaan Abah tidak akan seperti ini." celetuk Salimah dengan ketus pada kakak yang satu ayah namun beda ibu.
"Salimah, cukup ya! Kamu jangan terus menyudutkan kakak seperti ini, bukan kakak saja yang menolak perjodohan dengan Zainab. Zainab juga menolaknya, karena dia sudah memiliki pilihan hatinya sendiri, begitu juga denganku." Raihan berusaha menekan emosinya, dalam hati dia juga sangat mencemaskan kondisi abahnya.
__ADS_1
"Iya, Raihan benar... aku juga menolak perjodohan ini, karena aku sudah memiliki seseorang yang aku sukai dan orang itu yang aku inginkan menjadi imamku suatu saat nanti." ucap Zainab dengan penuh keteguhan hati.
Mendengar ucapan putri bungsunya, Burhan terlihat tidak senang. Dia tidak tahu seperti apa pria yang diinginkan putrinya untuk menjadi imamnya, dan dia juga tidak mau tahu hal itu. Sebab, bagi Burhan, Raihanlah pria yang cocok untuk menjadi menantunya sekaligus menjadi imam untuk Zainab.
Memiliki pendidikan tinggi di Mesir, ilmu agama yang luas. Tentu saja dia cerdas, dan diberkati dengan ketampanan bak artis-artis Turki. Sejak dulu, Burhan memang sudah sangat menginginkan Raihan menjadi menantunya.
"Zainab, kamu jangan banyak bicara! Jangan jadi anak durhaka kamu!" seru Burhan seraya menata Putri bungsunya dengan atensi yang tajam.
"Abi, maafkan Zainab...tapi perasaan tidak bisa dipaksakan, Abi. Bukannya Zainab melawan abi atau durhaka kepada Abi, tapi tolong bi...Zainab punya pilihan sendiri." Zainab mengatakannya dengan tegas tanpa ragu.
Sementara disisi lain, ummi Annisa dan suaminya Iqbal hanya diam saja, mendengarkan perdebatan di sana. Mereka belum bisa angkat bicara sebelum dokter mengatakan tentang kondisi ustad Arifin.
CEKLET!
Pintu ruang rawat terbuka, seorang pria berjas putih keluar dari ruangan itu. Semua orang didepan ruangan menatapnya dengan cemas, penuh pertanyaan. Hingga akhirnya Iqbal bicara lebih dulu menanyakan kondisi abahnya.
"Dok, bagaimana kondisi Abah saya?" tanya Iqbal cemas.
Dokter itu menghela nafas panjang, dia pun menjelaskan bahwa kondisi ustadz Arifin semakin kritis. Mungkin dan bisa jadi hanya tinggal menunggu waktu saja, alias saat-saat terakhirnya. Ya, itu hanya diagnosis dokter saja. Karena yang menentukan hidup dan mati seseorang hanyalah Allah SWT. Dokter menyarankan agar semua orang bisa menjaga perasaan ustad Arifin saat ini, dan siapa tau kondisinya akan menjadi lebih baik. Wallahu alam.
Sekali lagi ustad Arifin mengatakan dia ingin bertemu dengan Raihan dan Zainab, Iqbal dan Burhan, mereka setuju lalu mereka kembali masuk ke dalam ruang rawat ustadz Arifin.
Pria itu terkulai lemah di atas pembaringan rumah sakit, dia menatap sendu pada Zainab dan Raihan dengan bibir pucatnya. Zainab dan Raihan menjadi tidak tega, hati mereka terenyuh melihat ustad Arifin.
"Nak....Abah mohon, Abah bisa tenang kalau kamu menikah dengan putri sahabat Abah, Raihan....tolong..." pinta ustadz Arifin, sambil menangis dan menggenggam tangan cucunya.
Zainab juga merasakan iba dan dilema, kisah cintanya bahkan belum di mulai dengan Rey. Tapi sekarang, dia dihadapkan pada pilihan yang sulit.
Raihan mengambil nafas dalam-dalam, kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat hatinya berat. "Baiklah Abah, aku akan menikahi Zainab."
Iqbal dan Burhan tersentak kaget dengan apa yang didengar oleh mereka, kemudian keduanya saling melempar senyuman. Tapi lain halnya dengan Zainab. Dia terlihat tidak senang sama sekali akan hal itu.
Apa maksud kamu Raihan? Bukankah kita sudah sepakat untuk menolak perjodohan ini...kenapa kamu ingkar?!. Zainab memendam emosinya dalam hati. Dan disisi lain dia memikirkan bagaimana perasaan Zahwa nantinya bila dia sampai mengetahui Raihan akan menikahinya. Bisa patah hati lagi dia, untuk kesekian kalinya.
Maafkan aku Zahwa, tapi aku tidak bisa durhaka kepada orang tua dan membiarkan kondisi Abah semakin buruk.
Mata Raihan berembun, dia menahan emosi batinnya saat mengatakan hal yang bisa membuat abahnya itu kembali tersenyum di wajah pucatnya. "Benarkah itu Raihan? Kamu mau menikah dengan Zainab?" tanyanya sekali lagi.
"Iya Abah, Raihan akan menikahi Zainab." katanya sambil tersenyum getir.
Tidak apa-apa aku menikahi Zainab, Zahwa bisa menjadi yang kedua tapi dia tetap pertama di hatiku.
*****
Keesokan harinya, rumah Zahwa.
Gadis itu tampak sedang bersih-bersih di hari Minggu, dia tidak sabar menunggu kedatangan Raihan yang katanya akan melamarnya kembali.
__ADS_1
"Woah...ada yang lagi happy, nih?" goda Zayn pada saudara kembarnya yang sedang mengepel sambil melantunkan shalawat.
Tumben si Zahwa ceria lagi, biasanya dia murung sejak pernikahannya batal. Zayn melihat perbedaan pada diri saudara kembarnya.
"Eh, kak Zayn udah bangun? Selamat pagi kak!" sapanya ceria seperti biasa.
"Ya udah dong, ini udah jam 6. Emangnya kamu, kadang suka tidur lagi kalau sudah subuh!" katanya sambil tersenyum pada Zahwa.
"Hehe iya kak. Oh ya kak, kakak mau lari pagi ya?" tanya Zahwa sambil memperhatikan baju training yang dipakai oleh kakaknya.
"Iya, mau lari-lari pagi di sekitar komplek." jawab Zayn. "Kamu mau ikut?" sambungnya bertanya.
"Nggak ah, aku di rumah aja. Lagi mager."
"Serius nih mager?"
Zahwa mengangguk. "Iya kak, aku lagi mager."
"Hem, ya udah deh." sahut Zayn. "Lanjutin aja magernya, mumpung lagi hari Minggu." sambungnya lagi seraya tersenyum.
"Oh ya, kakak jalan sama siapa?"
"Aku jalan sama temen-temen kampusku, cowok kok."
"Kali-kali jalan sama cewek dong," goda Zahwa pada kakaknya.
Ya, selama ini memang Zayn tidak pernah terlihat bersama seorang wanita ataupun menaruh hati pada wanita. Padahal banyak yang wanita yang menyukainya secara diam-diam atau terang-terangan, tapi tampaknya di belum memikirkan masalah itu.
"Ah udah ah! Aku jalan dulu, ngepel yang bersih ya adikku tersayang." Zayn menepuk kepala Zahwa dengan lembut.
"Ih...kakak."
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam."
Setelah kakaknya Zayn pamit untuk lari pagi, Amayra juga pamit akan pergi ke acara liwetan disekolah. Setelah ia dapat izin dari kedua anaknya. Amayra hendak berangkat ke sekolah pada pukul 8 pagi karena dia harus siap-siap untuk membantu memasak di sekolah.
"Yah, kamu jadi sendiri di rumah deh."
"Gak apa-apa Ma, lagian aku juga mau mager mageran, mau rebahan seharian." kata Zahwa tidak apa-apa.
"Rebahan tidak bagus buat tubuh kamu Nemo." ucap seorang pria yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Amayra.
"Kakak!"
...****...
__ADS_1