
Selina menatap tajam pada kakaknya. Rey tau tatapan itu, akhirnya dia pun memilih menyudahi pembicaraan itu dan pergi ke kamar dengan hati gelisah.
"Kak! Kakak kenapa kabur sih?" Selina masih penasaran dengan gerak-gerik kakaknya itu
Brak!
Pintu kamar Rey tertutup rapat, Selina berdiri di depan kamarnya.
"Cukup Zayn aja yang tau, yang lain jangan dulu." gumamnya begitu sampai di kamar, ia menutup pintu kamar itu rapat-rapat dan menguncinya.
Dia melihat foto Zahwa di ponselnya, ia pun tersenyum. "Bismillah, aku akan menyatakan cintaku."
...*****...
Rumah Zahwa.
Dua hari kemudian, pagi itu Zahwa sudah memulai rutinitasnya seperti biasa yaitu pergi magang ke rumah sakit. Dia sudah memakai pakaian formalnya, hanya tinggal beberapa bulan lagi Zahwa lulus dari fakultas kedokteran bagian dokter spesialis gigi. Setelah menyelesaikan magang dan skripsinya, ia akan bekerja di rumah sakit tempatnya magang juga karena dia sudah ditawari bekerja disana. Lalu Zayn? Dia akan segera menjadi Presdir perusahaan Calabria bagian cabang setelah dia lulus karena Rey dan Bram ingin Zayn menjadi pengusaha.
Semuanya terlihat baik-baik saja selama sarapan bersama, kecuali suasana dan mata Zahwa yang sembab. Sudah bisa ditebak kenapa Zahwa begitu.
"Hari ini hari terakhir kamu magang kan? Oh ya katanya ada kumpulan bersama teman-teman kamu setelah ini." Amayra tersenyum, berusaha mencairkan suasana disana yang sedari tadi hening. Pasalnya, Zahwa yang biasa bicara lebih dulu. Kali ini dia diam saja.
"Iya ma, nanti ada acara kemah sama teman-teman kampus. Gak apa-apa kan ma, kalau aku pergi?"
"Silahkan sayang, kamu perlu refreshing!"
Ya bagus deh kalau Zahwa pergi keluar, biar dia bisa refreshing.
"Iya, kamu tuh harus keluar jangan rebahan terus di rumah." celetuk Zayn menambahkan ucapan mamanya.
"Iya dong, aku udah lama gak jalan-jalan...aku juga mau hiking hiking sama teman-teman, gak lama kok cuma 5 harian disana."
"Oke, tapi kamu jangan lupa shalat dan jaga diri."
Amayra selalu mengingatkan putrinya untuk selalu menjalankan ibadah kepada Allah, sang pencipta mahluk, dunia dan isinya ini, dimana pun dia berada. Dia bukan membebaskan putrinya dengan memberikan izin untuk pergi berkemah, dia hanya ingin putrinya melupakan sakit hati dengan refreshing dan Amayra yakin Zahwa bisa menjaga diri, disana banyak teman wanitanya. Meski ada beberapa teman pria disana. Selama ini Zahwa bisa menjaga dirinya dengan baik dan Amayra yakin itu. Anaknya ini tidak lemah sama seperti dirinya dulu saat di perkosa oleh Bram. Tapi itu masa lalu, janganlah diungkit lagi.
"Insya Allah ma. Makasih ya Ma, udah izinin Zahwa. Sore ini Zahwa berangkat!"
Pagi itu usai sarapan, Zayn mengantar Zahwa ke rumah sakit dengan mobil. Sementara Amayra naik motor matic seperti biasanya karena dia menang suka naik motor, lagian jarak sekolahnya juga tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya.
"Apa aku perlu ikut kemah?"
"Hah? Ngapain kak? Gak usah deh!"
__ADS_1
"Ya aku mau jagain kamu,"
"Jangan protektif banget sama adikmu ini kak, aku udah gede."
"Hem...tapi..."
"Gak akan ada ada kejadian seperti dulu," ucap Zahwa pada kakaknya, tiba-tiba mengingatkan Zayn tentang masa kecil mereka. Dulu Zahwa pernah diculik orang gila, hingga Zayn merasa bersalah karena dia dan Zahwa saat itu sedang berseteru.
Zayn sangat ketakutan dan merasa bersalah karena ucapannya pada Zahwa, dia ingin Zahwa menghilang dan tepat saat itu Zahwa diculik. Zahwa berhasil selamat karena ditolong Rey.
"Oke deh, kalau ada apa-apa kamu telpon aku." Zayn melihat jalanan didepannya.
"Kakak gimana sih, di gunung kan jarang ada sinyal."
"Pokoknya kamu harus hubungi aku atau kak Reyndra kalau ada apa-apa. Gak mau tau gimana caranya!" Zayn tidak mau tahu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ish...kakak."
*****
Mereka pun sampai didekat tempat parkir rumah sakit, saat keluar dari mobil. Zahwa melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak. Ia melihat sepasang pengantin baru keluar dari mobil bersamaan dengannya.
Atensi mereka sempat bertemu, hingga Zahwa pun memutuskan untuk pura-pura tidak melihat mereka berdua karena menyapa mantan calon suami dan sahabatnya, hanya membuat hatinya sakit. Sungguh, hatinya masih terasa sakit!
Tangan Zahwa meremass tali tas selempangnya, langkahnya terhenti disana.
Tenanglah Zahwa, bersikap biasa saja!. Batinnya.
Gadis berhijab putih itu membalikkan badannya, dia berusaha mempertahankan raut wajahnya sebiasa mungkin. Bibirnya menyunggingkan senyum walau sulit.
"Assalamualaikum kak Zainab, pak Raihan."
Raihan tersentak kaget mendengar Zahwa memanggilnya dengan lain. Dia menatap wanita itu dengan tatapan mata masih dipenuhi rasa sayang.
Ya Allah... rasanya hatiku sesak melihat Zahwa.
"Waalaikumsalam Zahwa," jawab pasangan suami istri itu bersamaan.
Zainab mengambil nafas kalau berkata pada sahabatnya. "Zahwa, kita bicara sebentar ya."
"Maaf kak Zainab, jadwal magangku sebentar lagi." ucap Zahwa sambil melihat jam tangannya.
"Sebentar aja Zahwa," pinta Raihan lembut.
__ADS_1
"Apa yang mau kak Zainab dan pak Raihan katakan?" Berat rasanya hati Zahwa mengatakan ini.
"Zahwa...aku minta maaf karena aku sudah menyakiti hatimu. Aku dan Zainab, kami terpaksa menikah karena keadaan saat itu, alm abah sedang kritis." jelas Raihan.
"Lantas apa hubungannya denganku? Kenapa bapak menjelaskan ini sama aku? Kalian yang nikah, apa urusannya sama aku?" Suara Zahwa jadi meninggi, entah kenapa dia sulit menahan dirinya saat ini.
Kamu tidak dapat membayangkan mas, gimana perasaanku saat ini melihat kamu bersama wanita lain dan itu adalah sahabatku. Kamu memang pria baik, tapi kamu menyakitiku lagi dan lagi.
"Zahwa...ini semua masih ada hubungannya sama kamu. Raihan tidak mencintaiku dan dia mencintai kamu," ucap Zainab tegas.
"Istighfar kak! Kalian sudah sudah jadi suami istri, ada rasa cinta atau tidak...kalian tidak pantas bicara seperti ini padaku. Dan pak Raihan, seharusnya bapak menghentikan istri bapak bicara seperti ini.Tidak pantas seorang istri bicara tentang suaminya yang masih mencintai wanita lain." tegasnya dengan mata melotot pada Raihan dan Zainab.
"Tapi itu memang benar Zahwa, aku masih mencintaimu." ucap Raihan.
"Mas Raihan!" bentak Zahwa emosi. Tanpa sadar Zahwa mengucapkan lagi kata Mas.
"Kalau kamu gak mau menjadi istri kedua Raihan, kamu tunggulah sampai kami bercerai. Karena suatu saat nanti kamu akan bercerai--" Zainab terisak, dia merasa bersalah pada Zahwa karena sudah menikahi calon suaminya.
"Astagfirullah! Kak Zainab, mas Raihan, tolong jangan sangkut pautkan urusan kalian denganku lagi. Aku maafkan kalian, tapi aku tidak mau terlibat dalam urusan kalian lagi. Soal cinta, kalian tenang saja...rasa ini lama kelamaan akan hilang. Jika kalian bicara seperti ini untuk menjaga perasaanmu, lebih baik hentikan....aku sudah sadar bahwa aku dan mas Raihan memang bukan jodoh. Dan urusan kita udah selesai, mas Raihan!"
Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Zahwa bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Meninggalkan Zainab dan Raihan yang masih memanggil namanya. Mereka tidak paham bahwa kehadiran mereka saja sudah menjadi luka untuk Zahwa, menghilangkan perasaan cinta yang selama ini dia rasakan pada Raihan, itu tidaklah mudah, ditambah lagi mereka mengatakan tentang perceraian, istri kedua, yang ada Zahwa malah tambah sakit hati.
Paginya menjadi kacau karena bertemu dengan Zainab dan Raihan. Saat suasana hatinya masih diobrak-abrik oleh Raihan dan Zainab, seseorang menelpon Zahwa siang itu. Membuat moodnya agak membaik.
"Kak Rey!" Zahwa langsung mengangkat telpon dari kakaknya dengan semangat. "Halo assalamualaikum kak!"
[Waalaikumsalam, semangat banget jawabnya]
"Ya udah aku ulang deh, yang lesu aja..."
[Jielahh...gitu aja marah. Mo, siang ini kamu ada acara gak? Kata Tante Mayra kamu mau kemah ya?]
"Iya kak. Siang ini aku dipulangkan, kan mau pergi kemah sama teman-teman."
[Bagus, aku jemput kamu ya. Kita beli perlengkapan kemahnya]
"Oke kak, udah shalat Zuhur aja ya, biar santai...tapi kakak ada waktu? Bukannya kakak sibuk?"
[Untuk kamu aku selalu ada waktu, kalaupun lagi sibuk, gak akan sampai gak ada waktu buat kamu, mo..]
Zahwa terdiam mendengarkan ucapan Rey yang terasa begitu ambigu. Dia mengerutkan kening dengan bingung.
...****...
__ADS_1