Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 74. Aku menunggumu kak


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Usai sarapan bersama, Zahwa memberikan kotak bekal makan yang dibuatnya untuk Rey. Sebuah cemilan sederhana buatannya, Rey sangat senang dan menerima kotak itu dengan senyuman lebar.


"Makasih Nemo," ucap Rey seraya mengelus penuh kasih sayang kepala Zahwa yang berada di balik hijab putihnya. Jangan lupakan bahwa sekarang Zahwa sudah bekerja di rumah sakit sebagai dokter gigi.


"Hehe iya kak, kakak juga lupa makan ya. Maaf aku tidak menyiapkan makan siang, karena aku takut kalau makanannya nanti jadi basi." Zahwa terkekeh seraya tersenyum sampai tak sengaja memperlihatkan gigi gingsulnya yang menawan.


"Manis banget sih Nemo ku ini... tunggu suamimu pulang ya." canda Rey sambil mengusap pelan wajah Zahwa, dia selalu menatap gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Ets...kita belum nikah kakak!" seru Zahwa seraya melotot pada kakaknya itu.


"Tapi kan mau nikah?" Rey tersenyum gemas melihat Zahwa yang melotot padanya. "Ma, pa, kayaknya Rey gak jadi pergi deh." ucapnya seraya menoleh pada papa dan mamanya yang akan berangkat bekerja.


"Loh? Kenapa Rey?" tanya Diana terheran-heran.


"Aku jadi gak mau pergi kalau lihat Zahwa yang imut kayak gini, kayaknya aku harus bawa dia ke Bali...sekalian honeymoon."


Kata-kata Rey sotak saja membuat semua keluarganya tertawa. Apalagi Selina, kalau urusan tertawa dia memang selalu menjadi yang pertama. "Hahaha...kak Rey ada-ada aja."


"Sabar 3 Minggu lagi ya," celetuk Nilam sambil tersenyum.


"Kak Rey cepet pulang ya, kalau enggak...nanti kak Zahwa aku kenalin sama temenku!"


"Oh jadi gitu ya... Jadi kamu mau mengkhianati Kakakmu sendiri? Awas aja, gak ada bonus, gak ada jalan-jalan ataupun yang jajan tambahan!" ancam Rey pada adiknya sambil tersenyum menyeringai.


"Haha...kakak aku cuma bercanda,jangan diambil hati kak! Kakak harus tetap kasih aku uang tambahan demi menjamin kakak ipar disini."


Semua keluarga tertawa melihat tingkat adik kakak itu. Apalagi sikap Rey yang begitu sweet kepada Zahwa , semakin membuat semua orang yakin bahwa Rey mampu membahagiakan Zahwa dan mereka akan membangun rumah tangga yang langgeng.

__ADS_1


Zahwa dan Bram mengantar Rey ke bandara sebelum mereka berdua akan berangkat bekerja. Sedangkan Diana memakai mobil sendiri dan pergi bersama Selina ke sekolahnya.


Sesampainya di bandara dan pesawat akan lepas landas. Rey berpamitan pada Zahwa dan papanya. "Pa, Rey berangkat dulu ya."


"Iya Rey, hati-hati kamu disana ya dan kabarin papa kalau sudah sampai." sahut Bram sambil memeluk putranya sebentar lalu melerainya.


Kini tatapan Rey beralih pada gadis cantik disamping papanya, gadis berpakaian serba putih dan tampak menundukkan kepalanya.


"Nemo..." lirih Rey sambil memegang dagu Zahwa dan membuat kedua tatapan mereka bertemu.


"Iya kak?"


"Jangan lupa doakan kakak di setiap shalat kamu ya."


"Insya Allah...pasti kak," sahut gadis itu lalu tersenyum kecut.


"Kakak akan pulang secepatnya setelah semuanya selesai. Kamu jaga hati, jaga mata, jangan terpesona sama pria lain."


"Kata siapa? Aku percaya diri kok, aku ganteng dan aku yang terbaik buat kamu." sanggah Rey dengan kening berkerut. Sementara Bram hanya tersenyum mendengarkan obrolan pasangan kekasih itu.


Dia juga melihat sisi lain dari Rey yang selalu bersikap cuek, tapi dihadapan Zahwa dia sangat berbeda.


"Makanya jangan ngomong kayak gitu, Kakak adalah yang terbaik buat aku dan pelabuhan terakhir hatiku. Jadi kakak--"


Cup!


Bram langsung menarik tangan Zahwa dan menjadi panik, manakala Rey mencium kening Zahwa. "Rey! Kalian belum halal....ya Allah."


"Hehe maaf pa, Rey lupa ini ditempat umum."

__ADS_1


"Jadi kalau ditempat sepi, kamu mau melakukannya? Astagfirullahaladzim Rey...Rey..."


Zahwa terdiam dan wajahnya tersipu malu mendapatkan kecupan dari Rey. "Jangan mempermainkan anak polos ini, cepat kamu pergi Rey! Haduh...anak ini..."Bram langsung menghadang Rey dan Zahwa untuk saling melihat.


Nanti aku dimarahin Amayra kalau anaknya di apa-apain sama Rey.


"Haha...iya pa, Zahwa...aku berangkat dulu ya Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," balas Zahwa dan Bram bersamaan sambil tersenyum.


"Aku akan menunggu kakak!" seru Zahwa sambil melambaikan tangannya pada Rey. Rey balas melambaikan tangannya sambil tersenyum dan tetap berjalan ke arah pos pemeriksaan bandara.


Setelah melihat pesawat Rey lepas landas, barulah Zahwa dan Bram pergi dari sana. Mereka pergi bekerja, yang satu ke kantor dan yang satunya lagi ke rumah sakit.


****


Sementara itu di depan rumah sakit, terlihat Zainab dan Raihan baru saja keluar dari mobil. Zainab juga bekerja satu rumah sakit dengan Zahwa dan Diana, dia bekerja sebagai dokter kandungan.


"Zainab, mumpung aku masih ada waktu sebelum ke kampus. Aku pengen lihat keadaan anak kita, aku ingin lihat dia."


"Ehm...mas, aku kan udah bilang kalau anak kita baik-baik saja! Nanti ya kalau sudah beberapa Minggu baru kita lihat bersama," alibi Zainab sambil tersenyum kecut.


Ya Allah, aku harus beralasan apa lagi. Sudah beberapa hari aku beralasan begini.


"Tapi Zainab, aku penasaran--"


Ucapan Raihan terhenti saat melihat Diana baru turun dari mobilnya. "Itu ada dokter Diana, kita periksakan sekalian sama dokter Diana." ucap Raihan penuh harap.


Sementara itu Zainab masih terlihat tegang, dia tidak tahu apa lagi yang akan terjadi padanya. Harus bagaimana sekarang?

__ADS_1


...****...


__ADS_2