Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 111. Cerita malaikat tak bersayap


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Semua orang menatap Selina dengan terkejut begitu gadis itu mengatakan bahwa dia tidak mau menikah dengan Rivano.


"Aku...gak mau menikah dengan kak Rivano!" ulangnya sekali lagi dengan tangan gemetar.


Bram yang tadinya akan pergi ke kamar, kembali membalikkan badannya dan berjalan ke arah Selina yang masih duduk di atas sofa bersama dengan Amayra dan Zahwa.


"Apa maksud kamu Selina? Kamu tidak mau menikah?! Terus apa mau kamu, HAH!" Bram melotot pada putrinya, bahkan membentak. Selama ini Bram selalu memanjakan putrinya, apalagi kelahiran Selina didapatkan dengan susah payah karena saat itu Bram kesulitan mendapatkan seorang anak. Pada akhirnya dia dan Diana mendapatkan Selina, salah satu anugerah tak terduga dari Allah.


Maka dari itu Bram dan Diana selalu memanjakan Selina dan mengabulkan semua keinginan gadis itu. Mereka sangat menyayangi anak dari, sampai-sampai mereka tidak sadar bahwa memanjakan Selina adalah kesalahan terbesar mereka sebagai orang tua.


Tidak pernah sekalipun Bram membentak Selina, kali ini dia sudah benar-benar emosi dengan kelakuan putrinya.


"A-aku gak mau menikah dengan orang jahat itu...pa...aku gak mau...dia bukan orang baik."


"Heh! Terus kalau dia bukan orang baik, apa kamu orang baik? Kamu bahkan sudah hamil diluar nikah! Dimana harga dirimu sebagai seorang wanita, Sel? Papa dan mama kurang apa sama kamu? Kami selalu memberikan yang terbaik untuk kamu Selina! Lalu apa yang kamu berikan pada kami? Kamu langgar semua aturan yang Papa Mama dan Kakak kamu buat! Kamu lemparkan kotoran ke wajah kami...mau atau tidak mau, kamu tidak bisa memilih untuk menikah dengan siapapun. Rivano! Dengan dialah kamu anak menikah! TITIK!"


Suara Bram meninggi, hingga semua orang di sana tidak berani menyela ucapannya. Ketika pria itu sudah marah, tidak ada yang bisa membantah. Namun kemarahannya kali ini bercampur dengan kecewa dan rasa sedih.


"Sudahlah, lebih baik semuanya tidur sekarang! Kita bicara besok pagi." ucap Bram tanpa menoleh ke arah Selina dan langsung pergi begitu saja. Diana juga mengikuti suaminya naik ke lantai atas, wanita itu terlihat galau sama seperti suaminya.


Terpukul! Pasti!


"Papa...Mama..." lirih Selina sedih melihat kedua orang tuanya mengabaikan dirinya. Ya, dia sadar diri bahwa semua ini memang salahnya yang sudah membuat kecewa semua orang. Beruntung Nilam juga masih bisa menahan emosinya, hingga darah tinggi dan penyakit jantungnya tidak kumat lagi.


Amayra pun berusaha menenangkan Selina, dia paham benar bagaimana rasanya di posisi Selina. Dia pernah merasakan bagaimana hancurnya perasaan Selina saat ini. Disisi lain, Zahwa dan Zayn, menenangkan Nilam dan membawa neneknya ke dalam kamar setelah memaksa Nilam untuk makan malam dan minum obat.


****


🌹Kamar Selina🌹


Amayra berupaya membujuk Selina untuk mau makan karena wanita hamil itu belum makan malam. "Sayang, ayo makan dulu...kamu punya bayi yang harus kamu kasih makan juga."


Lagi-lagi Selina menggelengkan kepalanya dengan wajah yang lemas dan lesu. Bagaimana dia bisa nafsu makan dalam keadaan seperti ini? Semua keluarga mungkin sudah membencinya.


"Sayang, Tante tahu... bagaimana perasaan kamu saat ini. Tante tau kamu sedih, tapi...anak kamu butuh asupan tenaga. Kamu harus makan nak. Kasihan dia di dalam sana, dia masih kecil dan--"


"Aku gak mau tante! Gara-gara anak ini masa depan aku jadi hancur, mama, papa, sama Oma jadi benci sama aku! Biarin aja dia mati, tante...biarin dia mati!" Selina berbaring diatas ranjangnya sambil memunggungi Amayra.


"Astaghfirullah Sel... nggak boleh bicara seperti itu!"

__ADS_1


"Hiks...hiks...Tante diam aja deh! Tante gak ngerti apa-apa! Tante gak paham!" seru Selina terisak.


Gadis itu menangis, matanya bahkan sudah sembab karena banyak menangis. Dengan lembut Amayra membelai tubuh Selina.


Ya Allah, apa harus aku menceritakan kisahku dan kak Bram di masa lalu? Agar bisa dijadikan pelajaran oleh Selina. Bismillah ya Allah, aku akan menceritakan kisah ini tapi dengan perumpamaan lain.


Amayra hendak menceritakan tentang dirinya dan Bram dulu. Karena semua keluarga Calabria kelas sepakat untuk menutupi tentang Bram dan Amayra di masa lalu pada anak-anak mereka. Jadi, hanya para orang tua saja yang tahu tentang hal ini. Bahkan si kembar dan Rey pun tidak tahu. Mereka memutuskan untuk mengubur dalam masa lalu dan menjalani masa depan, meski masa lalu itu tidak terhapus dari hati mereka. Biarlah semuanya menjadi kisah dan pengalaman hidup.


"Tante paham bagaimana perasaan kamu Selina...karena ada teman Tante yang mengalami kejadian serupa dengan apa yang kamu alami saat ini. Apa kamu mau mendengarkan cerita tante?" tanya Amayra pada Selina dengan tangan yang mengusap rambut sebahu Selina. Gadis itu membalikan tubuhnya dan menoleh ke arah Amayra.


"Cerita aja Tante."


Amayra tersenyum, lalu dia mulai menceritakan tentang kisahnya dulu. "Baiklah...teman Tante ini, dulu dia kelas 3 SMA dan mau lulus sekolah, dia berhijab. Namun kejadian naas menimpanya saat dia sedang berlibur bersama teman-temannya ke sebuah villa miliki temannya, lalu suatu malam....ada seorang pria mabuk yang datang ketika wanita itu akan melaksanakan shalat tahajud. Wanita itu tidak tahu siapa pria yang masuk ke dalam villa tersebut dan setelah si wanita bertemu pria mabuk. Pria mabuk itu memperkosanya."


"Lalu bagaimana tante? Apa dia juga hamil seperti aku?"


"Ya, dia hamil setelah malam itu. Dan dia sempat berpikir untuk membunuh bayinya, tapi...dia dari bahwa dia sudah berbuat dosa dan tidak mau menambah dosa itu lagi dengan membunuh anak yang tidak bersalah. Akhirnya dia mengurungkan niat itu. Ayahnya sangat marah, bahkan kecewa padanya sampai mengusirnya dari rumah. Tapi...semarah apapun orang tua pada anaknya, mereka tidak akan sampai membenci. Ayahnya bisa menerima wanita itu kembali. Namun masalahnya ada pada ayah dari bayi yang dikandungnya."


"Ada masalah apa dengan ayah bayi itu Tante? Apa dia jahat?" tanya Selina pada Amayra.


"Mungkin dia jahat...saat akan diminta pertanggungjawaban, dia kabur entah kemana bersama kekasihnya. Si wanita itu sangat terpuruk dengan keadaannya, tapi dia lebih terpukul saat melihat orang tuanya bersedih. Namun dia tetap bertahan dan mempertahankan bayi yang dikandungnya tidak peduli apapun yang terjadi. Tidak peduli bahwa semua orang tau tentang kehamilannya, saat itu teman-teman satu sekolah membullynya. Akhirnya dia keluar dari sekolah karena ketahuan dan dia menikah."


"Apakah dia menikah dengan pria yang memperkosanya?" tanya Selina.


"Dan apa Tante?"


"Kamu bisa baca kisahnya di novel Cinta Suci Amayra, disana lebih detail ceritanya. Tentang malaikat tak bersayap itu." kata Amayra sambil terkekeh.


"Haha..Tante kok jadi ngomongin novel karya Irma Kirana sih." Selina tertawa kecil. Amayra senang melihat Selina tertawa walau hanya sedikit.


"Ya sudah, kamu makan dulu ya sekarang. Jangan pernah berpikir bahwa kehadiran anak ini adalah bencana, ingatlah Sel...bahwa anak ini tidak berdosa. Kamu harus mempertahankannya sayang. Kami, semua keluarga ini, pasti akan mendukung kamu. Dan yakinlah bahwa semua ini ada hikmahnya, tante tau kamu kuat..." Amayra memeluk Selina seraya menghiburnya dan menguatkannya.


Akhirnya Selina mau makan malam demi bayinya. Ucapan Amayra rupanya memberikan Selina semangat kembali. Dia yang barusan sempat khilaf ingin membunuh anaknya sendiri, sekarang bertekad untuk mempertahankannya.


****


Malam itu Zahwa, Zayn dan Rey menginap di rumah keluarga Calabria. Mereka takut kalau terjadi sesuatu pada Nilam atau yang lainnya membutuhkan bantuan.


Zahwa langsung duduk diatas ranjang sambil memegang perutnya, dia terlihat lelah dan lesu. "Sayang, kamu mau makan apa? Kamu belum ngemil apapun dari tadi kan?" tanya Rey sambil duduk disamping Zahwa.


"Aku mau tidur aja Mas,"

__ADS_1


"Kasihan dede sayang, kamu harus ngemil atau makan lagi. Biasanya kamu kan banyak makan." celetuk Rey sambil tersenyum dan mengusap perut datar Zahwa.


"Oh...jadi kamu gak suka aku banyak makan, Mas?" Zahwa naik pitam, dia kembali teringat masalah Cleo. Wanita itu masih kesal pada Rey.


"Nemo, kok kamu malah marah-marah sih? Maksud ku bukan kayak gitu kok."


"Terserah kamu Mas, aku mau tidur. Aku capek," ucap Zahwa lalu berbaring di ranjang itu, memunggungi suaminya.


Rey mendesah, dia merasa sikap Zahwa ini karena dia masih marah masalah Cleo. "Sayang, aku belikan martabak ya?"


Tiba-tiba saja Zahwa menoleh ke arah Rey dan matanya melotot.


"Kenapa sayang? Kamu mau beli yang lain? Bukannya kamu suka minta dibeliin martabak?" tawar Rey heran melihat Zahwa seperti singa betina marah itu. "Kamu kan suka martabak,"


"Kata siapa! Aku gak suka martabak, Mas."


Sebelumnya setiap pulang kerja, Zahwa selalu minta dibelikan martabak oleh suaminya. Tapi sekarang dia bilang tidak suka martabak. Ya, itu karena Rey memberikan martabak untuknya kepada Cleo dan lihatlah kesal nya terbawa sampai sekarang.


"Sayang...maafin Mas, mas janji tidak akan bohong lagi. Mas akan selalu jujur, apapun yang terjadi." bujuk Rey pada istrinya yang masih dalam mode ngambek.


Zahwa terdiam, tiba-tiba saja dia memegang perutnya dan merasa lapar. Tak lama kemudian, bunyi memalukan keluar dari perut itu.


Krukkk..


"Sayang, dedenya lapar tuh...kamu mau makan apa?" Rey menatap istrinya dengan begitu lembut.


Huh! Aku memang lapar, aku juga pengen makan sesuatu. Tapi aku malas minta sama mas Rey, aku kan masih marah.


"Nemo...kasihan Dede sayang. Yuk bilang sama aku mau makan apa?" tanya Rey pada istrinya.


"Mas..." Zahwa menatap suaminya dengan ragu, ia tak dapat menahan keinginannya lagi untuk makan sesuatu.


"Ya?"


"Aku mau nasi kuning, Mas."


Rey terperanjat begitu mendengar keinginan istrinya yang ingin nasi kuning pada jam 10 malam.


"Ya udah sayang, Mas coba cari nasi kuningnya ya."


Aduh si Dede, mau nasi kuning jam segini. Tapi demi istri dan anakku, aku akan berusaha cari deh.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2