
...🍀🍀🍀...
Malam itu Rey dan Niko begadang untuk mengerjakan pekerjaan yang harusnya di kerjakan dalam beberapa hari ke depan. Rey ingin mengambil cuti dan dia akan mengalihkan posisi sementara pada Zayn. Dia ingin rencananya mengatakan cinta berhasil dengan sempurna.
Walau posisi akan digantikan oleh Zayn, akan tetapi Rey tidak mau tinggalkan banyak pekerjaan dan tanggung jawab kepada Zayn. Tugas Zayn mungkin hanya menghadiri beberapa rapat dan juga memeriksa beberapa dokumen selama ia cuti dua hari.
Malam itu juga Zahwa pergi berkemah bersama teman-teman magang dan sebagian teman kampusnya. Zahwa memilih tempat duduk paling belakang yaitu di dekat pintu keluar bus, dia duduk bersama Aini, Vera, Lia Zainab dan juga dua temannya yang lain.
"Kak Zainab, selamat ya atas pernikahannya. Emang kak Zainab cocok banget deh sama suaminya." ucap Vera pada Zainab, memberikan Selamat atas pernikahan gadis itu.
Zainab tidak menjawab, ekor matanya malah melihat Zahwa yang duduk di dekat jendela sambil bersandar di sana dan memandangi jalan.
Ya Allah, Zahwa pasti sedih...aku harus bagaimana? Ini benar-benar tidak nyaman. Zainab meremass tangannya, dia merasa bersalah dan tidak nyaman dalam keadaan seperti ini. Pikirnya, seharusnya dia tidak ikut acara ini dan di rumah saja.
Padahal Zahwa sama sekali tidak memikirkan Raihan maupun Zainab, dia sedang memikirkan Reyndra. Perilaku Rey padanya benar-benar aneh. Ia memandangi cincin dan gelang dari Rey. "Sebenarnya kakak kenapa sih?" gumam Zahwa pelan.
"Kak Zainab, aku juga belum ngucapin selamat sama kakak...selamat ya kak. Kakak emang cocok buat pak ustadz Raihan, dibandingkan wanita sok suci itu." salah seorang teman Zainab mendelik sinis ke arah Zahwa. Sudah jelas dia menyindir Zahwa.
Zahwa cuek saja karena ia tenggelam dalam pikirannya tentang Rey. Sementara Aini marah mendengar ucapan temannya itu.
"Memangnya kenapa sama wanita sok suci? Siapa yang kamu panggil sok suci?" Aini menatap sinis ke arah Tiara yang barusan menyindir Zahwa.
"Tiara kamu ngomong apaan sih! Jaga bicara kamu," ucap Zainab pada Tiara, salah satu teman dekatnya dan calon bidan juga.
"Kenapa? Memang aku salah ya? Wanita yang udah gak suci, tapi masih pura-pura sok suci...gak tau malu, kalau aku sih ya...aku udah malu tuh buat jalan kemana-mana." ucap Tiara semakin pedas saja omongannya. Hingga semua orang di dalam bus melihat ke arah mereka.
"Hey! Kamu!" Aini mendekati Tiara, dia kesal dengan mulut Tiara yang pedas itu.
__ADS_1
Kali ini Zahwa beranjak dari tempat duduknya, dia menatap Tiara dengan tajam karena sudah terpancing emosinya."Mau aku suci, atau aku tidak suci, apa urusannya sama kamu Tiara?"
"Ya...gak ada urusan sih, cuma aku gak heran aja kalau ustadz Raihan meninggalkan kamu. Tentu saja dia akan memilih berlian daripada sampah." Tiara menyindir Zahwa.
"Iya itu sangat benar," Vera juga setuju dengan ucapan Tiara.
"A-apa?!" Zahwa melotot pada Tiara, dia mengepalkan tangannya dengan gemas. Bohong kalau Zahwa tidak sakit hati, bohong kalau dia tidak marah. Tapi ada yang lebih membuat Zahwa sakit hati dibandingkan itu semua, yaitu Zainab. Gadis itu diam saja saat dia dihina semua orang.
"Mulut kalian tuh dijaga ya!" Aini membela Zahwa.
"Astagfirullah, udah dong Tiara...Vera, Lia.." akhirnya Zainab angkat bicara setelah keadaan memanas. Ia bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini. "Zahwa maafin mereka ya, kamu gak usah dengerin mereka."
"Kenapa kakak yang minta maaf sama aku? Emangnya kakak yang salah? Mereka yang menghinaku, harusnya mereka yang minta maaf padaku bukan kakak." Mata Zahwa mulai mengembun.
"Zahwa..." lirih Zainab.
"Sabar wa," Aini menepuk bahu Zahwa seraya menenangkan emosinya.
"Aku gak apa-apa Ai," Zahwa kembali tersenyum.
Zainab terus saja melihat Zahwa dengan tatapan sendu dan membuat Zahwa tidak nyaman dengan keadaan itu.
Sementara itu Raihan, Amayra dan Zayn berada di sebuah rumah makan yang tak jauh dari rumah sakit tempat Zahwa magang. Raihan memesan makanan untuk Amayra dan Zayn, awalnya ibu dan anak itu menolak tapi Raihan memaksa. Katanya tak boleh menolak rezeki.
Setelah makanan dan minuman tersaji didepan mereka, barulah Amayra mulai buka mulut walau dia sebenarnya malas berbicara dengan pria yang sudah menyakiti hati putrinya. Apalagi Zayn, sedari tadi dia hanya melihat ke arah lain dan tidak mau melihat Raihan. Dia sepertinya membenci Raihan.
"Kamu mau bicara apa? Langsung saja bicara, sebentar lagi waktu isya dan kami harus pulang." ucap Amayra seraya menatap Raihan dengan dingin.
__ADS_1
"Tante...tolong izinkan saya untuk menikahi putri Tante." kata Raihan serius dan penuh kesungguhan dalam dirinya.
Zayn langsung naik pitam mendengar perkataan Raihan yang ingin melamar Zahwa. "Hey! Kurang ajar sekali kamu, sudah menikah tapi masih--"
"Zayn, diam dulu!" Amayra memotong ucapan Zayn. Ia menelisik pada Raihan. "Katakan pada saya, kenapa kamu melakukan ini? Kamu tau kan kamu sudah beristri, kenapa kamu mau melamar anak saya?"
"Dia pasti mau bicara soal poligami lagi. Busuk!" umpat Zayn kesal.
"Zayn, diam dulu nak!" pinta Amayra pada putranya. "Bicaralah Raihan, saya mendengarkan." katanya pada Raihan.
"Saya tau saya sudah menikah, tapi Tante tau kan kalau saya hanya mencintai putri Tante...saya mencintai Zahwa dan Sebelumnya saya juga sudah berjanji untuk menikahi Zahwa. Saya tidak akan mengingkari cinta dan janji saya untuk menikahi Zahwa, jadi saya mohon... biarkan saya menikahi putri Tante. Saya janji, saya akan membuat Putri Tante bahagia dan tidak akan pernah menangis lagi..." Raihan menundukkan kepalanya seraya memohon kepada mantan calon ibu mertuanya itu.
"Raihan...dengan cara apa kamu mau membuat anak saya bahagia? Dengan cara menjadi istri kedua yang identik dengan pelakor? Tidak Raihan, Zahwa anak saya tidak akan pernah bahagia bersama kamu meski dia mencintai kamu dan meski kalian saling mencintai. Saya sebagai seorang ibu, tidak terima bila anak saya di poligami...memang poligami dalam agama diperbolehkan dan mungkin poligami dalam keluarga kamu bukanlah hal yang aneh lagi. Tapi, dalam keluarga saya... saya selalu menanamkan prinsip, cinta hanya satu sekali seumur hidup dan hanya dipersembahkan untuk satu orang. Saya tidak mau cinta anak saya dibagi seperti itu, jadi maaf Raihan...saya tidak bisa menerima kamu, saya juga tidak bisa membiarkan putri saya berada di dalam keluarga kamu... setelah semua yang terjadi dengan keluarga saya dan keluarga kamu. Saya harap, kamu, istri kamu dan sekeluarga bahagia. Juga...lupakanlah Zahwa."
Setelah penjelasan panjang lebar dari Amayra yang intinya adalah penolakan, hati Raihan terluka mendengarnya. Sakit tidak berdarah.
Tidak, aku tidak akan bisa melepaskan Zahwa.
Amayra pun beranjak dari tempat duduknya lalu dia mengajak Zayn pergi dari sana. "Ayo Zayn...kita pergi,"
"Iya Ma," sahut Zayn patuh pada mamanya.
"Tunggu, Tante Amayra...Zayn!" panggil Raihan pada ibu dan anak itu. Kali ini apa lagi yang akan ia katakan pada mereka berdua.
...****...
Nanti mau up 1 bab lagi ya, jangan lupa komennya ya readers ku yang Budiman 😁🙈
__ADS_1