Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 117. Innalilahi...


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Attar jatuh terduduk, dia lemas setelah melihat keadaan Selina dan juga lemas karena lelah menggendong Selina. Semua itu baru terasa saat Attar berhasil mengantar Selina ke rumah sakit.


"Kamu tenangkan diri kamu dulu, minumlah ini Attar." ucap Zahwa sambil memberikan air minum di dalam botol pada Attar.


"Ma-makasih kak Zahwa." kata Attar dengan suara gemetar. Tangannya yang gemetar itu juga mengambil botol air minum dari tangan Zahwa. Dia meneguknya pelan-pelan, matanya masih mengeluarkan bulir air mata.


Jangan tanyakan bagaimana penampilan pria itu saat ini, kacau adalah jawabannya. Bahkan seragamnya kotor penuh darah Selina. Zahwa menepuk-nepuk pundak Attar.


"Istighfar Attar, tenangkan diri kamu tar." kata Zahwa berusaha menenangkan Attar. Walau hatinya sendiri cemas dengan keadaan Selina barusan, mulut berbusa, tubuh bersimbah darah dan tidak sadarkan diri. Sebagai seorang kakak, ia juga syok.


"Hiks...Selina...Selina." gumam Attar sambil terisak dan menangkup kedua tangannya di wajah. Dia sendiri melihat Selina kejang-kejang dan dia panik.


Tak lama kemudian, Bram, Rey dan Zayn datang ke rumah sakit bagian UGD rumah sakit bersamaan. Mereka berlari menuju pada Zahwa dan Attar yang tengah duduk di kursi depan ruang UGD. Saat itu Zahwa masih memakai jas putih khas dokternya.


"Zahwa, bagaimana keadaan Selina?" tanya Bram mendahului Zayn dan Rey yang akan menanyakan pertanyaan yang sama juga.


"Zahwa belum tau pah, Selina masih di ruang UGD sama mama Diana." jelas Zahwa.


Tatapan Bram, Rey dan Zayn langsung tertuju pada Attar yang masih syok itu karena sebelumnya Attar yang menelepon Bram dan Rey tentang kondisi Selina. Mereka juga tak tahu apa yang terjadi dan akhirnya Zayn yang pertama bertanya pada Attar.


"Attar, apa yang terjadi sama Selina? Coba ceritakan pada kami semua." ujar Zayn seraya menepuk bahu Attar.


Attar membuka tangannya yang tadi sempat menangkup di wajahnya. Dia menatap ketiga pria didepannya itu. Attar pun menceritakan apa yang terjadi, secara singkat, padat dan jelas. Dari awal Selina di culik sampai dia menemukan Selina di gedung terbengkalai dalam keadaan kejang-kejang dan berdarah-darah diatas kursi. Tubuhnya jga terikat oleh tali.


"Jadi--anak BRENGSEK itu pelakunya?!" rahang Bram mengeras manakala ia mendengar nama Rivano terlibat didalam insiden Selina. "Aku akan membunuhnya! Aku akan---" suara Bram meninggi, kemarahannya sudah di ujung.


"Pa! Tenang dulu pa," kata Rey berusaha menenangkan Bram yang emosi. "Attar, apa kamu punya bukti kalau Rivano dan sepupunya yang melakukan ini?"


Attar mengangguk. "I-iya kak, aku ingat plat mobilnya dan juga aku sempat video Rivano dan sepupunya itu." pria berusia 17 tahun itu merogoh celana seragam abunya dan mengambil ponselnya. Lalu ia membuka ponsel itu dan memperlihatkan video tersebut pada pria-pria di keluarga Calabria, juga pada Zahwa.


Mereka berempat emosi melihat isi video itu, dimana Rivano dan Bagas mengobrol didepan gedung terbengkalai tentang Selina dan rencana mereka untuk kabur. "KURANG ajar! Beraninya mereka menyakiti putriku."


"Ini lebih dari keterlaluan, aku akan telpon polisi pah!" kata Rey yang juga murka dengan Rivano. Dia tak akan membiarkan Rivano dan sepupunya lepas begitu saja. Rey menelpon polisi dan melaporkannya.


"Aku akan telepon om Bima, dia pasti bisa bantu kita menemukan dua bajingan itu secepatnya!" kata Zayn lalu mengambil ponselnya dan menelpon Bima. Bima yang memang dulu mantan mafia, memiliki anak buah yang banyak dan sangat suka berurusan dengan hal seperti ini.


"Halo om Bim, kami butuh bantuan om Bima!"


Zayn mengobrol dengan Bima secara garis besar tentang kondisi Selina dan apa yang dialami gadis malang itu.


"Kasih gambarnya, om akan langsung suruh orang orang om cari bajingan itu!" terdengar suara menggelegar dari sebrang sana. Berbeda dengan saudara kembarnya mendiang Satria yang memiliki sifat lemah lembut, Bima memiliki karakter sebaliknya.


"Iya om, Zayn kirim sekarang."


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Ya, ruang UGD itu terbuka dan terlihat seorang dokter berdiri disana, lalu terdengar juga suara isak tangis Diana disana.


"TIDAK! Selina...jangan tinggalkan MAMA! Hiks... Selina!!"


Semua orang yang berada di luar ruangan itu panik bukan main begitu mendengar teriakan Diana yang disertai tangisan pilu.


"Selina..." gumam Zahwa pelan.


******


Setelah tempatkan foto dan identitas Rivano dan juga Bagas. Bima segera menggerakkan anak buahnya untuk mencari Rivano dan Bagas, sudah lama sekali dia tidak melakukan hal ekstrim begini.


Bima telah lama meninggalkan dunia hitamnya sejak dia menikah dengan Fania dan memiliki Viona, putri tercintanya. Sekarang ia hanyalah seorang pria yang memilikinya bisnis properti. Namun dia tetap memiliki hubungan dengan orang-orang yang berada di dunia ini termasuk Jack, bawahannya yang setia.


"Jack! Aku ingin kamu menemukan orang yang bernama Rivano dan juga Bagas! Mereka adalah orang-orang yang telah menyakiti keponakanku! Laporkan padaku, bila kamu dan orang-orang mu telah menemukan mereka berdua...aku ingin membuat perhitungan dulu sebelum mereka masuk ke dalam penjara." tegas Bima kepada Jack, yang kini sudah menjadi ketua mafia..


"Siap bos!"


"Jack, jangan panggil aku bos. Aku bukan bosmu lagi." tegur Bima pada Jack yang masih memanggilnya dengan panggilan bos.


"Walaupun pak Bima sudah berhenti menjadi ketua kami, tapi Pak Bima tetaplah pemimpin di hati kami."


"Haih...ya sudah, aku mohon bantuannya untuk mencari dua bajingan kecil itu."

__ADS_1


"Kami akan mengabari bos bila kami telah menemukan mereka berdua." kata Jack dari sebrang sana.


Setelah telepon itu terputus, Jack dan anak buahnya yang berpakaian hitam-hitam itu segera melakukan perintah dari Bima. Meski Bima bukanlah lagi ketua mereka, namun Jack dan orang-orang yang sangat menghormati Bima.


Hanya dalam waktu 15 menit saja, Jack dan anak buahnya berhasil menemukan sosok Rivano dan Bagas. Kedua anak remaja itu telah ditangkap oleh Jack dan anak buahnya. Cepat sekali Jack dan anak buahnya menemukan Rivanno dan Bagas yang rencananya akan pergi ke luar kota. Namun orang-orang Jack keburu menghadang jalan mereka dan membawa kedua orang itu ke tempat yang disebut markas.


Kini Rivano dan Bagas berada di dalam sebuah ruangan sempit dan minim cahaya. Mereka berdua diikat di atas kursi dan mulutnya disumpah oleh perekat hitam. Mereka dikelilingi oleh anak buah Jack yang seram-seram wajahnya.


Siapa mereka? Kenapa mereka membawa kami ke sini?


Jack menatap tajam pada Rivano dan Bagas. Kedua pria itu merasa terancam dengan tahapan yang mengintimidasi dari Jack. Auranya sangat gelap dan suram. Sama seperti warna pakaiannya yang serba hitam.


"Kalian telah menganggu orang yang salah!" gumam Jack sambil berdecih, lalu dia duduk dengan santainya dan mengambil ponselnya yang ada di dalam saku. Jack menelepon seseorang.


Tut...Tut...


🎢🎢🎢


Setelah bunyi telepon yang tersambung beberapa saat, telpon itu pun diangkat. "Halo bos!"


"Kamu sudah menemukan dua bajingan kecil itu, Jack?"


"Sudah bos!"


"Awasi mereka! Jangan sampai kabur, aku akan segera datang kesana untuk memberikan mereka pelajaran yang berharga." ucap Bima dengan suara yang dingin dan menyiratkan kemarahan.


"Baik bos! Bos tenang saja, di bawah kepemimpinan dan pengawasan dari Jack. Semut pun tidak akan bisa keluar dari sini." ujar Jack sambil tersenyum menyeringai, tatapannya pada Bagas dan Rivano begitu tajam.


"Bagus, aku percaya padamu."


Tut!


Telpon pun dimatikan oleh Bima lebih dulu, ia berpamitan pada anak dan istrinya. Ia mengatakan akan pergi ke suatu tempat.


"Fania sayang, my princessnya ayah...ayah pergi dulu ya."


"Ayah mau ngurus kecoa dulu. Kamu sama mama kamu, tengokin kakak Selina ya." Bima mengelus lembut rambut putrinya.


"Kecoa?" gumam Viona bingung.


"Fan, kamu ke rumah sakit ya...temenin kak Diana, dia pasti sedang membutuhkan kita." kata Bima pada istrinya.


"Ya, mas."


Bima memeluk anak dan istrinya dengan begitu perhatian penuh kasih sayang. Ya, meskipun Bima adalah mantan seorang bos mafia, tapi dia sangat menyayangi istri dan anaknya.


Fania dan Viona pun pergi bersama sopir pribadi keluarga mereka dan menuju ke rumah sakit tempat Selena berada. Sementara Bima, dia pergi ke tempat di mana Bagas dan Rivanno sedang disekap. Dia akan memberikan pelajaran terlebih dahulu kepada dua pria yang sudah menyakiti keponakannya.


Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke tempat yang disebut markas itu. Semua orang di sana menundukkan kepalanya dengan hormat begitu Bima sampai. Mereka masih memanggil Bima dengan sebutan bos.


"Dimana mereka?" tanya Bima pada Jack yang kini berada di depannya untuk menyambut dirinya.


"Ada di dalam bos." jawab Jack sambil menyimpan cerutu yang ia hisap tadi.


"Bawa aku pada mereka!" titah Bima dengan wajah yang menyeramkan, aura yang begitu tajam.


Jack memandu Bima menuju ke lorong bawah tanah, tempat yang paling gelap dan paling menyeramkan di tempat itu.


Tak lama kemudian, mereka sampai di ruangan tersebut. Terlihat Bagas dan Rivano, masih terikat kuat di atas kursi. Mereka berdua diganggu oleh salah satu anak buah Jack.


"Bagaimana? Lo suka pisau gue yang ini, atau yang ini? Ah...gimana kalau gue coba dulu ya." kata pria itu sambil tersenyum menyeringai dan menyodorkan dua pisau tajam ke arah Bagas dan Rivano.


Kedua pria muda itu terlihat berkeringat dan ketakutan dengan sikap pria itu yang mengancam mereka.


"Hormat bos Bim! Bos Jack!" pria itu menundukkan kepalanya dengan hormat begitu menyadari kehadiran Jack dan Bima.


"Pergilah!" titah Jack pada anak buahnya itu.


"Baik bos."

__ADS_1


Setelah anak buah Jack meninggalkan ruangan itu. Bima dan Jack menghampiri Bagas dan Rivano. Rivano memperhatikan raut wajah Bima baik-baik.


Tunggu...gue kayaknya kenal sama cowok ini. Ah...ya dia omnya Selina yang katanya preman itu.


Rivano ingat bahwa Selina pernah menceritakan dan menunjukkan foto keluarganya. Disana ia melihat sosok Bima di foto album pernikahan Rey dan Zahwa. Terngiang ucapan Selina di kepalanya.


...Kak...ini om ku, namanya om Bima. Dia itu emang agak misterius. Kata papa, om Bima itu mantan preman, gak tau mafia ya?....


Kenapa aku malah teringat Selina? Apa om Selina bawa aku kesini karena dia udah tau tentang Selina?


Rivano panik melihat sosok Bima disana, yang dikenalinya dari foto sebagai om Selina.


"Lo, Lo, bilang sama gue! Apa keinginan terakhir kalian. Sebelum gue habisin kalian berdua dan jual organ tubuh kalian, biar kalian mati berguna!" sarkas Bima dengan suara dingin tapi menusuk.


"Hmph--hmph--"


Bagas dan Rivano ingin bicara tapi mereka kesulitan karena mulut mereka ditutupi lakban hitam.


"Bos mereka gak bisa bicara, buka dulu lakbannya bos!" kata Jack pada bosnya.


"Hahaha...aku lupa." Bima ***** lalu melepas lakban Bagas dan Rivano dengan kasar.


Sret!


"Ah!" kedua remaja itu terkejut dan takut


Jirr serem banget ini orang... sekali lihat aja bulu kuduk langsung berdiri. Batin Bagas sambil menelan salivanya dalam-dalam.


"Ayo kita mulai main!" Bima tersenyum baja ringan dan menunjukkan wajah datar dinginnya. Entah apa yang akan dia lakukan pada dua anak remaja tidak tahu diri dan jahat itu.


Bima menyuruh Jack untuk mengambil peralatan bermain. Bagas dan Rivano agak curiga peralatan bermain apa yang dimaksud oleh Bima.


"Om! Lebih baik om lepaskan kami dari sini, sebelum kami melaporkan om ke polisi!" Seth Rivano.


"PFut...kalian mau ngelaporin gue? Sebelum itu kalian yang bakal mampus ditangan gue! Kalian telah berhadapan dengan orang yang salah!" Bima berteriak pada kedua remaja itu.


Kemudian Jack, juga dua anaknya buahnya datang dan membawa ular juga kalajengking di dalam wadah.


"Kalian mau main dengan siapa? Diantara dua kesayanganku ini?" tanya Bima pada Rivano dan Bagas.


Kedua remaja itu terlihat tegang melihat kedua hewan yang bisa dikatakan beracun itu. Mereka bergidik ngeri.


*****


Di rumah sakit.


Zahwa, Rey, Attar, Bram dan Rey masuk ke dalam ruang UGD setelah dokter itu mengatakan bahwa nyawa Selina tidak tertolong lagi karena racun tikus yang dikonsumsinya. Selina dan bayinya tidak selamat.


Terlihat seorang ibu tengah memeluk anaknya yang kini menjadi jenazah. "Tidak! Selina! Bangun sayang...ini mama sayang, ini mama...hiks..."


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un." ucap Zayn dengan mata yang berair, tak percaya dengan semua ini.


"Selina....mas, Selina...ini gak mungkin kan, Mas?" Zahwa menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Rasanya ia tak percaya dengan kenyataan ini. "Mas...tadi Selina baik-baik saja...dia..."


Rey tidak mampu berkata-kata lagi, ia hany mengucap lafadz innalilahi wa innailaihi Raji'un.


Attar juga menangis perih, dia memegang dadanya yang sesak. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena terlambat menyelamatkan Selina. "Maafin aku Sel...maafin aku...hiks..."


Bram menghampiri jenazah putrinya yang kini terbaring dengan kain putih yang menutupi setengah tubuhnya. Wajahnya begitu pucat dan gadis itu tidur dalam damai. Air mata Bram luruh melihat putrinya. Sementara Diana menangis meraung-raung memeluk Selina.


Mereka semua berharap ini hanya mimpi...


...****...


Hai Readers, bantu author dong...buat Fav, like dan komen ke novel ke novel baruku ❀️❀️ yang satunya mau ikut lomba...❀️❀️🀧 tolong masih sepi



__ADS_1


__ADS_2