Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 45. Kita bukan saudara lagi


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Pimpinan perusahaan Calabria itu mengusap wajahnya dengan kasar, terlihat keresahan berat dalam raut wajahnya. Amayra, Zayn, Selina dan Aini bisa melihat itu. Memang ada masalah antara Zahwa dan Rey.


"Rey...gak mungkin kan kamu bertengkar sama Zahwa?" Amayra mengulang lagi pertanyaannya dengan sedikit tak yakin. Selama ini Rey dan Zahwa hampir tidak pernah bertengkar, mereka selalu akur. Malah kalau Zahwa bertengkar dengan Zayn, Rey yang selalu menjadi tempat mengadunya.


Ingin ku katakan pada Tante Amayra sekarang juga, kalau aku mencintai Zahwa dan ingin menikahinya. Tapi...Zahwa saja seperti ini, bagaimana bisa aku bicara pada Tante Amayra?. Rey membatin.


"Gak ada apa-apa kok Tante, Zahwa cuma lagi datang bulan makanya dia kayak gitu." Kata Rey menjawab asal pertanyaan dari Amayra.


"Oh gitu? Tapi gak biasanya dia kayak gini." gumam Amayra bingung.


Aini dan Zayn saling melihat tanpa sadar, mereka kompak melihat ke arah Rey yang terlihat gusar. Pastinya mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Zahwa, ada hubungannya dengan Rey.


"Tante, Rey pulang dulu ya...masih ada urusan di kantor." pamitnya dengan suara lesu.


"Oh...iya nak, makasih ya Rey udah antar Zahwa." Amayra tersenyum.


Rey tersenyum, lalu dia mengambil tangan Amayra dan memberi salam padanya. "Assalamualaikum Tante," ucapnya lesu.


"Waalaikumsalam," jawab Amayra yang terheran-heran juga dengan sikap Rey yang berbeda.


Ada apa ini? Benaran deh kayaknya mereka bertengkar.


Begitu Rey sampai di halaman rumah Zahwa, Zayn menyusulnya. "Kak!"


"Ya?"


"Apa yang terjadi? Kakak bertengkar sama Zahwa?" Zayn langsung menanyakan apa yang terjadi pada Rey dan Zahwa.


"Zayn, aku mengatakan perasaanku padanya." ucapnya setelah menghela nafas berat.


Zayn langsung tersentak kaget saat mendengar pengakuan dari Rey. "Kakak serius?"


"Iya."


"Terus gimana kak? Zahwa nolak kakak?"


"Dia nggak boleh nolak." jawabnya tegas.


"Apa maksud kakak?" Zayn terbelalak mendengar jawaban Rey yang terdengar posesif.

__ADS_1


"Aku kasih waktu padanya untuk berpikir, yang jelas kita bukan adik kakak lagi setelah apa yang aku lakukan tadi." Rey menundukkan kepalanya sejenak sambil memegang bibir tebalnya dengan jari telunjuk. Bibir yang belum lama mencium Zahwa, bibir yang membuat tembok batasan persaudaraan mereka hancur.


Melihat raut wajah Rey begitu, membuat Zayn tercengang. Apa mungkin Rey melakukan sesuatu pada Zahwa?


"Kak! Kakak ngapain Zahwa?" tanyanya pada Rey dan tanpa sadar suaranya terdengar berteriak.


"Zayn pelan-pelan! Aku belum mau Tante Amayra tau sebelum aku dengar jawaban dari Zahwa." ucap Rey mengingatkan.


"Ma-maaf kak, tapi kakak benaran gak ngelakuin apa-apa sama Zahwa kan? Kakak gak ngelakuin itu karena n*fsu? Kalau sampai Zahwa kenapa-napa, sekalipun itu kakak...aku gak akan tinggal diam kak!" Belum apa-apa Zayn sudah mengancam Kakak sepupunya itu.


"Astagfirullah, aku tidak mungkin melakukan sampai sejauh itu Zayn." Dessah Rey.


"Jadi--kakak ngelakuinnya sejauh mana?!" Pikiran Zayn mulai kemana-mana, dia takut Rey melakukan hal yang di luar batas karena cintanya.


"Zayn, aku gak macam-macam sama Zahwa! Aku cuma meyakinkan dia kalau aku dan dia bukan saudara lagi,"


"Dengan cara apa?" Tanya Zayn lagi mengintrogasi Rey.


"Aku menci--"


Saat Rey akan bicara, tiba-tiba saja Aini datang menghampiri kedua pria itu. Aini memberitahukan kepada Zayn bahwa Amayra memanggilnya ke dalam.


"Aku masuk ke dalam dulu kak, kita bicara lagi nanti." ucap Zayn pada Rey.


Sepanjang hari Zahwa tidak keluar dari kamarnya, di mengurung diri dan masih memikirkan ciuman, juga pernyataan cinta dari kakaknya itu.


"Bagaimana bisa kakak melakukan ini padaku? Aku adikmu kak, adik sepupumu..." gumam Zahwa sambil meremass guling yang ada ditangannya.


Tok, tok, tok


Sebuah ketukan pintu yang entah ke berapa kalinya, membuat Zahwa menoleh ke arah pintu. Kali ini dia sudah tidak menangis, hanya saja banyak pikiran.


"Zahwa, makan dulu yuk? Kamu belum makan dari tadi siang. Kamu kan belum lama keluar dari rumah sakit, kamu harus makan dan minum obat.. mama mohon nak."


Rasanya Zahwa tak tega mendengar suara lirih dari Amayra, akhirnya ia membuka pintu kamarnya.


"Iya Ma, maaf ya tadi Zahwa tidur lama... capek." ucapnya beralasan.


"Oh gitu, mama khawatir kamu kenapa-napa. Ini mama bawain makanan sama minuman hangat, biar kamu gak sakit perut lagi."


"Sakit perut?" Zahwa menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Iya, bukannya kamu lagi datang bulan? Tadi Rey yang bilang kalau kamu lagi datang bulan."


Zahwa hanya menghela nafas mendengarnya. Alasan yang Rey berikan karena tadi wajahnya muram.


Dasar kak Rey.


Amayra dan Zahwa pun makan malam bersama di ruang makan. Zahwa berusaha terlihat baik-baik saja didepan mamanya meski sebenarnya hatinya masih bimbang.


****


Malam itu


Di sebuah kamar sederhana, di dalam rumah tak jauh dari pesantren Ar-Rasyid. Terlihat Raihan baru saja pulang dari halaqah di mesjid.


Zainab yang sekarang jadi istrinya, menyambut Raihan sebagai istri yang baik dan memenuhi kewajibannya. "Mas, mas sudah pulang?"


"Iya."


Zainab meraih lalu mengecup tangan suaminya. Raihan balas tersenyum padanya.


"Mas, minum kopi dulu." Zainab menyodorkan kopi pada suaminya seperti biasa, lalu dia duduk disampingnya.


Raihan mengambil kopi didalam cangkir itu lalu menyeruputnya. "Zainab, gimana keadaan Zahwa?"


Lagi-lagi mas Raihan menanyakan Zahwa. Lalu kenapa aku marah?


"Alhamdulillah Zahwa sudah keluar dari rumah sakit, mas."


"Syukurlah kalau begitu," terlihat kelegaan di wajah Raihan saat mendengar tentang Zahwa.


Raut wajah Zainab terlihat sedih saat melihat suaminya masih memikirkan wanita lain. Entah kenapa beberapa hari ini dia seperti itu. Selama beberapa hari ini Zainab terlihat nyaman dengan Raihan, kebersamaan mereka mungkin sudah membuat rasa itu tumbuh di hati Zainab..Kemudian mereka naik ke atas ranjang dengan posisi saling membelakangi.


"Zainab."


"Ya, mas?"


"Apa kamu masih menyukai Reyndra?"


"Tidak mas, rasa sukaku tidak sedalam rasa cinta mas Raihan sama Zahwa." ucap Zainab dengan senyum getir dibibirnya.


Raihan pun membalikkan badannya, untuk melihat raut wajah istrinya. "Zainab..."

__ADS_1


"Mas, tolong belajarlah untuk mencintaiku." pinta Zainab.


...****...


__ADS_2