Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 72. Jalan diatas kaca


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Rumah Raihan.


Kini Raihan dan Zainab tinggal terpisah dari Annisa, Salimah dan Iqbal. Itu karena Raihan mulai merasakan ketidaknyamanan istrinya itu saat tinggal bersama dengan keluarganya. Terkadang mulut Anisa dan Salimah tidak bisa dijaga.


Sejak tau Zainab hamil, Raihan begitu perhatian kepada istrinya itu. Dia mengabulkan semua keinginan istrinya, bahkan sebelum Zainab memintanya.


"Zainab, ini..." ucap Raihan sambil duduk di samping Zainab dan menyerahkan satu kotak coklat untuk istrinya itu.


"Ini buat aku Mas?" Zainab mengambil kotak coklat yang ada di tangan Raihan.


Ini kan coklat yang tadi aku lihat di supermarket. Tapi aku tidak melihat Mas Raihan membelinya.


Raihan tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Iya sayang, buat kamu. Kamu mau coklat kan?"


"Tapi aku gak bilang mau coklat, mas." jawab Zainab sambil menggelengkan kepalanya.


Pria itu kemudian mengelus rambut panjang istrinya dengan lembut. "Tapi tadi mata kamu mengatakan kalau kamu mau coklat ini. Zainab dengerin mas ya, kalau kamu mau sesuatu...kamu harus bilang sama mas, jangan ditahan. Ya, walaupun gaji mas tidak seberapa. Namun insya Allah mas masih bisa memenuhi kebutuhan kamu dan anak kita." Tangan Raihan yang satunya menyentuh perut Zainab yang masih datar.


Anak kita!


Ya, mendengar kata-kata itu membuat Zainab kembali tertampar oleh kenyataan pahit dan tiba-tiba saja air mata pun luruh membasahi pipinya. Raihan terkejut melihat istrinya tiba-tiba menangis. Tangannya dengan sigap menyeka air mata Zainab yang tumpah. "Kamu kenapa Nab? Kenapa kamu malah nangis?" tanya pria itu dengan suara cemas.


"Gak apa-apa mas, makasih ya coklatnya." kata Zainab sambil tersenyum kecut dan membuka kotak coklatnya. Tetap saja walau sudah tersenyum, air mata itu terus tumpah.


"Kamu kenapa nab? Jangan bikin mas jadi cemas begini." Raihan masih menatap Zainab dengan cemas.


Ya Allah, bagaimana jika mas Raihan tau kalau selama ini aku cuma berbohong tentang kehamilanku. Apakah mas Raihan masih akan tetap bersikap baik padaku dan perhatian padaku? Ya Allah, tolong aku...berikan aku jalan keluar.


Zainab kembali menggelengkan kepalanya, ia berusaha menahan air matanya yang terus luruh. "Aku cuma...cuma terharu aja sama sikap mas Raihan akhir-akhir ini, mas begitu baik padaku dan mengikuti semua keinginanku bahkan tanpa aku minta. Aku...sungguh beruntung memiliki suami seperti mas Raihan dan abiku tidak salah memilih mas Raihan untuk menjadi suamiku."


"Aku juga bahagia karena Alm Abah telah memilihkan kamu sebagai pasangan hidupku. Dan kamu memang yang terbaik, kamu jodohku. Zainab...aku minta maaf ya karena selama ini aku selalu bersikap dzalim pada kamu."


"Jangan minta maaf mas, karena aku yang lebih bersalah...hiks..."


"Zainab," pria itu mengusap air mata Zainab yang terus aja jatuh.


"Mas...ayo kita makan coklatnya bersama, Mas." ucap Zainab menawarkan coklat yang ada didalam coklat itu pada suaminya.


"Apa anak kita mau aku makan coklatnya juga?" Raihan mengusap perut datar Zainab, bibirnya tersenyum mengingat bayi yang ada di perut Zainab. Bayi yang belum ada dan dia tak tau.


"Kalau aku yang mau mas makan coklat ini, mas mau?" tanya

__ADS_1


"Tentu saja, mau anak kita atau kamu yang memintanya. Aku pasti akan makan." Sahut Raihan sambil tersenyum pada istrinya. Senyum yang tulus dan penuh kasih.


Zainab pun menghentikan tangisnya dan menyuapi coklat untuk Raihan. Tatapan matanya begitu bahagia karena dia amat mencintai Raihan.


Memang setelah hari-hari yang dia lalui bersama Zainab, ia mulai merasakan cinta mulai hadir di dalam hatinya. Tapi bagaimana kalau kebohongan Zainab terbongkar nanti? Apakah sikap Raihan akan tetap sama?


Sekarang Zainab merasa bahwa dirinya seperti berjalan di atas kaca. Cepat atau lambat kebohongan tentang kehamilannya pasti akan terbongkar.


*****


Di taman belakang rumah Zahwa.


Terlihat Zahwa sedang berjalan sambil mengambil segelas air berisi teh hangat, dia menyimpan teh hangat itu tepat di atas meja kecil disana. Dimana Rey sedang duduk disebelahnya.


"Kamu gak usah repot-repot kayak gini, kayak sama tamu aja deh."


"Hehe...iya ya, padahal kakak sering kemari. Dan aku juga gak suka siapin air buat kakak," Zahwa terkekeh lalu duduk di kursi tepat dengan tempat duduk Rey.


Tiba-tiba saja Rey terdiam dan menatap Zahwa dengan dalam. "Kak, kakak kenapa? Katanya kakak mau ngomong sesuatu sama aku? Cepetan ngomong! Kata mama kakak gak boleh lama-lama disini," tegur gadis itu pada tunangannya.


Rey menelan salivanya dalam-dalam, dia menatap Zahwa dan memutar bola matanya beberapa kali. Sungguh dia merasa ragu dan takut, tapi dia tau bahwa dia harus melakukan ini. Akan lebih baik jika dia mengatakan kebenaran lebih awal.


Tapi pikiran buruk ini mulai bermunculan di kepalanya. Jika Zahwa tau kebenaran tentang batalnya pernikahannya waktu itu karena dia dan dia juga yang mengatur semuanya. Dia pria yang merusak reputasinya soal kesucian. Apakah Zahwa akan memaafkannya? Bagaimana jika pernikahan mereka gagal nantinya? Astagfirullahaladzim, membayangkannya saja dia sangat takut.


Rey pun mengatur nafasnya dalam-dalam lalu dia bicara dalam sekali tarikan nafas. Seburuk apapun kebenaran lebih baik diungkapkan, daripada dia terus berjalan di atas kaca. Tak masalah terus terjerembab atau bahkan jatuh terluka, Rey akan tanggung akibatnya.


Plakk!!


Tamparan keras mendarat di pipi Rey.


"Kak...aku gak nyangka kalau kakak akan berbuat seperti ini! Aku kecewa sama kakak, aku benci sama kakak... pernikahan kita batal kak!" teriak Zahwa emosi sambil menangis.


Tiba-tiba saja Rey berteriak saat dia sedang diam.


"TIDAK! Jangan batalkan pernikahan ini!" seru Rey dengan mata melebar ketakutan.


"Kak! Kakak kenapa kak? Kok teriak-teriak gitu?" tanya Zahwa cemas melihat Rey tiba-tiba saja berteriak. "Kak..."


Astagfirullah...jadi yang barusan itu cuma bayanganku saja?


Rey pun menyadari bahwa yang tadi dia katakan pada Zahwa dan apa yang dikatakan gadis itu adalah bayangannya saja. Baru bayangan sudah menjadi nightmare untuknya. "Kak...kakak gak apa-apa kan?"


Kak Rey kenapa ya? Apa dia sakit? Atau stress?

__ADS_1


"Kakak gak apa-apa, kakak kesini cuma mau bilang kalau Kakak akan pergi ke Bali beberapa hari untuk urusan bisnis." ucap Rey sambil mengusap dadanya.


Maafkan aku Zahwa, aku belum siap mengatakan kebenarannya. Maaf aku takut, aku takut kehilanganmu.


"Oh...gitu kak? Ya udah kakak minum dulu teh nya, wajah kakak kelihatan pucat. Pasti kakak lelah ya di kantor?" tanya gadis itu sambil menyodorkan gelas berisi teh hangat itu pada Rey.


Kini Zahwa tak ragu untuk menunjukkan perhatiannya kepada Rey, terlebih lagi mereka sudah bertunangan.


"Makasih Nemo." Rey mengambil gelas berisi teh itu lalu menyeruputnya dengan pelan. Teh yang sesuai selera Rey, tidak pakai gula dan hangatnya pas. Dan Zahwa tau selera Rey yang suka teh pahit.


"Iya kak." Zahwa tersenyum melihat raut wajah kakaknya yang sudah tampak membaik walau masih sedikit pucat.


Setelah berpamitan pada Zahwa untuk pergi ke Bali, Rey pun memeluk Zahwa dengan erat. sebagai bentuk rasa sayangnya dan rindunya nanti saat dia berada di Bali.


"Kakak hati-hati ya, jangan pergi ke pantai Bali!" Larang Zahwa pada Rey.


"Kenapa?"


"Disana banyak cewek pakai bikini, aku gak suka kakak lihat cewek-cewek itu." cetus Zahwa sambil mengerutkan keningnya.


"Kamu tenang aja, tempat kerja kakak nanti gak dekat sama pantai kok. Dan meski cewek-cewek itu godain kakak, kakak gak akan tergoda...karena kehadiran kamu dan bayangan kamu sudah menguasai pikiranku selama 14 tahun sampai sekarang. Mereka semua kalah sama kamu di hati ku." tutur Rey dengan lembutnya.


"Kakak...gombal mulu ih."


"Aku cinta kamu, Nemo."


"Aku juga kak."


Brak!


"Udah yuk berduaannya, nanti ada setan." kata Zayn yang tiba-tiba sudah membuka pintu taman belakang itu.


"Oke..oke...aku pulang dulu ya. Zayn jagain adik kamu, kalau ada yang dekat dekat sama adik kamu, kamu wajib lapor kakak."


"Siap!" Zayn tersenyum sambil memberi hormat pada calon iparnya itu.


Setelah itu Rey pergi dari rumah Zahwa, sambil menyetir dia memikirkan masalah Zahwa dan kemungkinan yang terjadi nanti. Maka dari itu ia akan memberitahu Zahwa ketika dia sudah kembali dari Bali.


Namun sebelum itu dia kembali mengancam Salimah lewat pesan dari ponsel, untuk jangan macam-macam.


Tapi apakah itu akan berhasil?


...*****...

__ADS_1


Hai Readers... sedikit kata-kata mutiara ya ❤️😘 kalau kebenaran itu pasti akan terungkap cepat atau lambat, mau itu baik atau buruk lebih baik cepat diungkapkan...


Zainab dan Reyndra sekarang berada dalam posisi sulit karena menyembunyikan kebenaran 🤧


__ADS_2