
...🍁🍁🍁...
"Hyun-hyun--Hyun Bin Oppa!"
Mulut Zahwa menganga saat dia menyadari bahwa pria yang menolongnya adalah Hyun Bin salah satu aktor Korea yang terkenal di film Secret Garden bersama Ha Ji Won.
Astagfirullah, subhanallah, Allahuakbar! Apa pria didepanku ini adalah Hyun Bin? Ya Allah...Hyun bin Oppa.
"Gwaenchana?" tanya Hyun Bin pada Zahwa sambil membantu gadis itu untuk berdiri.
Rey langsung menarik istrinya menjauh dari Hyun Bin, Zahwa terlihat kesal pada suaminya. "Mas! Lepasin aku, aku mau minta foto bentar sama Opa!"
Selina pasti akan senang kalau aku bilang aku ketemu Hyun Bin. Aku akan berfoto dengannya dan menunjukkan foto itu padanya.
"Gak ada minta foto sama cowok lain, aku tidak suka! Kita langsung ke hotel aja,"
"Tapi mas...itu Hyun Bin Oppa, aku suka Hyun Bin Oppa."
"APA? Kamu suka dia?" tanya Rey dengan suara sedikit meninggi, tangannya masih memegang erat tangan sang istri.
"Bukan suka seperti itu Mas, maksudku aku fans dia... Selina sama Alisa juga suka sama dia, Mas. Please...aku mau foto sama dia Mas." ucap Zahwa memohon dengan wajah memelas.
"Haahh...aku emang gak bisa menang dari kamu Zahwa," ucapnya pasrah.
"Makasih Mas, muach..." Zahwa mengecup pipi suaminya dengan bahagia.
Rey menghela nafas, dia tidak bisa menang dari istrinya kalau sudah begini. Ya sudah dia pasrah dan akhirnya mengizinkan Zahwa berfoto bersama Hyun bin. Namun saat Zahwa sudah mengeluarkan ponsel dan kertas untuk tanda tangan Hyun Bin. Aktor Korea itu sudah tidak ada di sana, yang ada hanya kerumuman fans dan wartawan di sana.
Mereka mengatakan dalam bahasa Korea bahwa Hyun Bin sudah pergi ke Jepang untuk tour film terbarunya.
"Hyun Binnya udah gak ada," gumam Zahwa sedih.
"Ya mau gimana lagi kalau udah gak ada, pasti banyak fans dan wartawan yang ngejar dia. Jadi dia pergi buru-buru deh." jelas Rey pada istrinya, sambil menepuk pelan kepala Zahwa.
Tiba-tiba saja sorot mata Zahwa berubah menjadi tajam padanya. "Kenapa kamu menatapku begitu, Nemo?" Rey terheran-heran.
"Ini semua gara-gara Mas Rey." sungut Zahwa kesal.
__ADS_1
"Lah? Kok jadi gara-gara aku sih?" tanya Rey seraya menunjuk pada dirinya sendiri, dia tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Kalau aja mas gak tahan tangan aku, aku pasti udah bisa dapat foto sama tandatangannya Oppa! Pokoknya ini gara-gara Mas, aku sebel sama Mas..."
"Sa-sayang..." Rey tidak tau bagaimana harus mencari pembelaan.
"Pokoknya aku ngambek sama Mas," Zahwa memalingkan wajahnya, dia sungguh imut kalau merajuk seperti anak kecil.
"Sayang...jangan ngambek dong ah, kita kan mau manis manis dan sayang sayangan disini. Ah...nanti aku temuin kamu sama Opa yang lain deh?"
"Opa apa? Yang mana?" sungut Zahwa masih marah pada suaminya karena kehilangan si Hyun bin.
Pria itu menyunggingkan senyumannya lalu menunjuk pada dirinya sendiri. "Ini, Oppa Rey-bin!"
"Idih apaan sih gak lucu bercandanya, Mas." Zahwa menahan tawa melihat sikap suaminya yang kepedean abis.
"Gak lucu tapi kamu ketawa tuh?"
Zahwa langsung berusaha mengendalikan tawanya yang akan pecah. "Mana ada? Siapa juga yang ketawa? Huh!" dengus Zahwa lalu melenggang pergi menjauh dari suaminya dan berjalan mendahului.
"Nemo, tunggu Opaa Rey-bin."
****
Di Indonesia, Jakarta.
Saat ini di Jakarta masih pukul 19.00 sedangkan di Korea sudah menunjukkan pukul 21.00 karena perbedaan waktu di Korea lebih cepat 2 jam daripada Jakarta.
Rumah keluarga Calabria sedang kedatangan tamu yang membuat semua orang di sana gusar dan kesal. Bagaimana tidak kesal? Mereka kehadiran sosok Dimas, ayah kandung Rey yang tiba-tiba datang kesana.
"Ternyata bapak sudah keluar dari penjara?" sambut Bram dengan raut wajah yang tidak ramah. Begitu pula dengan keluarga Calabria yang lainnya, mereka terlihat waspada pada pria yang sudah beruban sedikit itu.
"Iya pak Bram, saya sudah keluar 4 tahun yang lalu."
"4 tahun lalu? Lalu untuk apa anda kesini?" tanya Bram ketus.
"Saya hanya ingin bertemu dengan anak saya." ucap Dimas dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Dia anak kami, bukan anak bapak!" tegas Diana yang ikut bicara. Melihat wajah Dimas sungguh membuatnya muak, dia teringat bagaimana pria ini menyiksa Rey kecil yang malang dan juga mendiang ibunya yang dulu tengah mengandung calon adiknya. Belum lagi mereka mencoba menculik Zahwa dan Zayn waktu bayi yang malah mencelakai Amayra.
"Saya tau saya memiliki banyak kesalahan pada keluarga kalian dan untuk itu saya minta maaf, saya juga telah mendapatkan hukuman di penjara selama 20 tahun. Saya telah mendapatkan apa yang pantas saya dapatkan dan sekarang saya hanya ingin bertemu dengan anak saya, katanya dia sudah menikah..." Dimas mulai berkaca-kaca.
"Kalau bapak mau bertemu dengan Rey dan istrinya, datanglah kemari tiga hari lagi karena Rey dan istrinya saat ini sedang berada di Korea." tutur Nilam pada Dimas dengan tatapan tidak suka kepada pria itu.
"Baiklah, saya kemari hanya ingin menanyakan anak dan menantu saya. Saya juga sangat berterima kasih karena kalian telah membesarkan Rey selama ini dengan baik, saya sangat berterima kasih atas kebaikan keluarga kalian terutama kepada Pak Bram dan bu Diana." ucap Dimas sambil tersenyum pada pasangan suami istri itu yang telah mengadopsi anaknya.
Rey sudah sukses, aku harus bisa mendekatinya agar hidupku tidak susah lagi.
Keluarga Calabria masih menatap Dimas dengan curiga, sebagian dari mereka tidak percaya bahwa tujuan Dimas ke sana adalah untuk bertemu dengan anaknya saja. Tapi ada maksud lain dari pada itu.
Setelah menemui keluarga Calabria, Dimas pamit pulang dari sana dan pergi ke kontrakan kecilnya di daerah kumuh lingkungan padat kota tersebut. Beginilah Dimas selama 4 tahun, setelah keluar dari penjara hidupnya pun tidak lebih baik dari sebelumnya. Malah lebih kacau, dengan banyaknya penagih hutang maka dia harus bekerja keras untuk membayarnya. Dan sepertinya inilah tujuan Dimas mendekati Rey yang sudah sukses menjadi presiden direktur dari sebuah perusahaan besar.
🍀🍀🍀
.
Hotel di Seoul⛪
2 hari telah berlalu di Seoul, Zahwa dan Rey pergi ke tempat-tempat yang Zahwa inginkan. Rey berusaha menyenangkan istrinya pasca kejadian si Hyun Bin itu.
Mereka berfoto foto sebagai kenangan bulan madu disana, tak lupa mereka bergulat ranjang dengan rajin karena udara dingin membuat mereka kadang enggan pergi keluar dari kamar hotel.
Pagi itu~
Usai shalat subuh bersama Zahwa pergi ke balkon dan melihat pemandangan langka yang tak pernah ia temukan di Indonesia. Tentu saja karena mungkin tempatnya berbeda, dia di Seoul sekarang.
Udaranya juga lebih dingin dari biasanya dan akan memasuki musim salju. Zahwa sangat menantikan salju turun seperti di drama drama Korea yang ia tonton. "Kapan ya salju turun? Katanya diberita sih besok...besok kan hari terakhir aku dan Mas Rey disini?" gumam gadis itu pelan.
Sebuah pelukan hangat melingkar ditubuh Zahwa dengan lembut. Bibir hangat menyentuh cerik leher Zahwa dan menciumnya pelan. "Nemo...ngapain disini? Dingin tau..."
Apa Zahwa masih marah ya karena si opa Hyun Bin itu?
"Gak apa-apa Mas, kita masuk yuk!" Zahwa melepas pelukan suaminya dan melangkah masuk ke dalam kamar dengan lesu.
"Nemo..."
__ADS_1
Rey melihat Zahwa yang sedih dan kembali rebahan di atas ranjang dengan berbalut selimut hangat. "Aduh...aku harus minta saran dari Selina sih," gumam Rey pelan.
...*****...