
...🍀🍀🍀...
Diana menangis histeris memeluk putrinya yang telah menjadi jenazah. Bram juga sama, dia tidak dapat menahan kesedihannya ditinggal Selina.
Putri yang selalu manja padanya, gadis yang dilimpahkan kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Selina yang ceria, selalu tersenyum, membuat semua orang semangat, kini telah berpulang ke Rahmatullah. Sungguh, mereka tidak menerima semua ini.
Selina mati dengan mengenaskan dan kejam ditangan Rivano si pemerkosanya. Ayah dari bayi yang dikandungnya.
"Arggggh....Selina....Selina...bangun sayang, bangun nak! Maafin mama nak, maafin mama karena bersikap sinis dan dingin sama kamu. Maafin mama sayang, maafin mama....maafin mama... huhu..."
"Diana..."
"Pa, ini semua nggak bener kan? Selina gak mungkin pergi meninggalkan kita! Ini gak mungkin...hiks...hiks..." Diana menangis di pelukan suaminya.
Ia tak sanggup melihat Selina yang sudah menjadi jenazah. Bram pun sama, dia menangis sedih melihat anaknya terbujur kaku.
"Kak, om, Tante...tangan Selina gerak!" seru Attar dengan tatapan mata beralih pada jari telunjuk Selina yang bergerak.
"APA?"
Sontak semua keluarga Calabria yang ada disana terkejut mendengar ucapan Attar. Sampai mereka melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa jari Selina menunjukkan pergerakan.
"Sel--selina!"
Selina kembali diperiksa oleh dokter jaga yang ada di sana. Dokter mengatakan bahwa hal ini adalah sebuah keajaiban dari yang kuasa. Selina sempat mati suri dan dia kembali dari kematian. Mungkin karena masih banyak yang menyayangi Selina, atau karena ada sesuatu yang harus Selina capai dan harus diwujudkannya.
Selina selamat, namun dia mengalami koma dan keadaannya belum lebih baik dari sebelumnya. Tapi setidaknya hal itu membuat hati semua keluarga Calabria sedikit tenang, masih ada kemungkinan Selina untuk sadar kembali.
"Alhamdulillah ya Allah, Terima kasih Engkau telah menyelamatkan putriku." ucap Diana sambil mengelus dadanya dengan lega.. Hampir saja dia terkena serangan jantung saat tadi Selina dinyatakan tidak bernyawa.
Syukurlah Selina masih bernafas dan jantungnya masih berdetak. Masih ada harapan agar Selina kembali sembuh, tapi bayinya tak selamat.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita pergi keluar dan biarkan Selina beristirahat lebih dulu." Bram memegang tubuh sang istri dengan lembut.
"Iya Pah."
Bram membawa istrinya keluar dari ruang rawat Selina. Zahwa, Zayn dan Rey juga menyusul keluar dari ruangan itu. Mereka sangat lega karena Selina selamat dari maut. Setelah berada di luar ruangan, Bram segera mengabari Bima tentang kondisi Selina.
Kini di dalam ruangan itu hanya ada Attar, dia duduk di samping Selina. Dia memandangi wajah cantik dan pucat gadis itu dengan lega.
"Alhamdulillah Sel, aku senang kamu selamat...ya kamu memang harus selamat karena masih banyak yang sayang sama kamu. Termasuk aku, Sel...aku sayang sama kamu. Jadi--kamu harus sehat ya? Please..." lirih Attar pada gadis itu.
Attar telah lama memendam rasa kepada Selina, dari kecil Attar selalu mengikuti gadis itu kemana-mana dan menjaganya seperti seorang kakak.
Namun ketika Attar beranjak remaja, pada kelas 2 SMP. Saat itulah Attar mulai merasakan perasaan yang berbeda terhadap Selina, gadis cantik yang selama ini menjadi sahabatnya. Rasa persahabatan itu pun berubah menjadi cinta, seperti lagi Zigaz.
Tapi perasaan Attar sepertinya hanya bertepuk sebelah tangan, manakala suatu hari Selina memperkenalkan Rivanno sebagai pacarnya. Sejak saat itu Selina dan Attar mulai jauh, mereka jarang bertemu maupun bertegur sapa pun tidak. Attar merasa Selina mulai jauh darinya ketika hadir sosok Rivano di dalam hidup gadis itu.
Attar bukanlah anak yang egois, ia tahu bahwa yang namanya perasaan tidak bisa dipaksakan. Bagaimana pun juga dia sadar bahwa di hati Selina, posisinya hanya sebagai seorang sahabat tak lebih dari itu. Lagipula cinta masih terlalu cepat untuk mereka yang masih berusia remaja.
Sekarang harapan Attar adalah kesembuhan Selina dan menawarkan lagi persahabatan dengan gadis itu. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Selina.
"Sel... kamu tenang saja, Rivano si bajingan dan sepupunya itu pasti akan mendapatkan balasannya. Jadi--kamu beristirahat saja dulu, tapi jangan lama-lama ya, aku kangen kamu." pesannya pada gadis yang masih berada dalam keadaan koma itu. Kemudian Attar mengecup kening Selina dengan lembut.
"Aku pergi dulu ya Sel..." pamit Attar lalu dia beranjak pergi dari sana. Tanpa Attar sadari, ada buliran bening keluar dari mata Selina yang masih terpejam.
****
Di markas Jack.
Bima, Jack dan anak buahnya tertawa-tawa melihat Rivano dan Bagas ketakutan. Dua anak remaja itu dimasukkan ke dalam sebuah akuarium kaca, di mana di dalamnya banyak ular, belatung dan juga kalajengking.
"Ah... tolong om, jangan lakukan ini!" rengek Rivano dengan wajah memelas seraya memohon pertolongan pada Bima dan Jack yang berada di luar ruang kaca itu.
__ADS_1
"Sialan! Gue gak mau mati! Ini semua gara-gara Lo, Van! Gara-gara Lo!" Bagas terlihat sangat pucat dan dia menyalahkan Rivano atas semua yang terjadi padanya saat ini. "Aakhh...!!" Bagas semakin panik manakala Dia merasakan ular piton tengah melilit kakinya. "Jauh-jauh...pergi!" teriak Bagas ketakutan.
"Hahaha.... tenang aja kalian gak bakal dulu mati. Kematian terlalu mudah buat kalian yang sudah membuat keponakanku koma!" seru Bima pada kedua orang itu. Ya, Dia baru saja menerima telepon dari Bram bahwa Selina dalam keadaan koma setelah banyak meneguk racun tikus di tubuhnya. Bram juga meminta pada Bima untuk menyerahkan Rivanno dan Bagas ke polisi. Namun, Bima menolak hal itu karena dia ingin menyiksa Rivanno dan Bagas terlebih dahulu. Bima ingin menyiksa mental mereka.
"Hey bajingan tengik! Gue lupa kasih tau sama Lo, kabar yang baik buat Lo." Bima menatap Rivano dengan tajam dan menusuk.
Rivano tidak bicara ataupun bertanya pada Bima, apa yang dimaksud dengan kabar baik itu? Dia hanya terdiam dan menantikan apa yang akan diucapkan oleh Bima kepadanya. Karena dirinya sendiri tidak fokus, sibuk menyelamatkan diri dari ular-ular, belatung dan juga kalajengking yang ada di sana.
Wajahnya pucat pasi, dikelilingi oleh keringat dingin. Bahkan celananya pun basah karena dia mau ngompol, saking takutnya.
"Selamat, calon anak loh yang ada di dalam kandungan keponakan gue...udah mati. Selamat! Lo berhasil jadi pembunuh," Bima tersenyum sinis dan bertepuk tangan. Namun semua orang yang berada di sana tahu bahwa tepuk tangan itu bukan tepuk tangan bahagia, melainkan tepuk tangan mengejek dan sakit hati.
Rivano dan Bagas terperangah mendengar ucapan Bima tentang Selina. Setelah ini sudah dipastikan masa depan Rivano dan Bagas benar-benar hancur. Mereka tidak punya jalan kembali kecuali Selina dan keluarganya memaafkan kesalahan mereka. Ya, walaupun ini bukan kesalahan Bagas tapi pria itu pasti akan ikut terseret karena menolong Rivano untuk mencelakai Selina.
"La-lalu.... bagaimana keadaan Selina, om?" entah kenapa terucap begitu saja pertanyaan itu dari bibir Rivano. Maksud hati dia ingin membunuh bayi yang ada di dalam kandungan Selina dan tidak pernah bermaksud untuk mencelakai Selina. Tapi bukankah semua itu sama saja?
"Hahaha... kenapa Lo nanyain keponakan gue? Bukankah yang penting itu, bayinya sudah mati? Dan Lo akan bebas dari pertanggungjawaban....tapi Lo jangan mimpi, loh akan mendapatkan pertanggungjawabannya yang lebih pedih." ancam Bima emosi.
"Om... tolong jangan bawa-bawa saya, saya tidak mencelakai Selina. Rivano...dia yang meminta saya menolongnya, saya tidak bersalah!" kata Bagas tegas.
"Bodoh amat! Mau lo atau lo yang salah, kalian berdua tetap salah... jangan main salah-salahan." ujar Bima seraya menunjuk ke wajah Rivano dan Bagas. Mengultimatum kedua pria itu, bahwa pasti mereka akan mendapatkan balasannya. "Jack...tambah lagi ularnya!"
"Baik bos."
Jack dan anak buahnya menambahkan kembali ular ke dalam ruangan akuarium tempat dua anak remaja itu berada. Mereka memekik ketakutan, mau kabur tak bisa karena mereka ditahan oleh tali erat. Terdengar suara teriakan mereka yang ketakutan diserang hewan-hewan disana. Mereka sampai terkencing-kencing dibuatnya.
"Hahaha...lihat itu bos, mereka kencing di celana!" Jack tertawa terpingkal-pingkal sampai tak bisa mengendalikan dirinya melihat cairan kuning menetes ke lantai dari tubuh Bagas dan Rivano.
"Buaahahaha..."
"Ckckck... dasar kalian penakut, cuih!" ledek Bima pada kedua remaja yang terlihat ketakutan setengah mati itu di dalam sana.
__ADS_1
...****...