
...🍀🍀🍀...
Beberapa saat kemudian setelah mendengar suaminya menanyakan keadaan Zahwa. Lagi-lagi perasaan Zainab tidak nyaman, mungkinkah dia ada rasa pada suaminya? Lalu bagaimana dengan Raihan sendiri?
Tiba-tiba saja Raihan memanggil istrinya.
"Zainab."
"Ya, mas?"
"Apa kamu masih menyukai Reyndra?"
"Tidak mas, rasa sukaku tidak sedalam rasa cinta mas Raihan sama Zahwa." ucap Zainab dengan senyum getir dibibirnya.
Raihan pun membalikkan badannya, untuk melihat raut wajah istrinya. "Zainab..."
"Mas, tolong belajarlah untuk mencintaiku." pinta Zainab lirih.
Raihan langsung beranjak duduk di atas ranjang, dia melihat mata Zainab mulai berkaca-kaca. Kenapa Zainab tiba-tiba seperti itu? Bukankah selama satu minggu itu mereka bersikap sewajarnya seperti teman, begitulah menurut Raihan.
"Kenapa kamu meminta ini Zainab? Apa kamu mencintaiku?"
"Ya mas, aku mulai mencintaimu. Selama beberapa hari ini aku selalu melakukan tugasku sebagai seorang istri, aku melihat dirimu dalam setiap doaku mas, aku mengagumi dan aku sadar kalau perasaan ini mulai tumbuh didalam hatiku." ucap Zainab seraya memegang dadanya, dia mengungkapkan cinta pada Raihan, suaminya. Dan tentang rasanya pada Reyndra, hanyalah rasa suka dan kagum biasa, bukanlah cinta.
Raihan mendesah pelan, lalu dia tersenyum getir. "Maaf Zainab, kamu memang wanita yang baik dan sholehah...tapi aku tidak mencintaimu. Kamu tau kan siapa yang ada di hatiku?"
"Aku tau mas..." lirih Zainab sambil menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tau benar siapa yang menjadi penghuni hati Raihan, tapi dia mencintainya.
"Maka dari itu jangan mencintaiku terlalu dalam, atau kamu akan terluka Zainab."
"Maafkan aku mas, aku tidak bisa...kita hidup bersama, kita suami-istri, aku tidak bisa menghentikan perasaan yang terus tumbuh setiap hari melihat kamu."
"Haahh...lalu kamu ingin aku bagaimana Zainab?" tanya Raihan sambil menghela nafas berat.
"Cobalah untuk mencintaiku mas. Lagipula Zahwa dan mamanya sudah menolak lamaran mas Raihan kan? Mari kita memulai hidup yang baru mas, mungkin kita memang ditakdirkan bersama walau kita menikah karena di jodohkan, itulah cara Allah menyatukan kita."
"Zainab, itu mungkin untukmu tapi tidak untukku. Perasaanku masih sama untuk Zahwa."
Zainab kesal karena Raihan selalu saja mengungkit Zahwa dan Zahwa bahkan saya sedang berdua seperti ini. Dia ingin marah pada sahabatnya itu, tapi apa salah Zahwa? Suaminya lah yang masih belum move on.
Dan lagi-lagi Zainab terluka bahkan sebelum memulai hubungan, kenapa dia harus memiliki cinta ini?
"Mas, kalau kamu belum bisa mencintaiku bukan tidak mungkin kamu akan mencintaiku nanti. Kamu hanya belum bisa saja." .
"Zainab..." mata Raihan bergetar mendengar perkataan gadis itu.
"Jangan berharap pada sesuatu yang bukan jodohmu mas, terimalah keadaan ini, bahwa aku istrimu. Maka perlakukanlah aku seperti itu mas. Mas paham ilmu agama kan? Mas pasti tahu dong apa yang aku inginkan dari Mas,"
"Zainab, aku belum bisa memberikannya untukmu." Raihan paham maksud dari arah pembicaraan Zainab kemana, dia ingin nafkah batin darinya.
"Aku ingin nafkah batin mas, berikanlah padaku malam ini."
"Tidak Zainab!" Raihan menolak menyentuh Zainab, dia masih terbayang-bayang oleh Zahwa. Dan ia ingin Zahwa menjadi wanita yang pertama dia sentuh.
"Mas...mas akan berdosa kalau tidak memberikanku nafkah batin, kita suami-istri mas...aku ISTRIMU." Kata Zainab penuh penegasan.
Harus dengan cara apa aku membuatmu sadar kalau Zahwa sudah tidak mencintaimu lagi.
__ADS_1
Kedua mata Raihan melebar, manakala Zainab telah membuka hijabnya. Terlihat rambutnya yang panjang berwarna hitam, gadis itu terlihat cantik dan menawan.
"Za-Zainab!" Raihan menelan salivanya, dia gugup melihat Zainab seberani itu. Tapi dia juga tidak berani menolak, bukankah mereka sudah suami-istri?
Tiba-tiba saja Zainab mendekat ke arah suaminya, lalu mendaratkan sebuah kecupan di bibir tipis Raihan. "Mas...berikan nafkah batin untukku sekarang, kumohon."
Raihan yang polos, tubuhnya bergetar setelah mendapatkan ciuman itu dari istrinya. First kiss nya dari Zainab. Raihan termangu, dia baru pertama kali mendapatkan sensasi seperti ini.
Masa bodoh dia mau disebut kehausan belaian pria atau wanita menggoda, Zainab tidak peduli karena ia hanya meminta hak nya sebagai seorang istri.
Tatapan keduanya kini bertemu, Raihan balas mencium bibir Zainab dengan lembut. Zainab pun mengalungkan tangannya di leher Raihan.
Mas Raihan membalasku? Ya Allah...
Sementara disisi lain, Raihan bukan sedang membayangkan bersama dengan Zainab, tapi dia membayangkan wanita di depannya ini adalah Zahwa.
Zahwa, mas cinta kamu. ucap Raihan dalam hati.
Malam itu mereka melakukan penyatuan untuk pertama kalinya, setelah lebih dari 10 hari mereka menikah karena saat itu Zainab juga masih dalam masa haidnya.
*****
Keesokan harinya, pagi itu Zahwa keluar dari kamarnya bersamaan dengan Zayn yang juga baru keluar dari kamarnya. Ia melihat raut wajah Zahwa yang murung dan tidak ceria seperti biasanya.
"Zahwa."
"Hah? Iya kak? Selamat pagi..." sapa Zahwa dengan linglung, seperti tidak tau mau apa dan bagaimana.
"Gimana tangan kamu?" tanya Zayn sambil melirik tangan Zahwa yang masih ada kain penyangganya itu.
"Masih sakit, sedikit." jawabnya singkat.
"Terus--gimana masalah kak Rey?"
Pertanyaan itu sontak saja membuat kedua mata Zahwa melebar. Apa maksudnya kakaknya bertanya begitu? Apa dia tau masalah pernyataan cinta atau ciuman?
"A-ada apa memangnya dengan kak Rey? A-aku gak tau."
"Gak usah ditutupi lagi, aku udah tau kok. Kak Rey bilang cinta sama kamu kan?" tanya Zayn sambil menatap Zahwa.
"Kak! Jangan keras-keras ngomongnya." Zahwa pun menepuk pundak kakaknya dengan tangan kirinya.
"Kita bicara di taman belakang ya, takutnya mama denger." ucap Zayn mengajak adiknya bicara di taman belakang.
Saudara kembar itu kini duduk di kursi yang saling berhadapan, tepatnya di taman belakang. Dimana terdapat tanaman bunga matahari yang ditanam oleh Amayra.
Keduanya pun mulai membicarakan masalah Rey yang menyatakan cinta pada Zahwa. Zahwa memulai pertanyaan lebih dulu pada kakaknya. "Kak, sejak kapan kakak tau kalau kak Rey memiliki perasaan seperti itu sama aku?"
"Waktu kamu ada di--"
Zayn terdiam sebelum menyelesaikan ucapannya, dia memang tau Rey suka pada Zahwa sejak dia melihat Rey mencium Zahwa di dalam kamar saat Zahwa menginap di rumah besar Calabria. Tapi mana mungkin dia bilang begitu.
"Saat hari pernikahan kamu yang gagal," ucapnya kemudian, tentu saja dia berbohong.
"Apa? Jadi--"
"Terus dia bilang apa lagi?"
__ADS_1
"Kak Rey bilang kalau dia cinta sama aku dari usianya 13 tahun, tapi kak kita kan kakak adik kan gak mungkin kalau misalkan kak Rey suka sama aku, ya kan?" Zahwa berusaha mencari pembenaran dari Zayn, bahwa Rey salah dan diantara dirinya dengan pria itu tidak ada hubungan apapun selain saudara.
"Gini ya Zahwa, pertama...kamu sama kak Rey gak ada hubungan darah dan kedua, gak ada masalah kalau kalian mau jalin hubungan lebih dan ke--"
"Gak kak! Ada masalah, aku dan kak Rey sepupuan." Zahwa langsung memotong ucapan Zayn.
"Zahwa, dengerin dulu aku ngomong...aku belum beres."
Gadis itu langsung terdiam mendengar ucapan tegas dari kakaknya. Ya, kakaknya ini kalau lagi serius ya serius, kalau sedang bercanda ya bercanda. Kali ini Zahwa merasa kakaknya sedang serius.
"Dan ketiga, ikuti kata hati kamu. Mau kamu terima kak Rey atau enggak, terserah kamu...tapi jujur nih, kakak suka sama kak Rey. Kita juga udah kenal dia dengan baik, dia laki-laki baik dan kamu juga tau itu. Dia rela melakukan apapun demi kamu, apalagi saat kamu hilang di gunung. Demi kamu, demi menyiapkan kejutan buat kamu dia harus ambil cuti, terus dia gak tidur semalaman dan itu tepat saat kamu hilang. Dia nyari kamu tanpa henti dibawah guyuran hujan, dia sayang banget sama kamu Zahwa."
Mendengar ucapan kakaknya, Zahwa terdiam. Entah apa yang dirasakan oleh hatinya saat ini. Tapi saran yang diberikan oleh Zayn membuatnya sedikit berpengaruh.
Kak Rey beneran cinta sama aku? Ya Allah...
"Lalu apa yang kamu rasakan Zahwa? Apa kamu cinta sama kak Rey? Atau kamu belum move on dari Raihan?"
Kak Rey, aku udah coba bantuin kamu...semoga dengan begini Zahwa sadar. Dan semua terserah kalian.
Aneh, mendengar nama Raihan terasa begitu saja untuk Zahwa. Tidak seperti dulu yang berdebar dan langsung menunjukkan senyuman terbaiknya.
"Kak..."
Dreett....dreett....
Tiba-tiba saja ponsel Zayn berbunyi, ia pun melihat siapa yang menelponnya. Zayn menatap Zahwa sejenak lalu menghembuskan nafasnya, dia pun mengangkat telpon itu.
"Waalaikumsalam kak Rey..."
"Kak Rey?" bisik Zahwa yang hampir tak terdengar. Dia menatap kakaknya yang sedang bicara dengan Rey.
"Zahwa ada kok, ini dia lagi duduk disamping aku." ucap Zayn seraya melirik Zahwa yang ternyata sudah berlari masuk ke dalam rumah dan Zayn tidak menyadarinya. "Ya, dia udah ke dalam kak."
[Zahwa gak apa-apa kan Zayn?]
"Dia masih hidup kok." candanya sambil terkekeh.
[Hem...] terdengar helaan nafas dari seberang sana.
"Kak aku udah ngomong sama Zahwa,"
[Terus? Gimana?]
"Kayaknya Zahwa udah move on dari kak Raihan dan soal perasaan dia sama kakak...maaf kak tapi masih abu-abu." Begitulah Zayn kalau bicara memang suka apa adanya dan sesuai fakta tanpa pakai filter.
[Haaahh...] Rey mendesah pelan.
"Boleh aku kasih saran? Kakak harus tunjukkin kasih sayang kakak dengan lebih dekat," ucap Zayn memberi nasehat.
[Caranya?]
"Ya kakak harus pdkt,"
[Selama ini aku kan udah Pdkt, Zayn.]
"PDkt ini beda kak, buat pdkt kakak bukan pdkt seperti adik dan kakak lagi, tapi pdkt seperti ta'aruf." jelas Zayn pada Rey.
__ADS_1
Rey terdiam dan berpikir keras. Apa maksudnya pdkt ta'aruf?
...*****...