Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 89. Pesan Rekaman suara


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Usai menikmati keindahan dan suasana salju pertama turun, Zahwa dan Rey pergi kembali ke hotel untuk melaksanakan shalat ashar karena disana sulit untuk menemukan mushala atau mesjid besar.


Sebelum ke hotel, mereka membeli makanan dari luar untuk menikmati makan malam mereka. Zahwa ingin makan makanan khas Korea yaitu kimbap dan jjampoong.


Setelah shalat ashar bersama mereka menikmati makanan di dekat balkon kamar hotel sambil menikmati pemandangan kota Seoul pada sore hari.


"Enak ya Mas makan yang pedas-pedas jadi hangat,"


"Yang hangat tuh di ranjang sambil__"


Tiba-tiba saja Zahwa menyumpal mulut Rey dengan kimbap yang ada ditangannya. "Lagi makan gak boleh mesum Mas, gak boleh!" seru Zahwa pada suaminya mengingatkan dengan mata melotot.


Rey tersenyum dan segera menghabiskan kimbap di mulutnya itu. "Kalau makannya udah beres, aku mau nagih hadiah dari kamu."


"Hadiah apaan Mas?"


"Nahan cemburu, kaki pegel, fotoin kamu sama Opa opa itu, terus__"


"Terus?" tanya Zahwa pada suaminya.


"Ya terus aku mau minta hadiahnya, hadiah dari kesabaranku." ucap Rey sambil melihat makanan di piring Zahwa yang hampir habis. Hanya sisa 2 kimbap lagi, namun Rey sudah menggendong istrinya ala bridal dengan tidak sabar.


"Mas...aku belum beres makan loh!"


"Aku udah gak sabar sayang," bisik Rey pada istrinya, nafasnya memburuk dan gairahnya mulai memuncak. Dia tidak sabar menggempur istrinya lagi.


"Ya udah, aku minum dulu..."


Rey mengambil air minum di dalam gelas lalu membantu Zahwa untuk meneguk minuman itu. Setelahnya Rey menundukkan Zahwa di atas meja yang ada di kamar tersebut. Pria itu memulai aksinya dengan menghujani wajah sang istri dengan ciuman lembut seperti biasa.


"Eungh--Mas..." lenguh Zahwa ditengah-tengah ciuman panas dari suaminya itu.


"Apa sayang?" tanya Rey yang sibuk menanggalkan hijab Zahwa, lalu mulai pada kemeja yang dipakainya.


"Mas, tunggu dulu..."


"Hem?"


"Kita mau di atas__meja?" tanya Zahwa malu-malu.


"Iya, kita coba disini ya Nemo."sahut Rey sambil melepas kain penyangga dua buah benda kenyal milik sang istri. Lalu dia meninggalkan jejak kepemilikannya di sana.


"Iya Mas...ta-tapi..."

__ADS_1


"Apa lagi?" tanya Rey sambil menunggakan kepalanya menatap wajah sang istri yang kini telah bersemu merah dan tampak bergairah.


"Ini masa suburku, Mas...apa aku harus minum pil kontrasepsi atau tidak?"


Benar juga, mereka belum berdiskusi tentang punya anak atau tidak. Mungkin sekarang saatnya mendiskusikan anak itu.


"Tidak usah sayang, Mas gak mau kamu pakai yang kayak gituan. Mas mau semuanya mengalir apa adanya, usia mas juga sudah tidak muda lagi...sudah cocok untuk punya anak."


"Eungh, jadi gak apa-apa kalau misalkan aku hamil kan? Aku pikir...mas beluk mau punya anak dulu." ucap Zahwa polos.


"Iya sayang, aku malah senang kalau kamu hamil. Biar kamu makin sayang sama aku...hehe." Rey terkekeh dengan jawaban yang diberikannya kepada Zahwa. Ya dia memang tidak mau menunda punya anak, kalau bisa punya anak sebanyak mungkin.


"Ya udah, jadi gak usah pakai ya?" tanya Zahwa seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Rey.


"Iya sayang gak perlu...ehm...tapi...kamu gak keberatan kan kalau misalkan kamu hamil sekarang sekarang?" Rey lupa sebelumnya untuk menanyakan hal ini kepada Zahwa.


"Gak apa-apa, kalau Allah udah kasih kepercayaan sama aku...aku ikhlas, Mas."


"Ya udah...karena kita udah sepakat, yuk kita mulai aja buat Dede bayinya."


"Ih...Mas apaan sih," Zahwa mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka bahwa si kulkas 15 pintu akan bersikap seperti ini ketika mereka sudah menikah. Sikap yang sama, tapi ada yang berbeda terutama diatas ranjang.


"Hehe maksudku ayo kita mulai mendekatkan diri kita!"


Hingga keesokan harinya, mereka kembali ke Indonesia dari bulan madu itu. Mereka langsung pergi ke rumah besar keluarga Calabria karena rumah yang akan Rey dan Zahwa tempati masih berada dalam tahap renovasi.


"Acie...pengantin baru, bau-baunya udah bikin Dede bayi nih!" canda Selina pada kakak dan kakak iparnya itu dan membuat Zahwa tersenyum malu.


"Sel, kakak sama Kakak iparmu baru pulang loh...udah jangan godain mereka,biarkan mereka istirahat dulu." ucap Diana seraya tersenyum pada Rey dan Zahwa yang memang tampak lelah setelah perjalanan mereka.


"Kalian naik ke atas ya dan beristirahat." kata Nilam pada pasangan pengantin baru itu.


Rey dan Zahwa pun mengangguk kemudian pergi bersama ke lantai atas menuju ke kamar Rey yang akan mereka tempati sementara waktu sampai rumah selesai dibangun.


Semua keluarga tampak senang dengan kebahagiaan yang terpancar di wajah Rey dan Zahwa. Mereka jadi tidak sabar mendengar tangisan bayi lagi di rumah itu yang sudah lama tidak terdengar.


Ya, semoga saja kabar baik segera datang.


*****


Sesampainya didalam kamar, Rey mandi terlebih dahulu sementara Zahwa menyiapkan pakaian untuk suaminya. Saat sedang menyiapkan pakaian untuk Rey, Zahwa mendengar ponselnya berdering.


"Nomor siapa ini?" gumam Zahwa saat melihat ada notif pesan WhatsApp di ponselnya.


Zahwa membuka pesan suara itu, lalu dia mendengarkannya. Suara yang dia dengar tidak asing ditelinganya.

__ADS_1


"Kamu benar Salimah, kakak kamu ternyata dengan mudanya memutuskan pernikahannya karena selembar foto."


"Ya kan kak? Apa aku bilang, rencana kakak pasti berhasil... akhirnya pernikahan mereka gagal kan?"


"A-apa ini? Ini suara Mas Rey dan Sali--mah?" gumam Zahwa kebingungan.


Kemudian Zahwa membuka pesan masuk di sana, berisi screenshot pesan Rey dan Salimah bahwa mereka bekerjasama untuk membatalkan pernikahan Raihan dan dirinya.


"Ini gak mungkin...mas Rey gak mungkin," Zahwa tidak percaya melihat semua bukti itu. Sulit untuk percaya bahwa Rey melakukan hal licik itu.


Tiba-tiba saja sebuah pelukan hangat melingkar di tubuhnya. "Sayang, giliran kamu yang mandi." ucap Rey yang saat itu masih mengunakan kimono handuknya.


Zahwa melepas pelan pelukan suaminya, lalu berbalik menatap tajam pada Rey. Tanpa basa-basi Zahwa langsung memperlihatkan isi pesan di ponselnya pada Rey dan bertanya padanya. "Mas, benarkah Mas yang berkonspirasi dengan Salimah untuk membatalkan pernikahanku dan mas Raihan dulu?" tanya Zahwa sambil memegang ponselnya, dia menatap suaminya dengan atensi tajam.


Kedua mata Rey melebar melihat isi pesan itu. Matilah dia, dia lupa menjelaskannya dan sekarang bukti sudah ada. Dia benar-benar ceroboh. "Sayang, kamu dengarkan dulu penjelasanku!"


"Oh jadi itu benar?" tebak Zahwa saat melihat raut wajah suaminya yang tidak mengelak semua ini dan malah meminta dirinya untuk mendengarkan penjelasan.


"Sampai kapan Mas akan menyembunyikan semua ini, kalau aku tidak tahu semuanya dari pesan ini....mungkin mas akan tetap merahasiakannya!" ujar Zahwa penuh kemarahan pada suaminya, matanya mulai berembun.


"Sayang...inilah yang mau aku katakan padamu, sebenarnya memang aku yang sudah__" tubuh Rey bergetar hebat saat melihat raut wajah istrinya yang penuh kemarahan dan juga kecewa. Akhirnya rahasia yang selama ini ia simpan terbongkar tapi lewat orang lain bukan dari mulutnya sendiri.


Kacau.


Darurat.


"Hiks...hiks....aku gak percaya ternyata mas bisa melakukan hal selicik ini! Mas tau yidak apa yang mas perbuat membuat reputasiku hancur dan kesucianku dipertanyakan semua orang?" Zahwa terisak lalu memukul-mukul tubuh suaminya. Tanpa sadar dia menangis keras mengingat semua kejadian yang pernah dia alami saat gagal di pernikahan itu. Bagaimana semua orang menghinanya? Dan ternyata pria yang selama ini menghiburnya adalah pelaku yang sebenarnya.


"Aku punya alasan kenapa aku melakukan semua ini, kamu tolong dengarkan aku dulu sayang..." Rey memegang tangan Zahwa dengan erat, meminta agar wanita itu mendengarkannya lebih dulu. "Tolong DENGARKAN aku dulu, Zahwa!" suara Rey mulai meninggi guna membuat Zahwa diam dan tenang.


"Aku gak mau...Mas JAHAT! Mas...kejam...aku benci! Aku benci Mas Reyndra! Hiks... huhuhhu..."


Namun Zahwa malah semakin menangis kencang hingga membuat semua orang yang ada di lantai bawah mendengar suara gaduh diatas sana. Zahwa lupa bahwa disini adalah rumah keluarganya.


"Ada apa itu? Kok aku kayak dengar suara Zahwa nangis." celetuk Bram cemas.


"Eh masa sih, pah?" tanya Diana tidak yakin.


"Aku juga denger kok, Ma..."


"Ada apa ya? Kita lihat aja kesana yuk!" ajak Nilam pada putra, menantu dan cucunya untuk melihat keadaan Zahwa dan Rey ke lantai atas.


Apa mereka bertengkar?


...*****...

__ADS_1


__ADS_2