Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 40. Syukurlah Tarzania


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Vera dan Tiara membeku begitu melihat siapa yang bicara didepan tenda itu. Sosok Zainab dan Aini sudah ada disana, menatap mereka dengan sorot mata tajam.


"Benar-benar kalian jahat ya!" dengus Zainab emosi mendengar obrolan Vera dan Tiara secara tak sengaja.


"Jadi kalian pelakunya? Cepet bilang! Kalian apain lagi Zahwa?!" Aini menarik tangan Tiara dengan emosi.


"A-aku gak ngapa-ngapain." jawab Tiara tergagap.


"Tiara, Vera, aku sama Aini udah denger semuanya...lebih baik kalian jujur! Apa aja yang kalian lakukan sama Zahwa dan dimana Zahwa sekarang?" tanya Zainab tegas.


"Beneran...kami gak tau dimana Zahwa, kami gak tau." jawab Vera jujur dengan tubuh gemetar dan peluh keringat sebesar biji jagung terlihat di wajahnya.


Mampuslah, udah ketahuan gini gimana?


"Aku udah rekam semua pengakuan kalian, lihat aja...aku bakal laporin ini!" kata Zainab sambil memegang ponselnya.


"Kak Zainab...jangan dong...jangan laporin kita." ucap Tiara seraya memohon dan mengatupkan kedua tangannya. Dia terlihat ketakutan dengan ancaman Zainab.


"Ya udah ayo ngomong, dimana Zahwa?" tanya Aini membentak.


"Beneran, kita gak tau dimana Zahwa...kita cuma ngambil gelang Zahwa, terus kita nyimpan gelang itu di ranting pohon deket tebing, selebihnya kami gak tau apa yang terjadi sama Zahwa setelah itu." jelas Tiara jujur, karena memang hanya itu yang ia lakukan. Ia tak tahu tentang Zahwa yang akan jatuh ke tebing.


"Gelang apa?" tanya Zainab.


"Gak tau, katanya gelang itu penting banget buat Zahwa. Gak tau gelang apa." jawab Tiara.


"Iya, Aini, kak Zainab...kami gak nyangka kalau kejadiannya bakal kayak gini. Kami cuma bermaksud mengerjai Zahwa aja, kami iseng." ucap Vera membela dirinya.


"Iseng? Jadi kalian anggap ini semua bercanda?" Zainab masih menatap tajam kedua wanita yang sudah jahil pada sahabatnya itu.


"Kak, ini gak bisa dibiarin...mereka udah keterlaluan, mereka udah mencelakai Zahwa." Aini tidak bisa diam saja sahabatnya di celakai oleh dua orang wanita itu. Tentu mereka harus dapat ganjarannya.


"Kita tunggu sampai kak Rey dan Zayn kembali, lalu kita tentukan harus bagaimana!"


Rey? Zayn? Dua orang itu terlihat menakutkan untuk Tiara dan Vera. Apalagi mereka melihat Rey yang mengamuk pada Firman tadi. Apa jadinya kalau Rey tau bahwa hilangnya Zahwa adalah karena mereka?


"Kenapa wajah kalian pucat begitu?" tanya Aini heran melihat Tiara dan Vera terdiam dengan wajah pucat.


"Ja-jangan laporin kami...please..."


Kedua wanita itu memohon pada Zainab dan Aini, tapi tak ada gunanya juga mereka memohon. Zainab dan Aini sudah geram dengan tingkah dua wanita yang sudah diluar batas ini.


****


Matahari yang tadinya terik kini sudah mulai terbenam. Dari pagi sampai sore mereka sudah melakukan pencarian di gunung dan sekitar jurang itu, tapi Zahwa masih belum ditemukan juga.


Suara petir menggelegar, langit mulai mendung, pertanda akan kembali turun hujan. Terlihat tim SAR dan beberapa orang suruhan Bima sudah mulai lelah, mereka bahkan belum makan dari pagi.


"Lebih baik kalian semua istirahat dulu, kembalilah ke kemah dan pergi makan!" titah Rey pada para anggota tim SAR dan orang suruhan Bima yang berjumlah 5 orang itu.


"Baiklah pak, kami akan lanjutkan pencarian setelah beristirahat sejenak dan makan sebentar. Lagipula hari sudah mau hujan dan gelap." kata ketua tim SAR itu pada Rey.


"Iya itu lebih baik." Rey tersenyum, wajahnya terlihat pucat, dia seperti banyak pikiran. Semalaman dia tidak tidur karena bekerja dan sekarang dia mencari Zahwa tanpa istirahat.


Tim SAR dan kelima orang suruhan Bima pun pergi dari sana untuk turun gunung dan mencari tempat beristirahat. Tapi Rey masih disana bersama Zayn.


"Kak, kakak ngapain? Ayo kita pergi juga!" ajak Zayn, ia heran melihat Rey masih seperti mencari sesuatu.


"Kamu saja yang pergi, cepatlah! Keburu mereka jauh." ucap Rey pada adik sepupunya itu.


"Kak...ayo kita pergi sama-sama. Kakak belum istirahat loh semalaman, kakak juga belum makan kan?" Zayn tidak tega melihat wajah pucat kakaknya, lelah dan frustasi. Takutnya pria itu tak bisa berpikir jernih disaat-saat seperti ini.


"Mana bisa aku istirahat Zayn, kalau Nemo aja belum ketemu...aku harus temuin Nemo dulu." ucap Rey dengan mata sayup-sayup, memperlihatkan lelahnya.


"Tapi kak...kakak bisa pingsan kalau kayak gini terus! Kita harus istirahat dulu kak, please..."

__ADS_1


"Gak Zayn, gak bisa..." ucap Rey menolak. "Zahwa harus ketemu dulu, baru aku bisa tenang."


Zayn terdiam sejenak, dia tersenyum haru melihat perjuangan Rey demi menemukan adiknya. Dia rasa Rey benar-benar mencintai Zahwa dan bukan hanya ucapannya saja. Cinta itu sangat dalam, mungkin melebihi cintanya sebagai saudara kepada Zahwa.


"Kak...aku restuin kakak sama Zahwa, aku dukung kakak jadi iparku." tiba-tiba Zayn mengucapkan kata-kata itu kepada Rey.


Rey tersenyum. "Kenapa? Kamu terharu sama aku sekarang?"


"Lebih dari terharu kak, karena cinta kakak sama Zahwa mungkin lebih besar dari cinta yang aku miliki sama Zahwa." lirih Zayn sambil tersenyum.


"Akhirnya kamu menyadarinya, aku kan sudah bilang kalau aku serius. Dari bocil aku udah naksir Zahwa,"


"Aku percaya sekarang," jawab Zayn sambil tersenyum. "Ya udah, ayo kita cari Zahwa barengan. Tapi kalau sudah mulai gelap, kita harus berhenti."


"Makasih Zayn,"


"Aku gak boleh kalah sama kakak, apalagi nyari saudara kembarku sendiri." Kata Zayn.


Zahwa, aku yakin kak Rey bisa buat kamu bahagia karena dia sayang banget sama kamu. Tapi kamu...kalau kamu tau perasaan a kak Rey nanti, apakah kamu akan menerimanya?


Mereka berdua pun melakukan pencarian Zahwa berdua saja di sekitar bibir jurang itu. Kemudian tak lama kemudian, Zayn menemukan tetesan darah di dedaunan. "Kak! Lihat ini, ada darah!"


Rey langsung menoleh ke arah Zayn, ia pun melihat tetesan darah di dedaunan itu. "Darahnya masih basah, apa Zahwa terluka?" gumam Rey yang mulai dilanda kecemasan yang baru.


"Eh kakak! Apa ini?" tunjuk Zayn pada tetesan darah di bawah tanah.


"Kita ikuti jejak ini!" kata Rey tegas.


Zayn mengangguk, lalu kedua pria itu mengikuti jejak darah yang diyakini sebagai jejak keberadaan Zahwa.


...*****...


Sementara itu disisi lain, Zahwa memang sudah tidak berada di bibir jurang. Ia sudah berada di tepi sungai, tidak dengan cara berjalan tapi mengesot kesana karena dia kesulitan berjalan. "Alhamdulillah...aku bisa minum, aku bisa makan walau seadanya dan aku masih lapar, tapi yang penting aku masih hidup haha...memang deh aku hebat! Tentu saja karena restu dari Allah juga," Zahwa tertawa bahagia begitu menemukan sumber air yang menyelamatkan hidupnya.


"Bismillahirrahmanirrahim..." Zahwa mengambil air sungai itu dengan tangannya, lalu menyeruputnya pelan-pelan. "Alhamdulillah."


"Tapi kenapa orang-orang belum menemukan aku ya? Apa mereka kesulitan? Gimana sama mama, kak Zayn, kak Rey dan yang lain ya? Apa mereka sudah tau kalau aku jatuh ke jurang? Apa mereka cemas padaku?" Zahwa memandang langit yang sudah mulai gelap lagi, persis saat ketika jauh dari tebing. Artinya sudah lebih dari 24 jam dia terjebak dibawah jurang.


"Hiss... aku sakit, aku lapar, aku pengen ayam goreng, pengen seblak yang pedes... huahhh..." Zahwa berteriak karena lapar dan rasa sakit ditubuhnya. Pertahanan tubuhnya mulai melemah, dia sudah semakin pucat apalagi setelah kehilangan banyak darah.


"Nemo!"


Zahwa menengok kesana-kemari saat dengar suara tidak asing memanggil namanya dengan khas. Nemo, itulah panggilan satu-satunya pria itu padanya. "Ah? Itu kan suara kakak? Aku masih bermimpi...mana mungkin kakak ada disini. Come on Zahwa, sadarlah, jangan sampai hutan ini membuatmu gila."


"Nemo! Dimana kamu!"


Gadis itu kembali terperangah mendengar suara kakaknya untuk kedua kalinya. "Kakak...KAKAK!" teriak Zahwa mencoba memancing suara Rey. "Benaran itu kakak kan? Bukan jin yang menyerupai kakak?" gumamnya pelan.


Suara Rey tak terdengar lagi, sampai sebuah pelukan hangat mendekap erat tubuhnya. Zahwa mencium bau familiar dari tubuh pria yang memeluknya itu. "Kak...ini benaran kakak? Bukan jin yang--"


"Alhamdulillah.... syukurlah, kamu masih hidup." ucap Rey lega, ia tersenyum seraya memeluk tubuh Zahwa erat.


"Apa aku mimpi?" gumam Zahwa bingung, masih merasa bahwa bertemu Rey adalah mimpi.


Entah apa yang merasuki Rey, dia mencium kening, kedua kelopak mata Zahwa, hidung lalu kedua pipi Zahwa dengan sayang. "Aku gak bisa bayangin kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, wa. Jantungku mungkin bisa berhenti saat itu juga."


Rey mengurai pelukannya, ia menangis melihat Zahwa. Tangannya menyentuh kepala Zahwa yang terbalik jilbab. "Kakak..." lirih Zahwa.


"Iya ini aku. Kamu akan baik-baik saja, tenang ya..." ucap Rey lega, melihat wanita yang ia cintai selamat. Seolah seluruh hidupnya telah kembali. Dia sangat bersyukur


.


"Huahhh...kakak!! Hiks...huaahh..." Zahwa kembali memeluk kakaknya, ia menangis tersedu-sedu dalam dekapan Reyndra.


Ini benaran kakak...ini benaran kakak, makasih ya Allah...engkau telah mengirimkan malaikat penolongku.


"Kenapa? Ada yang sakit?" Rey mengurai pelukannya, lalu satu tangannya mengusap air mata Zahwa dengan lembut.

__ADS_1


"Maafin aku kak...maafin aku huhu..." Zahwa terisak.


"Kenapa?" tanya Rey lagi.


"Maafin aku kak, gelangnya...hiks...hiks.."


"Gelang apa?"


"Gelang dari kakak putus...aku gak sengaja...hiks...maaf." Zahwa menunjukkan gelang pemberian Rey yang kini sudah tidak utuh lagi. Rey ingin tertawa melihat Zahwa menangis karena gelang, padahal gelang itu bukan masalah. Baginya keselamatan Zahwa lebih utama. Rey menahan tawanya karena Zahwa tampak menangis serius.


"Udah gak apa-apa, cuma gelang kok. Nanti aku beliin lagi, nah sekarang kita pulang yuk!" ajak Rey pada Zahwa.


Gelang itu bisa putus, tapi tidak dengan perasaanku Zahwa. Aku akan selalu mencintai kamu. Rey bermonolog pada dirinya sendiri.


"Tapi gelangnya mahal kak." rengek Zahwa pada Rey.


Rey menepuk kepala Zahwa, dia tersenyum melihat tingkah gadis itu yang masih tampak menggemaskan untuknya setiap saat. Ada saja yang membuatnya gemas.


Tak lama kemudian, Zayn terlihat berlari menghampiri mereka berdua. Dia memeluk adiknya dengan cemas. "Zahwa, kamu gak apa-apa? Ya Allah..." Zayn mengusap darah kering di kening Zahwa, dia menatap saudara kembarnya dengan cemas.


Ya Allah, terima kasih...engkau sudah mempertemukanku kembali dengan adikku. ucap Zayn penuh syukur dalam hatinya.


"Aku gak apa-apa, tapi gelangnya...gelangnya putus...hiks..."


Zayn melirik ke arah Rey, menanyakan gelang apa yang dimaksud. Rey hanya tersenyum menyahutinya. Kemudian Zahwa berakhir di gendongan Rey karena dia kesulitan berjalan.


"Kak, biar aku aja yang gendong Zahwa!" tawar Zayn, melihat Rey yang terlihat lelah.


"Gak apa-apa Zayn,"


"Tiba-tiba aku jadi inget waktu dulu, waktu aku diculik dan kak Rey gendong aku kayak gini juga."


"Ya, benar. Saat kamu diculik orang gila itu," sahut Zayn teringat kejadian masa lalu. Saat Zahwa berusia sekitar 5 tahunan, dia pernah diculik.


(Bagian Zahwa di culik ini ada di novel cinta suci Amayra, bagi yang ingin tau)


"Iya dan saat itu kak Rey juga kak Zayn nolongin aku. Seneng deh aku punya kakak yang sayang sama aku," Zahwa tersenyum bahagia karena punya dua kakak yang sayang padanya.


Rey dan Zayn hanya tersenyum, tanpa berkata apa-apa. "Oh ya ngomong-ngomong kamu hebat banget masih bisa bertahan! Pasti kamu kesulitan disini kan? Kamu pasti lapar, haus dan kesakitan." tanya Rey tiba-tiba.


"Hehe aku hebat dong kak, aku emang lapar, haus dan sakit. Tapi aku bisa cari makan sendiri, ada makan pohon pisang, aku makan buah mangga, terus aku minum air di sungai. Jadi aku masih hidup deh! Hehe." jelas Zahwa membanggakan dirinya.


"Udahlah kak Rey, jangan ditanyain lagi. Tarzania memang tempatnya di hutan," celetuk Zayn sambil terkekeh mendengar cerita bagaimana adiknya bertahan hidup.


"APA? Tarzania?" suara Zahwa yang lemah kini agak meninggi. "Kak Rey, lihat kak Zayn...dia ngejek aku." adunya pada Rey. Memang dari kecil sampai sekarang, kalau Zahwa selalu bertengkar dengan Zayn, pasti gadis itu akan meminta perlindungan pada Kakak sepupunya. Karena hanya dia yang selalu membelanya.


"Zayn...udah ah." Rey terkekeh.


"Syukurlah Tarzania selamat, memang deh tarzania hebat!" Zayn mengacungkan jempolnya seraya mengedipkan sebelah matanya pada Zahwa dengan jahil.


"Ish...kakak jahat banget sih sama adik sendiri!" seru Zahwa kesal.


Rey dan Zayn senang karena Zahwa masih bisa tersenyum ceria walau dia dalam keadaan sakit. Mereka tau Zahwa adalah wanita kuat dan tidak cengeng seperti wanita kebanyakan.


Mereka pun berjalan untuk memutari jurang itu, karena hanya itu satu-satunya jalan aman untuk naik ke atas. Kali ini Zayn gantian yang menggendong Zahwa lebih dulu karena Rey akan mengamankan jalan didepan takutnya licin.


"Sudah aman, ayo aku pegang kalian." Rey memegang tangan Zayn yang sedang menggendong Zahwa.


Mereka berhasil ke luar dari sana dan menuju ke tempat kemah, juga ada tim medis yang dibawa ke sana oleh tim SAR. Saat baru sampai ditengah perjalanan ke kemah, Zayn MERASAKAN tubuh Zahwa gemetar dan dingin.


"Wa...kamu kenapa?" tanya Zayn pada adiknya, dia merasa ada yang tidak beres.


"Kenapa Zayn?" lirik Rey pada Zayn.


"Badan Zahwa gemetar kak!" seru Zayn.


Rey melihat Zahwa sudah tidak sadarkan diri di gendongan Zayn. Kedua pria itu bertambah cemas melihat keadaan Zahwa yang tiba-tiba begitu.

__ADS_1


"Mo..Nemo..." ucap Rey sambil memegang kedua pipi Zahwa yang terasa dingin. Kulitnya yang putih jadi membiru. "Zayn ayo kita bawa ke kemah! Cepat!" teriak Rey, lalu dia membawa Zahwa ke dalam gendongannya.


...****...


__ADS_2