Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 67. Salah tingkah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Kamu hamil, Zainab?" Tanya Raihan sekali lagi dengan semua atensi yang tercuri padanya.


"Iya mas, aku hamil..." jawab Zainab sambil menundukkan kepalanya.


"Masya Allah, ini sungguh berita yang sangat baik." Raihan menatap istrinya, lalu tangannya memegang tangan Zainab. Pria itu menyunggingkan senyuman manisnya dan ia tampak bahagia tidak dibuat-buat.


Raihan percaya dengan ucapan Zainab, dia tau walaupun Zainab berkali-kali disakiti olehnya tapi gadis itu tetap bertahan. Dan masalah kehamilan, Raihan percaya sebab saat melakukan hubungan intim itu. Zainab belum lama beres datang bulan dan saat itu sedang dalam masa suburnya.


Melihat raut wajah Raihan yang begitu bahagia, membuat Zainab meneteskan air mata. Terlihat senyum kecut dibibirnya dan ada juga rasa bersalah di dalam tatapan mata Zainab.


"Kenapa kamu nangis, Nab?" Raihan mengusap air mata Zainab dengan tangan lembutnya. Niat Raihan untuk menceraikan Zainab menjadi batal karena mendengar istrinya sedang hamil.


"Aku...aku..."


Pria itu menarik Zainab ke dalam pelukannya dengan erat. Raihan juga menangis, dia merasa bersalah karena sudah membuat Zainab terluka dan sedih setelah mereka menikah satu bulan lamanya. "Maafkan aku Zainab, selama ini aku tidak berpikir jernih dan tidak memikirkan bagaimana perasaan kamu. Maafkan suamimu ini Zainab, maafkan mas....mulai sekarang mas akan mencoba untuk mencintai kamu dan anak kita. Mari hidup bahagia Zainab....mas akan menjadi imam yang baik untuk kamu dan ayah yang baik untuk anak kita. Astagfirullahaladzim... Zainab, kesalahanku sungguh besar padamu, kamu pasti tidak mau memaafkanku kan?"


Betapa Zainab bahagia mendapatkan pelukan hangat dari suaminya untuk pertama kali. Namun air mata terus membasahi pipinya, dia merasa bersalah karena sudah berbohong tentang kehamilannya.


Ya Allah...salahkah aku berbohong untuk mempertahankan rumah tangga kami? Salahku aku...ya Allah...salahkah aku bahagia oleh pelukan suamiku yang semu ini?


Zainab mempererat pelukannya pada Raihan seakan tak mau melepaskannya. "Zainab kamu jangan nangis..."


"Sebentar mas...aku masih mau peluk mas Raihan...hiks..." Zainab terisak didalam tubuh bidang suaminya.


"Jangan lama-lama nangisnya, bayi kita nanti jadi sedih." Raihan mengelus lembut rambut Zainab yang panjang sebahu itu seraya menghiburnya.


Ya Allah, aku sudah dzalim kepada istriku selama ini. Mulai detik ini dan selamanya, aku akan belajar mencintai Zainab. Menjadi ayah dan imam yang baik untuk keluargaku. Ya Allah, tolong hilangkan Zahwa dalam pikiran dan hatiku ini.


Lama menangis dalam pelukan suaminya, akhirnya Raihan mengurai pelukan itu. Dia melihat wajah Zainab yang merah dan matanya yang sembab. "Zainab, kamu jangan khawatir dan kamu jangan sedih ya? Kamu gak usah khawatir soal Zahwa, dia akan segera menikah dan besok malam dia akan di khitbah."


Zainab menatap suaminya, dia tidak tahu menahu soal Zahwa. Setelah kejadian menampar Zahwa di rumah sakit, dia seakan sudah putus hubungan dengan Zahwa.


"Zahwa akan menikah mas? Dengan siapa?"


"Dia akan menikah dengan kak Rey."


"Kak Rey siapa mas?"


Tidak mungkin Rey yang aku kenal kan?. Pikir Zainab dalam hati.


"Reyndra Aqmar Calabria, kakak sepupunya."


"A-apa mas serius?" Rasanya Zainab tidak percaya bahwa Zahwa akan menikah dengan kakak sepupunya sendiri.


"Aku serius dan ternyata kak Rey bukan anak kandung keluarga itu, tak ada yang melarang hubungan mereka bahkan agama juga tidak. Ya, kita doakan saja agar mereka bahagia ya Zainab."


"Iya Mas," terlihat senyuman di bibir Zainab begitu mendengar kabar Zahwa akan menikah. Mungkin dengan hal ini, Raihan akan semakin melupakan mantannya itu.


"Jadi kamu gak usah cemas ya, kamu pikirkan saja kesehatan anak kita. Mas janji tidak akan membuat kamu dan anak kita sedih..." Raihan mengusap lembut pipi Zainab, kemudian dia mencium kening Zainab layaknya seorang suami yang sayang istri.


Aku akan belajar mencintaimu Zainab.

__ADS_1


Zainab bahagia dengan sikap Raihan yang lembut, kecupan di kening bahkan tak pernah ia dapatkan dari Raihan. Tapi sekarang dia dapatkan dari suaminya dengan penuh kasih sayang. Padahal beberapa saat yang lalu Raihan akan mentalak dirinya.


"Kamu mau minum sesuatu? Atau mau langsung tidur?" tanyanya perhatian.


"Aku mau ke kamar mandi dulu, Mas."


"Mau aku temenin,"


"Gak usah Mas,"


"Ya udah kamu hati-hati ya, awas licin. Oh ya besok kita ke dokter kandungan ya, kita periksa kandungan kamu..." ucap Raihan sambil tersenyum lembut.


Dokter kandungan? Astagfirullahaladzim!


Zainab diam terpaku, tubuhnya menegang mendengar ajakan suaminya untuk pergi ke dokter kandungan.


*****


Kamar Reyndra.


Setelah video call dengan Zahwa dan menyanyikan lagu bidadari surgaku. Rey hendak pergi tidur, tapi dia tidak bisa tidur dan hanya memeluk guling organ tubuh yang berguling-guling ke sana ke mari.


"Astagfirullah...tadi aku kan yang godain Zahwa? Kenapa malah aku yang gak bisa tidur? Ayolah Reyndra Aqmar Calabria! Besok hari pentingmu, kamu harus terlihat fresh dan tampan! Malah gak bisa tidur nih...apa ini karma karena aku godain Zahwa? Arggggh....." Rey mengusap usap rambutnya dengan kasar, sambil melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari dan matanya belum mau terpejam juga.


*****


Tak terasa waktu pun berlalu, setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor dan tiba dirumah. Rey buru-buru pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti baju yang rapi, memakai baju setelan Koko berwarna putih.


15 menit menghabiskan waktunya di kamar mandi, Rey segera memakai baju putih dan juga celana berwarna hitam. Dia bercermin dan melihat wajah tampannya disana, namun matanya memicing manakala dia melihat ada dark circle di bawah matanya.


Teriakan Reyndra membuat Diana, Bram dan Selina yang sedang menghias barang-barang seserahan di kamar Selina. "Kak Rey kenapa tuh teriak-teriak?" tanya Selina bingung.


"Gak tau tuh, kita lihat aja." saran Bram pada istri dan anaknya.


Bram, Diana dan Selina pun pergi ke kamar Rey yang bersebelahan dengan kamar Selina untuk melihat apa yang membuat Rey berteriak.


Mereka bertiga melihat Rey yang sedang duduk di atas panjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu kenapa Rey?" tanya Diana sambil menghampiri putranya.


"Gimana ini Ma....gimana ini..."


"Gimana apanya nak?"


"Aku gak bisa pergi ke rumah Zahwa sekarang," jawab Rey sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.


Papa, mama dan adiknya tercengang mendengar ucapan Reyndra. Apa maksudnya dia tidak bisa pergi ke rumah Zahwa sekarang?


"Apa maksud kamu? Kamu mau membatalkan khitbah kalian?!" Terdengar suara Nilam dari ambang pintu, wajah Nilam tampak kesal, di belakang Nilam ada Lulu yang mendorong kursi rodanya.


"Gak Oma, maksudku bukan kayak gitu."


"Terus kenapa kamu bilang gak bisa pergi ke rumah Zahwa sekarang?" tanya Nilam retoris dan tajam.


Rey pun menunjukkan wajahnya yang tadi dia sembunyikan kepada keluarganya. "Gara-gara ini...gimana bisa aku ke rumah Zahwa kalau ada dark circle di bawah mataku!"

__ADS_1


"PFut.... hahaha."


Seperti biasanya, kalau urusan tertawa dan menertawakan orang pasti Selina jadi yang lebih dulu.


Oma, papa dan mamanya ikut tersenyum melihat Rey yang panik karena dark circle. "Ya ampun, papa kira apaan..."


"Kamu bikin panik aja!" Diana terkekeh sambil mencubit gemas pipi putranya itu.


"Ini darurat banget kan? Aku gak bisa pergi kalau kayak gini caranya, aku gak pede." Rey terlihat cemberut.


"Darurat apanya? Ya ampun kakakku ini! Masalah dark circle, serahkan saja pada Selina si cantik jelita!" kata Selina sambil tersenyum lebar.


Bram, Diana, Nilam dan Rey menatap Selina dengan bingung. Entah apa yang akan dia lakukan kali ini.


Ternyata Selina memberikan sedikit poundation dan concealer pada wajah Rey untuk menutupi dark circlenya. Alhasil Rey sangat berterima kasih kepada Selina karena sudah membantunya.


Setelah itu mereka pun berangkat bersama menuju ke rumah Zahwa. Nilam, Bram, Diana, Rey, Ken, Anna dan anak mereka Alisa yang sudah menginjak bangku SMP.


Sementara itu Zahwa di rumahnya bersama Amayra, Zayn, Bima, Fania dan anak mereka Viona yang seumuran dengan Alisa. Mereka bersiap untuk menyambut kedatangan Rey untuk acara khitbah mereka.


*****


15 menit perjalanan ditempuh Rey dan rombongan keluarganya untuk sampai ke rumah Zahwa yang berada di ujung kompleks. Hatinya berdebar padahal hampir setiap hari dia bertemu dengan Zahwa, tapi sekarang rasanya berbeda.


"Santai Rey, ini baru khitbah!" Bram menepuk pundak putranya seraya menenangkannya.


"Iya pa, bismillah." ucap Rey sambil mengelus-elus dadanya.


Bel rumah itu pun di pijit oleh Selina, tak lupa mereka semua mengucap salam dan yang ada di rumah itu menjawab salam. Menyambut kedatangan Rey dan keluarganya.


Terlihat seorang gadis memakai jilbab serba putih dengan kerudung panjang, dengan bando bunga di kepalanya, tengah duduk dengan senyuman di wajahnya.


Rey begitu bahagia melihat kehadiran gadis itu, atensinya tercuri pada sosoknya. Hingga dia tidak mempedulikan keadaan sekitarnya.


"Rey, kamu menghalangi jalan!" ujar Anna pada Rey yang terpaku diambang pintu dan menghalangi jalannya.


"Ah...eh iya..." Rey gelagapan, dia pun masuk sambil tersenyum ke dalam rumah itu.


Kini semua orang telah hadir di sana, mereka satu keluarga namun duduk saling berhadapan seperti dua keluarga. Satunya keluarga Rey dan satunya keluarga Zahwa. Tak lupa ada seorang ustad juga yang akan membantu jalannya acara khitbah itu, dia adalah ustad Fahri, teman baik ustad Iqbal.


Barang-barang seserahan untuk Zahwa juga sudah berjejer rapi di atas meja yang disediakan disana.


Terlihat pasangan yang akan melakukan khitbah itu terlihat malu-malu. Para orang tua juga melihat mereka sambil tersenyum.


"Sabar ya kak, pak ustadznya mau khutbah dulu bentar!" goda Zayn pada Rey yang tampaknya sudah tak sabar ingin mengkhitbah Zahwa.


"Kamu apaan sih Zayn." Rey terlihat salah tingkah, sedari tadi dia terus menatap wajah cantik Zahwa di balutan dress putih itu.


Masya Allah...Zahwa cantik sekali.


Zahwa juga salah tingkah, dia memalingkan wajahnya dari Rey begitu ia menyadari bahwa Rey menatapnya terus.


Untuk mempersingkat waktu, ustad Fahri pun memulai acaranya dengan ceramah sedikit tentang khitbah sebelum memulai prosesi khitbah itu.

__ADS_1


...*****...


Mau lanjut? Yuk komennya 🤣 Bab berikutnya khitbah! Beneran deh ..


__ADS_2