
...🍀🍀🍀...
Malam itu di dalam suasana dingin dan agak gerimis, Rey hendak pergi keluar dari rumahnya untuk mencari nasi kuning. Namun sebelum itu dia pergi ke kamar Selina, untuk menanyakan apakah adiknya ingin makan sesuatu atau tidak. Ia tau bahwa wanita hamil mudah lapar, Zahwa pun begitu.
Walau Rey kecewa dengan kehamilan Selina, tapi nasi sudah sudah jadi bubur. Dia tidak mau memperpanjang masalah dengan mengungkit masa lalu dan lebih suka untuk menyelesaikannya saja. Apa yang terjadi pada Selina saat ini, sama sekali tidak mengurangi rasa sayangnya kepada adik kecilnya itu.
Dia hanya kecewa, sedih, mengapa adiknya bisa terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan akibat perbuatannya sendiri dari peraturan yang dilanggar.
"Ma, mama tidur disini?" tanya Rey begitu melihat Amayra berada di ranjang yang sama dengan Selina.
Amayra beranjak turun dari ranjang itu pelan-pelan dan menoleh ke arah Rey. Dia mengajak Rey pergi ke luar kamar itu. "Rey, mama tidur disini. Mama tidak bisa membiarkan Selina sendirian dalam keadaan seperti ini. Takutnya Selina akan berbuat macam-macam, tadi...dia sempat berpikir untuk membunuh anaknya."
"Astaghfirullah! Apa begitu Ma?" Rey terkejut mendengarnya.
Amayra mengangguk. "Iya, Mama sudah menenangkannya. Kasihan dia...dia pasti tertekan dan butuh seseorang untuk berada di sisinya saat ini."
"Ma...mama emang ter the best...mama selalu bisa meneduhkan hati seseorang. Sama kaya anak mama yang bisa meneduhkan hatiku, hehe." Rey terkekeh, setelah memberikan pujian kepada mama mertua dan istrinya.
"Kamu bisa aja Rey...lalu kamu mau apa kesini? Mau lihat Selina juga?" tanya Amayra.
"Iya ma, aku mau melihat kondisi Selina dan menanyakan siapa tahu dia masih bangun dan mau makan sesuatu, soalnya Rey mau keluar beli makanan buat Zahwa sama dede." jelas Rey pada Amayra. "Siapa tau mama mau titip makanan juga?" tanyanya.
"Gak, mama gak mau titip makanan apapun...mama udah makan tadi sama Selina. Tapi istri kamu mau makan apa, Rey?"
"Zahwa mau nasi kuning, Ma."
"PFut..." Zahwa menahan tawanya.
__ADS_1
"Loh? kenapa mama ketawa?"
"Dulu waktu hamil Zahwa dan Zayn, mama juga pernah pengen makan nasi malam-malam...tapi nasinya nasi uduk. Sekarang Zahwa pengen nasi kuning ya?"
"Oh gitu Ma, haha...buah emang jatuh gak jauh dari pohonnya." Rey tertawa mendengar Amayra menjelaskan tentang kehamilannya dulu.
"Zahwa mau nasi kuning? Kenapa gak bikin aja? Jam segini mana ada nasi kuning...mama bikinin ya?"
Pria itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan menolak tawaran dari ibu mertuanya. "Gak boleh, biar aku cari dulu aja....aku gak mau Zahwa marah sama aku lagi."
"Hah? Zahwa marah sama kamu? Kenapa? Kalian lagi ada masalah?" terlihat gurat kecemasan di wajah Amayra.
"Nggak ada apa-apa Ma. Ya udah Rey pergi dulu ya beli nasi kuning. Kalau mama mau makan sesuatu, telpon aja Rey." Pria itu mengecup punggung tangan Amayra dengan sopan. "Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Setelah melihat kepergian Rey, Amayra kembali ke dalam kamar dan menemani Selina yang tertidur dalam keadaan resah karena anak itu mengigau.
****
Sementara itu di kamar Bram dan Diana.
Pasangan suami-istri itu juga tidak bisa tenang, mata mereka sulit terpejam. Memikirkan keadaan anaknya yang membuat aib dan juga terjebak dalam posisi sulit.
Bram terus menangis, meratapi semua ini, menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin di luar dia memang terlihat marah, akan tetapi di dalam dia hancur lebur. "Mas..." Diana memeluk suaminya dari belakang.
"Dulu aku pernah melakukan hal brengsek pada Amayra, sekarang anakku merasakan balasan atas perbuatanku Diana. Apakah ini karmaku?" tanya Bram terisak, seraya memandang ke arah sang istri.
__ADS_1
Dia tidak bisa membayangkan bahwa kini Putrinya berada di posisi seperti Amayra dulu. Setelah dihamili lalu ditinggalkan begitu saja. Sekarang dia telah menjadi orang tua dari anak yang dikecewakan itu.
"Mas...tidak ada yang namanya karma di dunia ini. Ingatlah mas...QS Al Baqarah 42, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. Di dalam hukum Islam sebenarnya tidak ditemukan istilah karma sebab Allah sendiri sudah berfirman di dalam Alquran. Q.s 35:18. Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain... Q.s 6:164 dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Q.s 53: 38. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Sudah jelas kan Mas? Tidak yang namanya karma. Mungkin ini ujian dari Allah untuk kita agar lebih memperhatikan Selina, atau ini sebuah teguran dari Allah SWT karena cara mendidik kita yang kurang baik. Jangan salahkan dirimu sendiri Mas...." lirih Diana seraya memegang tangan suaminya.
Sesungguhnya pula, istilah karma tidak dikenal dalam syari’at Islam sebab istilah tersebut adalah istilah dalam sebuah ideologi pokok atau keyakinan dharma. Karena itulah, sudah selayaknya kita semua bertaqlid mengaminkan kesimpulan jika hukum karma diakui keabsahannya dalam Islam kecuali sesudah kita mengetahui hal tersebut secara ilmiah hakekat hukum tersebut.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban.” (QS. Al-Isra’: 36).”
Dari uraian yang sudah diberikan bisa disimpulkan jika dalam aqidah Islam tertulis jika perbuatan baik juga akan mendapatkan balasan yang berkali lipat, sementara jika manusia melakukan perbuatan jahat, maka balasan yang akan diterima juga setimpal dengan kejahatannya tersebut. Apabila diartikan sebagai hukum karma, maka hal tersebut juga ada di dalam Islam.
Apabila hukum karma memiliki makna perbuatan baik yang dilakukan pada orang lain, maka juga akan mendapatkan balasan yakni orang lain juga akan berbuat baik kepada kita dan Islam menyetujui dan ada pula sebagian yang tidak setuju, sebab timbal balik bisa saja terjadi dan bisa juga tidak. Balasan ini terkadang bisa terjadi di dunia, namun juga bisa terjadi di akhirat. Sebagian hal balasannya kontan di dunia, sementara ada hal lain yang sebagian lagi akan di dapat di akhirat.
Bram dan Diana sama-sama terisak, mereka berdua pun keluar untuk melihat keadaan Selina. Dari kejauhan, Bram dan Diana melihat Amayra dan Selina sedang tertidur. Mereka berdua menatap Selina dengan sendu penuh kasih sayang.
"Selina butuh kita Mas, jangan biarkan dia sampai terpuruk. Aku tau kita kecewa, kita marah, tapi mau bagaimana lagi? Semua telah terjadi Mas, kita harus pikirkan jalan keluar untuk anak dan cucu kita yang belum lahir." ucap Diana yang sekarang pikirannya lebih tenang dan terbuka.
"Kamu benar, kita harus mendukung Selina. Jangan sampai dia terpuruk...aku akan melakukan apa saja untuk menolong anak kita." kata Bram sambil tersenyum dan mulai menyeka air matanya.
****
Di sebuah rumah yang letaknya jauh dipinggir kota, disinilah Rivano berada. Dia bersembunyi di rumah salah satu kerabat papanya. Dia kabur setelah menerima pesan teks dari Irfan bahwa Selina dan keluarganya datang meminta pertanggungjawaban ke rumah Irfan dan Rivano sudah bisa menebak pasti mereka pergi ke rumah Rivano.
Berulang kali papanya menelpon dan mengirimkan pesan, namun tak satupun yang dibalas oleh Rivano. Ia malah mematikan ponselnya.
"Gue gak mau nikah...masa depan gue masih panjang! Gue gak mau bertanggung jawab....Selina sialan!" seru Rivano kesal.
...****...
__ADS_1