
Salimah tampak berbeda dengan tampilannya yang sekarang ini, dia benar-benar menutup tubuhnya. Bukan hanya penampilannya saja yang berbeda tapi juga sikapnya, menjadi lebih sopan.
"Masya Allah Salimah, semoga kamu selalu bahagia dimanapun kamu berada ya." ucap Zahwa sambil tersenyum senang mendengar Salimah sudah menikah dan dia akan pindah ke Jawa bersama suaminya ustad Fahri.
"Terimakasih Zahwa, maafkan aku selama ini aku selalu berbuat dzalim sama kamu."
"Sudahlah, tidak usah meminta maaf lagi. Apa yang telah lalu biarkan saja berlalu, kamu juga menyesali semua perbuatan kamu dan itu sudah cukup."
Salimah dan Zahwa berpelukan, kemudian Salimah mengatakan salam pada Zahwa untuk Zein yang juga akan menikah dengan Aini. "Ya, pasti akan ku sampaikan salam pada kakak."
"Kalau gitu aku pergi dulu ya Zahwa, entah kapan kita akan bertemu lagi." ucap Salimah sambil tersenyum, senyum yang tak terlihat dibalik cadarnya. Namun dari tatapan matanya, Zahwa dapat melihat senyuman tulus itu.
"Iya Salimah, kamu hati-hati ya." kata Zahwa tulus mendoakan Salimah.
Setelah itu Salimah dan Raihan pergi dari rumah sakit, Raihan akan mengantar Salimah lebih dulu ke tempat suaminya dan dia akan langsung pergi ke daerah Jawa tengah, tempat dimana suaminya tinggal.
Zainab dan Zahwa masuk ke dalam rumah sakit bersama. Mereka kembali mengobrol dengan akrab seperti biasanya, setelah permintaan maaf itu, mereka kembali berteman.
Ketika mereka berjalan di ruang UGD, mereka melihat seorang pria yang seperti preman datang memarahi salah satu petugas rumah sakit disana.
"Dimana dokter Ervan?" tanya pria itu dengan beringas, penuh kemarahan.
"Maaf pak, tapi dokter Ervan belum datang." jawab salah satu petugas itu padanya dengan sopan.
Zahwa dan Zainab pun berbisik-bisik membicarakan pria itu. "Bukannya itu pria yang selalu datang ke UGD dan mengeluh sakit?"
"Iya Zahwa, kamu benar...dia selalu mengeluh sakit padahal si tidak kenapa-napa. Kata dokter Ervan dia cuma sakit kepala biasa, tapi dia terus saja datang ke rumah sakit dan membuat ulah." bisik Zainab pada Zahwa
Ya, pasien yang terlihat seperti preman itu datang ke rumah sakit dan mengeluh kepalanya sakit. Setelah di periksa oleh dokter Ervan melalui ct scan, tidak ada yang salah dengan kepala si preman itu. Tapi dia tetap datang ke rumah sakit dan membuat gaduh disana.
"Ada apa kamu cari saya?" tanya Ervan pada pria preman itu. Ervan baru saja datang untuk mulai bekerja, dia adalah sekarang dokter bagian UGD.
"Gue udah minum obat dari dokter tapi kepala gue belum sembuh juga, masih sakit! Dokter bilang gue gak apa-apa, tapi kepala gue masih sakit tuh... pasti ada apa-apa sama kepala gua." keluh si pria itu dengan gaya premannya.
Ervan mendesah kesal, lalu dia menatap pria itu dengan tajam. "Sepertinya anda tidak butuh dokter tapi psikolog pak!" kata Ervan ketus. Zahwa, Zainab dan dua perawat disana juga mendengar ucapan Ervan yang pedas itu.
Ervan memang terkenal sebagai dokter yang pedas omongannya. Dia juga sombong dan mudah kesal. Jika orang yang tidak tahu tabiatnya pasti akan berfikir dia menyebalkan.
"Apa Lo bilang? Maksud Lo gue gila, gitu!!" sorot mata tajam penuh kemarahan mengarah pada Ervan.
Zahwa dan Zainab menghampiri Ervan dan pria itu untuk menengahi masalah diantara mereka. "Maaf pak, bukan begitu maksud dokter Ervan!" Zahwa tersenyum pada pria itu untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Ya pak, tolong tenangkan diri bapak." kata Zainab ikut menenangkan si bapak yang terlihat marah itu.
Ervan terlihat sinis pada dokter junior yang dianggap sok baik itu. "Ngapain sih kalian belain dia?" tanya Ervan kesal pada Zahwa dan Zainab yang ikut campur. "Pake minta maaf segala!" ketusnya lagi.
"Ucapan dokter sudah keterlaluan, setidaknya..."
Kata-kata Zahwa terhenti saat melihat Ervan ditusuk oleh pria itu. Zainab dan dua perawat lainnya ternganga melihat kejadian itu.
"Lo yang gila bukan gua!" ucap si pria itu lalu tersenyum menyeringai setelah menusuk bagian perut dokter Ervan.
Terlihat darah segar mengalir dari sana, tubuh dokter Ervan jatuh terduduk di lantai.
"Astagfirullah! Dokter Ervan!" teriak Zahwa ,Zainab dan dua perawat lainnya disana.
"Cepat panggil bagian keaman--"
Kata-kata Zahwa terhenti disana saat sebuah tusukan pisau menghujam perutnya dari preman itu secara tidak terduga. "Makanya kalau jadi dokter tuh jaga omongan!" seru pria itu lalu mencabut pisaunya dari perut Zahwa.
"ACK!" pekik Zahwa memegang perutnya yang terasa perih.
Perut Zahwa bersimbah darah segar, lalu dia jatuh ambruk tidak sadarkan diri. Keadaan dokter Ervan pun sama. Kini darah segar itu membasahi lantai lorong ruang UGD. Tas gendong Zahwa juga jatuh ke lantai dan terkena darahnya.
"Dasar orang GILA!" Zainab meneriaki pria yang telah menusuk Zahwa dan Ervan. "Panggil polisi!" teriak Zainab dan akhirnya orang-orang disana yang lewat membantu menangkap preman itu. "Cepat bawa brangkar! Bawa dokter Ervan dan dokter Zahwa untuk segera ditangani!" kata Zainab pada kedua perawat itu.
Mereka berdua dengan sigap membopong tubuh Zahwa dan Ervan ke atas brankar.
"Hahaha...rasain Lo, rasain! Hahahaha....makanya jadi dokter jangan songong Lo!" pria itu malah tertawa-tawa melihat Zahwa dan Ervan tidak sadarkan diri di atas brankar.
Zainab terlihat gemetar melihat kejadian itu, dia cemas melihat Zahwa yang terluka. Saat Zahwa akan dibawa ke ruang UGD oleh perawat, Diana yang baru saja datang ke rumah sakit sehabis mengantar Selina. Sangat terkejut melihat keadaan Zahwa yang bersimbah darah.
"Astagfirullah! Zahwa! Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?" tanya Diana panik melihat menantu sekaligus keponakannya yang tidak sadarkan diri atas brankar.
Diana panik dan dia ikut masuk ke dalam ruang UGD bersama dengan Zahwa dan salah satu dokter UGD disana.
****
Di SMA tempat Amayra mengajar, pagi itu Amayra terlihat resah tidak seperti biasanya. Hingga membuat Arga si kepala sekolah itu bertanya ada apa dengan Amayra.
Seperti biasa sebelum mengajar ke kelas, guru-guru selalu mempersiapkan diri terlebih dahulu di ruang guru.
"Bu Amayra, ini masih pagi loh...hari juga sangat cerah, kenapa wajah ibu terlihat gelisah?" tanya Arga dari seberang sana.
__ADS_1
"Iya tuh pak, dari tadi wajah Bu Amayra masam terus kayak kurang gula tuh. Biasanya juga senyum-senyum sama kita." celetuk Bu Yani, guru Biologi di sekolah itu, melihat Amayra cemberut terus dari tadi pagi.
"Bu Amayra, ada apa Bu? Apa ibu lagi ada masalah? Maaf loh Bu, bukannya saya kepo...hehe saya cuma pengen guru-guru fokus saat mengajar. Kalau ibu banyak pikiran kan nanti ngajarnya gak fokus." jelas Arga mencari alibi. Padahal sebenarnya dia mencemaskan keadaan Amayra.
"Saya gak apa-apa pak, ehm.. sebenarnya saya..." Amayra bingung dan resah, dia juga tak tahu kenapa perasaannya tidak karuan seperti ini.
Kenapa perasaanku gak enak begini? Ya Allah sebenarnya ada apa?
"Ada apa bu?" tanya Arga perhatian dan lembut pada Amayra. Meski sudah ditolak berkali-kali, Arga tetap berbesar hati dan sikapnya tak berubah.
"Saya..."
Ting tong...
Suara bel masuk pun berbunyi, membuat para guru harus sudah mulai masuk ke dalam kelas. Akhirnya Amayra dan guru-guru lain pergi ke kelas mereka masing-masing untuk mengajar seperti biasa.
****
Rumah sakit Citra Medika. Zahwa di bawa ke ruang operasi karena tusukan pisau itu telah membuatnya kehilangan banyak darah dan menembus bagian limpa dan bisa membahayakan nyawa Zahwa.
Diana pun menghubungi Rey lebih dulu untuk memberitahukan kondisi Zahwa. Empat kali ditelpon Rey tidak mengangkat, saat dia menelpon Niko barulah diangkat.
"Halo Niko!"
"Ya Bu Diana, ada apa? Maaf pak Presdir sedang rapat," jawab Niko dengan berbisik-bisik karena Rey sedang rapat di ruangannya bersama para bawahannya.
"Cepat kamu berikan telponnya pada Rey! Cepat! Ini tentang istrinya." kata Diana buru-buru dengan suara panik.
Sebenarnya Niko tidak berani menganggu rapat Rey, namun ini berkaitan dengan Zahwa tentu dia harus menyampaikannya. "Pak...maaf pak,"
"Ada apa? Apa kamu kalau saya sedang rapat?" tanya Rey ketus, kalau sudah serius bekerja seperti inilah wujud Rey.
"Ada telpon dari Bu Diana, katanya ini tentang Bu Zahwa." bisik Niko pada Rey.
Rey tidak bicara dan langsung mengambil telepon Niko di tengah-tengah rapat itu. "Halo Ma, ada apa?"
"Rey, cepetan kamu ke sini sekarang! Zahwa lagi dioperasi!" ujar Diana.
"APA?"
...****...
__ADS_1