
...🍀🍀🍀...
Lulu dan Dewi mencoba untuk membangunkan Zahwa dengan menggoyangkan tubuhnya. Mereka berdua panik melihat Zahwa tiba-tiba saja jatuh pingsan saat akan menuju ke kamarnya.
"Sayang!" panggil Rey pada istrinya yang kini terbaring di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri. "Sayang...kamu kenapa sayang?" tanya Rey sambil menepuk-nepuk pipi Zahwa dengan cemas.
"Rey, kamu bawa Zahwa ke kamar! Mana akan periksa istri kamu." kata Diana dengan cepat.
Semua keluarga jadi cemas melihat Zahwa tiba-tiba pingsan, termasuk Amayra dan Zayn. Kini Zahwa sudah berbaring diatas ranjang, dengan dikelilingi semua keluarganya disana.
Diana memeriksa kondisi Zahwa dengan stetoskop yang memang selalu dibawanya kemana-mana. Sementara Rey memegangi tangan istrinya dengan cemas. Tak biasanya Zahwa pingsan begini, dia takut terjadi sesuatu kepada istrinya. "Ma...Zahwa kenapa Ma?"
"Dia...ada gejala mual gak?" tanya Diana sambil memegang pergelangan tangan Zahwa, dengan wajah menelisik seolah menerka-nerka apa yang terjadi.
"Mual? Oh ya...ada sih, tiap Rey pakai parfum, Zahwa gak suka terus suka mual-mual." jelas Rey mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Zahwa memakaikan dasi pada suaminya dan Zahwa menghindar karena bau parfum.
"Apa Zahwa suka mengeluh pusing? Atau...dia sensitif?" tanya Diana lagi sambil memeriksa suhu tubuh Zahwa dengan termometer. "Normal." ucapnya setelah melihat angka suhu pada termometer.
"Ya, Zahwa suka mengeluh pusing Ma. Terus dia banyak tidur Ma."
Diana menerbitkan senyuman dibibirnya yang membuat semua orang bertanya-tanya, kenapa dokter kandungan itu tersenyum.
"Ada apa kak Diana? Zahwa gak apa-apa kan?" tanya Amayra pada kakak iparnya itu.
"Sepertinya Zahwa..."
Saat Diana akan berbicara, terdengar suara Zahwa mengerang. Dia mulai membuka matanya dan melihat semua orang berada disana.
"Sayang, kamu udah siuman? Sayang, mana yang sakit?" sang suami mencecar Zahwa berbagai pertanyaan. Dia terlihat begitu mencemaskan Zahwa.
"Kenapa semuanya berkumpul disini? Ada apa?" tanya Zahwa bingung melihat semua anggota keluarganya berada disana.
"Kamu pingsan barusan," jawab Amayra seraya menatap putrinya cemas.
"Pingsan?"ucap Zahwa lalu bersandar di head board ranjangnya dibantu oleh Rey.
"Ma, sebenarnya Zahwa kenapa? Dia gak apa-apa kan?" tanya Rey kepada mamanya.
"Lebih baik kamu beli testpack untuk memastikannya, cepat beli sekarang kalau kamu sudah gak sabar dengan apa yang terjadi sama istri kamu." jelas Diana dan membuat semua orang tercengang mendengarnya.
Mereka saling melirik, apa maksudnya testpack? Mungkinkah Zahwa hamil? Pikiran mereka mulai mengarah kesana. Lalu senyuman merekah di bibir mereka, Selina juga tersenyum namun begitu kecut senyumnya.
Kak Zahwa hamil? Berarti barengan sama aku dong. Selina membatin sedih sambil memandangi perutnya yang datar.
"Apa Zahwa hamil? Wah..." Nilam tersenyum senang.
"Alhamdulillah..." ucap Fania, Amayra dan Anna sambil mengusap dada mereka. Tak hentinya mereka tersenyum bahagia.
Seketika Rey langsung tersadar, ia tersenyum dan buru-buru mengambil kunci mobilnya diatas nakas. "Sayang, aku pergi dulu sebentar ya. Semuanya assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab semua orang bersamaan.
__ADS_1
Setelah kepergian Rey kurang lebih 5 menit, Rey kembali dengan membawa sekeresek testpack di sana. Semua orang terkejut karena Rey membeli banyak testpack.
"Masya Allah Rey, kamu beli testpack atau beli permen?" tanya Bram dengan mata memicing melihat keresek itu isinya alat tes kehamilan semua.
"Gak sekalian aja beli sama pabrik testpacknya!' celetuk Bima sambil tersenyum pada keponakannya itu.
"Hehe maaf, tadi aku...aku..." Rey gelagapan, nafasnya masih terengah-engah. Wajahnya lelah tapi lelah itu langsung hilang begitu melihat senyuman diwajahnya istrinya.
"Ayo Zahwa di coba alat tes kehamilannya ya," kata Diana seraya menepuk bahu Zahwa.
"Iya Ma."
Zahwa mengambil dua alat tes kehamilan yang ada didalam kresek yang dibeli Rey. Dia pun mencobanya di kamar mandi, tak lama kemudian Zahwa keluar dari kamar mandi dengan membawa dua alat tes kehamilan ditangannya.
Tatapan semua orang begitu antusias melihat ke arahnya. Zahwa pun tersenyum lalu mendekat ke arah suaminya, ia ingin suaminya jadi orang pertama yang tau tentang hasil pemeriksaannya.
"Mas..."
"Iya sayang?" sahut Rey.
"Mas, kamu akan menjadi Papa..." jawab Zahwa seraya menunjukkan benda bergaris dua itu pada Rey.
Semua orang terperangah bahagia mendengarnya. Hasil tes menunjukkan bahwa Zahwa sedang hamil. Garis dua yang membuat semua keluarga Calabria bahagia.
"Alhamdulillah selamat Rey... Zahwa!" kata Anna sembari bertepuk tangan.
"Selamat kak Zahwa, kakak Rey!" kata Alisa dan Viona ikut memberi selamat dan tak lepas dari senyuman bahagia mereka.
"Mas...kamu menangis?" tanya Zahwa seraya menatap suaminya dengan tatapan sendu dan kening berkerut.
"Makasih Nemo, makasih...aku bahagia sekali, aku jadi Papa...aku bahagia..." Rey memeluk istrinya dengan penuh rasa bahagia dan haru. Hatinya seolah dipenuhi kembang api dan sedang meledak-ledak saat ini didalam sana.
Melihat Zahwa dan Rey yang sedang menikmati kebahagiaan mereka, semua orang paham dan langsung keluar dari kamar itu, membiarkan pasutri itu berdua di dalam sana.
Kini Diana mulai merasakan ada yang aneh dengan Selina yang sedari tadi terlihat murung. Harusnya dia senang atau malah heboh saat mendengar berita tentang kehamilan Zahwa, tapi kenapa dia malah terlihat sedih?
"Sel...kamu--"
"Ma, aku pulang duluan ya. Aku gak enak badan, Ma." ucap Selina sambil tersenyum pada mamanya.
"Ya udah, pulang bareng Mama ya sayang." tawar Diana pada Selina.
"Iya Ma," jawab Selina datar.
Semua orang bahagia dan tersenyum dengan kehamilan kak Zahwa...tapi apakah semua orang akan bereaksi sama saat tau kehamilanku? Kenapa sih aku harus hamil?
Diana memandangi putrinya yang terlihat berbeda itu. Dia bertanya-tanya ada apa dengan Selina?
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar, Zahwa dan Rey masih terlihat bahagia dengan berita baik ini. Mereka akan segera menjadi orang tua.
"Aku tidak percaya Mas, ada anak kita di dalam sini." Zahwa memegang perutnya yang datar, rasanya ia tak menyangka ada bayi didalam sana.
"Iya sayang, gak sia-sia ya perjuangan Alfonzo gempur Rosalinda tiap hari! Hehe." celetuk Rey sambil terkekeh dengan wajah konyolnya.
Plakk!
Zahwa memukul lengan suaminya sampai Rey memekik kesakitan. "Aduh! Sakit Nemo!"
"Rasain, siapa suruh mesum Mulu!" gumam Zahwa dengan bibir yang mengerucut.
"Maaf sayang, maaf...hehe...sayang kamu mau apa? Kamu mau makan sesuatu? Dede kita mau apa sayang?" cecar Rey dengan begitu semangat, seolah dia siap mengabulkan semua permintaan istrinya.
"Gak mau apa-apa Mas." Zahwa menggeleng.
"Ayo bilang aja, kamu mau apa sayang?" tanya Rey sambil memegang tangan istrinya, ia menatap sang istri dengan perhatian dan lembut.
"Gak mau Mas,"
"Apa kamu mau di sun aja?" tawar Rey dengan mengedipkan satu matanya.
"Mas...jangan genit ah...hehe."
Pasangan suami-istri itu tertawa-tawa, lalu mereka berpelukan dengan mesranya di dalam kamar tanpa ada yang mengganggu. Tanpa peduli masih banyak tamu di luar sana.
__ADS_1
...\*\*\*\*...