
...🍀🍀🍀...
Pipi Zainab memerah, gadis itu terlihat malu-malu ketika meminta nomor telepon Reyndra. Pria yang pernah menyelamatkannya dari penjambretan, tapi sepertinya Rey sama sekali tidak ingat dengannya.
Rey bukan tipe orang yang akan mengingat hal tidak penting baginya, jadi mungkin kejadian bertemu dengan Zainab itu tak penting baginya dan tak harus dia ingat.
"Mas..." lirih Zainab sekali lagi, sebab Rey tak kunjung menjawab
"Maaf, saya tidak bisa membagi nomor saya begitu saja kepada orang yang tidak berkepentingan." tolak Rey dengan sopan.
"Tapi mas, saya punya kepentingan dengan Mas." Zainab tersenyum, dia tidak mau melepaskan pria didepannya begitu saja. Ini pertama kalinya dia tertarik kepada seorang pria dan dia tidak mau melewatkan kesempatannya begitu saja.
"Kepentingan apa ya? Kalau saya boleh tau." tanya Rey dengan wajah datar seperti biasanya.
"Saya ingin berterima kasih sama Mas, eum...mungkin kita bisa makan bersama dan saling mengenal satu sama lain." susah payah gadis itu mengatakan semua ini, dia tergagap.
"Berterimakasih? Untuk apa?"
"Karena mas sudah menyelamatkan saya dari penjambret," ucapnya sambil tersenyum lembut.
Wajah Rey terlihat malas, dia malas untuk bicara apalagi bertanya pada gadis yang ada didepannya ini. Memang sifatnya cuek pada wanita lain, bila tidak menarik atau tidak penting bagi dirinya.
"Ya sudah, sama-sama. Maaf saya permisi dulu, assalamualaikum."
"Wa-waalaikum salam." Zainab terpaksa menjawab salam, walau dia enggan dan masih ingin bicara dengan Rey.
Lelaki itu pamit dan pergi begitu saja mengabaikan Zainab yang cantik dan manis. Zainab mengerutkan kening melihat sikap Rey yang cuek padanya.
"Astagfirullahaladzim, padahal aku ingin membangun silaturahmi dengannya, tapi--dia sama sekali tidak meresponku. Gak apa-apa deh, nanti aku minta informasi dari Zahwa aja. Cowok itu kan kakaknya Zahwa."
Zainab tersenyum pahit, ia kembali menyimpan ponselnya di dalam saku dengan mendesah kecewa. Tapi tidak apa, dia masih punya jalan lain untuk dekat dengan Rey, yaitu Zahwa.
*****
Sore itu Zahwa baru saja menyelesaikan pekerjaan magangnya, Zainab terlihat sedang menunggu Zahwa di depan ruang poliklinik anak. Tempat Zahwa magang. Zainab bermaksud menjelaskan tentangnya dan Raihan, juga sekaligus menanyakan tentang Reyndra.
"Kak Zainab?"
Ngapain kak Zainab kesini? Bukannya dia harusnya udah pulang dari jam 3?
"Assalamualaikum Zahwa," sapa gadis cantik itu dengan senyuman ramah.
"Waalaikumsalam kak." jawabnya sambil tersenyum juga.
Keduanya pun berjalan keluar dari rumah sakit sambil mengobrol. Pertama-tama Zainab membahas soal Raihan dan perjodohannya bersama anak ustad Iqbal itu. "Beneran deh Zahwa, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun untuk Raihan. Aku juga baru kenal sama dia. Kami sudah sepakat untuk melawan kedua orang tua kami." tuturnya pada Zainab.
"Iya kak, aku sudah mendengar ceritanya dari Kak Raihan. Kakak gak usah jelasin apapun lagi sama aku, aku paham." terlihat binar senyum indah dibibirnya.
__ADS_1
Alhamdulillah ya Allah, ternyata kak Zainab sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada kak Raihan.
"Iya Zahwa, aku takutnya kamu salah paham sama aku. Tapi syukurlah...dan kamu tau gak? Kalau Raihan bilang sama aku--kalau dia mau memperjuangkan kamu,"
Sungguh!
Di dalam hati Zahwa seperti ada bunga yang bertebaran, mendengar kata-kata Zainab tentang Raihan membuatnya sangat terharu. "Raihan itu sepertinya sangat mencintai kamu, masalah kegagalan pernikahan Kamu itu ya sebenarnya karena Salimah." pendapat Zainab seperti itu saat dia mendengar dari Raihan tentang kegagalan pernikahannya.
"Iya kak, entah ini perasaanku saja atau bukan... aku merasa kalau Salimah itu nggak suka sama aku, gak tau kenapa. Tapi ya sudahlah, aku gak mau suudzan dulu. Aku akan berjuang untuk hubunganku dan mas Raihan."
"Bagus! Semangat! Aku dukung kamu," Zainab menyemangati Zahwa. "Tapi kamu juga dukung aku dong!"
"Hem? Dukung apaan kak?" tanyanya bingung.
Zainab mendekat ke arah Zahwa, dia memisahkan sesuatu di telinga Zahwa. Tak berapa lama kemudian, Zahwa langsung tersenyum senyum, mendengar apa yang Zainab katakan. "Siap kak! Nanti aku bantu deh." ucap Zahwa sambil mengacungkan jari jempolnya.
Kedua bola mata Zainab berbinar-binar mendengar jawaban dari Zahwa. "Beneran Wa? Kamu mau bantu aku deket sama mas Reyndra?"
"Iya kak, kakak tenang aja...kebetulan kakakku yang satu itu jomblo terus, siapa tau aja kan kalau kita bisa jadi saudara ipar, hahaha." celetuk Zahwa sambil terkekeh-kekeh.
"Alhamdulillah Zahwa, syukron." Zainab memegang kedua tangan Zahwa dengan bahagia.
"Tapi kakak harus sabar ya, Kak Rey orangnya agak cuek dan jaim. Ehm...tapi kak Rey itu lembut kok kalau udah kenal deket!"
"Kamu bener Wa, tadi dia cuek banget sama aku. Gak mau dimintain nomor telepon," gerutu Zainab sebal.
"Zahwa!"
Terdengar suara tidak asing dari arah belakang Zahwa dan membuat dua gadis itu menoleh ke belakang. "Tante Diana!"
Terlihat seorang wanita paruh baya dengan memakai kacamata dan setelan bajunya yang rapi berjalan mendekati Zahwa dan Zainab.
Kenapa Zahwa manggil dokter Diana dengan sebutan Tante?
"Assalamualaikum dokter Diana," sapa Zainab pada Diana. Diana adalah tutor Zainab saat magang dan mereka cukup akrab.
"Waalaikumsalam Zainab, eh ternyata kamu kenal sama Zainab juga, Wa?" Diana melirik secara bergantian kepada dua orang gadis cantik berhijab itu.
"Iya Tante, kak Zainab teman kampusku tapi beda jurusan. Oh ya, kak Zainab orangnya baik banget Tante," gadis itu memuji Zainab setinggi langit di depan tantenya. Kemudian Zahwa berbisik pada Zainab. "Kak, Tante Diana ini mama kak Reyndra."
Mata Zainab langsung berbinar-binar mendengar bisikan dari Zahwa. Zainab semangat langsung banyak bicara saat berhadapan dengan Diana, untuk mendapatkan citra baik di depan calon ibu mertuanya, mungkin.
Ketika ketiganya berjalan menuju tempat parkir, sosok seorang pria membuat perhatian tiga wanita itu tertuju ke arahnya.
"Mama, Zahwa!" Rey tersenyum melihat mamanya dan Zahwa berjalan mendekat ke arahnya.
"Rey? Kamu jadi jemput mama?" sambut Diana pada putranya.
__ADS_1
Senyumnya hilang ketika dia melihat sosok Zainab yang melihat padanya. Tanpa peduli sosok Zainab, Rey segera meminta mama dan adik sepupunya masuk ke dalam mobil karena hari sudah malam.
Zahwa dan Diana merasakan sikap cuek dan dingin Rey pada Zainab. Di dalam perjalanan pulang, Diana menegur putranya. "Rey?"
"Ya, ma." sahut Rey dengan kedua tangan masih menyetir.
"Kamu kok dingin gitu sih sama cewek? Apalagi sama Zainab...apa sih salah dia sama kamu, nak?" tegur Diana heran.
"Gak apa-apa Ma, Rey biasa aja kok." jawab Rey seperti biasa datar
"Rey kalau kayak gini terus gimana mama sama papa mau ngomong cucu? Usia kamu udah cukup buat menikah,"
"Apa maksud nama ngomongin nikah?"
"Ya, kalau mama lihat kayaknya Zainab naksir kamu." Diana tersenyum ke arah putranya yang duduk di kursi depan bersama Zahwa.
"Kak, bener tuh kata Tante Diana...lagian kak Zainab tuh orangnya baik, dia Sholehah insya Allah. Dia juga--"
Rey langsung memotong ucapan Zahwa. "Stop ya! Jangan bicara lagi, mama sama Zahwa diem aja!"
"Woah...tumben kamu marah, Rey? Apa mungkin kamu sudah punya calon sendiri?"
"Ah atau mungkin kak Rey ditolak? Hem...tapi kayaknya nggak mungkin deh, soalnya kak Rey kan ganteng, baik, pinter dan ada lesung pipinya DUA." canda Zahwa pada kakak sepupunya itu.
Dasar polos.
"Aku gak ditolak, aku udah punya calon...jadi STOP bicarakan cewek lain didepanku, terutama mama." ancamnya pada Diana.
Diana langsung terbelalak mendengarnya, dia sangat tertarik dengan kehidupan percintaan putranya. Sebab selama ini dia tahu, bahwa Rey tidak pernah membawa seorang wanita ke rumah dan tidak seperti anak-anak zaman sekarang pada umumnya. Padahal Diana dan Bram sama sekali tidak pernah melarang Rey untuk mempunyai pacar, ya itu karena mereka pernah muda dan mereka tidak sekuno itu.
"Kakak udah punya calon?"
"Rey, serius? Kamu udah punya calon? Kalau gitu bawa dong dia ke rumah! Mama, papa sama Oma kamu mau lihat seperti apa dia." Diana terperangah, dia tak menyangka bahwa putranya akan membicarakan seorang wanita apalagi wanita itu disebut sebagai calon istrinya. Tentu saja Rey pasti sangat serius dengan wanita ini.
"Nanti ketika saatnya tiba, mama akan tau siapa dia."
Zahwa dan Diana semakin penasaran dengan sosok calon istri Rey ini. "Yah...kasihan kak Zainab..." decak Zahwa dengan bibir mengerucut.
"Rey, gimana orangnya? Dia pasti cantik, kan?" tanya Diana penasaran.
"Ya dia cantik, dia cerewet, dia suka ikan hias, dia juga punya satu lesung di pipinya, dia suka makan makanan manis dan suka pedas. Dia juga cerdas dan Sholehah, Insyaallah." ucapnya seraya melirik ke arah Zahwa.
"Woah dia pasti sangat cantik, bisa meluluhkan hati kamu saja itu sudah luar biasa." celetuk Diana sambil tersenyum.
Sementara itu Zahwa menyadari bahwa kakaknya yang menatapnya dengan aneh. Disertai dengan senyuman manis dibibirnya.
...*****...
__ADS_1